Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Firasat Jesica


__ADS_3

Dua orang pria kemudian mengangkat keluar tubuh Alona, dan langsung meringkus si gadis ke dalam mini bus hitam.


Sedang keempat lainnya langsung masuk. Khawatir jika ada orang yang mungkin melihat aksi mereka.


Diletakkannya Alona pada kursi panjang yang berada di belakang mobil.


"Ikat gadis itu!" Perintah salah satu komplotan itu.


Tangan dan kaki Alona kemudian diikat. Sedang mulutnya disumpal kain yang juga diikat ke belakang kepala.


"Selesai, Bos!"


"Oke! Jalan!"


Mobil itu kemudian pergi menancap gas dan melaju dengan kecepatan tinggi.


*****


"Alona ngeselin banget sih! Hu hu hu!" Jesica tersedu di atas kasur di kamarnya.


Ia berbaring dengan posisi telungkup. Berkali-kali kasur yang menjadi tempat peraduan itu ia pukul untuk melampiaskan rasa kesal.


"Jahat! Jahat! Jahat! Hu hu hu!" Kembali ia terisak.


"Cewek lugu apaan? Pembohong! Lu udah berhasil ngegaet Bima si tajir! Sekarang malah mau ngembat Bobby! Serakah banget sih! Huaaaaa!" Kali ini tangisnya semakin histeris.


"Pake nelpon segala! Mau ngejelasin apa lagi sih! Loe kira gue gak bisa lihat?! Jelas-jelas kalian pelukan! Agggghhh! Dasar pembualan!" Dibantingnya ponsel itu hingga terpental ke dinding.


Kembali di hempasnya tubuh di atas kasur. Buliran bening masih setia menemani malam kelamnya.


Hingga tanpa sengaja ia tertidur dalam keadaan masih menangis.


Jesicaaaaa! Jesicaaaaa!


Alonaaa!


Jesica, tolong guee!


Tangan itu menjulur ke arah Jesica. Terlihat sosok Alona yang menangis di balik jeruji besi. Sedang di samping kiri dan kanannya terdapat enam pria tengah berdiri, memegang rantai yang yang mengikat ke lengan Alona.


Keenam pria itu menyeringai. Tawa mereka begitu mengerikan. Membuat wajah Jesica pucat ketakutan. Sedang Alona terlihat lemah tak berdaya dengan air mata yang berderai.


Alonaaaaa


"Aaaaa!" Jesica menjerit. Terbangun dari mimpi yang mengerikannya.


Napasnya tersengal. Diusapnya keringat yang tiba-tiba keluar di atas dahi.

__ADS_1


"Ke-kenapa gue mimpi buruk tentang Alona?" gumamnya.


"Tapi, bukannya sekarang Alona bersama Bobby. Gak mungkin kan hal buruk terjadi sama dia?"


Kembali ia berbaring.


"Kok firasat gue ngerasa gak enak yaa? Apa yang terjadi? Apa mungkin sesuatu terjadi sama Alona?" Beragam bayangan buruk mulai menggerayungi pikiran Jesica.


Tak kuat menahan gejolak di hati. Segera ia meraih ponsel yang tergeletak di lantai bekas korban pelampiasan kekesalan. Beberapa garisan terlihat menghiasi layar pertanda kalau layarnya retak.


"Ternyata masih bisa di gunakan!" gumamnya, saat menekan tombol dan masih menyala.


Ia kemudian mencari nama Alona yang tersimpan dalam kontak.


Begitu dapat, ia langsung menekan ikon hijau untuk menghubungi Alona. Perasaan Jesica semakin tak karuan. Firasatnya mengatakan jika sekarang Alona sedang berada dalam masalah besar.


"Sialan! Padahal nih anak udah bikin gue kesal, tapi kenapa gue masih peduli sih!" rutuknya yang langsung meletakkan ponsel di sela daun telinga, mencoba menghubungi. Namun, tak kunjung terdengar nada sambung dari panggilan yang ia tuju.


