Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Gudang Tua


__ADS_3

Gadis itu mengerjap. Diusapnya netra itu secara perlahan.


Ia bangkit, duduk di atas ranjang di dalam kamarnya.


Untuk sesaat ia lupa dengan kejadian yang menimpanya pagi tadi. Disibaknya selimut yang menutup sempurna tubuh itu.


Namun, betapa terkejutnya Alona menemukan dirinya telanjang dada dan hanya mengenakan satu buah pants. Tubuhnya nyaris 90% tak mengenakan pakaian.


Kembali ditariknya selimut. Sedetik kemudian ingatan tentang pembully-an terhadap dirinya mulai mengiang di kepala.


Alona memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Sakit karena memikirkan nasib nahas yang terus menimpanya, seperti sungai yang mengalir tak ada habisnya. Gadis itu mulai menangis dengan keras. Diremasnya selimut yang menjadi penutup tubuh malangnya.


Tak ada celoteh yang keluar dari mulutnya. Hanya tangisan yang semakin lama semakin mengeras.


Sedetik kemudian diraihnya benda-benda yang tergeletak di atas nakas di samping ranjangnya. Melemparnya ke dinding dan nyaris menimbulkan suara pecahan dan benturan.


Hingga tak sengaja, jemarinya meraih satu buah amplop kuning dan melemparnya ke dinding. Puluhan foto berjatuhan dari dalam amplop itu. Membuat Alona berhenti melempari benda-benda di kamarnya.


Ia bergidik. Kakinya bergetar melangkah menuju dinding yang yang lantainya mulai berserakan. Beberapa pecahan kaca menusuk di telapak kakinya. Seakan mati rasa, gadis itu terus mendekat tak peduli dengan rasa sakit yang menggerayungi mata kaki.


Ia berhenti tepat di depan foto-foto yang berserakan.


Matanya terbelalak. Nyaris tak berkedip. Bagaimana tidak, puluhan foto itu semua berisikan gambar dirinya yang tak berbaju dengan seorang pria di atas ranjang. Dengan pose yang seakan melakukan hubungan intim.


Alona lemas. Ia terduduk. Seluruh tubuhnya gemetar tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Ting!


Satu buah notifikasi dari aplikasi wechat masuk ke ponsel Alona. Gadis itu menoleh. Menatap ponsel retak yang sempat menjadi korban kekesalannya.


Satu buah pesan dari Jesica terpampang jelas di layar ponselnya.


Masih gemetar, diraihnya benda retak itu. Perlahan membuka isi dari pesan singkat Jesica.

__ADS_1


[Alona! Jangan coba-coba berani mendekati Bobby-ku! Atau semua foto-foto itu akan menyebar di forum GCK grup!]


Pesan singkat itu berhasil membuat tubuh Alona lemas. Tersandar pada dinding. Tak lagi ia hiraukan darah mengalir dari sela telapak kakinya yang terkena pecahan beling.


******


[Pantau terus cctv yang terpasang di gudang tua itu. Segera hubungi jika ada hal yang mencurigakan!] Sambungan telepon dari luar pulau.


"Siap, pak presdir!"


[Jangan lengah sedikit pun. Karena sekarang pihak GCK grup mulai menggali informasi mengenai keberadaan dokumen Pulai Sittar. Jangan sampai mereka curiga dan mencium bau beberadaan dokumen itu di sana]


"Siap!"


Anak buah yang bekerja untuk memata-matai gudang tua penyimpanan aset berharga dari pulau sittar akhirnya menutup panggilan telepon dari atasannya. Pihak keluarga Brillian mulai memperketat penjagaan pada gudang tua itu.


Puluhan cctv terpasang di dalam gudang itu.


Anak buah Brillian mulai melakukan pengecekan harian pada layar monitor yang terhubung dengan cctv gudang tua.


Segera ia kembali menelpon presdir Brillian.


"Halo, Bos! Lapor! Ada tanda-tanda mencurigakan!"


[Tanda-tanda mencurigakan seperti apa?]


"Ada delapan wanita yang masuk ke dalam gudang tua pagi itu!"


[Apa? Terus saja pantau mereka]


"Baik!"


Pria itu menatap lekat layar monitor hingga beberapa menit.

__ADS_1


[Bagaimana? Apa ada hal yang mencurigakan?]


"Sampai saat ini belum ada, hanya pembullyan terhadap satu wanita"


[Terus pantau!] perintahnya.


"Baik!"


Hingga tiga puluh menit lamanya. Tak ada tanda-tanda pencurian terhadap dokuman pulau sittar. Semua yang masuk ke dalam gudang keluar seletah melakukan pembully-an pada satu gadis.


[Bagaimana? Apa yang mereka lakukan]


"Tak ada tanda-tanda pencurian. Sepertinya mereka hanya memanfaatkan gudang untuk melakukan pembully-an!"


[Kau yakin mereka bukan mata-mata?]


"Saya yakin, Pak!"


[Oke! Kalau begitu kirimkan data video itu kepadaku!]


"Siap, Pak!"


[Jika tak ada tanda-tanda mencurigakan, biarkan saja mereka pergi]


"Apa?? Membiarkan mereka pergi begitu saja? Mengapa tidak kita tangkap saja mereka?"


[Bodoh! Jika kita menangkap mereka, hanya akan membuat pihak lawan curiga. Selama mereka tak ada tujuan untuk mencuri dokumen. Maka biarkan saja!]


"Baik, Pak!"


Tut tut!


Telepon terputus.

__ADS_1


"Huh! Anak-anak jaman sekarang sudah mulai tak ada yang beres!" decak pria itu.


mohon dukungan vote!


__ADS_2