Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Menunggu


__ADS_3

Drrrttt! Drrrrttt!


Ponsel Alona bergetar sesaat. Gadis itu terbangun, melirik jam yang terpajang di dinding. Terpampang waktu yang menunjukkan pukul 05:30 dini hari.


"Siapa yang udah ganggu gue di pagi buta gini!" rutuknya. Malas. Lengannya meraba ponsel yang sebelumnya tergeletak di samping bantal. Cahaya yang memancar dari layar ponsel membuat Alona menyipitkan mata.


Satu buah notifikasi wechat tertera di layar ponsel.


[Pagi, gadis Pembuat Onarku! Jangan lupa untuk bersiap-siap ya. Gue jemput setengah jam lagi, oke!]


Glek!


"What? Setengah jam lagi?" Mata Alona membelalak. Isi dari pesan wechat itu membuat Alona terlonjak. Buru-buru ia bangkit, mengelap air saliva yang sempat mangkir di pipi, dan langsung menyambar handuk yang tergeletak di atas sofa. Berlari kecil menuju kamar mandi.


Percikan air di pagi buta serasa lebih dingin dari musim hujan.


"Brrr!" Ia bergetar, kedinginan saat keluar dari kamar mandi.


Sekali lagi meraih ponsel, mengotak-atiknya untuk membalas chat dari Arya. Meski bergetar kedinginan tapi tak mengurangi lebarnya senyuman Alona.


[Oke, Suuum, siaaap!] balasnya.


Tring! Balasan kilat dari Arya. [Suum?? Apaan tuh?]


[MESUM]


[Oh! Mulai, ya! Awas loe!😡]


[😝😝]


Kembali terlihat titik tiga yang bergoyang di layar ponsel, pertanda seseorang sedang mengetik, membalas pesan darinya. Alona tak lagi memegang benda kesayangannya, diletakkannya ponsel itu di atas matras. Buru-buru membuka lemari pakaian gantung dan langsung memilih beberapa baju yang sekiranya cocok dikenakan pada acara festival tahunan rakyat.


Berkali-kali mencoba ini dan itu, hingga akhirnya menemukan satu pasang yang pas.


Setelan jumpsuit sudah melekat di tubuhnya. Tak lupa rambut panjangnya ia cepol ke atas. Membuat tampilannya semakin imut. Dan satu buah tas ransel mini untuk membawa perkakas, ponsel hingga alat tempur wanita sudah siap pakai.


Alona akhirnya keluar kamar setengah berlari menuju halaman parkir hotel borneo. Dan hanya butuh lima menit, gadis itu tiba di halaman hotel.


Mendadak netranya membelalak mendapati seorang wanita yang sudah lebih dulu berada di halaman hotel borneo. Ternyata ia bukanlah satu-satunya yang bangun di pagi buta. Jesica, sudah lebih dulu berada di halaman parkir itu.


Namun, bukan dengan penampilan glamour yang biasa ia kenakan. Melainkan baju piyama dan satu buah sendal tipis yang disediakan pihak hotel. Wajahnya terlihat pucat, sedang di tangannya menjenteng kresek bening berisikan bubur nasi dengan kuah kaldu ayam.


"Eh! Kenapa tuh anak, gak biasanya beli bubur? Bukannya dia bilang eneg sama makanan itu?" celoteh Alona dalam hati.


Jesica hanya lewat, tanpa menyapa atau bahkan sekadar melirik. Seakan Alona adalah sosok hantu yang kasat mata.


Alona memilih melakukan hal yang sama, tak menegurnya. Hingga gadis itu berhasil melintas di samping Alona. Tetap saja Alona bergeming.


Langkahnya sudah sepuluh kaki lebih jauh, barulah Alona menoleh. Rambutnya yang pendek setelah mendapat ganjaran dari Alona saat berduel itu sudah terlihat rapi dengan potongan bop. Sepertinya Jesica merapikannya ke salon wanita.


Alona memperhatikan punggungnya yang berjalan pelan menaiki anak tangga. Sesaat hatinya pilu memandang sahabatnya itu.


"Dulu kita selalu bersama, suka duka kita bagi, selalu mencari solusi atas masalah kita! Tapi sekarang kita berjarak! Seperti ada tembok penghalang!" Tak terasa, buliran bening membasahi pipi Alona. Gadis itu berjongkok, merangkul kedua lututnya dengan tangan. Menyembunyikan kepala di antara kedua betis.


Tiit! Tiit!


Suara klakson mengagetkan Alona. Ia mendongak.


"Oey! Onar! Ngapain lu pagi-pagi nongkrong di situ?" hardikan yang disertai tawa itu mengagetkan Alona. "Ayo, buruan naik!" Wajahnya terlihat ceria.


