
Pesiar yang mengantar seluruh karyawan GCK grup sudah mendarat dengan selamat. Puluhan karyawan sudah kembali ke hunian mereka masing-masing. Pun dengan Jesica yang pulang dengan sedikit terhuyung.
Berbadan dua membuat tenaganya dua kali lebih cepat lelah. Segera ia memesan taksi online untuk mengantarnya ke rumah.
Masih di dalam taksi, disandarkannya kepala pada kursi belakang, menghela napas dengan berat. Lengannya mengusap pelan perut yang masih tampak rata itu.
'Apa yang harus kulakukan? Rendra bahkan gak mau tanggungjawab dengan bayi ini? Apa aku gugurkan saja anak tak berdosa ini?' Sepanjang jalan ia memikirkan nasib malangnya. Hingga tiba di rumah. Ia masih memasang wajah kusut.
Kepulangannya tak disambut hangat oleh keluarga, melainkan dengan keributan yang terjadi antara ayah kandung dan ibu tirinya.
Kedua insan itu saling hardik dan saling menyalahkan. Hal yang dipermasalahkan adalah pendapatan ayahnya yang kian merosot. Ibu tirinya terus saja membahas pasal warisan yang ditulis ayahnya untuk Jesica, dan sudah puluhan tahun dititip oleh pengacara ahli waris.
Jesica hanya lewat. Tanpa peduli dengan masalah yang terjadi dalam rumah tangga orang tuanya. Diseretnya koper menuju lantai dua. Bunyi derit dari roda ban-nya cukup membuat kedua insan yang ribut itu terhenti sejenak.
Terjekut mendengar langkah seseorang menaiki anak tangga. Menyadari bahwa itu adalah suara kepulangan dari anak tirinya, segera sang ibu tiri berlari ke arah sumber suara, meluapkan kekesalannya pada putri semata wayang ayahnya.
"Heh, Jesica! Pulang kenapa gak kasi kabar? Cepat kosongkan kamarmu! Hari ini tantemu akan datang! Dan gak ada kamar yang bisa di tempati selain kamarmu!"
"Tante loe bilang? Cih!" Tertawa kecil. "Gue gak pernah menganggap loe sebagai keluarga gue, apalagi saudara loe yang di sebut tante! Suruh aja dia tidur di loteng atau di gudang!"
"Kurang ajar! Anak macam apa kamu, beraninya melawan orang tua!" hardiknya pada Jesica. "Lihat nih Pah kelakuan anakmu! Gimana sih caramu mendidik anak?" Berteriak sekencang mungkin agar terdengar oleh ayah Jesica.
"Loe sebut diri loe orang tua? Orang tua apaan loe yang bisanya merusak rumah tangga orang!"
"Ehh, kamu makin besar makin kurang ajar ya!" gertaknya. Jesica tak lagi menyahut. Dilangkahkannya kaki dengan mantap menuju kamar. Menutup kencang daun pintu.
Baaam!
"Heh! Anak kurang ajar! Aku belum selesai ngomong sama kamu! Keluar kamuu!!!" Ibu tiri itu masih terus merocok hingga beberapa menit, setelah merasa Jesica sudah tak mungkin keluar kamar, barulah ia berhenti mengoceh, lalu beranjak meninggalkan area bawah tangga kamar Jesica.
Sedang Jesica sendiri tersandar pada bagian belakang daun pintu. Lemas, perlahan punggungnya menuruni daun pintu hingga tulang ekor berhasil merapat ke atas lantai. Tatapannya hampa, menatap kasur di depan yang sudah hampir satu bulan lamanya tak tersentuh. Perlahan pelupuknya mulai mengeluarkan buliran kristal bening. Sedih. Hari-hari yang ia lalui hanyalah masalah dan masalah. Seperti tak ada kebahagiaan yang boleh ia miliki.
Ia mulai bangkit menuju ranjang berukuran sedang. Yang hanya muat untuk satu orang. Direbahkannya dengan perlahan agar tak membuat perutnya semakin nyeri.
Netranya sendu menatap langit-langit. Perlahan rasa sakit mulai menggerogoti perut tipis itu. Berusaha ia menahan semampunya. Namun, rasa sakit itu semakin lama semakin menjadi-jadi.
