Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Si Pemilik Jaket


__ADS_3

Masih sedikit lemas karena memikirkan ucapan Arya saat sore di restaurant, Alona memilih bangkit. Beranjak menuju halaman belakang tempat di mana sebelumnya para karyawan melangsungkan pesta barbeque.


Kini tempat yang tadi sempat ramai itu sudah sepi. Hanya suara jangkrik menemani si gadis yang duduk di atas ayunan. Dan sedikit sisa-sisa bumbu bercecer yang belum sempat dibersihkan oleh petugas hotel.


Gadis itu melamun. Sesekali mengayun kursi tempat ia duduk.


Dikejauhan tampak beberapa pria dengan pakaian serba hitam memadati halaman parkir hotel borneo.


Gadis itu hanya menatap sekilas. "Siapa pun mereka bukan urusanku!" gumamnya.


Tap! Tap!


Seseorang menepuk pundaknya. Ia menoleh. Tampak pria tak asing tengah tersenyum ke arahnya. Nyaris membuat matanya menyipit hingga tertutup sempurna.


"Bobby?"


"Haii!"


"Hmm!" Kembali Alona menunduk.


"Lu ngapain di sini?" Pria itu langsung duduk di ayunan tepat bersebelahan dengan Alona.


Gadis itu tak menyahut. Hanya kepalanya terus menunduk.


"Masih galau? Karena ungkapan Bima tadi sore?" tanyanya.


Alona mengangguk. Sedang kedua lengannya ia letakkan di atas pangkal.


"Ya elaah! Gak usah galau gitu kali! Mang cowok cuma dia doang?"


Alona mendongak, menatap Bobby.


"Dia memang bukan satu-satunya cowok di dunia. Cuma .. ini tuh pertama kalinya aku suka sama seseorang. Dan kenapa orang yang kusuka justru suka dengan cewek lain. Lebih parahnya lagi, kenapa cewek itu harus temenku sendiri?! Hu hu hu! Sedih tau!"


Melihat Alona tersedu. Sontak Bobby merangkulnya.


"Sabar yaa! Gue yakin, cewek baik kayak elo suatu saat akan mendapatkan kebahagiaan yang loe sendiri gak akan pernah menduganya."


"Hmm! Makasih, Bob!" Gadis itu menghapus buliran yang membasahi pipinya.


"Alona? Bobby?"


Seketika kedua insan itu terkejut saat tiba-tiba seorang wanita hadir di hadapan dan menyapa mereka. Wajahnya merah sedang matanya melotot tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Jesica??" Seakan tengah dipergoki selingkuh. Sontak Alona menepis lengan Bobby yang masih merangkul pundaknya.


"Jes! Ini semua gak seperti yang loe lihat kok! Gue bisa jelasin!" ungkap Alona.

__ADS_1


"Cukup Alona! Lu gak perlu jelasin apa pun. Semua yang gue lihat udah jelas!"


Wanita yang terkejut itu kemudian pergi tanpa sepatah kata lagi.


"Jesica tunggu! Jesicaaaa!"


Alona berteriak, berusaha mengejar. Ia tahu persis jika saat itu Jesica telah salah paham mengenai dirinya dan Bobby. Namun tak disangka, Bobby justru menghentikannya.


"Apaan sih, Bob! Lepasin tangan gue!"


"Alona! Biarin aja dia pergi!"


"Bob! Lu gak ngerti! Bisa aja Jesica salah paham!"


"Salah paham dengan apa?"


"Bobby! Apa lu gak tau, Jesica itu suka sama loe??"


"Gue tau kok!"


Seketika Alona terdiam. Pelan ia menoleh, menatap lekat ke wajah Bobby


"Kalau lu tau! Kenapa lu biarin dia salah paham? Hah!" hardiknya.


"Karena gue sama Jesica gak ada hubungan apa-apa sama Jesica! Hanya sebatas teman! Jadi apa yang harus diluruskan?"


"Tenang aja! Soal itu, biar gue yang jelasin ke dia!"


"Yakin banget loe! Dengan begitu dia bakal berenti salah paham sama gue, gitu?"


"Iyaa, gue bakal pastikan dia gak akan salah paham sama loe! Jadi, biarkan dia pergi."


"Bob, lu gak ngerti, Jesica itu sahabat gue dari kecil!"


"Iya, gue tau kok! Gue juga temenan sama dia udah lama!"


"Terus? Apa lu mau lihat hubungan persahabatan gue hancur gara-gara kesalah pahaman ini?"


"Lu kok gak percaya banget sih sama gue! Kan udah gue bilang, biar ntar gue yang lurusin! Lu tenang aja!"


Alona terdiam. Wajahnya kembali menunduk.


"Sini!" Bobby meraih lengan Alona dan mengajaknya kembali duduk di atas ayunan. "Ada sesuatu yang mau gue kasih tau ke elo!"


"Hmm, apa?" sahutnya lemas.


"Ini soal pemilik jaket yang dulu sering lu sebut pangeran penyelamat!"

__ADS_1


Deg!


Alona terbelalak. 'Oh iya, jaket itu! Sudah lama gue lupa sama sosok pangeran penyelamat gue!' batinnya bergumam.


Diputarnya pandangan, menatap lekat ke arah Bobby.


"Lu tau siapa pemilik jaket itu?"


"Iya, sebenarnya udah lama gue tau!"


Wajah Alona berbinar saat mendengar Bobby mengatakan jika sebenarnya ia sudah lama tahu.


"Siapa??" tanyanya dengan tatapan tanpa berkedip.


"Lu pasti bakal kaget!"


"Udah cepat bilang, jangan berbelit-belit!"


"Orang itu, sebenarnya ...."


"Yaa??"


"Dia Bima! Cowok yang sekarang loe taksir!"


Deg!


"Apaa? Jadi .. orang itu, Bimaa??"


"Hmm!" Bobby mengangguk.


Drrrttt! Drrttt!


Mendadak sebuah panggilan masuk ke ponsel Bobby. Pria itu meraihnya, dan melihat nama pemanggil.


Tertera nama, Bos Arya. Ia mengernyit. Heran. Urusan apa hingga Arya menghubunginya di saat malam begini?


"Alona, sebentar ya!" ucapnya yang kemudian berlalu. menjauh dari si gadis saat mengangkat panggilan itu.


"Halo, Ar. Ada apa?"


[Bobby, lu di mana? Ke sini sekarang! Kita akan menyergap markas Gagak Merah malam ini]


Deg!


Apa?


"Baik! Siap, Bos"

__ADS_1


__ADS_2