Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Gedung Rumah Sakit


__ADS_3

Arya terkejut. Sontak berlari ke arah si gadis malang. menyingkirkannya dari kobaran api yang seakan menantang Arya untuk berduel.


Satu buah selimut menjadi penutup tubuh Alona yang hanya mengenakan pants. Diletakkannya gadis itu pada sudut ruang. Arya memadamkan api sebelum akhirnya membopong Alona di atas dadanya.


Earphone bluetooth sudah terpasang di sela daun telinga Arya. Segera ia menghubungi para pengawal yang setia membuntutinya. Hanya butuh waktu lima menit, para pengawal berhasil memarkir di halaman hotel borneo. Dan membantu Arya membawa Alona menuju rumah sakit milik GCK grup di pulau itu.


******


"Bagaimana? Apa yang terjadi dengan gadis ini?" Raut pria itu terlihat begitu cemas.


"Kalau menurut hasil x-ray, gadis ini tak memiliki luka di bagian dalam. Mungkin ini ada hubungannya dengan psikis si gadis, semacam gangguan pada mentalnya. Jadi sepertinya yang Pak Arya butuhkan adalah dokter Jhony!"


Arya diam. Menghela napas berat.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak Arya!"


"Hmm! Terima kasih" Arya mengangguk. Duduk pada satu buah kursi tunggu. Netranya menatap ke satu arah. Hanya indra pendengar yang masih dapat mendengar langkah William lambat laun semakin menjauh.


Sesaat hening.


Namun kali ini berganti dengan langkah seseorang yang tergesa, mendekat ke arah kamar di mana Alona di rawat.


"Alona kenapa, Ar?" Pertanyaan itu mengawali percakapan mereka. Arya mendongak. Tampak raut Bobby yang begitu cemas mengkhawatirkan si gadis.


"Panggilkan dokter Jhony!"


"Dokter Jhony?? Oke!"


Segera Bobby meraih ponselnya, mencari nomor sang dokter yang dimaksud dan langsung menghubunginya. Sedang netranya sesekali melirik ke arah Arya yang tampak murung dengan pikiran kosong.


Tuuut!


"Halo!"


[....]


"Ya! Segera ke Rumah Sakit GCK grup sekarang!"


[...]


"Oke, segara! Terima kasih!"


Tut tut!


Kembali Bobby menggenggam ponsel di lengannya setelah mematikan panggilan itu. Duduk di samping sang pria murung.


"Ar, sebenarnya Alona kenapa?"


"Gue sendiri juga belum tau!" sahutnya tanpa menoleh. Dengan pandangan yang masih ke satu titik.


Bobby menepuk pundak Arya, agar sahabatnya bisa lebih tegar. "Semoga bukan hal yang serius!" tukasnya.


Keduanya hening sesaat hingga tiga puluh menit lamanya. Langkah tergesa terdengar mendekat ke arah mereka berdua. Sosok pria berjaz putih memenuhi ruang penglihatan Arya dan Bobby.


Napas pria itu sedikit tersengal.

__ADS_1


"Maaf sudah merepotkanmu, Dokter Jhony. Tolong periksakan pasien di dalam ruangan ini sekarang!" pinta Arya.


"Apakah pasien sudah sadar?"


Arya mengernyit. "Sadar??"


"Ya, saya harus menunggu hingga pasien benar-benar sadar!"


Seketika emosi Arya memuncak. Alona terbaring lemah tapi harus menunggu lagi untuk diperiksa. Mendadak ia menarik kerah sang dokter. Geram. Lalu menghardiknya. "Kenapa harus menunggu pasien tersadar baru memeriksa!"


Bobby yang saat itu melihat amarah Arya memuncak hanya bisa berusaha menahannya, menarik lengan Arya yang masih mencengkram erat kerah si dokter.


"Ya, saya harus menunggu pasien hingga tersadar. Kalau tidak, bagaimana saya bisa mengetahui pasti bagaimana kondisi mental dan psikis pasien!"


"Apa tidak ada cara lain? Kalau begini, untuk apa aku masih memperkerjakanmu jika dalam keadaan genting ini kau masih harus menunggu pasien tersadar? Apa tidak ada cara yang lebih efektif?" Rasa khawatir Arya pada Alona membuatnya tak dapat mengontrol diri.


"Arya hentikan!"


Seketika Arya melepas cengkramannya. Terduduk lemas pada kursi panjang. Memegang kepalanya yang sedikit berdenyut.


Bobby yang saat itu melihat Arya prustasi hanya bisa bergeming. 'Tak kusangka, ternyata Arya begitu mengkhawatirkan Alona!' batinnya menggumam.


*****


Selang infus masih terpasang di pergelangan Alona. Gadis itu mengerjap pelan. Pemandangan langit-langit dengan cat putih memenuhi ruang penglihatan Alona.


Ruangan petak itu dipenuhi bau obat-obatan. Wajar saja, karena saat itu Alona memang tengah dirawat di Rumah Sakit.


Lagi-lagi, Alona menemukan dirinya yang menggunakan baju pasien.  Kembali menjadi alas penutup sempurna tubuh mungilnya.


"Kenapa gue ada di sini?" batinnya bergumam. Netranya mengedar, memperhatikan setiap inci kamar seluas dua puluh meter persegi itu. Kamar rawat inap itu lebih mirip hotel.


Segera ia mengacak-acak ruangan itu. Mencari benda tajam untuk mengiris pergelangannya.


Kriieeet!


Deg!


