
"Hai, Jes!" sapa Bobby. "Bagaimana keadaan loe?" tanyanya menyerahkan seikat buket pada Jesica. Gadis itu tak menyambutnya, hanya tatapan sinis yang ia layangkan saat melihat Bobby datang bersama Alona. Hingga akhirnya Bobby hanya meletakkan buketnya di atas ranjang di samping Jesica.
"Seperti yang loe lihat, Bob! Gue kurang sehat!" sahutnya ketus tanpa menatap. Hanya jemari yang ia mainkan di atas selimut.
"Ah, itu, Nak Bobby! Jesica baru saja habis menjalani operasi kecil!" Mendadak ayah Jesica menyela pembicaraan keduanya. Membuat Bobby memutar pandangan ke arah pria yang umurnya hampir setengah abad itu.
"Operasi kecil??"
"Iya, Nak?"
"Apa ada kemungkinan bayinya selamat?"
Deg!
Pertanyaan Bobby berhasil membulatkan mata Jesica yang terus menatap selimut penutup tubuhnya. 'Tuh kan, bener dugaan gue! Ayah pasti cerita pada Bobby tentang apa yang terjadi sama gue! Agghhh!'
"Bayinya sudah gak ada lagi, Nak! Jesica mengalami keguguran! Jadi dia harus menjalani operasi dengan cara kuret! Hanya saja, biaya inap untuk ruang VIP ini sedikit mahal."
"Om tidak usah memikirkan biaya penginapan dan operasinya. Sesuai janji, saya akan menyelesaikan semua adminnya!"
"Terima kas ...."
"Ayah, cukup!!" hardik Jesica. Berhasil membuat ucapan ayahnya terhenti. Seketika semua mata tertuju padanya. "Apa Ayah gak malu, membawa Bobby ke sini aja sudah membuatku malu! Bagaimana bisa Ayah meminta Bobby yang membayar biaya Rumah Sakit?!" Nada bicara Jesica terdengar parau, terbata karena sambil menangis.
"Jesica .. bukannya Ayah ingin membuatmu malu! Ayah hanya tak punya pilihan!"
"Jesica! Lu gak seharusnya berucap kasar sama Ayah loe sendiri! Apa loe gak bisa mengerti bagaimana perasaan Ayah loe? Gue yakin beliau juga malu meminta bantuan gue! Tapi semua yang beliau lakukan hanya demi memberikan yang terbaik buat loe!!" Bobby geram hingga memaki Jesica dengan spontan.
"Tak apa, Nak Bobby! Mungkin saat ini Jeisca sedang mengalami tekanan pada batinnya atas apa yang terjadi. Jadi mohon dimaafkan jika dia tak bisa mengontrol emosi! Bagaimana kalau kita bicara di luar saja! Biar di sini, Jesica ditemani sama Nak Alona!"
Mendengarnya, Alona yang sedari tadi memilih diam itu mendadak terbelalak. "Ehh! Sayaa??"
"Iya, tolong temani Jesica dulu ya, Nak!" Selesai berucap, tak lagi menunggu jawaban setuju dari Alona, segera Ayah Jesica keluar ruangan dengan menggandeng lengan Bobby. Kini tinggalah Alona berduaan dalam ruangan bersama Jesica. Hening. Tak ada satu pun yang memulai percakapan di antara mereka.
Alona masih duduk di atas kursi yang muat untuk satu orang. Sedang tangannya berpangku di atas pangkal. Memainkan ujung gaunnya yang panjangnya hanya selutut. Netranya membuang jauh keluar jendela.
Berbeda dengan Jesica. Gadis itu tak hentinya menatap sinis ke arah Alona. Antara benci dan iri, rasa itu bahkan sudah mendarah daging dalam tubuhnya.
"Cih!" Tiba-tiba terdengar tawa tipis dari bibir Jesica. Alona menoleh. "Apa loe kemari buat menyaksikan penderitaan gue? Lo puas kan sekarang, merasa menang dari segalanya? Pasti hati loe sedang ketawa kan?"
"Jesica! Sampai kapan loe akan berpikir pendek? Apa hari ini loe masih mengira gue ngebenci elo?"
__ADS_1
"Cih!" Kembali ia tertawa getir. " Iya! Emang bener kan? Dan loe tanya sampai kapan pikiran gue terus pendek! Gak salah?"
Alona memasang wajah geramnya, emosi. Tapi tetap tak memungkiri bahwa di bawah pelupuk matanya sudah mengantri buliran bening yang menumpuk dan siap tumpah.
"Biar gue beritahu elo, sampai loe bisa merasakan penderitaan yang sama seperti gue! Baru gue berenti ngebenci! Paham loe?" ungkapnya tegas.
"Gue gak nyangka lu benar-benar kejam, Jesica!"
"Lu yang kejam!"
Deg!
Hardikan Jesica berhasil menusuk ke dalam hati Alona. "Gue kejam kata loe? Memangnya apa yang sudah gue lakukan sampai loe berkata kalau gue kejam?"
"Hoho?? Jadi lu pura-pura o'on sekarang??Sewaktu kecil, lu bilang susah senang kita bagi bersama! Tapi ternyata apa? Buktinya sekarang lu bahagia sendiri! Sedangkan gue, gue menderita! Gue yang menginginkan Bobby di sisi gue, tapi loe dengan genitnya mencuri hatinya. Bahkan saat loe sudah mendapatkan bos Arya yang lebih dari Bobby, loe masih ngintil sama Bobby! Apa itu yang namanya sahabat susah senang bersama??"
"Jesica, loe salah .. gue gak per ....!"
