
Waktu telah menunjukkan pukul duabelas lewat tiga puluh tengah hari. Selama beraktifitas di kantor, Bobby masih setia dengan ponsel yang tergeletak di samping laptop. Menunggu pesan masuk dari Qea. Tapi gadis itu tak kunjung menghubunginya.
"Qea udah pulang belum, ya??" Gumamnya. Ia mulai mengetik sebuah pesan yang akan ditujukan pada gadis itu. Berkali-kali mengulang ketikan dan menghapusnya. Entahlah, siang itu Bobby sepertinya begitu sulit merangkai kata, padahal yang ingin ia tanyakan hanyalah apakah gadis itu sudah pulang atau belum.
"Duh, kenapa gue jadi kagok gini sih? Kok ngetik pesan buat Qea aja rasanya susah? Ah, apa gue keluar duluan aja, ya?!"
Bobby akhirnya memilih bangkit. Meraih jas yang ia gantung di pengait khusus, juga meraih sebuah kunci mobil. Ia mulai melangkah keluar.
"Permisi, Pak Direktur! Ini laporan dari beberapa staf yang Bapak minta kemarin melalui telpon!" Salah seorang staf menghampirinya.
"Oh, letakkan saja di atas mejaku!"
"Eh! Tapi, Pak?" Ia terkejut. 'Bukankah Pak Direktur sudah menunggu hasil laporan itu sejak kemarin, kenapa saat laporan itu selesai beliau tak langsung mengeceknya. Sesuatu apa yang lebih penting dari ini hingga Pak Bobby mengabaikannya?' Bukannya mengiyakan, pria itu justru termenung memikirkan hal yang tak seharusnya ia pikirkan. Tapi Bobby tak mengindahkannya, ia sudah berlalu setelah memerintahkan staf tadi untuk meletakkan hasil laporan itu ke atas meja.
Sang pria sekaligus juru gosip di kantor itu mulai kepo dengan Tuannya. Ia berinisiatif untuk membuntuti Bobby. Tak ada niat selain ingin menggali informasi tentang bos-nya itu.
******
Tin!
Tin!
Bobby membunyikan klakson mobilnya
sebanyak dua kali. Membuat seluruh pasang mata para pelajar yang baru keluar dari gerbang itu tercengang.
"Waah! Jemputannya siapa nih??"
"Woow! Mobilnya keren banget!"
"Anak tajir mana nih yang bakal dijemput?!"
Dap!
Kemeja putih bergaris-garis, rambut yang disisir rapi dan setelan celana kantor merekat di tubuh Bobby. Membuat tampilannya benar-benar terlihat elegan dan berkarisma. Dibalut dengan wajah yang sudah tampan sejak lahir membuat tampilannya semakin mempesona.
Seluruh mata gadis-gadis di sana tak hentinya menatap ke arah Bobby. Tapi anehnya, tak satupun pelajar siswi berinisiatif mendekat dan apalagi berkenalan dengannya. Bobby akhirnya memilih menunggu Qea, sambil bersandar pada badan mobil.
Sebenarnya, sejak awal, Qea sudah mengetahui kedatangan Bobby yang iangin menjemputnya. Gadis itu bahkan memperhatikan Bobby dari balik tembok sekolah. Tapi bukannya menghampiri, gadis itu justru bersembunyi.
"Duh! Itu si om ngeselin kapan perginya sih?" Kembali ia menengok. Pria itu masih saja terlihat setia menunggu sambil sesekali melirik jam di tangan. Lalu mulai bertanya pada beberapa siswi yang lewat. Tapi justru gelengan kepala yang ia dapatkan.
__ADS_1
Salah seorang teman pria yang sering bermain game online di warnet bersama Qea mendadak menepuk pundak gadis itu dari arah belakang. Membuat Qea kaget hingga terlonjak.
"Woy! Ngapain lu ngintip-ngintip. Ntar kalo ketahuan diintimidasi loe, gimana?!"
"Apaan sih loe, Stev! Ngagetin aja!" Qea menepis lengannya.
"Ngintipin siapa sih?" tanyanya lagi.
"Bukan urusa loe!" jawab Qea ketus.
"Ya udah kalo gitu, gue balik aja!" Baru saja temannya yang bernama Steven hendak beranjak pergi. Mendadak Qea menahan tas ranselnya. Membuatnya tertahan hingga hampir saja jatuh ke belakang.
"Apaan sih loe, Qea! Gue mau balik nih!"
"Ehehhe! Loe ... tolong anterin gue pulang, mau yah?!"
"Ogah! Buang-buang bensin gue ngantar elu!"
"Ihhh, Steven pliis! Lu jangan pelit dong sama gue!"
"Bodo! Lu kan bisa balik naik angkot!"
"Issh! Kumohon, kali ini aja, Stev! Gue bayar deh!" Qea mengangkat dua jarinya. Tanda kalo ia berjanji akan menepatinya. Tapi Steven tau kalo Qea adalah orang paling suka mengingkari janji.
"Steven pliiis!! Gue bayar uang mukanya deh!" Mengulurkan selembar uang kertas berwarna kekuningan.
