Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Kamu Polos atau apa?


__ADS_3

Arya masih menyelamkan bibirnya dalam bibir Alona. Dan selama itu pun Alona tak bereaksi apapun selain diam dan tegang. Hingga perlahan Arya melepasnya. Menatap lekat kekasihnya.


"Apa ini ciuman pertamamu??"


"Ehh!!" Alona tersentak kaget mendengarnya. "Apa maksudmu mengatakan ciuman pertama??" Gugup. Alona sampai membuang wajah, ingin berbohong tapi sepertinya tak bisa.


"Kenapa? Aku senang lagi kalo ini kali pertamamu!"  Mulai menertawai dengan nakal.


"Ehh!" Bola mata Alona membulat karenanya. "Ka-kata siapa ini kali pertamaku berciuman?? Sebelumnya aku sering kok melakukannya!"


'Sering dia bilang?? Berciuman denganku saja barusan seperti berciuman dengan batang pisang! Bagaimana bisa gadis ini masih mau berbohong?!' Arya tertawa tipis.


"Eh, kamu ngapain ketawa-ketawa begitu??"


"Gakpapa! Kamu bilang sering melakukannya kan?? Kalo begitu, ayo ulangi. Tapi, kali ini kamu harus bermain lebih agresif, ya!" Kembali menggoda, mendekatkan wajahnya dengan sedikit menunduk agar tinggi mereka setara. Sedang kedua lengannya melipat di dada.


'Apa?? Apa cowok ini udah gak waras? Dia nyuruh aku ngulangi dengan agresif? Sialan! Dia pikir aku cewek apaan?' Alona mulai geram, saking geramnya sampai merasa tanduk banteng akan keluar di atas kepalanya.


"Kenapa?? Gak bisa, ya??"


Dengkusan napas Alona bahkan terdengar jelas. Wanita itu sepertinya mulai kesal. Hidungnya sampai terlihat kembang kempis. Membuat Arya semakin bersemangat menggodanya.


"Aryaa!!! Apa diotakmu itu isinya cuma mesum doang?!" Menghardik keras. Bahkan tangan Alona sudah mulai mengepal dan langsung memukul dada bidang Arya tapi berhasil ditangkis oleh pria itu. Hal itu membuat Alona semakin tak berkutik.


"Kalau begitu, jangan coba-coba berbohong! Semakin kamu berbohong, semakin aku bisa membaca isi kepalamu yang polos!"


'Eh! Bicara apa dia?? Selain berprofesi CEO, apa dia juga seorang dukun? Oh emakk!! Sepertinya ucapan emak ada benarnya, pria kaya semuanya sombong!' Alona mulai meringis dalam hati karena mendapat perlakuan jahil dari kekasihnya.


Tangan Alona masih merentang seirama dengan tangan Arya yang memegangi kedua pergelangannya. Membuat mantel Alona tersibak lebar. Baju tidur tipis yang ia kenakan bahkan membentuk tonjolan dua gunung yang bagian atasnya sedikit terbuka.


Awalnya Arya tak menyadari dua tonjolan yang menggelembung seperti buah melon di depannya itu. Dengan nakalnya ia menyandarkan tubuh Alona hingga merapat ke dinding mobil. Ia bersemangat mengerjai gadis itu.


"Kamu bilang, sudah sering melakukannya kan?! Sekarang aku ingin kamu mengulanginya!" Tertawa licik.


"Arya ... lepasin gak?? Jangan sampai aku marah dan ngegulat kamu, ya??"


'Apa? Gulat?? Apa dia pikir aku takut? Yang ada juga aku tambah senang kali??' batinnya ikut tertawa."Gak takut tuh! Weeee!" Meledek.


"Aryaaa!!" Geram.


"Hahhaha!" Pria itu tertawa puas. Karena merasa berhasil mengerjai kekasihnya. Hingga ditundukkannya kepala dan tanpa sadar sepasang matanya menemukan dua tonjolan sebesar melon memadati ruang penglihatannya.


Deg!!


Seketika tawanya tersendat. Begitu pun saat hendak menelan saliva. Segera Arya melepas genggamannya pada lengan Alona. Dan langsung memalingkan wajahnya.


