Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Ternyata Dia Seorang Direktur


__ADS_3

Qea menyusuri jalan di desanya menuju warung. Tak ada polusi atau suara bising dari motor ataupun mobil pengendara. Hanya udara dingin khas pebukitan.


Hari sudah semakin sore saat Qea melangkahkan kaki untuk kembali ke rumah. Sepanjang jalan, matanya terus saja berbinar, menatap fokus layar ponsel mahal milik Bobby yang masih merekat di tangannya. "Ah! Andai aja benda ini milikku!"


Hingga ponsel senyap itu mendadak berdering, dan otomastis merubah tampilan dari layar itu sendiri. Barulah mata binar Qea berubah nyalak. Qea kaget, sebelumnya sibuk mengotak-atik aplikasi bawaan dari pabrik, kini panik tak tahu harus berbuat apa.


"Aduh! Gimana nih? Angkat gak ya??"


Dibiarkannya panggilan masuk itu tanpa mengangkat. Hingga kurang lebih dua menit panggilan itu berakhir.


"Fouhh!" Diusapnya keringat dingin yang sempat mengalir di atas dahi.


Kriiing! Mendadak ponsel itu kembali berdering.


"Ehh! Kok nelpon lagi sih? Aduh, gimana nih? Angkat aja kali ya?"


Dengan sedikit ragu Qea mengangkatnya.


Klik!


[Halo?] sapa Qea


[Halo, selamat sore Pak Direktur! Maaf mengganggu, saya mau menginfokan hasil perjanjian kontrak kerja sama dengan pihak perusahaan A. Hasilnya, mereka setuju untuk menandatangani kontrak itu. Jadi .. bisa kah anda menemui Direktur Robert sekarang? Karena beliau sedang menunggu anda]


"Ehh!" Qea terkejut. 'Direktur???'


Klik!


Tut!


Tut!


Tut!


Qea memutuskan panggilan secara sepihak. "Aduh, gimana ini? Ternyata gue udah ngebawa ponselnya orang penting. Gue harus buru-buru balikin nih ponsel!"


Gadis itu mulai melangkahkan kakinya dengan sangat cepat. Hingga tanpa sadar ia sudah berlari dengan kencangnya.


Kembali ponsel di tangannya berdering. Kali ini ia tak berusaha menggubrisnya, hanya menggenggam erat, memastikan ponsel milik orang penting itu masih di tangannya.


Jarak rumah kini hanya tinggal dua ratus meter. Terlihat jelas Bobby masih menunggu di kursi teras dengan senyum manisnya. Pria itu mulai berdiri saat langkah Qea semakin mendekat


Hanya beberapa detik, Qea sudah berhasil menyentuh anak tangga. Senyum manis Bobby yang tadi merekah bahkan sampai berubah drastis. Pria itu tercengang saking herannya. "Lu manusia apa kuda sih, Dek? Kencang amat larinya? Emangnya ada hantu yang ngejar?" tanya Bobby antara bingung dan meledek, saat Qea datang dan langsung duduk di teras dengan napas tersengal.

__ADS_1


Napas gadis itu belum stabil, tapi tangannya langsung mengulur ke arah Bobby. Memberikan ponsel Bobby yang merekat dalam genggaman. "Inih!" Masih jelas tedengar nada bicaranya yang sedikit mendesah.


"Bicaranya nanti aja, tunggu napasmu stabil dulu!" Pria itu meraihnya.


"Ituh ... Tadih ... ada yang nelpon!"


"Oh yaa??" Segera Bobby mengecek panggilan terakhir. Gadis yang tadi duduk itu kemudian bangkit. Berjalan lunglai masuk ke dalam rumah. Bobby hanya bisa menggeleng, menatap punggungnya yang sudah berpindah ke dalam rumah. Lalu tertawa kecil. "Dasar, Bocil!"


******


Senja telah temaram. Warna manis jingga telah berubah keunguan. Langit yang sebelumnya cerah dengan awan putih telah berubah dengan sejuta bintang yang berkilau.


Alona telah lebih dulu membersihkan diri dalam bilik kamar mandi, saat Qea si pemalas memutuskan untuk beranjak dari kamar. Menjenteng handuk besar di atas bahu.


Tok!


Tok!


Tok!


"Kak, buruan mandinyaaa!!" Berteriak.


"Apaan sih! Sabar napa!!"