Netra si gadis membelalak. Memperhatikan sosok yang tiba-tiba hadir, masuk ke dalam ruangan itu.


"Bi-Bima?"


"Alona? Lu udah sadar??" Sosok Arya berhasil mengalihkan perhatian si gadis. Ekspresi kagetnya tertangkap di mata Arya. Mendadak pria itu berlari ke arah si gadis.


"Alona, jangan bangun dulu. Lu masih belum pulih!"


Gadis itu menatapnya sendu. 'Bima ..  kenapa lu perhatian sama gue? Sekalipun gue suka sama loe, tak akan membuat keadaan membaik. Kehadiran loe hanya membuat gue hancur!' Seketika air matanya luruh menyambangi pipi mungilnya.


"Alona, lu kenapa? Apa ada yang sakit? Sebelah mana?" Raut Arya terlihat cemas saat bertanya. "Dokteeer! Cepat kemari, pasien ini sudah sadar!"


Spontan gadis itu meraih lengan Arya. Menahan agar berhenti terlalu mencemaskan dirinya. "Bima! Bima pliss! Gue gakpapa!"


"Gakpapa apanya! Gue temuin loe dalam keadaan gak baik!"


Gadis itu membelalak. "Ma-maksudnya??"

__ADS_1


Alona menatapnya nanar. 'Apa mungkin Arya yang membawaku ke Rumah Sakit ini? Kalau iya, apa itu artinya dia melihatku dalam keadaan .. ahhh!' Segera gadis itu menepis bayangannya.


"Alona, sebenarnya apa yang terjadi?"


"Gue ...." ucapan Alona terhenti. 'Ya, Tuhan! Ingin rasanya gue ungkapkan sama Bima kalau Jesica dalang di balik semua penderitaan ini!' Gadis itu menunduk.


"Iya, loe kenapa?"


"Gue gakpapa, Bim!"


"Gak mungkin! Kenapa loe sampai pingsan di kamar, loe tau gak kalau kamar lu hampir aja kebakar? Lu bisa bayangin apa yang terjadi kalau gue gak datang?"


Gadis itu mendongak. Matanya merah menahan bendungan air di garis pelupuk. Emosi mulai menggerayungi pikirannya.


"Terus kenapa lu selamatin gue? Kenapa gak lu biarkan aja gue mati?" Gadis itu emosi. Mengingat bahwa sekali pun ia tahu sang pangeran penyelamatnya adalah Bima, tetap saja tak mungkin merubah kenyataan bahwa yang Bima sukai adalah Jesica, bukan dirinya. Namun, gadis itu telah salah menduga. Ia tak benar-benar mengetahui isi hati Bima yang sebenarnya.


Arya mengernyit. "Apa maksudnya? Lu mau mati?"


"Iyaa!" sahutnya mantap.


Seketika tatapan Arya berubah tajam.  Ditariknya lengan Alona, berlari keluar. Membuat sang gadis terkejut. Setengah berlari mengikuti langkah Arya.


"Bimaaa! Lu mau bawa gue ke mana?"


"Diam! Lu ikut aja!" Suara Arya terdengar begitu dingin. Mereka kemudian berlari keluar hingga melewati area ruang tunggu. Tak lagi ia hiraukan Bobby yang mendadak memanggilnya. Juga Jesica yang tiba-tiba hadir dengan wajah seolah tak tahu apa-apa. Tak peduli. Pria itu terus menarik lengan Alona. Memaksanya mengikuti menuju tangga darurat.


"Bima! Sebenarnya kita mau ke mana?" Pertanyaan Alona tak lagi ia jawab. Pria itu terus membawa sang gadis untuk mengikutinya menuju gedung teratas.


Daaaap!


Pintu terbuka. Sebuah pemandangan dari atas gedung membuat Alona merinding. Terlihat jelas lalu lalang kendaraan yang seperti semut dari atas gedung itu. Angin kencang pun langsung menerpa wajah keduanya. Membuat rambut terurai Alona beterbangan. Sesekali menutup wajahnya.


Pria itu kemudian menarik lengan Alona menuju tebing dari gudang yang tak memiliki pembatas. Satu langkah saja mereka pasti terjatuh dari ketinggian itu.


Seketika jantung Alona berdegub kencang. Takut. "Bima, lu mau ngapain?"


"Lu bilang mau mati, kan? Ayo, kalo itu yang loe mau gue siap! Peluk tubuh gue, kita terjun bersama!"


Seketika bibir Alona bergetar. Semua yang terucap dari mulutnya terdengar parau. Rasa takut berhasil menyelimuti pikirannya. Juga rasa tak percaya bersemayam dalam benaknya


"Kenapa? Takut?"


Netra Alona semakin berkaca-kaca. Bahkan kini mulai menitikkan air mata.


"Lu tau apa yang paling gue takuti?"


Gadis itu tak menjawab. Hanya menatapnya nanar.


Ketimbang gedung tinggi ini! Gue lebih takut kehilangan elo! Kalo lu mau mati! Lebih baik kita mati bersama!"


"Bi-Bimaa!!


"Jadi plis, Alona! Jangan pernah ucap kata itu lagi! Gue akan menjadi orang yang paling menyesal kalo lu mati! Gue gak akan sanggup, Alona!"


"Bima, lu bicara apa?" Suara Alona parau. Bergetar karena mengucap diiringi tangisan.

__ADS_1


"Alona .. gue suka sama loe!"


Bersambung dulu yaaa ....


__ADS_2