Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Dokumen Pulau Sittar


__ADS_3

Selama dua hari terakhir itu Bobby hanya berkomunikasi dengan sang bos CEO, semua kontak dan jaringan yang terhubung selain dari pihak petinggi GCK grup ia matikan.


Untuk memperluas jaringan dan menunjang kelancaran bisnis agar perusahaan GCK grup semakin meningkat di tiap tahunnya, pria tampan itu sibuk melakukan penawaran pada beberapa perusahaan-perusahaan untuk menandatangi kontrak kerja sama dengan pihak GCK grup.


Tentu saja semua tahap yang Bobby lakukan tak semudah membalik telapak tangan. Ada banyak rintangan dan masalah yang harus di hadapi dari pihak perusahaan lawan yang berusaha menjatuhkan nama baik GCK grup.


Salah satunya ialah pihak perusahaan milik ketua presdir Brillian. Pihak yang pernah diputus kontrak secara tak adil oleh presdir Arya. Hanya karena mereka membatalkan meeting dengan dalih adanya anggota yang berkabung di hari pertemuan meeting oleh sesama petinggi.


Namun, semua rintangan itu selalu berhasil dilewati oleh Bobby, semua tugas yang ia emban berjalan dengan baik dan lancar. Wajar saja jika Arya sangat mempercayakannya, ia tak pernah berniat melepas asisten tercerdasnya itu.


Dengan kecerdasan yang Bobby miliki, Arya dapat mengatur dengan mudah semua urusan yang menyangkut dengan pihak GCK grup.


Berkat kerja kerasnya yang selalu kompetent, Arya menghadiahkan satu buah perusahaan yang berhasil di rebut oleh pihak GCK grup, yang kemudian ia serahkan pada Bobby untuk mengurusnya.


Kini, nama Bobby bukan hanya sebatas asisten presdir Arya. Tapi juga sekaligus pemegang saham terbesar di perusahaan ASK grup yang di hadiahkan padanya itu.


Berita itu bahkan dengan cepat menyebar luas melalui jaringan sosial awak media dan chanel-chanel stasiun swasta. Bahkan seluruh karyawan GCK grup turut bersuka cita atas kesuksesan yang di raih asisten pribadi presdir Arya.


Namun tetap saja, sosok pemilik sejati perusahaan GCK masih menjadi misteri di kalangan masyarakat maupun seluruh karyawan GCK grup.


******

__ADS_1


"Jordan, jangan coba menantangku! Cepat serahkan dokumen yang berisi pengesahan terhadap pulau Sittar!" Mengancam dengan mengarahkan ujung pistol di atas dahi pria itu. Namun tak disangka, Jordan masih bisa tersenyum sinis.


"Dengar! Peluru ini tak akan segan untuk mendarat di kepalamu!" tegas Arya.


"Hahaha! Kalau begitu bunuh saja! Tunggu apa lagi, Arya?"


"Aggghhh!"


Buuug! Satu buah pukulan di layangkan ke wajah Jordan.


"Uuuhhh!" Mendesah. Darah segar mengalir di sela bibir Jordan.


"Kau ingin aku melakukan apa? Tanda tangan? Kau ingin aku tanda tangan di mana jika dokumen saja tidak ada padaku ataupun padamu?" Jordan tertawa menyeringai, menghapus darah yang terlanjur mengalir di sela bibirnya.


"Sial!" Arya berdecak kesal.


"Bukankah kau sudah menggeledah markasku?"


Arya diam tak menjawab.


"Sudah kukatakan, dokumen itu tak ada padaku. Dokumen itu tersimpan rapat di suatu tempat. Tak akan ada satupun yang dapat menemukannya!"

__ADS_1


Buuug!


Kembali hantaman mendarat di wajanya. Arya teramat geram. Sudah puluhan kali ia menanyakannya, tetap saja tak mendapat jawaban memuaskan dari Jordan.


"Meski nyawaku berjumlah ratusan dan puluhan kali kau membunuhku, aku tetap akan membungkam. Aku tak akan memberikan harta karun yang tersimpan di pulau Sittar itu padamu!"


"Ckk! Baiklah! Kau tak perlu mangatakan di mana dokumen itu padaku. Kelak aku sendiri yang akan menemukan dokumen itu! Kau, cukup tunggu aku di sini untuk menandatangani, lalu menyaksikan kesuksesanku di balik layar itu. Sementara kau sendiri, membusuklah kau di balik sel jeruji ini!"


"Hahaha! Kau pikir aku akan membiarkanmu menang begitu saja!"


Arya bergidik. Sementara satu anak buahnya berbisik di samping Arya. "Bos, jangan remehkan dia. Kudengar Jordan masih tercatat dalam ruang lingkup keluarga Brillian. Itu artinya, pria itu masih berada dalam lindungan mereka."


"Jangan risaukan itu! Keluarga Brillian bukanlah tandingan yang sepadan dengan kita. Jika aku ingin, hanya dengan satu kali serangan aku mampu merebut kursi pertahanan mereka." Pria di sampingnya yang tadi berbisik kini hanya bisa mengangguk.


"Silahkan saja, jika kau anggap dirimu sanggup melawanku!"


"Cih!" Jordan berdesis pelan.


Pandangan Arya menatap jauh ke depan. "Aku pasti akan mendapatkan dokumen itu!" gumamnya.


Sementara itu, dokumen yang berisi pengesahan kepemilikan Pulau Sittar berada dalam gudang tua tepat di belakang hotel borneo. Gudang di mana Jesica dan keenam sohibnya membully Alona.

__ADS_1


__ADS_2