
Tap!
Tap!
Langkah Alona terdengar jelas dalam gendang telinga Arya, berjalan dari bagian dalam rumah menuju ruang tamu yang luasnya hanya beberapa meter. Bahkan setiap sudutnya nyaris terlihat.
Alona kini benar-benar berada dalam pandangan jarak dekat dengan Arya. Meletakkan satu buah minuman yang terbuat dari teh perpaduan bunga melati ke atas meja.
"Teh apa, nih? Lu mau ngejampi-jampi gue??" Arya berkata dengan tatapan aneh. Melihat seduhan yang tak biasa itu disajikan untuknya.
"Ehh! Sembarangan! Gue udah bikinin minuman spesial juga malah dikatain!"
"Lagian, bikin teh kenapa harus ada melatinya sih?"
"Ini tuh bagus tau! Menurut kepercayaan orang-orang tua dulu, teh ini bisa bikin awet muda!"
"Oh ya?? Tapi, gue kan udah cukup awet muda!"
"Kata siapa??"
"A-pa?? Kata siapa?? Jadi menurut loe, gue kelihatan tua gitu??"
"He-em! Kan emang tua!"
"Sialan!!"
Alona terkikik setelah merasa berhasil meledek Arya. "Bobby kemana??"
"Keluar tadi, ada panggilan telepon!" Arya mulai menyeruput teh melati yang masih panas. Wajahnya sedikit berubah saat merasakan sensasi dari perpaduan teh dan melati menyelam dalam tenggorokan. Menurutnya sedikit aneh.
"Ohh keluar!"
"Lu kenapa pulang gak ngabari gue? Gue khawatir tau! Mana perginya bareng Bobby lagi!"
"Cieee! Lu cemburu yaa ...."
"Ya jelas gue cemburu!" Arya memalingkan wajahnya, meletakkan satu kaki bertumpu dengan kaki sebelahnya. Sementara tangannya melipat ke atas dada.
'Ck! Tingkah laku Arya arogan, pantas aja kalo emak gak suka sama sikapnya. Padahal baru sekali ketemu! Tapi, mau gimana pun, dia kan orang kaya. Semoga apa yang dikatakan Bobby itu gak benar!' Alona membatin. "Ponsel gue lowbat. Makanya gue gak bisa ngehubungi elo!"
"Oh gitu, apa Bobby yang maksa loe buat ikut??"
"Kagak, gue yang maksa dia untuk ikut! Karena gue mau jenguk Jesica! Apa lu belum tau kabar terbaru tentang Jesica??"
Seketika Arya menoleh, melepaskan lipatan tangan di dada, menyimak ucapan Alona kali ini. "Emang Jesica kenapa?"
"Dia masuk Rumah Sakit! Makanya gue maksa Bobby untuk ikut. Gue kan temennya."
"Oh ya? Jesica sakit apa?"
"Operasi kuret!"
"Apa itu??"
"Operasi pembersihan rahim setelah keguguran!"
__ADS_1
Bruuup! Tersedak.
"Maksud loe? Jesica sempat hamil?"
"Iya."
"Kenapa dia cuma ngehubungi elo? Kok gak ngehubungi gue juga?"
"Emang loe penting?? Ngarep banget dihubungi Jesica!!"
"Cieee! Lu cemburu yaaa! Tenang aja, hati gue tetap padamu kok, Sayang!"
"Apaan sih! Garing!" ketus. 'Kalo dilihat dari sikap sama penampilan, Arya gak kelihatan seperti yang Bobby bilang. Apa Bobby ngebohongi gue??"
"Kasihan anak itu! Apa lu tau siapa cowok yang sudah hamili dia?"
"Gue juga gak tau!"
"Hmm."
*****
[Halo! Halo] berbicara dalam telepon. "Nih sinyal ke mana kaburnya sih?" Bobby mengangkat ponselnya ke udara. Menggerakkannya, seakan dengan cara itu sinyal akan datang. Cara itu tak berhasil, tapi Bobby tetap kukuh mencoba pantang menyerah. Sambil terus berjalan dengan mata yang terus menatap ke layar yang ia genggam di udara.
Hingga tak terasa, jarak pria itu sudah cukup jauh dari halaman rumah Alona.
"Ahh! Kenapa bisa Alona betah tinggal di area pelosok gini sih?" rutuknya. Kembali ponsel ia gerakkan di udara. Hasilnya tetap saja sama, nihil.
"Hp-nya kenapa, Om?"
Pakaian seragam putih abu-abu melekat di tubuhnya. Dengan sepatu hitam ala rocker, rambut terurai dibalut sebuah topi pria yang juga berwarna hitam.
'Ini anak habis pulang sekolah apa habis konser?' celetuknya dalam hati.
"Om, saya nanya hp-nya kenapa? Kok malah ngelihatin saya begitu?"
"Ehh!" Kembali Bobby tersentak kaget. Membuatnya terlepas dari lamunan. "Iya, sinyal di sini susah banget di dapat!"
"Ohh!!" Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung bajunya. "Ini! Pakai saja Hp saya saja kalau mau nelpon!"
"Wah, masih kecil udah baik banget! Makasih ya! Gue pakai bentar ponselnya ya!"
Tak lagi menyahut, gadis itu mengangkat tangan, jemarinya membentuk hurup O seraya memicingkan sebelah mata. "Okeee, Om! Pakai aja!" serunya.
