Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Pernyataan Bobby


__ADS_3

Alona masih belum beranjak dari kamarnya. Depresi, tertekan, itulah yang dirasakan gadis itu. Seumur-umur ia tak pernah mendapat perlakuan sekejam itu dari siapa pun.


Sekali pun ia gadis yang bandel. Hingga nyaris tak memiliki teman kecuali Jesica yang selalu setia bersama. Dari kecil hingga besar, bahkan melamar di beberapa perusahaan yang sama. Dan berakhir dengan bekerja di GCK grup bersama.


Namun, tak sekali pun mendapat perlakuan sekejam itu.


Alona termenung. Entah setan apa yang sudah merasuki pikiran dan hati sahabatnya, sampai tega memperlakukannya serendah itu.


"Jesica, gue benci loe!" ungkapnya pelan dengan air mata mengiringi kalimat yang terucap dari bibirnya.


Air mata itu menetes, membasahi lengan mungil itu.


Tok! Tok! Tok!


"Alona?"


Menoleh. Namun, tubuhnya masih lemas, bergetar, hingga tak mampu membuka pintu kamarnya sendiri.


"Alona bukaa!"


Panggilan kedua terdengar jelas. Ya, suara itu berasal dari wanita si ular berbisa.


'Mau apa dia sekarang?' Alona bergumam dalam hati. Sedang ketukan pintu dari tangan gadis berbisa itu masih terus mengusik pendengaran Alona.


Cekriieet!


Baam!


Pintu dibuka secara paksa. Alona tak menguncinya dengan rapat, hingga racun itu berhasil masuk.


"Dari tadi gue ketuk, bukain napa sih?" jeisca berbicara seolah tak ada sesuatu yang terjadi antara mereka.


"Mau ngapain lagi, loe? Pergi! Gue udah muak lihat muka loe!" Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Alona.


"Ya elah! Lu masih kesel sama gue?"


Alona mengernyit. 'Apa anak ini habis melakukan operasi pengangkatan hati dan otak! Sampai semuanya gak berfungsi?'


"Ya ampun, Alona! Lu masih belum berpakaian juga! Demen amat!"


Alona tak membalas. Sedang racun itu semakin mendekat.


"Kamar loe berantakkan banget." Sedetik kemudian netranya melirik mata kaki Alona. "Ya ampun Al! Kaki loe berdarah! Gue ambilin antiseptik ya!"


Jesica berlari menuju kotak obat yang tergantung pada dinding kamar Alona. Meraih dan membawanya pada Alona.


Diraihnya pucuk kaki Alona untuk mengobati luka itu. Namun, mendadak Alona menepis lengannya.

__ADS_1


"Jauhkan tangan haram loe dari kaki gue!"


"Eh, buset! Galak amat! Ya udah kalo gak mau gue bantu!"


Alona masih menatapnya tajam. Sedang satu buah pecahan beling tersimpan rapat di tangan yang ia sembunyikan di balik punggung.


"Lu udah makan belum?"


"Hah!" Pertanyaan Jesica nyaris membuat Alona tertawa getir. "Sejak kapan lu peduli sama gue?"


"Lu masih marah sama gue, karena perlakuan gue kemarin? Oke gue minta maaf!"


"Maaf lu bilang? Setelah apa yang loe perbuat sama gue!"


"Iya, lagian lu gak diapa-apain kok sama Rendra. Di cuma jadi model foto bugil bareng loe! Nyentil dada loe juga enggak! Apalagi nidurin. Gak nafsu dia lihat body loe yang kerempeng."


"Brengsek!" Alona geram. Nyaris melayangkan beling itu ke wajah Jesica.


"Jesica sayaaang!"


Suara yang memanggil dari luar kamar itu berhasil mengurungkan niat Alona yang hendak merusak wajah Jesica dengan beling.


"Lu ngapain masih di sini?" Pria itu hadir. Pria yang menjadi kaki tangan Jesica. Pria yang ada dalam foto bugil bersama Alona.


Darah mengalir dari sela urat nadi hingga ke pucuk kepala Alona. Geram. Marah. Kesal. Gadis itu teramat benci melihat dua binatang itu hadir di hadapannya.


"Iya, sabar napa sih!"


"Alona!" lirihnya pelan. Gue tinggal dulu ya! Gue ada janji nih!"


Alona hanya menatap dengan sinis rubah di hadapan wajanya. Racun itu kemudian pergi.


'Sialan! Kalo aja si brengsek itu gak datang, mungkin muka loe udah gue coret sampai gak berbentuk batang hidung loe!' gadis itu bergumam dalam hati.


Sedetik kemudian meraih foto-foto porno itu merobek hinga berkeping-keping. Melemparnya ke dalam bak sampah.


Diraihnya satu buah korek, menyalakannya lalu melempar ke dalam bak sampah itu.


Api kecil mulai membakar foto-foto itu.


******


Bobby sudah kembali dari perjalanan bisnisnya. Begitu pun dengan Arya yang juga kembali dari urusannya mengenai dokumen Pulau Sittar.


Kedua insan itu membuat janji untuk bertemu di villa.


Berbincang, membahas perihal kesuksesan Bobby. Juga perihal keberadaan dokumen Pulau Sittar yang masih menjadi teka-teki.

__ADS_1


"Selamat ya, Bro!" Arya menepuk pundak Bobby.


"Gak! Gue yang mau bilang terima kasih sama loe!"


"Gak perlu berterima kasih! Karena loe layak mendapatkan semua itu! Semua yang loe dapatkan itu karena kerja keras loe sendiri! Gue benar-benar terbantu dengan adanya loe di samping gue! Thanks ya, Bob!"


Bobby melemparkan senyum pada sohib sekaligus bosnya itu.


"Oh iya, mengenai Alona ...." ucapan Bobby terputus.


"Kenapa? Dia baik-baik aja kan?"


"Selama perjalanan bisnis ini, gue belum pernah ngehubungi dia!"


"Serius? Gue harap anak itu baik-baik aja!"


"Iya, gue harap juga begitu!"


Keduanya hening sesaat.


"Ar, ada satu hal yang mau gue kasih tahu ke elo!"


Arya menoleh. Menatap lekat wajah Bobby. Rasa penasaran menyelimuti raut Arya. "Apaan??"


"Sebenarnya .. gue sama Alona gak pacaran!"


"Oh! Kalo itu sih, loe gak bilang pun gue juga tahu!" Kembali dilemparnya pandangan ke depan.


"Satu lagi, sebenarnya Alona ...."


"Kenapa?"


"Sudah lama anak itu naksir sama elo."


Deg!


Netra Arya membelalak menatap Bobby.


"Serius loe? Dari mana loe tau?"


"Sudah beberapa kali dia curhat sama gue! Dan ...." Spontan Arya bangkit dari tempat ia duduk. Beranjak. Membuat ucapan Bobby tertahan.


"Ar, lu mau ke mana?"


"Gue ada urusan! Gue duluan yaa!"


Pria itu mendadak pergi, meraih jaket dan langsung mengenakannya. Sedang Bobby hanya dapat memandang pundak Arya yang kemudian menghilang di balik lift. Bobby hanya bisa tertawa kecil melihat respon dari sahabatnya.

__ADS_1


"Gue harap loe dan Alona bahagia!" gumamnya.


__ADS_2