Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Menunggu itu menjenuhkan


__ADS_3

Untuk beberapa saat, Bobby menunggu Qea mengganti baju, bersandar pada dinding di samping pintu. Kedua tangan ia selipkan dalam kantung celana. Sesekali melirik jam di tangan yang seakan berhenti berputar.


"Nih bocah! Ganti bajunya lama juga, ya!" keluh Bobby. Netranya terusĀ  menatap lantai, padahal tak ada bayangan apapun di sana.


Ceklek!


Suara gagang pintu yang dibuka membuat Bobby menoleh. Tampak jelas di hadapannya seorang gadis imut dengan wajah polosnya. Namun, masih terlihat sedikit sisa make up yang sebelumnya melekat dan membuatnya terlihat mengerikan.


"Gimana, Om?? Apa Qea udah cantik??"


"Hmm, udah cantik sih! Tapi ...."


"Tapi apa?"


"Kayaknya Qea perlu sedikit bantuan, deh!"


"Hah??" Gadis itu mengernyit tak mengerti.


"Alona?? Apa lu udah siap?" Bobby berteriak memanggil kakak si gadis.


"Sudah nih, Bob! Gimana? Lu berhasil ngebujuk Qea gak?" Hanya suara Alona yang terdengar berteriak tanpa wujudnya. Ia juga belum kunjung keluar dari kamar.


Saat itu pertanyaan Alona tak dapat dijawab Bobby, pria itu hanya bisa tertawa kecil, karena kini Qea sudah berada di hadapannya dengan tatapan setajam taring citah betina.


"Apa maksud kakak tadi, Om? Apa Om ke kamar Qea hanya karena bujukan dari kakak? Qea jadi kecewa! Huh!" Gadis manis itu langsung melipat tanganya, membuang pandangannya ke samping.


'Duh! Kayaknya gue salah lagi!' Raut Bobby semakin kusut saja. 'Kalau terus-terusan begini, lama-lama gue bisa kena struk.' batinnya kesal. "Gak, Dek! Kamu udah salah paham. Om tadi gak sengaja lihat kakakmu di depan kamar! Katanya susah ngebujuk kamu!"


"Serius?? Bukan karena kakak yang minta?"


"Serius!!" Bobby mengangkat dua jarinya sambil memasang wajah serius. Dan langsung berhasil merubah mimik Qea yang sebelumnya kusut jadi berbinar.


"Bener ya, Om!" Qea terlihat malu-malu, sampai-sampai bola matanya tak hentinya berkedip.


'Ah, syukurlah dia gak jadi merajuk lagi, walaupun sekarang terlihat malu-malu kucing. Setidaknya, masih lebih baik daripada merengut!' sungut Bobby dalam hati.


Selang beberapa saat Alona keluar. Langkahnya terlihat lebih susah saat mengenakan gaun yang lebih ketat. Tapi tak menutupi penampilannya yang kini jauh lebih menawan. "Duuh! Apa tampil cantik harus sesusah ini?" Alona mengeluh. Sesekali berusaha merenggangkan gaunnya agar sedikit lebih longgar.


"Lu udah selesai, Al?" tanya Bobby sedikit terpana. Membuat Qea kembali cemberut. Sepertinya gadis itu mulai terkena syndrom cemburu.


Alona mendongak, kaget. "Ah, iya, sudah! Kenapa?"


"Bisa bantu make up-in Qea gak?"


"Ah, si manja ini! Sini lu Qea! Ikut ke kamar Kakak!"


"Gak mau!!" Melipat tangan ke dada. Gadis itu kembali cemberut. Membuat Bobby sedikit bingung. 'Nih anak sebenarnya kenapa? Bentar-bentar cemberut, bentar-bentar mesem-mesem!' Ia menggeleng pelan.


"Qea ... ikut Kakak, ya!" bujuk Bobby. Dan langsung saja membuat Qea kembali tersenyum. "Asal Om yang nyuruh, Qea mau deh!"


"Ehh!" Bobby tersentak kaget. 'Ya, ampun nih bocah. Masih polos aja udah pandai ngegombal. Gimana kalo udah dewasa? .... Agghhh!' Bobby menggeleng cepat. Menepis pikiran kotor yang melintas di kepalanya. Ditatapnya dua wanita unik yang kini kembali menuju ruang kamar.


Bobby juga tak ingin berlama-lama berdiri. Ia memilih kembali ke ruang tamu, duduk bersama sang bos yang mulai terlihat jenuh menunggu.


"Kalian ngapain aja? Lama banget??" Arya berdecak kesal.

__ADS_1


"Biasa, Ar! Lu kayak gak tau cewek aja! Mereka itu kalo sudah dandan bisa memakan waktu berjam-jam."


"Serius? Kenapa wanita seribet itu sih?"


"Mana gue tau, tapi hal begini penting buat elu tau!"


"Ck! Ah! Penting darimana?" Masih dengan nada kesal. Ia bahkan sudah berkali-kali melirik jam di tangan.


"Penting lah! Karena ini bagian dari wanita, mau lu suka atau pun gak suka harus lu terima!"


"Fouh! Kenapa wanita harus seribet itu sih?"