Diraihnya ponsel untuk menghubungi beberapa rekan kerja sekaligus teman sepembullyan kemarin. Satu-persatu ia hubungi. Namun, tak ada yang bersedia menolongnya, pun dengan para om-om yang biasa ia andalkan, semua mengatakan bahwa saat ini tengah sibuk dengan urusan pekerjaan hingga tak ada waktu luang untuk menemui Jesica.
__ADS_1
Rasa sakit di perutnya semakin tak tertahan. Akhirnya ia menelpon satu-satunya nomor terakhir yang dapat dihubungi. Ya, nomor itu adalah nomor Rendra. Pria yang telah membuatnya mengandung janin selama dua pekan terakhir.
Sebenarnya ia masih bisa menghubungi Bobby. Tapi niat itu ia urungkan. Jesica masih berusaha menyembunyikan perihal kehamilannya, berharap masih ada sedikit harapan untuk bisa mendapatkan pria itu.
Tuuuut! Tuuuut!
Klik!
[Halo, Rendra??]
[Ya, halo! Ada apa, Jes]
[Rendra, lu bisa datang ke rumah gue gak?]
[Kenapa?]
[Perut gue nyeri nih!]
[Duuh, Jes! Bukan gue gak mau! Tapi sekarang, gue lagi sibuk mempersiapkan diri buat kembali ke pulau xx]
[Rendra, pliiis! Ini genting banget]
[Gak ada yang bisa]
[Ya sama! Gue juga gak bisa, waktu gue bener-bener mepet nih]
[Emang seberapa pentingnya sih urusan loe itu?]
[Penting banget, karena ini mengenai pekerjaan gue! Gue dipromisikan jadi asisten koki untuk acara besar GCK grup nanti. Gue gak mau buang kesempatan langka ini]
[Rendra! Itu cuma masalah pekerjaan! Sekarang ini urusan loe dengan gue jauh lebih penting! Gue bener-bener sakit dan butuh bantuan loe! Plis, ini juga demi anak loe yang ada dalam kandungan gue!]
[Ck! Ahhh! Lu selalu aja cari alasan dengan bilang bayi di janin loe anak gue! Gini aja, biar gue kirim temen gue buat jemput loe ke rumah sakit, gimana?]
[Terserah! Buruan gue tunggu temen loe!]
Tut!
__ADS_1
Tut!
Panggilan itu diakhiri Jesica. Kembali gadis itu meringkuk di atas matras. Memegangi perut yang nyerinya semakin tak tertahan. Menunggu pria yang di maksud beberapa saat.
Sudah satu jam ia menunggu. Namun yang ditunggu tak kunjung datang. Kembali Jesica mencoba menghubungi.
Tuuuuut!
Klik!
[Rendraaaa! Mana temen loe? Loe bilang mau kirim temen ke sini?]
[Iya, tadi emang udah gue minta sama teman gue buat jemput. Tapi katanya dia sibuk dan gak sempat buat ngantar elo!]
[Sialan! Jadi lu nyuruh gue buat nunggu temen loe yang gak pasti itu! Loe tau gak gimana menderitanya gue nahanin sakit ini? Hah?]
[Ya, habis mau gimana lagi?]
[Brengsek loe! Ke sini loe sekarang juga!] hardik Jesica.
[Ahh, lu maksa banget sih, gue kan sudah bilang gak bisa! Gue sibuk] kilahnya. Namun, terdengar jelas suara seorang pelayan berbicara di samping Rendra. Dari percakapannya, terdengar jika pelayan itu menyerahkan beberapa menu pesanan yang mungkin sudah dipesan Rendra sebelumnya.
[Itu suara siapa? Lu bilang sibuk? Lu di kafe kan ini??]
[Ah, udah dulu ya, Jess. Bos gue manggil nih!] Kembali Rendra berkilah.
Tut!
Tut!
Tut!
Telepon terputus. Diputus secara sepihak oleh Rendra.
[Rendraaaa!!! Agghhh! Brengsek loe!!]
Jesica berteriak dalam telepon. Namun, yang berada dalam panggilan sudah tak mendengar karena tak lagi tersambung. Gadis itu akhirnya hanya bisa terisak.
__ADS_1
Bersambung ....