Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Tertawa dalam balutan Selimut


__ADS_3

Terik sudah pergi, berganti dengan suasana hangat dari sunset di perbukitan. Setelah kepergian Alona siang hari itu, ia tak kunjung kembali ke rumah bahkan saat menjelang sore. Tapi, hei, ini jaman modern, meminta izin dengan orang tua cukuplah mudah. Hanya cukup menggunakan ponsel, Alona meminta izin pada ibunya untuk tinggal di villa hingga waktu perayaan ulang tahun tiba.


Sore itu, Alona yang tengah mengenakan piyama dan menguncir rambutnya, duduk di balkon, menatap jauh ke arah sumber cahaya di ufuk barat.


Lusa adalah hari ulang tahun perusahaan yang akan mereka rayakan di pulau XX.


'Kembali ke sana lagi? Rasanya aku merasa sedikit trauma.'


Alona menggumam seorang diri dalam hati, lalu tiba-tiba dari arah belakang, sebuah tangan yang cukup keras melingkar ke punggung Alona. Dada bidang langsung menyentuh tulang punggungnya.


"Kamu lamunin apa, Sayang?" Suara yang bertanya padanya terdengar lembut. Ia tahu, itu tak lain adalah kekasihnya.


"Umm." Alona menoleh pelan. Membuat pelukan pada tubuhnya sedikit merenggang. Ia mendongak untuk menatap pria tinggi yang memeluknya itu. Dan seketika tatapan mereka beradu dalam bayangan kemesraan.


"Bukan apa-apa, Sayang. Aku hanya teringat masa lalu, di mana kita masih belum bisa menerima satu sama lain!" sahutnya. Namun respon dari Arya hanyalah senyuman yang mengembang. "Oh iya, apa kamu tahu kabar tentang Jesica?"


"Hmm, kenapa?" tanya Arya, tak ingin gegabah dengan menjawab, ya. Ia tak ingin membuka mulut apalagi menceritakan kebenarannya. Takut jika gadisnya tak suka dengan pembalasan darinya.


"Kemarin, ayahnya meneleponku. Katanya tengah malam Jesica di jemput oleh lima orang pria, yang pakaiannya serba hitam, tapi Jesica menolak dan sempat kabur. Ayah Jesica sampai menghubungi pihak kepolisian."


"Oh, begitu, lalu?"


"Sampai sekarang Jesica masih belum kembali. Mereka yang menjemput itu mengaku dari pihak GCK grup. Kamu yakin gak tahu perihal ini?"


"Ya, kemarin aku memang mendengar ada pihak kepolisian yang mengonfirmasi masalah itu, aku tak tahu jika ternyata gadis yang mereka maksud adalah Jesica. Tapi semua sudah selesai. Setelah penyelidikan hari itu, mereka gak menemukan barang bukti apa pun di sana. Sepertinya ada pihak yang ingin merusak nama baik GCK grup." ungkapnya berbohong.


"Oh ya, kamu tau dari mana masalah penyelidikan itu? Bukankah kamu sendiri terjebak oleh perangkap Presdir Brillian?" Alona mengira insiden ledakan di gedung itu adalah ulah Presdir Brillian.


"Hei!" Arya mencubit mesra hidung bangir Alona. "Aku ini Bos! Apapun yang terjadi pada bisnisku, ada jutaan pekerjaku yang siap melapor 24 jam. Termasuk Bobby, jadi kenapa kamu ragu dengan kekuasaanku?"


"Huh, kau terlalu sombong!"


Kembali Arya mencubit Alona, kali ini di pipi lembutnya. "Makanya, cepatlah menikah denganku! Maka nanti kau akan tahu segalanya," ucapnya.


'Kuharap kau tidak terkejut saat nanti kau sudah mulai mengetahui segalanya tentangku.'

__ADS_1


"Aduuh, sakit tahu!" Alona meringis memegang pipinya, dan langsung disambut oleh tawa bahagia dari Arya yang memeluknya.


"Sebenarnya, aku tahu sedikit tentang Jesica!" terang Arya.