"Yah, gue rasa memang itu kodratnya!" Pria yang duduk di sampingnya itu tak lagi menyahut. Hanya napasnya yang beberapa kali terdengar mendesah. Tak sabar menunggu. "Ar!!" seru Bobby.


"Hmm!" sahutnya suntuk.


"Lu udah tau kabar tentang Jesica belum?" Seketika Arya menoleh dengan tatapan datarnya karena sudah lelah menunggu."Lu belum tau, ya?" Kembali Bobby menegaskan.


"Gue udah tau!" jawab Arya.


"Kok, lu kelihatannya biasa aja?"


"Lu sendiri? Bukannya lu juga kelihatan biasa aja!"


"Kalo gue sih gak heran! Gue kan dari awal udah bilang, dia bukan gadis yang bener-bener baik. Untung aja lu gak beneran kecantol sama dia."


"Iya, untung aja!"


"Makanya, jangan memandang orang langsung dari tampangnya!" Perkataan sedikit ketus dari Bobby membuat tatapan tajam kembali menghujam ke wajah Bobby. Tak ada bunyi yang keluar dari mulut Arya. Tapi dari tatapannya Bobby tau kalau Arya tak suka dengan ucapannya barusan. "Eh, gue cuma becanda kok! Hehhehe!" Kembali pandangan Arya fokuskan ke depan. "Ar, apa lu gak kaget saat tau Jesica keguguran?"


"Sedikit!"


"Kenapa lu berpikir begitu?"


"Bukannya lu dulu sempat ngejar dia? Kenapa mendadak lu gak peduli sama sekali?"


"Itu karena gue pernah mergoki dia berduaan sama cowok di kamarnya, di hotel borneo! Jadi, gue gak heran kalo dia hamil ataupun keguguran."


"Oh ya? Serius??"


"Hmm!" Mengangguk satu kali.


"Terus? Apa Jesica kaget dipergoki sama elo?"


"Gak! Dia gak sadar kalo saat itu gue tau dia lagi berduaan!"


"Kok bisa?"


"Mana gue tau!"


Sementara itu di bagian dalam kamar Alona.


Alona masih sibuk mendadani adiknya. Menata alis dengan pensil juga menata shading di pipi Qea yang sedikit tembem agar tampilannya lebih cantik natural.


"Lu tadi kok bisa dandan kayak lenong gitu sih, Dek?" tanya Alona disela kesibukannya. Sedang saat itu bola mata Qea masih terpejam karena didandani

__ADS_1


"Yee, kakak aja yang gak tau fashion!" Ungkapan Qea berhasil membuat Alona terbahak.


"Jadi menurut loe, dandanan loe tadi itu udah cukup oke??"


"Iyaa!!"


"Hahhaha!" Kembali Alona terbahak. "Kalo dandanan lu oke, mana mungkin Om Bobby terkejut bahkan sampai gak bisa ngenalin wajah lu!"


"Gitu ya, Kak?"


"Iya lah!"


"Menurut Kakak, wajah Qea tadi seserem apa sih?"


"Hmm, kakak gak sempat lihat semuanya. Tapi dari sisa make up aja udah ketahuan jelas kalo dandanan loe tadi itu nyeremin!"


'Jadi aku tadi semenakutkan itu ya?' Qea membatin. "Oh gitu ya??"


"Iyaa!"


"Emm Kak ... mengenai om Bobby ....!"


"Kenapa?"


"Kakak jangan coba-coba ngerayu dia, ya! Jangan genit kalo lagi bicara!! Qea gak suka lihat Kakak genit sama om Bobby!"


"Idiih, nih bocah kenapa lagi? Lagian, siapa juga yang genit sama dia! Om Bobby itu teman Kakak!"


"Baguslah kalau begitu! Oh iya, Kakak pasti belum tau kalau ternyata om Bobby itu seorang direktur!" ungkapnya semringah.


"Oh ya??" Alona berpura-pura kaget. Seolah tak tahu apa-apa.


"Iya, sedangkan pacar Kakak cuma seorang pengawal om Bobby, iya kan?"


Alona nyaris terbahak mendengarnya. Dan masih berusaha menahannya sedikit. "Jadi menurutmu .. om Arya itu gak lebih dari seorang pengawal ya, Dek!"


"Iya! Qea betul kan? Dari tampang aja kelihatan kikuk! Dia lebih mirip pengawal."


'Apa?? Kok hati gue gak terima ya saat nih bocah ngatain Arya. Aghh! Pengen gue jambak aja rambut nih bocah!' kesal. "Jadi kalau menurut Qea, siapa yang lebih ganteng?!"


"Hmm, keduanya sih ganteng! Tapi om Bobby jauh lebih ganteng!" ucapnya genit.


"Ah! Dasar kamu! Kecil-kecil udah genit."


"Hahahah! Biarin! Kak, salah gak kalo Qea berharap om Bobby itu jomblo!"


"Kagak! Tapi Kakak gak berharap gitu!"


"Ihh kok gitu sih, Kak? Tuh kan! Kakak pasti ada niat mau ngerebut om Bobby! Iya kaaan??"


"Ih apa sih? Kakak cuma eneg lihat bocil keganjenan sama om-om."


"Kakaaak!!"


"Hahahaha!"

__ADS_1


hari ini, satu episode dulu yaa ...


happy reading šŸ¤—


__ADS_2