Gadis itu memonyongkan bibirnya."Loe bisa gak sih, gak panggil gue Pembuat Onar?" Menyungut.


"Hmm .. bisa aja! Loe maunya dipanggil apa? Manisku, Babbyku, Sweetyku??"


Deg!

__ADS_1


'A-apa? Kalau panggilannya begitu sih, gue mau banget!' celotehnya dalam hati, sedang mulutnya terkunci secara otomatis. Diam. Tak menjawab. Hanya mata yang membelalak.


"Diam artinya mau!" lanjut Arya. "Oke, ayo masuk, Manisku!"


"Ehh!"


"Hem?"


"Ah, iya!"


Alona memasang senyum canggung, mendekat ke arah mobil lalu masuk setelah Arya membuka pintu mobil. Seketika Arya merapatkan tubuhnya, membuat pikiran liar Alona bermain dengan nakalnya. 'Ma-mau ngapain dia? Kok mendekat? Apa dia mau nyium gue? Aduuh, kok mendadak sih! Izin dulu kek!' Gadis itu memejamkan mata.


Ceklek! Suara sabuk pengaman yang dipasang di tubuh Alona membuatnya bergidik. 'Eh! Apa nih?'


"Lu ngapain merem-merem?"


Deg!


'Eh! Apa? Ternyata bukan mau nyium ya?' keluhnya dalam hati. Alona mencoba mengalihkan pembicaraan, berakting dengan mengedip-ngedipkan mata."Ah, mendadak mata gue kelilipan!"


"Mana yang kelilipan, sini gue bantu tiupin!"


"Ahaha! Gak perlu! Mendadak udah ilang!" Tertawa canggung.


"Oh! Udah ilang ya, ya kalo gitu gue gak jadi bantu!" Kembali pria itu merapatkan duduknya di kursi setir.


Glek!


'Hais! Kenapa gak gue iyain sih!' Menyesal. Alona hanya bisa merutuk dalam hati.


****


Jesica masih bersungut dalam kamarnya. Satu malam penuh ia habiskan dengan bergadang. Hampir tak dapat tidur sama sekali.


"Aduuh, lingakaran hitam di mata gue jadi menonjol banget. Kalo begini, gimana gue bisa pergi ke festival!"


Sudah sepuluh tahun terakhir sejak orang tuanya bercerai, Jesica hampir tak pernah menyusahkan mereka. Gadis itu sibuk mengurus diri sendiri, mulai dari kebutuhan pokoknya hingga biaya selama kuliah. Semua yang ia lewati penuh dengan ribuan rintangan. Namun, meski begitu, gadis itu selalu bersemangat. Tak pernah menyerah menggapai keinginannya. Juga tak pernah mengeluh pada siapa pun. Hal itu yang membuatnya kuat dan bahkan sering menampung curhatan dari para teman yang merasa tersudut, mau pun teman yang butuh sandaran. Salah satunya ialah Alona yang sebelumnya paling sering menempel padanya.


Ya, sebenarnya Jesica memiliki cita-cita menjadi seorang pebisnis sukses. Tapi ia tak bisa berbuat banyak, karena seorang pebisnis harus memiliki jaringan yang luas jika ingin sukses. Sedang ia sendiri, hanya memiliki puluhan simpanan pria kaya yang satu pun belum berhasil di gaet. Terlebih, kebanyakan dari pria kaya itu berstatus menikah. Dalam artian, Jesica hanya sebagai gadis simpanan. Hanya satu yang masih berstatus lajang. Ya, pria itu sedang menjadi incaran Jesica. Dan kini, upayanya gagal karena terhalang oleh sahabatnya sendiri, Alona.


"Huh! Kenapa sih mereka ini gak ada yang bisa di andalkan?" rutuknya kesal, saat berkali-kali mencoba menghubungi nomor para om tajir untuk meminta kiriman uang.


"Uggghhh!" Duduk lemas. Sedetik kemudian ia melamun. Mengingat perihal teman-temannya yang memang keturunan orang berada. Jesica berusaha mengimbangi mereka dengan memakai perhiasan dan aksesories palsu agar terlihat setara. Namun, semua yang ia lakukan tak dapat menutupi kenyataan bahwa sebenarnya ia adalah gadis yang cukup melarat dan menderita.


"Selama ini, cuma Alona yang gak pernah menghina gue!" Lesu. Merebahkan tubuhnya ke atas matras. "Rasanya, sedikit menyesal gue udah perlakukan dia dengan buruk!" Kembali dimainkannya ponsel retak di sela jemari.


"Kalo aja dia gak ngerebut Bobby dari gue! Aggghhh! Bobby .. cuma dia satu-satunya aset gue saat ini!"


