
Pasukan Arya ia kerahkan untuk berada di bagian depan, dipimpin oleh Bobby si pria yang juga terlatih ilmu bela diri, mereka tiba di markas Gagak Merah.
Sebagian masuk melalui jalur terowongan udara yang berada di langit-langit pelafon. Lalu berhenti tepat di atas lubang penutup udara. Sedang di bagian bawah adalah ruang utama markas Gagak Merah.
Bobby memerintahkan mereka untuk menunggu saat yang tepat menggunakan alat komunikasi HT.
Selang beberapa saat, Arya, Bobby dan pasukannya sudah berhasil mengepung setiap sudut markas Gagak Merah.
Kedua pria itu masuk dan langsung menyergap ruang utama markas Gagak Merah, tak luput dengan satu buah pistol mereka selipkan di sela pinggul. Pistol yang sedia diluncurkan peluru kapan saja.
Braaak!
Pintu didobrak secara paksa.
Tampak puluhan pria homo berpesta miras. Hanya mengenakan celana panjang tanpa busana. Puluhan botol anggur kosong berserakan di ruang itu.
Tubuh mereka tak kalah kekar, tapi tidak dengan perilaku mereka yang lebih dominan mengarah ke hello kitty. Ya, mereka kumpulan pria guy.
Beberapa dari mereka menjerit saat Arya dan Bobby bersama pasukannya berhasil menerobos masuk.
"Ck! Pria-pria ini! Habisi mereka!" seru Arya.
Seluruh pasukan yang ikut bersamanya langsung bergerak, bertarung dengan pasukan Gagak merah.
Hanya berdurasi sepuluh menit. Puluhan pria dari pasukan Arya maupun musuh tampak berjatuhan. Namun, kemenangan berada di pihak Arya.
"Di mana bos kalian?" seru Arya yang saat itu merasa telah memenangkan pertarungan.
__ADS_1
"Sabar, Tuan Arya! Tidak secepat itu!" sahut salah satu tangan kanan kumpulan mafia itu.
"Cepat! Aku tak suka bertele-tele!" tegas Arya. Puluhan pasukannya langsung mengarahkan pistol ke arah musuh. Bersamaan dengannya, kelompok musuh pun melakukan hal yang sama.
"Hahaha! Jadi, sepertinya kau tak suka bermain-main! Baiklah!" tawa seringai terdengar dari arah belakang. Sedetik kemudian hadir seorang pria yang menjadi pemimpin terbesar kumpulan mafia itu.
"Lancang sekali kau berkunjung ke markasku, apa yang membawamu kemari, Tuan Muda? Tak biasanya kau langsung turun tangan dalam menangani kelompok sepele sepertiku?"
Arya tak menjawab. Hanya mata yang ia picingkan. Fokus membidik si ketua geng mafia.
"Bagaimana kalau kita bicarakan hal ini sambil bersantai menenggak sedikit alkohol?"
"Ckk! Berlaga tak tahu apa-apa!" jawab Arya.
"Apa maksudmu? Bukankah selama ini kita bekerja sama dengan baik?"
"Kenapa?" jawabnya dengan nada santai.
"Kau bekerja sama dengan kumpulan lekongmu untuk menyerangku, bukan?"
"Menyerangmu? Kami tak pernah menyerangmu?"
"Aku masih ingat kejadian yang menimpaku beberapa pekan lalu! Kelompok-mu nyaris saja menghabisi nyawaku! Dan hari ini, adalah pembalasan langsung dariku!"
Deg!
Mata sang ketua nyaris membelalak. Ia kaget mendengar penuturan Arya. Seketika ia teringat tentang perampokan yang dilakukan anggotanya beberapa pekan lalu. Setelah kejadian itu, bawahannya nyaris ditahan di markas kepolisian hingga saat ini.
__ADS_1
"Jadi, kau adalah orang yang membuat bawahanku ditahan hingga saat ini?"
"Ya! Jadi kau sudah ingat sekarang?"
"Hmm! Baiklah! Apa maumu?" Uang? Emas?"
"Ckk! Kau pikir aku pengemis?"
"Lalu, apa maumu?"
"Sebagai ganjaran atas perlakuan anak buahmu yang tak bertindak sembrono, aku ingin kau memberikan asetmu padaku! Aku mau lahan di pulau Sittar menjadi milikku?"
"Apa? Kau gila?"
"Ya! Aku memang gila! Itulah ganjaran jika sudah berani berurusan dengan Arya Pohan!"
Musuh di hadapan Arya itu mulai geram.
"Baiklah! Jadi sekarang kau mengancamku. Tapi tidak akan semudah itu, Arya Pohan!" tukasnya. "Cepat! Keluarkan sanderanya!"
Seketika netra Arya menyipit. 'Sandera!' batinnya bergumam.
Satu orang pria keluar membawa satu buah kursi roda yang di atasnya terduduk lemas seorang wanita tak asing bagi Arya.
'Alonaa! Apa yang mereka lakukan padanya!' batinnya bergumam.
Wajah Arya geram. Netranya menyipit memicingkan mata, menatap musuh yang tampak tertawa puas.
__ADS_1
"Aku sudah tahu jika hari ini kau akan datang menyergap markasku! Hanya saja aku tak tahu tujuanmu! Makanya, aku sudah mempersiapkan diri sebelum kau mengancamku! Hahaha!" tawanya terdengar membahana.