Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Terungkap secara tak sengaja


__ADS_3

"Permisi! Beri jalan untuk kapten!" Salah seorang petugas keamanan meminta agar para penumpang membuka jalan.


Semua penumpang mulai ribut membicarakan tentang presdir Arya. Sebab ini adalah kali pertama mereka mengetahui sosok pemimpin besar mereka. Namun, sungguh pengakuan yang nyaris tak terduga, sang pendiri perusahaan itu terpaksa mengaku karena terdesak. Saking terdesaknya, ia bahkan sampai mengejar pesiar yang sudah berlayar hanya dengan menggunakan speed boat. Dan hanya di dampingi oleh asisten pribadinya yang sudah terkenal sejak lama, ya pria itu ialah Bobby. Hal itu membuat seluruh staf dan karyawan bertanya-tanya, gerangan apakah hingga sang pemimpin terbesar itu mengejar pesiar yang penumpangnya tidak lain hanyalah para karyawan dan staf kantor. Ada apa gerangan?


Selang beberapa saat puluhan speed boat mulai memadati seputaran area pesiar, pemandangan yang terlihat jelas dari atas kapal. Para pengawal itu terlambat beberapa menit, untuk mengawal pemimpin besar mereka.


Alona terkesiap, pandangannya mulai fokus ke arah keramaian yang berada pinggiran kapal. Rasa penasaran kini menggerayungi pikiran.


"Presdir Arya?? Yang mana orangnya?? Kenapa sampai rela mengejar pesiar yang penumpangnya hanya karyawan dan staf kantor ini? Ada masalah apa? Apa dugaanku benar bahwa kapal ini akan tenggelam? Hiiii." Ia merinding, membayangkan bagaimana gabutnya seluruh penumpang jika dugaannya itu benar terjadi.


Gadis itu mulai menelisik lebih jauh apa yang terjadi. Teramat penasaran. Bahkan sang kapten kapal yang sedari awal hanya berada di dalam ruang kemudi itu sampai turun. Alona berlari kecil mengikuti langkah para penumpang yang lebih antusias darinya.


Namun, padatnya kerumunan berhasil mengurungkan niatnya untuk ikut serta menyaksikan apa yang terjadi. Sebab ia teringat tentang peristiwa yang pernah menimpanya di acara festival. Saat itu ia bukan hanya terhimpit, gadis itu bahkan sampai terjatuh. Mungkin saat itu ia masih bisa terselamatkan karena adanya Bima yang selalu menjaga, tapi tidak dengan saat ini. Ia sadar, Bima tak lagi berada di sisinya. Tak ada yang akan peduli jika terjadi sesuatu padanya.


Jesica yang dulu selalu bersama dan menjadi pembela pun kini tak lagi berada di sisinya. Wanita itu memilih berkumpul dengan teman sekantor lainnya.


Sesekali Alona melirik ke arahnya. Namun, yang terlihat hanya kerumunan wanita penggosip yang berbisik seraya menatap sinis Alona. Gadis itu tak peduli. Kalau hanya digosipi, ia sudah biasa, asal tidak menyentuh tubuhnya ia pun akan mengabaikannya.


Ting! Tong!


Alarm peringatan itu berbunyi satu kali. Seluruh penumpang yang tadi riuh kini mulai senyap. Menunggu kabar yang akan disampaikan dari ruang informasi.


'Panggilan khusus kami tujukan kepada penumpang dengan nomor kursi 302, kehadirannya ditunggu di lantai dasar! Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.'


Ting! Tong!


Alarm kembali berdenting menandakan berita yang di sampaikan telah usai.


Semua penumpang kini kembali riuh. Masing-masing bertanya siapa pemilik tiket keberangkatan dengan nomor 302.


Hanya Alona yang terdiam mematung. Sedang bola matanya membulat sempurna. Tak percaya bahwa ia pemegang tiket kursi dengan nomor 302.


"Kenapa presdir Arya sampai mencariku? Bukankah beliau ada di luar pulau? Dan mengapa bisa bersama Bobby??" Berbagai spekulasi mulai berkecamuk dalam pikirannya. Seketika gadis itu teringat dengan pria yang selama ini selalu bersamanya. Meski awalnya hubungan pertemanan mereka cukup dekat hingga akhirnya nyaris berubah menjadi hubungan kekasih, tetapi identitas pria itu masih saja misterius.


"Bima? Apa mungkin sosok yang yang bersembunyi di balik identitas Bima adalah Arya? Apa benar selama ini dugaanku bahwa Bima adalah pria kaya?" Alona semakin menerka-nerka.


Ting! Tong! Alarm kembali berdenting.

__ADS_1


'Kami ulangi, panggilan ditujukan kepada penumpang dengan nomor kursi 302. Harap kehadirannya di lantai dasar! Terima kasih!'


Deg!


"Sepertinya gue benar!"


Seketika Alona tersadar. Gadis itu mulai berlari menuju lift. Samar terdengar beberapa penumpang lainnya bergosip.


"Eh, tuh si cupu mau ke mana?"


"Biasa lah, mungkin mau cari gara-gara!"


"Ngapain dia berdiri di depan lift? Gak sadar ya? Yang ditunggu di bawah itu orang penting!"


"Iya, kepedean banget dia!"


"Udah cupu, sok kepo lagi!"


"Mungkin dia fans berat presdir Arya, berharap dapat tanda tangannya kali!"


