
"Kakak, tolong aku! Pria itu baru aja mau berbuat mesuuum!" rintihnya, memeluk erat tubuh kakaknya. Sedikit melirik ke arah Bobby. Lalu menjulurkan lidah.
Alona menunduk. Membuat Qea mendongak. Gadis itu mulai menunjukkan raut memelas. Berharap kakaknya segera mengeluarkan jurus silat untuk membalas perbuatan Bobby. Namun tak disangka, justru wajah nenek lampir yang ia dapatkan.
"Anak bandeeel!!! Kenapa baru pulang sekarang? Jam berapa ini, hah??!!!" Qea terkejut mendengar hardikan yang keluar dari mulut kakaknya. Bukannya membela, malah menyudutkannya.
'Apes! Kenapa disaat begini, kesurupan kakak harus kumat sih?' Qea menggerutu. "Kak Alona kok malah marahin Qea sih? Kakak gak lihat apa tuh Om-om tadi mau berbuat senonoh ke Qea!"
"Ahh! Jangan ngada lu! Kakak kenal dia! Dia bukan tipe cowok begitu!"
'Ah! Leganya!' Bobby tampak menghela napas pelan. "Fouuhh!" Tangannya mengusap dada menandakan bahwa kini ia benar-benar lega.
"Lu ke mana aja seharian? Apa lu taunya cuma main game online?! Kakak udah mati-matian cari uang buat biaya hidup kita, lu malah seenaknya nginfaqin ke warnet! Dasar anak bandel! Pulang lu, sebelum emak yang jewer!!"
"Ah! Kakak nyebelin! Sama aja kayak Om itu!" Menunjuk ke arah Bobby. Alona menoleh, terlihat Bobby mengangkat bahu tak luput menyunggingkan bibir seolah tak tahu apa-apa.
"Loe!!!" Qea menunjuk mata Bobby dengan dua jari. "Urusan kita belum selesai! Loe masih berhutang sama gue!" ungkapnya yang kemudian berlalu dari hadapan Bobby dan kakaknya. Bobby sedikit tegang saat gadis itu melintas di hadapannya, menyenggol tapi Bobby berhasil menghindar hingga tak jadi kena. Diperhatikannya punggung sang gadis yang terlihat berlari menuju halaman rumah, membuatnya tertawa geli.
Hanya beberapa menit berlari, gadis itu akhirnya sampai di pelataran sederhana rumah milik keluarga kecil Alona. Tampak gadis itu menerima makian dari ibunya yang langsung menyeretnya masuk dengan menjewer telinga.
"Tadi itu, adik loe?" tanyanya saat Qea sudah benar-benar tak mungkin mendengar.
"Iyaa!" Alona terlihat malu mengakuinya.
"Oh, pantes! Sebelas duabelas!" ungkap Bobby setengah sadar.
"Ehh! Apa maksudnya nih sebelas duabelas? Lu mau ngatain gue?"
Deg!!
'Haduhh! Kenapa gue bisa ceroboh gini sih? Baru juga lepas dari serangga kecil, malah membangunkan ratu lebahnya!' batinnya mengeluh. "Ahahha! Gue becanda kali, Al! Jangan diambil hati!"
"Becanda lu bilang?? Jangan main-main sama gue, ya! Lu lupa? Gue ini bisa silat!"
"Tuh kan, sama! Baru juga dibilang begitu sudah langsung ngancam mau ngeluarin jurus silat. Huh! Gitu masih gak terima dibilang sama."
"Apa lu bilang?? Wah, kayaknya lu bener-bener mau cari masalah sama gue ya?"
__ADS_1
"Ehh! Bukan begitu, Al!"
"Terus maksudnya apa?"
"Ck! Ah! Lupain! Oh iya, soal adik loe ...."
"Jangan ganggu adik gue! Dia udah cukup bandel! Jadi jangan bikin dia tambah bandel!"
"Haduh! Siapa juga yang mau ganggu adik loe!"
"Terus apa?"
"Gue cuma mau bilang, tolong sampaikan sama dia, sekarang gue gak ada uang cash! Nanti kalo sudah sampai di kota, gue transfer nominal yang dia minta. Jadi suruh dia berikan nomor rekening aja."
"Maksud loe??"
"Kalian lagi ributkan apa??" Suara mengejutkan tiba-tiba datang dari arah belakang.
Keduanya menoleh. Berjalan seorang pria dengan ekspresi datar, meletakkan kedua lengan ke dalam kantung celana samping.