"Stop, Alona! Gue gak mau dengar apa pun penjelasan dari loe! Keluar loe dari sini! Keluaaaaarrrrr!!!!"
Deg!
Meski geram. Alona memutusnya untuk keluar dari ruang inap Jesica.
"Nak Bobby! Ini semua salah Om! Semua yang terjadi pada Jesica adalah salah Om!" Ayah Jesica mulai terisak, ia menutup wajahnya menggunakan kedua tangan saat berbicara pada Bobby. Deburan angin mendadak menyapa wajah mereka, menjadi saksi atas kesedihan sang ayah yang tengah duduk di ruang terbuka bersama Bobby.
"Om! Jangan menyalahkan diri sendiri! Mungkin semua ini adalah cobaan untuk, Om!"
"Tidak, Nak Bobby! Ini semua memang salah Om. Semua berawal dari kesalahan Om sepuluh tahun lalu. Saat itu Om benar-benar melakukan kesalahan besar. Om mengkhianati ibu Jesica bahkan sampai mengusirnya keluar dari rumah. Disaat itu juga Om langsung membawa wanita asing ke dalam rumah sebagai pengganti ibunya. Saat itu Jesica tak punya pilihan lain selain mematuhi saja!" Wajahnya terlihat putus asa saat menguraikan kisah masa lalunya. "Kalau saja Om bisa mengulang kembali ke masa itu, mungkin Jesica gak akan berubah menjadi anak yang bandel dan membangkang pada orang tuanya."
Bobby terdiam mendengarkan penuturan ayah Jesica.
"Sejak kepergian ibunya, Jesica yang sebelumnya periang mulai hilang keceriaan. Anak itu lebih sering mengurung diri di dalam kamar. Dia bahkan gak ngizinkan teman-temannya untuk datang ke rumah!" Ucapan ayah Jesica terputus seiring dengan sadarnya ia dari lamunan. Tangisnya mengiringi kesedihan yang kini ia rasakan. "Ah, maaf! Kayaknya Om terlalu panjang berceritanya!"
"Gakpapa, Om! Saya justru senang karena Om mempercayakan saya untuk menuangkan isi hati Om!"
"Terima kasih ya, Nak Bobby! Suatu saat Om akan balas kebaikanmu!"
"Tidak masalah, Om. Saya senang bisa membantu!"
"Ahh iya, itu .. anu!"
__ADS_1
"Kenapa, Om?!""
"Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin Om katakan! Tapi takut akan membuatmu merasa terusik!"
"Apa itu, Om! Katakan saja! Saya akan bantu selama saya bisa membantu!"
"Ituu ... maukah Nak Bobby menjaga Jesica?"
"Maksudnya, menjaga seperti apa ya, Om?"
"Om ingin Nak Bobby mempersunting Jesica! Om tau, permintaan Om terlalu berat. Tapi Om tak tahu lagi harus bagaimana! Saat ini Jesica hampir depresi, karena harus menanggung beratnya hamil diluar nikah. Sedihnya lagi, Jesica tak mengenal siapa pria yang harus bertanggung jawab atas janinnya yang gugur saat ini!"
Mendengar penuturan ayah Jesica, seketika senyum ramah Bobby berubah tegang. Tangan yang sebelumnya menggenggam erat kepalan tangan ayah Jesica yang merekat di atas meja itu mulai terlepas.
"Nak Bobby??" Netra ayah Jesica terlihat berkaca-kaca. Sadar bahwa perubahan raut Bobby adalah jawaban atas penolakannya.
"Maaf, Om! Kali ini saya tak bisa membantu!"
"Apa karena Jesica sudah menjadi aib?"
"Bukan karena itu! Hanya saja, pernikahan sejatinya atas dasar saling mencintai. Saya ingin menikah dengan wanita yang saya cintai!"
"Tapi, Nak Bobby! Kalau yang menjadi masalah hanyalah cinta, Om rasa semua bisa diatasi. Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu saat kalian selalu bersama! Kalian pasti bisa saling mencintai! Om yakin itu!"
Bobby mulai diam dengan pandangan yang tak lagi menjurus ke wajah ayah Jesica.
"Nak Bobby! Apa Nak Bobby tega melihat Jesica dengan keadaan seperti ini?"
"Maaf, Om! Orang lain mungkin bisa menghadirkan cinta setelah memaksakan untuk bersama! Tapi tidak dengan saya! Saya tak bisa memaksakan cinta tumbuh hanya karena seringnya bersama."
Ayah Bobby tertunduk. Sadar, pria yang diharap tampaknya tak memberi harapan. Ia mendongak pelan. Masih terlihat jelas raut Bobby yang sebelumnya hangat itu berubah dingin. Ayah Jesica kini hanya bisa memaksakan senyumnya agar terlihat natural. Namun, tetap tak dapat menutupi kenyataan bahwa senyuman itu adalah senyuman yang pahit.
"Baiklah, Nak Bobby kalau itu keputusanmu! Om tak bisa memaksakan! Maaf kalau Om sudah memaksa!"
"Ya, maaf juga karena dengan terang saya menolak permintaan Om!"
Kembali senyuman pahit itu terpancar dari bibir keunguan ayah Jesica.
"Tapi saya tetap akan menyelesaikan adminnya sesuai dengan janji saya."
"Terima kasih banyak, Nak Bobby!"
__ADS_1
Bobby mengangguk pelan. "Kalau begitu, saya izin pamit! Saya akan jemput Alona di ruang inap Jesica!"
"Ah iya! Mari .. kebetulan Om juga mau kembali ke ruang Jesica!"