Kembali ia melihat layar ponsel.


"Astaga! Gue lupa kalo tadi ngeblokir nomornya. Segera ia aktifkan mode buka blokir dan kembali menelpon.


Tuuut!


Panggilan yang ia tujukan pada Alona masuk.


"Kok gak diangkat sih? Apa mungkin Alona marah sama gue. Tapi, Alona kan bukan tipe anak begitu sama sahabatnya. Aggghhh! Apa gue aja yang terlalu mikir berlebihan?"


Kembali Jesica berbaring di atas kasur. Melipat kedua lengan di bawah kepala sebagai alas bantal. Sekilas menatap langit-langit kamarnya.


"Kalo dipikir-pikir, mimpi tadi berasa nyata banget!" Jesica kembali gelisah.


Berbaring ke kiri dan kembali berbalik ke kanan. Hatinya gelisah memikirkan mimpi itu, tapi otaknya memaksa untuk tetap bertahan dengan rasa kesalnya.


Hingga ia mulai tak kuat dengan firasat buruknya.


Bergegas ia meraih ponsel dan langsung menuju area belakang hotel. Tak luput untuk mengaktifkan aplikasi GPS pada benda pipihnya.


"Semoga aja aplikasi GPS Alona aktif juga!" gumamnya.


Tak butuh waktu lama, hanya lima menit Jesica sudah tiba di area taman belakang tempat di mana ia memergoki Alona dan Bobby tengah berduaan.


"Loh, kok mereka udah pada gak adaan? Tapi jelas-jelas GPS Alona aktif dan berada di sekitar area ini!"


Jesica mengedar pandangan. Hanya tembok pagar yang terlihat sedikit berantakan seperti bekas di terjang maling.


"Tuh anak ada di mana ya?"

__ADS_1


Mondar-mandir Jesica mencari sosok Alona. Namun, tak kunjung ia jumpai sahabatnya itu.


"Apa gue coba telpon aja?!"


Kembali ia mencoba menelpon.


Tuuut!


Tersambung. Dan lagi-lagi tak diangkat.


"Angkat dong, Al! Plis! Lu harus bilang kalo lu baik-baik aja! Biar gue gak jadi cemas gini!" rutuknya.


Netranya terus mengedar. Hanya sepoian angin malam yang berkali-kali menyapanya. Tak ada tanda-tanda Alona di sana.


Jesica bergerak maju. Hingga langkahnya menembus blok di samping hotel.


Masih tak ada tanda-tanda sosok Alona. Hanya bak sampah berwarna kuning yang tertangkap di mata Jesica.


Tuuuut!


Panggilan itu masih tersambung. Bahkan, sinyal GPS semakin kuat. Menandakan jika keberadaan Alona semakin dekat.


"Heran! Gak ada siapa-siapa di sini!"


Tiba-tiba ....


Terdengar nada dering ponsel Alona seperti tertutup dalam wadah besar.


"Loh! Itu kan nada dering yang biasa dipake Alona? Di mana ponselnya?"


Netra Jesica mengedar. Mencari cahaya yang mungkin terpancar dari layar ponsel Alona saat berdering.


Tak ada tanda-tanda cahaya. Hanya saja nada dering itu terdengar semakin jelas saat langkah Jesica berhenti tepat di depan bak sampah.


Ia menoleh. Menatap bak sampah yang terlihat tenang tapi seakan bernyawa.


Suara itu semakin jelas saat Jesica bergerak menuju bak sampah.


Matanya melotot.


"Gak mungkin .. masa iya Alona dalam bak sampah!?" gumamnya tak percaya.


Namun, berkat rasa penasaran, Jesica akhirnya membuka penutup bak sampah itu.


Dan ia terkejut menemukan ponsel Alona berdering tergeletak di dasar bak sampah. Juga satu buah kain hitam bekas dengan aroma mengenyat yang nyaris menutup ponsel Alona.


"Apa ini?" Jesica meraih ponsel Alona bersamaan dengan kain itu.

__ADS_1


__ADS_2