"Benarkah? Kenapa baru bilang sekarang? Terus, sekarang Jesica di mana?"


"Kemarin Bobby yang cerita padaku, dia bilang Jesica sempat menghubunginya."


"Oh, ya. Lalu?"


"Bobby bercerita katanya, Jesica sempat curhat, dia malu dengan aibnya sendiri. Semua temannya menghinanya, mengatainya gadis bodoh, karena kecerobohannya."


"Terus, terus?"


"Jadi, kudengar dia memutuskan untuk tinggal di pulau terpencil."


"Benarkah? Tapi ... Jesica pernah bilang, dia gak suka tinggal di desa, apalagi pulau terpencil. Tinggal dekat dengan kampungku saja, dia suka mengeluh."


"Itu kan dulu sebelum dia mengalami keguguran. Lagipula, semua orang kan bisa berubah."


"Oh, iya. Dia juga menitipkan salam untukmu. Dia meminta maaf untuk semua perbuatan buruknya yang kemarin."


"Benarkah? Ah, senangnya. Kapan-kapan, ayo kita mampir ke tempat tinggal Jesica.


"Oke!"


******


Malam sudah menjelang, bintang-bintang masih belum terlihat menampakkan kilaunya, sepertinya mereka enggan menampakkan diri malam itu.


Tirai korden tersibak lebar, pun dengan jendela yang sengaja di biarkan terbuka agar udara segar malam dapat mereka nikmati, dari sanalah mereka dapat menyaksikan pemandangan langit malam.


Alona masih bersedekap dalam pelukan Arya, calon suaminya.


"Kamu." Gadis itu mencuil hidung mancung Arya. "Jangan berpikir untuk berbuat nakal denganku sebelum kita menikah, oke!" nadanya terdengar seperti ancaman.

__ADS_1


"Hei, kenapa kamu berkata begitu, memangnya aku terlihat seperti pria mesum di matamu?"


"Ya, kamu selalu terlihat mesum di mataku!"


"Tapi, aku bersikap begini juga hanya denganmu, Baby. Kenapa kamu tidak suka?"


Alona meringkuk, ia semakin bersedekap dalam dada bidang Arya yang mengenakan kaos putih itu. "Bukannya aku tidak suka, cumaa ...." ucapnya terputus.


'Aku tak sanggup menahan godaan ini!' jawab Alona dalam hati.


"Cuma kenapa, Sayang?"


"Ah, sudahlah, lupakan saja!"


"Hei, mana bisa aku melupakannya begitu saja, cepat katakan, jangan membuatku penasaran!" Arya menggelitik punggung Alona.


"Apa sih!" Alona tertawa karenanya.


"Cepat, kasih tahu, gak?"


"Gak mau, weee!" Ia meledek Arya.


"Oh, jadi sekarang kamu sudah berani main rahasia denganku, ya!"


"Tau ah!" Alona tertawa kecil sebelum akhirnya mengibas selimut untuk bersembunyi di balik kain sutera tebal itu. Dari luar, masih terdengar jelas tawa cekikik gadis itu.


'Jadi, gadisku sekarang sudah mulai berani menggodaku!' gumamnya dalam hati dengan senyuman kecilnya.


"Heh, apa yang kamu lakukan?"


"Apalagi? Aku cuma mencoba bersembunyi darimu, hihihi!" Ia terkikik pelan.


'Baiklah, kalau begitu, permainan di mulai!' batin Arya tertawa.


"Hmm, jadi kamu sedang main sembunyi denganku? Baiklah, kalau begitu, siap atau tidak, aku datang!" Arya langsung mengibas selimut itu hingga terangkat, lalu selimut itu kembali mendarat dan berhasil memindahkan Arya ke dalamnya.

__ADS_1


Kini, yang terlihat dari luar selimut hanyalah dua insan yang tampak menggeliat. Diikuti dengan suara tawa bahagia dari keduanya. Sepertinya mereka saling menggelitik di dalam sana.


__ADS_2