
Kini hanya ada mereka bertiga yang berada dalam ruang kemudi speed. Hening. Bobby lebih memilih diam, fokus mengemudi.
Alona memutar pandangannya. Menatap pesiar yang sebelumnya ia tumpangi bergerak semakin menjauh. Menuju kota besar tempat ia dilahirkan. Sedang dirinya, entah mengapa ia tak dapat menolak ajakan Arya untuk kembali ke pulau xx.
"Bim, kenapa loe ngajak gue balik ke pulau xx?"
Arya menatapnya. Sebelum akhirnya Bobby lebih dulu menyela. "Lu kelewat polos atau apa, lima hari lagi kan pesta besar akan dilangsungkan!"
"Terus? Apa hubungannya sama gue, bukannya pesta itu untuk para petinggi, ya?!"
Bobby tertawa kecil. "Gue rasa kali ini jawabannya ada sama Bima!"
"Kenapa juga lu nyahut!" sambung Bima alias Arya, nada bicaranya terdengar kesal. Membuat Bobby kembali terkekeh.
Percakapan mereka membuat Alona memutar tubuhnya menghadap Bima. Sedikit menggerakkan kepala sebagai isyarat untuk bertanya pada Arya.
"Iya, lu bener, acara itu memang untuk orang penting!" sahut Arya.
"Terus? Kenapa ngajak gue?"
"Lu kan juga orang penting!"
"Hah, maksudnya??"
Arya mendekat. Memegang kedua lengan Alona. "Alona, lu mau kan jadi pasangan gue di acara besar nanti?!"
Gadis itu masih belum menyahut. Tercengang sesaat. Hanya pandangan matanya yang nyaris menyalak tak percaya.
"Gimana? Lu bersedia kan?" Kembali Arya bertanya dengan nada harapan tinggi.
"Kenapa gue musti ikut? Memangnya siapa gue? Bukannya kita gak ada hubungan apa-apa?"
"Ishh! Kenapa loe masih gak paham juga sih?"
"Gue bukannya gak paham! Tapi loe yang gak memberi kepastian! Sampai saat ini, kita masih belum punya hubungan yang jelas!"
"Alona, lu kok marah sih? Bukannya akhir-akhir ini kita selalu bersama!"
"Ya, emang! Akhir-akhir ini kita selalu bersama!" Sindirnya. "Sampai-sampai kemarin seharian lu gak ada hubungin gue! Iya kan! Apa itu yang namanya selalu bersama??"
"Alona, lu masih marah hanya karena itu? Kan gue sudah minta maaf!"
"Loe bilang hanya karena itu?? Lu bener-bener gak ngehargai perasaan gue ya! Lu tau gak gimana khawatirnya gue?"
Arya mendesis pelan. "Jadi lu maunya apa, Sayang? Jangan kelamaan dong marahnya!" Nadanya terdengar lebih pelan.
"Lu belum jelasin ke mana aja kemarin seharian??"
"Soal kemarin itu, gue ...."
Alona mengerutkan alisnya. "Hmm ke mana??" Berdehem dengan nada ketus serta mata melotot.
__ADS_1
"Udah, buruan kasi kejutannya!" sahut Bobby yang mendadak ikut bersuara.
"Itu, sebenarnya ...." Ucapannya terputus sesaat. Pelan lengannya merogoh sesuatu dari dalam kantong jaz. "Ini!" Satu kotak kecil persegi empat dengan warna merah ia lekatkan di atas jemari Alona. Sedang di bagian dalam kotak itu, terdapat satu buah cincin berlian. Kemilaunya yang indah bahkan berhasil membuat Alona tercengang.
Deg!
"Ini .. apa maksudnya, Bim?"
"Dia mau ngelamar elo!" Kembali sahutan itu datang dari Bobby.
"Diam lu, Bob! Ganggu aja!" decak Arya. Kesal.
"Serius, Bim??" Alona menatapnya nanar. Garis pelupuk mata itu terlihat mulai berkaca.
"Iya, gue serius. Apa loe bersedia jadi istri gue?"
"Apaa??"
"Apa lu bersedia?"
"Soal iu ... apa boleh gue jawabnya nanti?"
