
"Alona maaf, gue harus pergi sekarang!" tukas Bobby.
"Emh! Tapi loe balik lagi gak?" jawabnya. Belum sempat gadis itu mengucapkan kata terima kasih pada Bobby karena sudah menemaninya, si Bobby sudah lenyap dari pandangan. Pria itu berlari sangat cepat bagai kilat.
Kembali si gadis sendirian dengan wajah menunduk. Hanya kedua betis yang sesekali bergerak mengayun ayunan tempat menghibur diri..
*****
Sementara itu ....
Beberapa pria berbaju hitam yang sebelumnya memadati area parkir tengah mengintai Alona dari kejauhan, di balik pagar taman belakang.
Tempat yang cukup gelap karena tak ada satu pun penerangan di area itu.
"Psstt, sepertinya, itu wanita yang di maksud Kapten Jordan di dalam foto ini!" tukas salah satu pria itu pada kawanannya, menunjuk pada satu selembar foto di tangannya.
"Kau benar! Kalau dilihat dari tampilan sama warna rambutnya sih, sepertinya memang gak salah lagi, kita sudah mendapatkan sanderanya!"
"Ya, sanderanya sudah ada di depan mata! Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Bodoh! Tunggu apa lagi! Ayo cepat! Kita ringkus wanita itu!"
Keenam pria itu berjalan dengan mengendap-endap. Langkahnya nyaris tak terdengar meski jumlah mereka enam orang.
Mereka berjalan dengan menunduk tepat di belakang si gadis yang masih bermain ayunan.
Alona tak menyadari bahwa bahaya sedang mengintainya.
"Bobby ke mana sih? Lama banget! Dia balik lagi gak ya?" tukas Alona. Dinyalakannya layar yang sebelumnya redup. Mencari nama Bobby dalam kontak ponselnya.
"Dapet!" gumamnya. Segera ia menekan ikon hijau untuk menelpon Bobby. Meletakkan ponsel itu di samping pipi hingga menutup sempurna daun telinga.
__ADS_1
Tuuut!
Panggilan yang dituju tersambung. Namun, sosok yang di telpon tak kunjung mengangkat.
"Kok gak di angkat sih?" Kembali ia mencoba menelpon.
Tuuut!
Braaak!
Suara benda jatuh tepat di belakang Alona berhasil mengalihkan perhatiannya. Gadis itu tersentak lalu menoleh. Namun, betapa terkejutnya ia melihat enam pria terbungkus baju hitam yang melekat membentuk lekuk tubuh dan topeng penutup kepala yang hanya menyisakan dua bola mata mereka.
"Aaaa!"
Ia menjerit. Tanpa pikir panjang segera si gadis berlari dan langsung di kejar oleh keenam pria tadi.
Secepat mungkin Alona mencoba kabur dari kejaran mereka. Hingga ia berhasil melewati satu blok dan keenam pria itu tertinggal jauh di belakang.
Terdesak. Gadis itu terpaksa memilih bersembunyi di dalam bak sampah itu. Tubuhnya gemetar. Ia bahkan kesulitan untuk melihat layar ponsel. Kembali ia coba menelpon pria bernama Bobby.
"Bobby, pliiis, angkaat!" sungutnya dalam hati.
Tuuut! Tuuut! Panggilan yang dituju tak kunjung mengangkat.
"Ayo dong, Bob. Pliiis!" Ia terisak. Tangannya terus gemetar memegang gawai yang ukurannya lebih besar dari telapak tangannya.
Berkali-kali ia mencoba tapi tak kunjung membuahkan hasil. Menyerah. Alona memilih nomor kontak lain yang kiranya dapat dihubungi.
Tertera nama Bima. Ia mencoba menelpon. Namun, hasilnya sama. Pria itu juga tak menjawab telpon dari Alona.
Alona semakin panik. Kali ini siapa lagi yang kiranya dapat dihubungi. Hanya tinggal satu nama teman yang ada di pulau itu dalam kontak ponselnya. Ya, hanya Jesica yang kini menjadi harapan Alona.
__ADS_1
Kembali gadis itu mencoba menghibungi.
Tuuuut!
"Ah syukur masuk. Semoga aja Jesica mau mengangkat!"
Tut! Tut! Tut!
Alona kaget. Nomor yang tersambung itu langsung diblokir oleh sosok yang ditelpon. Jesica langsung memutus panggilan sebelum mengangkat.
"Jesicaaa! Pliis! Tega bener lu!" tangisnya.
Alona semakin panik. Bahkan kini tangan gadis itu berkeringat. Gawai yang ia pegang menjadi licin. Tanpa sengaja, benda itu terjatuh dari tangannya dan membentur di atas bak sampah yang terbuat dari baja tempat ia berpijak.
Pluuuk!
Gadis itu menjerit pelan. Menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Semoga aja mereka tak mendengar!" gumamnya.
Namun, tiba-tiba. Sebuah cahaya masuk melalui lubang atas penutup bak sampah.
Deg!
Gadis itu mendongak pelan. Tampak tiga wajah pria dengan mata berbinar menatap Alona seraya tertawa menyeringai. Seketika Alona menjerit.
"Aaaa!"
Satu tangan sigap membekap mulut Alona dengan segumpal kain. Kain yang sebelumnya sudah di beri obat bius.
Gadis itu akhirnya pingsan tak sadarkan diri.
__ADS_1