'Eh, nih orang kenapa?? Kok mendadak diam? Apa jangan-jangan dia kesurupan?!! Tapi, ada bagusnya juga sih! Akhirnya dia ngelepasin aku!' Alona bergidik. "kenapa mendadak diam? Ahh syukurlah akhirnya kamu ngelepasin aku, artinya kamu sadar dengan tindakan kriminalmu barusan!" Alona tampak menepuk-nepuk lengan dan bahunya, seolah puluhan debu telah menempel padanya dan berjatuhan karena tepukan itu.


"Ehh! Alona! Siapa yang suruh kamu keluar dengan pakaian begitu??" Alona terkejut saat tiba-tiba nada bicara Arya sedikit menekan.

__ADS_1


"Begitu gimana??"


"Pake nanya lagi! Begitu!!" Menunjuk piyama tipis Alona, sedang sebelah tangannya menutup kedua bola matanya. Namun, tangan Arya yang menunjuk tadi justru tertuju pada mantel Alona. Membuat gadis itu melirik mantelnya.


'Aneh! Apa yang salah dengan mantel ini?' Gadis itu bingung. "Ini???" Memegang mantel, sementara saat itu Arya masih menutup mata.


"Ho-oh! Ganti geh!!"


"Kenapa? Apa yang salah??" Pertanyaan polos itu mengundang reaksi marah dari Arya.


"Apa yang salah katamu??"


"Ehh!!" Alona terkejut melihat Arya berkata setengah menghardik. "kenapa pake marah segala sih? Memangnya apa yang salah?"


"Haduuh!! Kamu ini polosnya kok kebangetan sih?? Kalau kamu pakai baju begitu, kamu bisa membangunkan ...." Ucapannya tersendat.


"Membangunkan siapa???" Alona mengernyit.


"Adikku!!" ungkapnya pelan. Menyentakkan kaki ke tanah sambil memalingkan wajah. Menggigit ujung bibir menahan malu. Tapi siapa sangka, kalau ungkapan itu justru membuat Alona berbinar.


"Adikmu??"


"Ehh??" Arya terkejut. 'Ada apa dengan reaksinya??'


"Kamu membawa adikmu??" Wajah Alona penuh semangat.


"Ehhh! Te-tentu saja aku membawanya. Mana bisa aku meninggalkannya!" Arya terkejut hingga menjawab ceplos. Ditatapnya Alona dengan sedikit heran.


Wajah Arya yang tadi sempat malu mendadak bersungut kesal. "Huh!!" Ia menghela napas kasar. 'Sialan! Ternyata dia salah sangka lagi!! Tapi gakpapalah, setidaknya aku gak jadi malu!' Diraihnya lengan Alona dan tanpa bicara lagu, langsung menyeret pergelangannya menuju pintu rumah.


"Eh! Ehh!! Arya apaan sih! Lepasin!"


"Udah, jangan bawel! Cepat balik ke kamarmu dan tidur!" Masih terus berjalan, menggenggam lengan Alona yang kakinya hanya bisa mengikuti langkah Arya.


"Tapi, Arya!! Bukannya di mobil ada adikmu??"


"Sudah! Jangan banyak tanya lagi! Lupakan semua kejadian malam ini! Anggap saja ini semua hanya mimpi!" Nadanya terdengar kesal.


'Arya kenapa?? Bukannya dia bilang bawa adik?? Kenapa dia malah marah? Apa jangan-jangan adik yang dia maksud adalah wanita selingkuhan? Makanya dia takut aku menemuinya?' batinnya semakin berpikir yang tidak-tidak. Pria itu kini sudah berhasil menyeret lengannya hingga berdiri tepat di depan kamar Alona.


"Masuk dan tidur!!" Ucapan Arya terdengar seperti perintah yang tak dapat dibantah. Setelahnya Arya langsung berbalik badan beranjak ke sofa untuk langsung merebahkan tubuhnya dari rasa lelah. Namun lagi-lagi Alona menahannya. Rasa penasaran dengan sosok adik misterius yang sempat dikatakan Arya tadi masih menghantui pikirannya.


"Arya tunggu!!" Ia mencegahnya. Pria itu tak dapat mengelak selain kembali berbalik badan. Dan kembali ia harus merasakan sakitnya menahan mata dari godaan dua gunung sebesar melon di hadapannya.


"Aduuhh!" Ia menekan pelipisnya, menutup mata. "Sudah kukatakan, kamu seharusnya kembali ke kamar dan tidur! Kenapa masih di sini?? Dengan pakaian seperti itu lagi!!" Masih menutup kedua bola mata.