Seketika semua terkikik. Meledek Alona.


"Eh, Alona, lu mau ngapain? Lu gak dengar presdir Arya manggil orang penting! Minggir lu! Jangan halangi jalan."


Sambil menunggu lift terbuka Alona menoleh pelan. Menatap sinis para penumpang songong yang salah satunya berbicara padanya itu. "Lu yang minggir! Lu gak tau, kalo orang penting yang loe maksud itu gue? Nih!" Menunjukkan nomor kursi miliknya yang tertera 302. Seketika para pencibir tadi menutup mulut. Bak tersambar petir, wajah mereka tercengang tak percaya.


Ting! Lift terbuka.


Alona masuk lalu menekan tombol hold. Membuat pintu lift tertahan.


"Dengar nih ya! Kalau kalian masih berani ngomongin gue, gue bakal adukan hal ini pada presdir Arya. Biar kalian semua dapat akibatnya! Ngerti kalian!"


Mendadak wajah mereka pucat. Saling pandang lalu menjerit berjamaah, memohon agar Alona memaafkan mereka. Alona hanya membalas dengan senyum penuh kemenangan.


Sekilas terlihat juga sosok Jesica di kejauhan. Wanita itu terlihat amat geram. Mengepal tangannya seraya memandang Alona. Lagi-lagi, senyum kemenangan juga Alona lemparkan padanya. Lalu kembali menekan tombol tutup menuju lantai dasar.


Pintu lift perlahan terkatup, begitu pun dengan bayangan Alona yang perlahan menghilang di balik lift. Hanya puluhan mata karyawan yang kini masih melotot, tecengang, tak percaya.

__ADS_1


Masalah pencibir sudah usai, kini Alona harus mengurus masalah debaran jantungnya yang tadi sempat mereda. Yang kini mulai mencuat hingga membuatnya resah.


Bagaimana jantungnya tidak berdebar, di bawah sana, tengah menunggu sosok pemimpin besar yang selama ini menyamar sebagai karyawan biasa.


"Apa yang akan dia katakan? Juga kata apa yang pantas aku ucapkan padanya? Apa ini akhir dari hubungan kami?" Perasaan cemas semakin menghantui pikirannya. Ia sampai tertunduk lesu.


Ting!


Lift kembali terbuka. Puluhan sosok bodyguard menyambut kehadiran sang gadis. Membuat Alona bergidik. 'Duh, apa begini rasanya menjadi Cinderella dadakan yang bakal bertemu pangeran? Atau jangan-jangan sebaliknya, gue menjadi putri Rapunzel yang harus siap mendekam di atas menara! Duh, gue harus apa? Apa yang udah gue lakukan? Selama ini gue sering bersikap kasar sama Bima! Dan ternyata dia presdir Arya. Matilah gue! Hikzz!" Ia membatin. Sedang rautnya mulai terlihat berantakan.


"Selamat pagi, Nona Muda! Silahkan lewat sini, Tuan Muda sudah menunggu anda!"


"Ah iya!" Alona tertegun. Mengangguk pelan. '


Apa? Nona Muda? Hmm, apa barusan mereka memperlakukan gue seperti orang besar?' Alona menyengir dalam hati. 'Apa itu artinya gue jadi Cinderella dan bukan Rapunzel! Yessss!!'


Gadis itu berjalan mengikuti arahan para pengawal. Sedang di jarak yang hanya berkisar sepuluh meter, tengah menunggu sosok pria yang tak lagi asing. Ya, Bima tengah berdiri dan menunggunya dengan raut cemas.


Melihat sang pria memasang wajah suntuk seperti orang bersalah itu menimbulkan niat jahil dalam benak Alona. 'Kayaknya Bima nyesal gak balas chat gue! Apa gue pura-pura marah aja, ya!' batinnya bergumam. Diapitnya kedua lengan di atas dada. Memalingkan wajah. Tingkah konyolnya nyaris membuat para bodyguard menjadi panik. Takut jika suasana hati sang bos yang runyam itu semakin rusak. Karena ulah tingkah Alona.


Namun, tak disangka. Begitu jarak mereka sudah dekat. Mendadak Arya menarik lengan Alona. Memeluknya erat.


"Alona, plis! Jangan ninggalin gue! Maaf karena gue udah membuat loe cemas!"


Deg!


"Bi-Bima??"


Pria itu melepas pelan pelukannya. "Ikut gue sekarang! Gue gak suka di sini! Terlalu banyak pasang mata yang nontonin kita!" tukasnya pelan.


"Eh, ke mana?"


Tak lagi bicara, segera Arya menarik lengan Alona. Membawanya menuju kapal speed. Diikuti oleh beberapa Bodyguard yang setia membuntuti ke mana pun Arya pergi.


Seluruh karyawan yang menyaksikan itu riuh menyoraki mereka, kecuali beberapa karyawan penggosip yang sebelumnya mencibir Alona. Mulut mereka menganga, dengan bola mata yang nyarik terbelalak. Tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Sedang Jesica, gadis itu terlihat menyesal. "Kalo aja dari awal gue tau Bima adalah Arya, dari awal gue pasti cuma deketin dia! Agghhh! Alona! Lu cuma cewek biasa! Lu gak pantas mendapat keberuntungan ini! Lihat aja apa yang akan gue lakukan sama loe! Gue harus bertindak cepat sebelum loe membuka mulut!" Ia membatin.

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2