Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Perjalanan singkat ke kota dubay


__ADS_3

Pagi itu Arya bangun dengan semangat yang tinggi. Ternyata jauh hari pria itu sudah merencanakan hal yang tak terduga. Ya, dia berniat mengunjungi toko perhiasan kelas dunia di kota dubai. Hanya untuk mencari satu buah kejutan istimewa berupa cincin termewah sebagai hadiah lamaran kepada sang penakluk hati, Alona Shaira.


Satu jam sudah pria itu bersiap, dari mulai mandi hingga berkemas diri, tapi masih tak kunjung usai. Sedang Bobby sudah siap lebih awal, menunggunya dengan rebahan di atas matras. Beruntung, pria itu adalah salah satu pecandu game online, saat memiliki waktu luang, ia lebih suka menghabiskan waktu dengan bermain game, sehingga pagi itu ia tak merasakan jengahnya menunggu.


Namun, karena mepetnya waktu yang mereka punya untuk berangkat pulang pergi dubay, yang hanya memiliki kesempatan perjalan selama 24 jam dan bahkan sudah disortir untuk moment berbelanja di toko perhiasan, membuat Bobby gerah menunggu.


"Woy! Arya! Bisa buruan dikit gak sih! Ini kan bukan waktunya ngedate sama Alona! Lu gak perlu mengaca sampai berlama-lama, kali." hardiknya. Geram.


"Diiih! Santai aja, dong. Lu juga kan lagi asyik main game!"


"Yee, gue main game ini biar gak bosan nunggu elo! Lagian, tumben-tumbenan lu bersiap aja lama banget, kayak cewek aja!"


"Sialan! Lu gak ngertiin teman yang lagi kesengsem apa!"


"Kesengsem??" Seketika Bobby terbahak mendengarnya. Tertawa geli hingga nyaris terjengkal dari atas matras. Membuat Arya berdecak heran.


"Lu kok to the point amat sih, Ar! Sumpah, ngakak gue!"


"Apaan sih, loe!"


"Ya udah, karena berhubung loe lagi kesengsem, oke, gue ngalah, iklas nunggu elo berlama-lama dandan. Ya, maklumi ajalaaah! Namanya juga lagi kesengsem!" Masih dengan sisa tawa. Nyengir kuda.


"Apa sih!! Ketawa mulu! Siapa juga yang dandan! Sekate-kate banget, lu sangka gue bencong?"


"Laah! Habisnya lu ngapain pake berlama-lama gitu depan cermin?!"


"Ckk!" Arya berdecak kesal. "Gue ini lagi latihan!"


"Hah? Latihan apaan??"


"Ya .. apalagi, latihan biar gak gugup nanti waktu nyerahin cincin di depan Alona!"


"Loh, emangnya lu mau ngelamar besok?"


"Ya enggak! Gue bakal lamar dia nanti di pesta ulang tahun GCK grup."


"Yah, kalo gitu sih masih lama, kan masih ada waktu tiga hari. Lu masih bisa berlatih nanti saat pulang dari dubay!"


"Kelamaan. Kita ke dubay aja menghabiskan waktu 24 jam. Itu artinya, waktu gue buat nyiapkan mental tinggal dua hari!"


"Iya juga sih!"

__ADS_1


Arya menaikkan kening. Seakan menang telak. Membuat Bobby tersenyum pias.


"Oh iya, ngomong-ngomong, apa lu sudah dapat restu dari orang tua?" tanya Bobby berusaha mengalihkan topik.


"Ahh! Itu sih urusan belakang, yang terpenting sekarang, gue udah mantap memilih Alona, dan gue gak mau cepat-cepat ngikat dia, biar gak mudah diambil orang," sindirnya pada Bobby. Membuat pria yang disindir menyunggingkan senyumnya.


"Lu udah yakin nih? Gak mau pikir-pikir lagi?"


"Yakin dong!"


"Oh, btw kalo mendadak lu batal ngikat, kabari gue ya. Gue siap nampung tuh anak buat jadi istri gue!" Terkekeh pelan.


"Sialan! Tenang aja, gue pasti pegang janji gue! Oh iya, bukannya lu ditaksir sama Jesica ya!"


Bobby melotot. "Hek! lu tau darimana??" Memasang raut jelek.