"Segini doang?? Lima ribu??"
"Iya, kan baru dp!" Tawanya menyengir. "Nanti gue bayar deh sisanya! Janji!" Kembali mengacungkan dua jari.
"Bener ya, lu bayar!"
"Iyee! Lu gak percayaan banget sih!"
"Okelah, yuk buruan ke motor gue!"
"Ehh! Gue tunggu elo di depan aja, ya!"
"Serah loe deh!"
Teman Qea itu kemudian pergi untuk mengambil motornya yang terparkir di halaman sekolah. Sedang Qea, dengan santainya gadis itu keluar gerbang sambil memasang wajah acuhnya. 'Kamu lihat aja, Om! Kali ini aku bakal balas perbuatanmu tadi pagi! Lihat seberapa lama kamu sanggup bertahan!' Qea bergumam. Ia amat yakin, kali ini ia akan berhasil membuat Bobby cemburu.
__ADS_1
Senyum Bobby langsung mengembang begitu melihat Qea yang sudah keluar dan menunggu di depan gerbang. "Ah! Tuh anak pasti nunggu gue! Dia pasti ngirain gue belum datang!" gumamnya.
"Qeaa!! Om di sini!" panggilnya pada gadis yang bersandar di pintu gerbang itu, tak luput melambaikan tangannya.
Tapi Qea cuek, gadis itu melipat kedua lengannya di atas dada. "Apa dia bener gak dengar ya? Ahh gue samperin aja kali, ya!" Bobby mulai berjalan mendekat ke arah Qea. Kini jarak mereka hanya tinggal sepuluh meter.
'Duh, kayaknya Om Bobby mau nyamperin gue! Steven, buruan dong!!!' gerutu Qea dalam hati. 'Huh! Om Bobby! Lihat aja apa yang akan gue tunjukin sama loe!'
"Qea! Kamu gak dengar Om panggil, ya?" tanya Bobby yang masih diacuhkan Qea. Tapi tiba-tiba saja seorang pelajar pria yang juga bersekolah di sana, keluar dari dalam gerbang dan langsung menghampiri Qea dengan motor bebeknya. Ia tak sadar jika saat itu Bobby tengah berbicara pada Qea.
"Qea, jadi pulang bareng gue kan? Ayo!" ajaknya.
"Jadi dong, Sayang!!" jawab Qea sekeras mungkin, sengaja agar Bobby mendengar dengan jelas ucapannya. Tak luput ia melingkarkan lengannya di pinggul Steven. Seketika Bobby terbelalak.
"Ih, apaan sih lu, Qea! Manggil gue sayang, meluk lagi? Lu kesambet, ya?" Steven yang saat itu menjadi pelarian pun heran dengan sikap Qea.
"Udah! Jangan banyak protes! Lu kan udah gue bayar!"
"Bayar apaan? Enak bener, cuma lima ribu doang, terus lu bebas nyentuh pinggul gue gitu?! Lu pikir gue semurah itu? Kayak harga sebungkus cilok aja dah gue!" Ia meringis kesal.
"Ihh! Lu jadi cowok kok ribet amat sih! Lagian di peluk cewek aja, pake bawel! Kan lu yang menang banyak!"
"Menang banyak apaan! Kalo yang meluk artis bohay sih boleh aja lu nyebut menang banyak! Lah ini ... cuma cewek kurus, kecil, preman pula!"
"Hushh! Berisik loe!" hardik Qea.
"Qea!! Apa kamu gak dengar? Om udah di sini dari tadi nungguin buat jemput kamu! Kamu mau ke mana sama cowok itu?" Bobby mengeraskan suaranya.
"Eh! Qea, kayaknya om tajir itu ngomong sama elu, deh!" bisik Steven setengah gugup.
"Udah! Biarin aja! Gak usah di ladenin!"
"Tapi, Qee!"
"Gak ada tapi-tapian! Buruan jalan!"
"Qea!!" Bobby berusaha menahan kedua remaja itu, ia bahkan sampai memegangi bagian belakang motor bebek Steven. Membuat Steven yang tadi hendak menancap gas terpaksa mengurungkan niatnya.
'Ehh! Om ini mau ngapain? Apa jangan-jangan dia pacar Qea! Duh gimana nih? ****** gue! Dasar Qea sialan! Kayaknya dia mau kambing hitamin gue! Apes! Apes!' gerutu Steven.
"Apaan sih, Om! Lepasin tangan Om dari motor pacarku!" Qea berusaha menyingkirkan lengan Bobby yang masih menahan motor Steven. Mendengar kata pacar, Bobby seketika melepaskan genggamannya. "Sayang! Ayo jalan! Jangan hiraukan Om ganjen ini!"
__ADS_1
"Ehh!" Bobby terhenyak. 'Ganjeen?? Kurang asem nih bocah!'- "Qea! Qea!!" teriaknya. Tapi Steven sudah terlanjur melaju dengan kendaraannya membonceng Qea. Buru-buru Bobby masuk ke dalam mobil dan mengejar mereka.