
Arya dan Bobby sudah kembali dari dubay. Pria itu berhasil mengantongi satu buah cincin yang cukup indah. Wanita mana pun pasti akan terpana jika diberi cincin seindah itu.
Kedua pria itu tak langsung ke hotel borneo begitu tiba di pulau xx. Mereka lebih memilih beristirahat di villa untuk satu malam. Karena rasa lelah sepanjang perjalanan yang mereka lalui untuk bisa pulang pergi kota dubay.
Arya yang kelelahan langsung tertidur pulas begitu kepalanya menyentuh bantal empuk. Tak lagi ia mengingat kekasihnya Alona yang mungkin mencemaskannya karena seharian tak memberi kabar, bahkan untuk sekadar membuka chat dari Alona yang sudah menumpuk, Arya sudah tak sempat.
Mentari kembali hadir, sinarnya menyapa wajah Arya yang masih tergeletak di atas ranjang. Pria itu menggeliat, memeluk guling seraya mengigau. "Alona, maukah kamu jadi istriku," ucapnya tanpa sadar. Sesekali menciumi guling yang ia peluk.
Lambat laun, cahaya mentari semakin terang, silaunya membuat netra Arya menyipit. Arya mengerjap beberapa kali. Diusapnya pelan dengan satu lengan. Sementara tangan sebelah berusaha meraih ponsel yang terselip sepanjang malam di bawah bantal.
Klik!
Penampakan puluhan notifikasi dalam layar ponsel langsung memenuhi ruang penglihatan Arya.
Netra Arya terbelalak aplikasi wechat dalam layar itu.
"Astaga! Gue lupa ngehubungi Alona dari semalam!" gumamnya. Dipukulnya ujung kepala dengan kepalan tangan. Sedikit gugup membuka isi chat yang jumlahnya tak terbatas itu. Membaca pelan isi chat dari paling teratas hingga paling terbawah. Isi pesan di awal masih manis semanis madu, menginjak pertengahan mulai berubah garang segarang beruang madu. Lalu beranjak ke paling terbawah terlihat jauh lebih garang. Garangnya bahkan selevel dengan induk macan yang kelarapan selama tiga hari.
Kata makian hingga hardikan terlontar dari layar ponsel yang ia genggam. Arya sampai pucat membacanya.
Awalan ....
11:30
[Bima, di mana? π€π]
[Bimaaaa??]
14:28
[Bima, kok gak balas, sih?π€¨π]
18:05
[Bima, lu di mana? Gue jadi khawatir nih!ππ]
19:07
[Bimaaaa]
[Oeeeyyyyyyy!!π‘π‘]
19:15
[Mesuuuuum??? Balas gak? Atau gue marah nih!!!π π π ] Mulai mengancam.
19:30
__ADS_1
[Bima jawab dong! Kenapa dari tadi ponselnya dimatikan sih???ππ]
19:45
[Bimaaa! Gue nangis nih!ππ]
20:28
[Ok! Terserah kalo gak mau balasπ‘π‘π‘]
23:56
[Bima! Bla .. bla .. bla ....] Pesan panjang, sepanjang kereta.
07:30
[Bima, gue hari ini pulang bersama karyawan lain. Gue kecewa sama loe, sampai pagi ini gue masih belum dapat balasan dari elo. Apa salah gue?? πππ Kalo ada salah, harusnya lu ngomong, bukan diemin gini]
07:31
[Bima, sebenarnya loe di mana sih? Kapalnya akan berangkat setengah jam lagi πππ]
07:35
[Gue yakin loe pasti tau, semalam gue bolak-balik ngetuk kamar loe, berharap loe bukain pintu dan bilang kalo loe baik-baik aja, gue tau kalo sikap gue berlebihan]
[Oke terserah! Ya, mungkin selama ini gue terlalu kepedean, nganggap elo beneran suka sama gue. Mungkin selama ini loe cuma permainkan gue, loe gak beneran suka sama gue!]
07:40
[Bimaaaaaa??]
07:42
[Oke! Sekarang gue paham, selama ini loe memang cuma mainin perasaan gue. Terima kasih atas semua kebaikan loe. Soal hutang itu, kelak gue bakal bayar. Sampai ketemu di kantor sebagai orang asing]
Deg!
Mata arya terbelalak membaca pesan panjang dari Alona. Juga puluhan panggilan tak terjawab dari sang gadis. Seketika ia teringat bahwa hari itu adalah hari kepulangan seluruh staf GCK grup.
"Gawat!"
Diliriknya Arloji di tangan yang menunjukkan pukul 07:45. Artinya, keberangkatan pesiar hanya tinggal lima belas menit.
Dengan jantung berdebar Arya mencoba menelpon nomor Alona. Namun, selalu gagal tersambung. Berkali-kali ia mencoba lagi dan lagi tapi hasilnya sama, gagal.
Pria itu akhirnya bangkit. Menyambar pakaian yang tergeletak di atas sofa, tak peduli meski baju itu adalah baju yang ia kenakan kemarin, tak ada waktu untuk memilih. Buru-buru ia mengenakannya dan langsung berlari memasuki lift. Sepanjang menuju lantai bawah, pikirannya gusar. Antara cemas dan menyesal.
__ADS_1
Ting!
Tombol lift berbunyi. Bergegas Arya berlari begitu masih setengah terbuka. Diraihnya satu buah kunci mobil dan langsung keluar menuju parkiran khusus di dalam villa.