"Alona yang cerita!"


'Apa? Sialan! Dasar tuh bocah! Teganya dia buat gue malu dengan cerita ke Arya tetang Jesica.' gumamnya dalam hati. "Ahh! Anak itu ya! Oh iya, btw, lu sendiri apa udah sama sekali gak punya rasa terhadap Jesica? Bukannya dulu elu ngebet banget ya buat ngedapatin dia?!"


"Yaa, awalnya sih gitu." Merapikan jaz di depan cermin. "Tapi gak tau kenapa, makin lama gue makin sadar kalo perasaan gue ke Jesica itu hanya sebatas kagum."


"Ho-oh!" Hanya fokus menatap cermin.


"Dengan apa? Bodynya yang montok??" Meledek. Terkekeh sendiri.


"Sialan! Lu kali yang mandang Boby-nya."


"Hahaha! Ogah! Mending juga mantengin kucing betina telanjang daripada mantengin body tuh cewek!"


"Ehh, gak boleh ngomong gitu, ntar jadi jodoh baru tau loe!"


"Jangan didoain juga, dong!"


Arya terkekeh pelan merasa menang. "Bte, lu kenapa anti banget sama Jesica, Bob? Gue lihat lu kayak alergi banget sama tuh cewek!"


"Ya kan dulu gue udah pernah bilang, dia itu cewek matre, bukan tipe gue banget lah. Kalo cantik sih emang gue akuin dia lumayan cantik! Tapi tetap aja dia bukan selera gue! Lagian, gue eneg lihat cara dia berpakaian!"


"Eneg kenapa?!"


"Ya, lu lihat sendiri kan gimana penampilannya di festival kemarin!"

__ADS_1


"Hmm, memang sih rada vulgar!"


"Iya kan! Eneg gue ngelihatnya!"


"Gue kira yang model begitu masuk tipe loe!"


"Sembarangan!"


"Heran gue sama loe. Padahal ada jutaan cewek di luar sana yang berusaha deketin elo. Tapi loe betah aja menjomblo! Emang tipe gimana sih yang loe cari?"


Deg!


Mendengar pertanyaan dari Arya, seketika bayangan wajah Alona bermain dalam benak Bobby. Namun segera pria itu menepisnya, menyadari jika perasaannya terhadap Alona tak bisa lebih dari teman. Karena di hati wanita sudah ada sosok pria. Pria itu bahkan temannya sendiri.


"Yang pasti, yang pakaiannya sopan. Dan dia anak baik-baik, bukan wanita clubbing. Dan yang terpenting, gak berpakaian sexy yang memamerkan pada publik lekukan tubuhnya secara gratis."


"Hmm, gue rasa tipe kita sama!"


"Ya, tentu aja sama, kita bahkan suka sama cewek yang sama!"


Arya mengernyit mendengar jawaban Bobby. "Apa maksud loe? Loe suka sama Alona?"


Bobby tertawa kecil. Berdecih. "Gue rasa, loe gak perlu tanyakan hal itu? Bukannya loe sendiri pernah nyaksikan gue ungkapin perasaan terhadap Alona di depan loe sewaktu kita di villa??"


Tatapan Arya kini berubah sinis. "Apa maksud pembicaraan loe ini? Apa lu berniat merebut Alona dari gue?"


"Hmm, kalo untuk merebut sih, enggak!"


Arya semakin mengernyit.


"Karena, sejak awal yang Alona suka itu cuma elo. Dia bahkan terang-terangan nolak gue!" Senyum mengembang tapi terlihat pahit.


Seketika tatapan Arya berubah sendu. Duduk ke sebelah Bobby, menepuk pelan pundaknya. "Maafin gue, Bob. Gue tadi terbawa emosi!"


"Gakpapa, gue ngerti kok! Loe bersikap begitu karena perasaan loe cukup dalam buat Alona, karena lu takut kehilangan dia! Iya kan!"


Arya tersenyum tulus. "Bob!" Menepuk ulang pundaknya. "Gue yakin, suatu saat lu pasti dapat cewek yang bukan hanya sekadar pantas, tapi juga sempurna buat loe!"


"Thanks doanya, Bro."


*****

__ADS_1


__ADS_2