"Gak bisa! Tau kalian cuma berduaan di sini, gue jadi gak tenang! Ntar kalian berbuat macam-macam lagi di belakang gue!"
'Duhh! Buset! Nih orang cemburunya udah tingkat Dewa aja!' Alona memasang senyum yang dipaksakan, berjalan mendekat ke arah Arya. Lalu menautkan lengannya di pergelangan pria kaya itu, mengajaknya kembali ke rumah dengan beriringan.
Deg!!
Arya sedikit menegang saat gadisnya dengan santai menyentuh lengannya.
"Duuh, Pak Bos ini kebanyakan makan apa sih?! Dari tadi bawaannya tensin mulu!" bisiknya di samping Arya. Dibumbui sedikit tawa meledek.
"Makan apa lagi? Terakhir kali, gue cuma minum teh melati yang loe buat! Ngomong-ngomong, efek dari teh itu bagus juga, ya!" Berbohong. Tertawa kecil dan sedikit memainkan alis.
Ucapan dusta Arya berhasil membuat Alona gugup. "E-efek apaan maksudnya?"
"Hmm, entahlah!" Arya berakting, memijat pelipisnya. "Rasanya kepala gue mulai pening setelah minum teh itu, dan kayaknya cuma satu obat yang bisa nyembuhin!"
"Apaan??" Wajah Alona terlihat melotot. 'Jangan bilang ini alibinya lagi untuk minta cium!'
__ADS_1
"Ahh! Melihat gadisku melotot, selera gue jadi hilang!"
"Yee, emangnya gue makanan, pake bilang selera hilang segala!"
"Hahaha! Oh iya, ngomong-ngomong, tumben nih tangan betah nempel lama-lama?" Menunjuk ke pergelangan Alona yang masih setia bertaut di lengan Arya.
"Ehh!" Gadis itu tersentak kaget. Lalu melepasnya. "Itu karenaa ...."
"Karena apa??"
"Takut Bos gue hilang kesadaran karena kebanyakan ngegombal!" Ia mulai tertawa geli.
"Huh! Kirain karena sayang makanya nempel mulu, ternyata mau ngejek! Beruntung loe gadis yang gue suka! Kalo gak, udah gue potong-potong dan bikin sup!" ungkap Arya, mencuil hidung mungil Alona.
"Ampun, Pak Bos! Alona takut, jangan dibikin sup dong!" nadanya terdengar meledek. Masih setia dengan tawa cekikik.
Arya menatap datar, dengan mata yang mulai menyipit.
"Gadisku sekarang udah mulai nakal, ya?!" Kini berganti nada bicara Arya yang mulai terdengar liar. Alona menoleh. Benar saja, pria yang diremehkannya itu sudah memasang wajah dengan tatapan menggoda.
Glek!!
Spontan Alona membuang pandangan ke samping. 'Astaga! Alona, bodoh banget! Kenapa gue lupa sih kalo dia tukang mesum! Duh, bisa-bisanya gue gombali dia! Gimana kalo dia minta cium lalu ngancam dengan hutang lagi?!'
Kembali gadis itu menoleh. Benar saja, Arya sudah memasang wajah dengan senyuman penuh gairah, salah satu jarinya menunjuk ke pipi kanan. Sedang alisnya sudah dua kali bergerak naik turun.
Degg!!
Alona yang sudah terlanjur malu dengan rona merah itu langsung mendorong tubuh Arya. Membuat kaki panjang Arya bergeser satu langkah ke belakang.
"Dasar mesuum! Kelaut aja loe!!!" Sedetik, Alona sudah berlari untuk menghindar dengan radius seratus perkilo meter.
"Ck! Loe pikir bisa kabur dari gue?" Arya tertawa getir melihat gadisnya salah tingkah. Sementara Bobby yang sedari tadi mengikuti mereka dari belakang hanya bisa meringis, menyanyikan lagu dengan judul 'Nasib Orang Jomblo'.
Arya yang mendengar Bobby bernyanyi nada sumbang dan lirik tak jelas itu merasa terusik hingga akhirnya menoleh. Spontan Bobby membuang pandangan ke samping, bertingkah polos, bersiul, seakan tak pernah menyaksikan apapun.
Satu episode dulu ya, kalo sempat nanti siang update satu episode lagi. Oh iya, jangan pelit buat kasih komentar! Satu notifikasi komentar saja, udah bikin author berasa dapat jackpot loh! karena komentar kalian itu benar-benar menaikkan mood author dalam menulis!! 🥰👍
__ADS_1