Segera Bobby menerimanya dan langsung mengetik nomor yang ingin ia hibungi. Dan benar saja, menggunakan telepon jadul memang berhasil di area pelosok seperti itu. Bobby mulai berbincang dalam telepon dengan tenang.
Gadis itu masih setia menunggu hingga bermenit-menit lamanya. Menyandarkan punggung pada sebuah pohon di pinggir jalan. Sesekali menatap ke arah Bobby yang memunggunginya, tampak masih sibuk berbicara dalam telepon.
[Oke! Terima kasih! Sampai jumpa di hotel Grandland] Bobby mengakhiri perbincangan dalam telepon. Berbalik badan, mendatangi si gadis belia yang terlihat setia menunggu ponselnya kembali di bawah pohon.
"Ini Hp-nya. Makasih banyak ya!"
Gadis itu menerima ponsel yang diserahkan ke tangannya. Meletakkannya kembali ke dalam kantung baju sekolah. "Lima ratus ribu, Om!" Mengulur tangan ke arah Bobby. Rautnya terlihat datar. Membuat Bobby melotot mendengarnya.
"A-apaa???" Bobby terkejut melihat tangan sang gadis yang masih setia mengulur ke arahnya. Sepertinya gadis itu meminta bayaran, tapi sungguh bayaran yang benar-benar tak setimpal.
__ADS_1
"Lima ratus ribu untuk biaya telponnya!" sambungnya memperjelas.
"Hah?? Aku pikir kamu tadi iklas minjamin teleponnya?"
"Ck! Ya elah, Om! Hari gini mana ada yang gratis!"
"Tapi, lima ratus ribu, mahal banget!"
"Yeee! Tampang doang mirip orang kaya, masa bayar segitu aja gak mampu! Lagain, dari awal kan Om gak nanya! Gue minjamin ini memang ada tarifnya!"
"Buseet!! Kecil-kecil udah bisa meras! Gue gak ada uang!" Bobby memalingkan wajahnya, melipat kedua lengan ke atas dada.
"Eh, gak bisa dong! Om kan sudah pakai hp saya! Bayaaarr!!!" Masih mengulurkan tangan, dengan mata yang kini mulai melotot.
"Gak mau! Ini namanya pemerasan! Lagian, kamu sendiri kan yang nawari saya pinjaman hp kamu! Lagipula, hp jelek aja kok pakai barayan mahal!"
"Wah, Om ini mau ngajak perang, ya?? Udah gak mau bayar, ngolok lagi. Jangan main-main sama saya, saya bisa silat loh!"
Bobby terkekeh mendengarnya. "Eh, Bocil! Mau lu bisa silat sekalipun gak akan kuat ngelawan gue!"
"Eh, jangan sombong ya, Om! Biar kata badan Om gede! Aku bisa kalahin Om loh!"
"Oh yaaa??? Uhh takuuut!!" Bobby sedikit meledek. Masih setia dengan tawanya.
"Oh yaa, kata Om??? Berani Om ketawain saya! Gue silat juga lu, Om!" Gadis itu segera meletakkan tas dan hardisk-nya ke atas tanah di samping kakinya. Memasang kuda-kuda untuk menyerang. Menaikkan lengan baju kiri dan kanan. Tangan mungilnya terlihat mengepal. Membuat Bobby tertawa Geli. Geli melihat tingkah anak itu.
"Kyaaa!!" Gadis itu berlari ke arah Bobby. Segera untuk memukulnya. Begitu tangan itu hampir berhasil menyentuh dadanya, spontan Bobby menangkapnya. Lalu menarik, tangkapannya membuat tubuh gadis itu menyelam dada dada bidang Bobby. Digenggamnya kedua tangan sang gadis lalu memutarnya, membuat tubuh sang gadis ikut terputar.
"Heh, Bocah! Loe udah salah dalam bertindak. Apa loe gak tau, loe baru aja melawan pemain MME juara kelas premium!"
Degg!!
'Apa yang dibicarakan Om ini? Apa dia serius atau sekadar menakuti gue??' gadis itu terkejut dalam hati. "Aduuh! Sakiit! Lepasin tangan gue!"
"Gak akan! Sampai loe bilang bilang maaf dengan tulus baru gue lepasin!!"
"Aduuh!! Sakiiit! Emaaakkkkk!!"
"Eh, pakai teriak lagi!"
"Emaaaaaaakkkk!!"
"Qeyaa??"
Bobby terkejut. Suara yang kini berteriak terdengar begitu femiliar. Ia menoleh. Dan benar saja, sosok gadis bernama Alona tiba-tiba berlari ke arah mereka.
"Kakak! Tolong gue! Huaaa!!"
'Apa?? Kakak??' Bobby terkejut tak percaya.
"Bobby, lu ngapain? Lepasin adik gue!!" gertak Alona.
Spontan Bobby melepasnya. Segera gadis itu berlari ke dalam pelukan kakaknya.
"Kakak, tolong aku! Pria itu baru aja mau berbuat mesuuum!" rintihnya, memeluk erat tubuh kakaknya. Sedikit melirik ke arah Bobby. Lalu menjulurkan lidah.
__ADS_1
'Sialan! Bocil itu sudah memfitnah gue! Kebetulan dia berada di posisi yang beruntung! Agghhh!!'