
"Duhh! Menjadi pasien VIP ternyata melelahkan juga!" Gadis itu mandi dan berganti baju dengan pakaian yang telah disiapkan untuknya.
"Kalau aja semua pelayanan ini harus dibayar bisa mampus gue. Gaji sebulan gue mungkin gak akan cukup buat bayar semua pelayanan yang udah kayak tuan putri ini!"
"Untung aja bos Arya itu memberikan asuransi khusus buat para karyawannya. Kalo gak, mungkin gue dibiarin mampus di danau."
"Enak juga jadi karyawan GCK grup. Ternyata bos Arya itu gak sombong dan gak pelit. Gak seperti rumor yang beredar!"
"Tapi gue rasa, mungkin semua pelayanan ini bisa gue dapat karena berteman dengan Bobby asistennya bos Arya! Kalau enggak, paling juga gue di rawat di klinik!"
"Kalo gue pikir-pikir lagi, aneh juga. Masa iya bos Arya mau memberikan pelayanan inap VIP sama karyawan jelata kayak gue! Apa mungkin semua ini karena Bobby benar-benar naksir gue!"
Seketika si gadis menggeleng cepat. "Ahh! Mikir apa sih gue! Mana mungkin Bobby naksir gue! Tapi kalo bukan Bobby? Aahhhhh!"
Gadis itu terus menggerutu selama berjalan sepanjang lorong di villa menuju pintu utama.
"Silahkan, Nona!" Seorang supir dengan pakaian serba hitam mempersilahkan Alona masuk ke dalam mobil mewah lambourgini, sesaat setelah Alona mencapai halaman villa.
'Uwaaah! Mewah banget! Pintu mobilnya bahkan terbuka sendiri! Aduuh jadi salting gue kalo diperlakukan begini!' Alona tersenyum kecut hingga nyaris menutup sempurna bola matanya.
"Ahhh gak usah, Pak! Kayaknya mending saya order ojek aja deh!"
"Loh, kenapa? Apa mobilnya kurang mewah? Apa perlu saya ganti dengan yang lain?"
__ADS_1
"Ahh! Bukan! Bukan! Bukan begitu!" Alona mengatakan dengan gerakan tangan yang ia goyangkan.
"Mobilnya sudah mewah bahkan terlalu mewah. Saya hanya merasa gak pantas mendapat semua perlakuan istimewa ini!"
"Kumohon Nona jangan menolak, semua pelayanan ini atas perintah tuan besar!"
'lagi-lagi, tuan besar! Semua ini benar-benar terasa janggal!' Alona bergidik.
"Kalau Nona menolak, saya bisa terancam dipecat!"
"Segitunya, yaa?"
Pria supir itu memasang wajah kusut. Membuat Alona tak mampu menolak.
Selang beberapa saat mereka tiba di hotel borneo. Alona turun tak luput mengucapkan terima kasih.
"Tidak perlu berterima kasih, justru saya yang harus berterima kasih sama Nona karena tidak menolak saya untuk mengantar!"
"Ehehehe! Aneh! Ya udah, saya ke atas ya!"
"Baik, saya boleh pergi sekarang??"
Alona melongo mendengar pertanyaannya. "Hah?? Ya, tentu saja boleh!"
__ADS_1
"Selamat pagi, Nona. Selamat melanjutkan aktifitas Nona!"
Gadis itu mengangguk. Selang beberapa saat mobil itu kembali bergerak. Melaju dengan kecepatan sedang hingga menghilang di balik tikungan.
"Formal banget! Aneh!" gumamnya dan langsung beranjak menuju kamar hotelnya.
"Ahh! Leganya! Akhirnya gue bisa pulang lagi! Wahaii kamar, aku rindu padamu!" ungkapnya di sepanjang jalan.
Langkahnya pasti menaiki anak tangga. Hingga tiba di lantai dua. Dan tanpa diduga, ternyata kedatangan Alona disambut oleh Jesica dan keenam teman sekantor mereka.
Namun, bukan sambutan hangat atau pelukan rindu. Melainkan senyuman sinis yang terpancar dari raut mereka, dengan berdiri menghadang di depan kamar Alona. Ketujuh wanita yang termasuk Jesica itu melipat lengan di atas dada.
"Jesicaa! Gue kangen banget sama loe!"
"Stop!" Jesica menyetopnya dengan satu tangan. "Alona, loe ikut kita sekarang juga!"
Deg!
'Ada apa dengan Jesica, sikapnya gak seperti biasa?'
"Apa? Ke mana?"
"Udah, lu ikut aja, jangan membantah!"
__ADS_1