"Arya, sebenarnya kamu kenapa sih?? Apa yang salah denganku? Kenapa susah mengatakannya?" Alona sedikit cemas. 'Sepertinya aku berbuat sesuatu yang membuatnya kecewa. Aku harus tau perihal apa yang membuatnya kecewa agar bisa mendapat maafnya sebelum tidur. Kalau tidak, tidurku gak akan bisa tenang!' Khawatir. Ia mengira telah membuat kesalahan pada Arya hingga tiba-tiba saja pria itu bersikap aneh padanya.


"Alona, kamu itu gak berbuat salah! Kamu cukup kembali ke kamarmu dan tidur! Itu saja!"

__ADS_1


"Tapi aku gak tahan dengan sikapmu ini!! Kamu bertingkah anehh, tau!!" Nada Alona lima oktaf lebih keras. Bercampur dengan tangis kesal. "Tadi kamu juga mengatakan soal adik, kamu juga gak menjelaskannya, apa dia selingkuhanmu?? Huaaa! Kamu jahat!"


"Ehh!!" Arya terkejut melihat Alona yang tiba-tiba menangis, dan langsung menutup mulut Alona agar tak membangunkan yang lain. Membuat tangis Alona berhenti hingga menyisakan isakannya saja.


Kembali Arya membuat jarak antara dirinya dan Alona. Takut kalau saja setan menghasutnya untuk berbuat hal yang tidak diinginkan. Saat itu juga Alona menatapnya dengan tatapan pilu.


'Duuh, anak ini! Sebenarnya apa yang ada dalam pikirannya?' Arya masih mencoba mengendalikan diri. "Alona!! Apa kamu gak tahu?? Pakaian seperti yang kamu kenakan itu disukai oleh pria!!"


"Maksudmu, ini??" Menyentil piyamanya.


"Iya! Apa kamu sudah paham sekarang?" Masih dengan raut kesal.


'Oh! Jadi dia menyukai piyama wanita? Kenapa tidak mengatakannya? Apa mungkin dia malu!' batin Alona berusaha mencerna. "Maksudmu .. kamu menyukai piyama ini!" Menunjuk pakaian yang ia kenakan. Masih ingin memastikan bahwa dugaannya tak salah.


"Tentu saja! Semua pria menyukainya!"


"Kenapa tidak bilang dari tadi! Bikin aku khawatir saja. Kalau kamu suka tinggal bilang saja! Aku punya banyak stok di lemariku. Kau ingin aku membawakannya satu?? Tunggu sebentar, yaa!"


"Ehh!!"


"Kenapaa??" Tak jadi beranjak.


'Ya, Tuhan! Kupikir dia sudah paham! Ternyata tambah salah! Sebenarnya apa yang ada dalam isi kepalanya? Dia polos atau ...." Wajah Arya kini terlihat kusut sekusut-kusutnya. Seperti ingin menangis. "Ohh, Tuhan! Apa ini karma?? Bukankah awalnya aku yang berniat mengerjainya? Kenapa malah terbalik begini??" Ia sedikit meringis.


"Alona??"


"Yaa??"


"Di mana aku bisa menenggelamkan kepalaku dalam air!"


"Di bak!!"


Wajah Arya semakin meringis. "Apa kau tau tempatnya??"


"Di sana!" Menunjuk ke arah timur. "Kamar mandinya ada di belakang!"


Arya langsung berjalan menuju ke sana.


"Arya, tunggu!! Kamu serius??"


"Iyaa!!"


"Kenapa??"


"Biar pikiranku kembali freshh!!" Mendesah lalu beneran pergi.


'Ehh! Tuh orang kenapa??' Alona mengernyit heran. Menundukkan kepala sejenak, sesaat setelah Arya sudah menghilang di balik tembok. Dan betapa terkejutnya Alona yang menemukan belahan dadanya hampir terlihat setengahnya.


Degg!!

__ADS_1


"Apa dari tadi Arya melihat ini??" Matanya terbelalak. "Oh tidakk!! Malunya akuu!!" Gadis itu langsung berlari ke dalam kamarnya. Mengunci rapat pintu. Berlari menuju ranjang dan langsung menghempas tubuhnya. Meraih selimut, menutupinya hingga tersisa ujung rambut saja. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa? Bagaimana cara agar rasa malunya bisa menghilang. Juga tak tahu bagaimana caranya menghadapi Arya besok?? Gadis itu berharap ia menghilang malam itu juga.


Satu chapter lagi akan segera meluncur! give your coment please!!


__ADS_2