Ting! Notifikasi dari wechat. Jesica melirik sekilas. Tertera nama Bobby dalam layar ponsel.


Deg!


Matanya membelalak tak percaya. "Bobby ngehubungi gue? Yess!!" Cepat ia membuka isi pesan itu.


[Jesica, lu gak ke festival?]


"Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu tiba juga! Semoga hari ini, hari keberuntungan gue!" gumam si gadis.


[Gue mau berangkat, cuma bingung, gak tau bareng siapa?] Isi chat dari Jesica. "Semoga Bobby peka dengan kode ini!" gumamnya.


[Loh! Karyawan lain kan ada banyak. Kok masih pake bingung. Lagian, biasanya lu juga bareng Alona]


"Astaga! Gue lupa, Bobby kan gak tau kalo gue sama Alona gak akur. Ah sial! Cari alasan apa gue?"


[Alona ya, dia udah berangkat duluan]

__ADS_1


[Kok bisa??]


[Sudah dijemput] Jawaban Jesica ketus.


Kesal. Sepertinya usaha Jesica untuk membuat Bobby menjemputnya tak membuahkan hasil. Dihempasnya ponsel itu dengan kasar ke atas matras. Masih terpampang jelas tiga titik yang bergoyang. Tak peduli, meski Bobby sedang mengetik balasan untuknya, ia hanya melirik dan langsung berbaring. "Ah, paling juga bukan hal penting!" rutuknya.


Ting!


Titik tiga yang tadi bergoyang sudah berganti dengan notifikasi. Gadis itu tetap berbaring. Tak mengindahkan, hingga tanpa sadar, ia terlelap dan semakin jauh masuk ke alam mimpi.


Tok! Tok! Tok!


"Jesica?!"


Samar gadis itu mendengarnya. Antara sadar dan mimpi. Kembali ketukan itu menggema di telinga.


"Jesicaaa! Apa loe di dalam?"


Deg!


Jesica membuka mata. "Ternyata bukan mimpi! Duuuh, siapa sih yang udah ganggu tidur gue?" Ia bangkit. Berjalan gontai menuju pintu masuk. Membuka pelan gagang pintu.


"Haii!!" Sapaan itu berhasil membelakakkan mata Jesica. "Baru bangun??"


"Ehh, Bobby? Ehehe! Iya, gue ketiduran!"


"Kok bisa?"


"Ya bisa! Gue kecapean!"


"Oh! .. Jadi pergi ke festival kan? Mau bareng gue?"


Deg!


'Yessss!!!!!' Hati Jesica berjingkrak riang. "Boleh!" sahutnya singkat, berusaha tetap terlihat anggun.


"Ya udah. Buruan lu siap-siap. Gue tunggu di bawah, ya!" Bobby memutar badan, berniat beranjak dari depan kamar Jesica.


"Tunggu!" Mendadak Jesica menahan lengannya. "Gak tunggu di dalam aja?"


"Apaa?? Ahahah! Gak usah, gue tunggu di bawah aja. Takut nanti orang salah paham!"


"Loh, biarin aja kali! Kalo beneran juga gue gak masalah kok!"


"Ehehe!" Tertawa canggung. Bobby melepas paksa genggaman Jesica. "Gue tetap tunggu di bawah aja!" Bergegas ia pergi. Jesica hanya menatap punggungnya yang semakin lama semakin menjauh.


'Apa? Gue rasa, tadi itu Bobby nolak gue! Sial! Kenapa loe nolak gue? Sedangkan dengan mudahnya loe bersama Alona dalam satu kamar?'


"Ciyee, yang lagi deket sama direktur baru!" Suara wanita yang terdengar dari arah samping berhasil mengejutkan Jesica. Gadis itu menoleh.


"Eh, Vika! Sejak kapan loe di situ?"


"Sejak tadi dong. Gue lagi nunggu cowok gue nih!"


Jesica tersenyum manis menatapnya. "Oh, nunggu cowok lu jemput!"


"Iya, btw, lu udah janjian ya sama Pak Bobby?"


"Eh! Ahh ya, iya dong!"


"Cieee, yang berhasil deketin direktur Bobby, calon istri milliarder nih? Selamat ya!"


"Ahaha! Biasa aja!" Jesica tertawa kecil hingga hampir melenyapkan mata sipitnya.


'Mereka mengira Bobby beneran PDKT sama gue, sial! Tapi gakpapa, setidaknya di mata mereka gue yang dekat sama Bobby, bukan Alona. Dengan begini, gue jadi mudah menyingkirkan Alona sejauh-jauhnya dari sisi Bobby!' gumamnya dalam hati.

__ADS_1


maaf baru bisa update ☺️🙏


__ADS_2