Bobby yang melihat tingkah konyol Arya seperti orang gabut itu menjadi bingung.
"Tuh anak kenapa?" gumamnya.
Bobby memang sudah bangun sedari pagi, bahkan sudah mandi dan rapi seperti biasa. Namun, sedari bangun pria itu juga tak langsung menyentuh gawai, melainkan sibuk dengan benda penting yang menyimpan puluhan file. Mengecek laporan pekerjaan harian. Mulai dari laporan perusahaan GCK grup, hingga laporan ASK grup yang dipimpin olehnya itu. Sehingga ia tak tahu bahwa sedari pagi Alona mengirim pesan wechat padanya, juga bahkan meneloponnya puluhan kali.
Melihat Arya yang berlari kencang melewati ruang utama membuatnya sedikit khawatir. Bergegas ia menuju kamar, meraih tas dan langsung mengejar Arya. Beruntung ia dapat berlari secepat mungkin. Hingga sempat mencegah Arya yang keluar dari area parkir menggunakan mobilnya. Ia langsung menghadang di depan gerbang.
Cekiiitt!!
Arya mengerem kuat dan menimbulkan suara decitan pada ban yang dipaksa berhenti. Dikeluarkannya kepala melalui jendela mobil. Memanggil Bobby untuk segera ikut bersamanya. Pria itu manut, menuruti perintah sang bos. Duduk di sebelahnya, masih dengan sejuta rasa penasaran yang berkecamuk.
Hal apa yang membuat Arya sepagi itu sudah keluar membawa mobil bahkan mengendarai dengan kecepatan tinggi?
Sepanjang jalan Bobby dan Arya tak ada bicara. Sengaja, Bobby tak ingin mengganggu konsentrasi Arya yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi itu. Karena bisa saja hal itu menyebabkan kecelakaan dalam berkendara. Hingga Arya mulai memasuki gerbang pelabuhan dermaga indah, barulah Bobby tersadar akan masalah yang terjadi. Sepertinya pria itu mengejar kekasihnya yang mungkin pulang terlebih dulu bersama ratusan karyawan lainnya.
Tak tahu lagi seberapa gabutnya Arya saat itu. Ia bahkan memarkir mobil hanya dengan satu kali putaran. Membuat debu memenuhi area tempat ia memarkir.
Turun dan langsung menuju gedung kantor dermaga indah. Langkahnya berlari dengan sangat cepat menuju ruangΒ manager. Puluhan pegawai menunduk dan memberi hormat saat berpapasan dengan sang CEO, pemilik dermaga kapal pesiar itu. Namun, karena kekhawatirnya pada Alona membuatnya tak dapat membalas ramah sapaan mereka.
Tak butuh waktu lama, Arya tiba di kantor bagian manager dan langsung meminta untuk membatalkan keberangkatan pesiar yang membawa puluhan penumpang karyawan GCK grup.
"Maaf, Pak Presdir, bukan saya menolak permintaan Tuan. Hanya saja, pesiar itu sudah berangkat lima menit yang lalu!"
Mata Arya terbelalak mendengarnya. Tak percaya bahwa ia terlambat beberapa menit. Namun, hal itu tak membuatnya menyerah. Segera ia menghubungi capten yang bertugas memimpin kruepads kapal pesiar yang mengangkut puluhan karyawan GCK grup. Meminta sang kapten untuk berhenti sebentar. Sedang ia sudah siap menyusul menggunakan speed boat berdua dengan asisten terpercayanya.
"Kapal pesiar itu baru berangkat lima menit. Mestinya sekarang kita masih bisa mengejar dengan mudah, karena belum terlalu jauh."
Faza
Bobby mengangguk mengiyakan. Kedua naik ke atas speed boat, dengan Bobby sebagai juru mudi. Sedang Arya, pria itu memantau pergerakan pesiar GCK grup menggunakan alat teropong dan gps aktif.
Sementara itu, dibagian dalam kapal pesiar ....
Seorang gadis yang menjadi salah satu penumpang kapal pesiar tampak murung. Berkali-kali melirik ponsel di tangan yang tak lagi memiliki sinyal.
Wajahnya lesu. Ia terpukul mengingat kekasihnya yang sudah 24 jam tak menghubunginya.
"Bima, lu bilang mau memberikan sesuatu sama gue hari ini! Ternyata lu bohong!" gumamnya, mengangis terisak di sudut ruang.
"Apa sebenarnya dia mau bilang putus, cuma gak tau caranya? Jadi dia berusaha menghindari gue! Kejam lu Bima!!" Meringis. Kepalanya masih menunduk saat tiba-tiba terdengar ramai suars para penumpang histeris. Seakan melihat pertunjukkan di atas air. Mata mereka fokus tertuju ke atas sana.
Gadis itu benar-benar tak bersemangat, bahkan untuk sekadar kepo dan bertanya apa yang terjadi, ia malas.
__ADS_1
Namun perlahan ia menyadari kalau kapal yang mereka tumpangi itu berhenti. Ia mulai panik. "Apa jangan-jangan kapal ini mau tenggelam??" Pikiran mulai berkecamuk. Bayangan tentang film titanik mulai menggerayungi pikiran. "Tuhan, pliiis! Gue belum mau mati!" gumamnya.