"Iya, loe gak harus jawab sekarang. Toh, lamaran ini terlalu sederhana!"
"Maksud loe? Apa mungkin setelah ini ada lamaran kedua?"
"Tentu aja ada, dan yang kedua nanti gue janji akan membuat loe terkesima!"
"Hmm!" Alona menggosok dagunya dengan satu jemari. Bibirnya menyungging, meremehkan ucapan Arya. "Memangnya apa yang bisa diperbuat sama orang biasa seperti elo?" ungkapnya, memancing Arya untuk mengungkap jati dirinya.
"Iya, loe kan karyawan biasa!"
"Lu salah!"
"Maksudnya?"
"Ada satu hal yang juga mau gue ungkapin sama loe!"
Alona mulai tegang, menatap lekat saat menyimak apa yang akan di ungkapkan pria di hadapannya.
"Sebenarnya, gue bukan Bima, tapi Arya! Selama ini, gue hanya menyamar."
Bola mata Alona terlihat bergerak pelan, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. 'Ternyata dugaanku benar, dia memang orang kaya. Tapi gak disangka, kalo dia adalah orang ternama GCK grup!'
"Alona? Lu kok ngelamun? Apa lu gak percaya?"
"Bukan gitu, gue cuma gak nyangka kalo hal ini terjadi sama gue!" jelasnya. "Jadi lu bener bos Arya? Gue pikir, bos Arya itu orang yang tua dan kolot!"
"A-apa lu bilang?? Siapa yang bilang gue kayak begitu??"
"Semua karyawan."
__ADS_1
"Apa?? Semua karyawan?? Dari mana datangnya gosip palsu itu?"
Alona menaikkan bahunya. Seakan ia juga tak tahu.
"Dan loe percaya begitu aja?!"
Gadis itu mengangguk polos.
"Sialan!" Spontan Arya memiting Alona dengan lengannya. Membuat gadis itu terbalut tubuh kekar Arya. "Kenapa loe ikut-ikutan percaya! Hah!!"
"Ampun, uhuk! Itu karena loe gak pernah muncul di depan karyawan sekali pun!"
"Bodo amat! Tapi loe gak seharusnya ikutan percaya dong!"
"Uhuk uhuk! Ampun, Bim! Lepasin gue, gue kecekik nih!"
Seketika Arya melepasnya. Gadis bertubuh mungil itu sampai terduduk di kursi panjang. Masih sedikit terbatuk.
"Karena loe udah bikin sakit hati gue, jadi gue anggap kita impas!"
"Impass??"
"Iya, dan loe gak boleh marah lagi untuk alasan yang tadi?"
"Cuma karena gue ikutan percaya dengan omongan orang tentang loe? Mendadak semua impas??"
"Ya, dan perlu loe tau, hal itu udah membuat hati gue terluka!"
Netra Alona terbelalak. 'Apa? Terluka? Sialan! Setelah mengungkapkan jati diri, dia mulai menunjukkan taringnya!'
"Gimana? Deal?!"
'Deal apaan! Gue bahkan belum bilang iya! Argghhh, sekarang lu mulai nyebelin.' Masih menggerutu. "Kalo gue belum setuju untuk deal, gimana?"
"Berarti loe nantang gue!"
'Apaa? Gimana bisa, dia bilang menolak berarti menantang!' Gadis itu semakin geram. "Terus loe mau apa?"
"Hmm, gaji loe bakal di potong 50% dan hutang loe menjadi lima puluh kali lipat!" Tertawa penuh kemenangan.
Netra Alona semakin terbelalak. "Lu kejam banget sih! Oke! Gue setuju, kita impas!"
"Yah .. gimana ya, tapi tadi loe udah terlanjur nantang gue!"
"Apa??"
"Karena lu udah terlanjur nantang, itu artinya loe berhutang sama gue!"
"Apa? hutang lagi??"
"Tenang aja! Hutang kali ini, bayarannya cukup ringan kok! Lu cukup cium pipi gue, dan semua akan jadi impas!" Arya memainkan alisnya seraya menunjuk pipi sebelah kanan. Membuat Alona semakin geram.
__ADS_1
Deg!
'Sialan, memasuki kehidupan realistisnya, gue mulai menjadi mainannya!'