"Hahhaha!" Bukannya menyegerakan mandi, Alona justru terbahak di dalam bilik. "Lu bilang mau dandan full? Mangnya lu mau ke mana? Ngedangdut??"


"Iye, puas! Udah ah! Buruan mandinya! Qea juga mau mandi nih!"


"Gak mau! Gue masih mau lama!"


"Ahh! Kak, Alona!!"


"Emang kenapa sih, buru-buru banget?"


"Qea kan juga mau ikut makan malam di hotel Tripadvisor!"


Alona yang sebelumnya mandi dengan santai mendadak terkejut. 'Eh! Makan malam di hotel Tripadvisor? Apa maksudnya?' gumamnya dalam hati. "Siapa yang bilang?"


"Om ganteng itu!" Menyebut kata ganteng tanpa nama, yang gadis itu maksud adalah Bobby. Sedang yang dipikir ganteng dalam bayangan Alona adalah Arya.


'Oh, jadi Arya mau ngajak kita makan malam. Kok gak ngomong sama gue sih?'


"Kakak!!!!!! Udah beluuuum??"

__ADS_1


"Apa sih? Bawel!!!!"


Qea kesal. Tak sabar menunggu kakaknya untuk bergantian. Ia mulai menggedor-gedor pintu menggunakan punggung belakangnya.


"Qea! Jangan digedor, berisik!!


"Biarin! Habis Kakak lama sih!"


"Awas aja ya kalo nanti Kakak keluar!!"


"Bodo amat!!!"


Tiiin!


Tiiin!


Suara klakson mobil berhasil menghentikan tingkah jahil Qea. Gadis itu langsung berlari menuju jendela. Ia terperangah. Matanya terbelalak saat melihat kurang lebih lima mobil besar datang dan memarkir di halaman rumahnya.


"Wah, ada apa nih? Kenapa mobil-mobil mahal itu markir di sini?"


Karena sangat penasaran. Gadis itu berpikir untuk mengeceknya. Mungkin saja ada sebuah kejutan yang dibawakan om Bobby untuknya. Namun, saat hendak melangkah dari pucuk jendela, mendadak Alona keluar dari kamar mandi.


"Udah selesai Kak?!"


"Lah, gimana sih! Bukannya tadi lu yang minta cepat?!"


Iya, sih!"


"Ya udah, buruan mandi! Badan lu udah bau kambing tau!"


Qea memanyunkan bibirnya, tanda bahwa ia tak suka saat kakaknya selalu menyebutnya bau kambing. "Tapi, Kak! Aku mau lihat itu ...." Menunjuk keluar jendela.


"Ahh! Jangan banyak alasan. Kakak udah buru-buru mandi karena loe yang minta! Apa sekarang loe masih mau malas-malasan?! Mandi sekarang juga!" Ucapan Alona sudah seperti titah yang tak dapat dibantah. Dikuatkan dengan ekspresi wajah yang garang seperti nenek lampir dalam bayangan Qea, juga dengan gerakan tangan yang tegap menunjuk ke bilik kamar mandi.


"Iya, iya! Qea mandi!" Suntuk. Gadis itu berjalan lunglai memasuki kamar mandi.


Alona masih saja memantaunya. Berdiri di depan kamar mandi. Memastikan sampai terdengar suara air yang mengalir dari shower jatuh ke lantai. Barulah ia beranjak dari depan kamar mandi itu.


Meski sikap Alona berlebihan. Tapi itulah bentuk rasa sayangnya pada Qea. Gadis itu pun mengganti handuk yang sebelumnya merekat di tubuh dengan pakaian tidur di kamarnya.


"Selesai!"


Ia masih berdiri di depan cermin saat selesai mengenakan baju tidur. Kini tujuannya tak lain, hanya menghampiri dua pria yang sudah cukup lama ia tinggalkan di ruang tamu. Ya, Arya dan Bobby sudah sejak senja hanya berdua di ruang tamu tanpa hadirnya pemilik rumah. Ibunya memilih menyibukkan diri di dapur meski sudah tak ada aktifitas yang dapat di kerjakan. Dia bilang lebih baik di dapur daripada harus berhadapan dengan pria kaya dan sombong.

__ADS_1


'Aku gak mengerti, kenapa emak mengatakan Arya itu sombong. Padahal ini kali pertama emak bertemu!'


__ADS_2