
Keempat insan itu akhirnya tiba di danau yang berjarak dua kilo meter dari villa.
Rasa lelah mereka akhirnya terbayarkan begitu melihat indahnya pemandangan di seputaran danau itu.
Hamparan air dengan warna kehijauan menambah kesan eksotik. Juga karena kelestarian alamnya yang masih terjaga.
"Uwaaa! Tempat ini keren banget!" Alona berlari, menghambur pinggiran danau yang berada di ujung jembatan. Tempat di mana para pengunjung elit bisa menikmati suasana indahnya pemandangan danau. Tak luput di susul oleh Jesica yang juga bersemangat ingin menyentuh air danau.
"Alona hati-hati, di sana licin!" Kedua wanita itu menoleh.
'Bima perhatian banget sih sama Alona. Bobby juga! Kenapa gak ada yang melihat ke arah gue sih! Huh!' rutuk Jesica dalam hati.
"Tenang aja, Bim. Kalo jatuh, gue bisa berenang kok! Jesica juga! Iya kan, Jes?"
"Ah, iya, hehe!" Jesica hanya bisa tertawa kecut. Sedang dalam hati ia sangat kesal.
"Iya, lu tenang aja, lagian ada gue yang jagain kok!" sambung Bobby yang saat itu masih berdiri di samping Arya, sambil menepuk pundak Arya.
Tingkahnya terus saja membuat Arya geram hingga tak kuat menutupi wajah kesalnya di hadapan Bobby.
"Lu jagain Alona ya! Jangan sampai dia jatuh, lu tau kan obat bius yang tadi malam masih belum sepenuhnya hilang dari dalam tubuhnya. Efeknya akan membuat Alona lemas jika berada di dalam air."
"Iya, gue tau kok! Tenang aja!" Bobby menaikkan satu alisnya. Langkahnya kemudian tertuju pada dua gadis miskin yang tengah asyik bermain di pinggiran danau itu. Meninggalkan Arya yang masih sibuk mematung.
Arya kembali menghela napas panjang. "Fouhh!"
Kemudian memilih duduk di kursi santai. "Enak banget sih jadi Bobby. Iri gue! Padahal ada Jesica di sini. Tapi kok perasaan gue runyam gini sih? Ahhh!"
Direbahkannya tubuh pada kursi santai, mencoba merileksasikan diri. Suasana adem dan hawa sejuk khas perbukitan menambah rasa nyaman, membuatnya ingin tertidur untuk sesaat. "Dari tadi malam tidur gue gak karuan. Sekarang seluruh badan gue jadi pegel!" Arya memejamkan matanya hingga akhirnya benar-benar tertidur.
******
"Bob, kita ambil foto selfie yuk!" Jesica meraih lengan Bobby.
Pria itu menoleh, sedang camera ponsel di tangan Jesica sudah dalam posisi siap jepret.
"Lu aja deh, gue males!" Kembali Bobby berbalik badan, memperhatikan gadis yang sedari tadi asyik sendiri bermain air. Membuat Bobby tersenyum tulus menatapnya.
Hal yang membuat raut Jesica lagi-lagi kembali masam. 'Huh! Lagi-lagi karena Alona!' Wanita itu kesal.
'Oh iya, Bima di mana?' Netranya mengedar mencari sosok Bima. Cukup satu kali putaran ia mengedar, sosok Bima terlihat di jarak dua ratus meter. 'Ishh! Dia pake acara tidur lagi!' keluhnya dalam hati.
"Bobby! Kita selfie, yuk!" Alona berteriak, melambai pada Bobby.
"Kenapa? Lu udah bosan main air sendirian?"
"Iyaa!"
"Oke, ayo ambil foto!" Segera Bobby bangkit, beranjak dari tempat ia duduk.
__ADS_1
"Ta-tapi, Bob! Lu mau ninggalin gue sendirian?" Jesica menahan lengan Bobby.
"Apaan sih, Jes. Gue kan cuma mau ambil foto sama Alona!" Ditepisnya lengan Jesica.
Sedetik gadis itu menunduk. "Tapi, tadi kenapa lu nolak saat gue yang ajak selfie!" gumamnya. Sedang pria itu sudah semakin jauh darinya. Tak lagi mendengar ucapan Jesica saat itu.
Jesica kembali geram. Beberapa menit lalu ia mengajak Bobby untuk berselfie, tapi pria itu menolaknya. Disaat Alona meminta, pria itu sigap mengiyakannya. "Aggghhh!"
"Jesicaa! Sinii! Kita selfie bareng yuk!" Gadis itu melambai pada Jesica.
"Hehe, gak deh! Kalian aja!" sahutnya dengan senyum kecut.
"Lu yakin?"
"Iyaa!"
Jesica kembali duduk. Memerhatikan dua insan yang tengah asyik tertawa. Dua insan yang terlihat sangat klop.
"Hubungan mereka itu .. benar pacaran atau cuma temenan yaa?" gumamnya. Netranya masih sibuk memerhatikan Alona dan Bobby.
*****
"Wah, hasil fotonya bagus ya!" ucap Alona.
"Iya, semua foto gue kelihatan ganteng! Hahaha!"
Alona mengernyit.
"Gak tuh! Bima lebih ganteng!"
"Serah lu deh! Wah, lihat foto lu yang ini! Hidung lu jadi kelihatan besar!"
"Mana, mana?"
"Yang ini! Hahahha! Lucu banget!"
"Hapus, hapus!" Berusaha direbutnya ponsel itu dari tangan Bobby. Namun, gagal. "Ihh siniin gak ponsel gue!"
"Gak mau! Weee!"
"Bobby! Cepat, hapus gak! Kalo gak gue piting loe!"
"Cium pipi dulu!"
"Agghhh! Apaan sih!"
Kedua insan itu akhirnya bergulat. Hanya karena berebut ponsel.
Jesica semakin iri melihat kemesraan dua sejoli itu. "Sialan! Mau pamer mesra-mesraan segala!" keluhnya.
__ADS_1
"Yess! Berhasil!" Alona tersenyum puas. Berhasil menghapus foto yang menurutnya cukup memalukan. "Huh! Lelahnya!" Disapunya keringat yang membanjir di dahi. "Gara-gara loe, sekarang gue jadi haus!"
"Lu haus? Gue beliin minum ya?"
"Gak, gak usah deh, Bob! Gue jadi gak enak ngerepotin elu mulu!"
"Ngerepotin? Gak laah. Buat gadis kesayangan gue, masak sampai repot."
"Lu kok gombal gue mulu sih, Bob! Sebenarnya tujuan loe apa sih?"
"Tujuan? Gak ada! Gue tulus kok! Ya, walaupun gue tau, kalo cowok yang loe taksir itu Bima! Tapi gue gak akan menyerah. Gue, Bobby! Kelak gue bakal dapatkan hati loe! Ingat itu yaa!" Senyumnya mengembang saat berbicara.
"Ah! Serah lu deh, mau gombal apa pun juga gak ngaruh! Oh iya, katanya tadi lu mau beli minum?"
"Oke! Tunggu sebentar ya, Sayang!"
"Hmmm!"
Pria itu bergegas beranjak dari tempat ia duduk. Hanya demi mencari satu buah minuman untuk Alona.
Terik matahari sudah semakin meninggi. Membuat tubuhnya semakin gerah. Alona duduk di jembatan pinggir danau. Sibuk memainkan betisnya di atas air. Menunggu kedatangan Bobby.
'Alona sialan! Lu udah ngerebut Bobby dari gue! Padahal jelas-jelas lu lagi dekat sama Bima! Dasar rubah betina. Sekarang gue mau kasih loe pelajaran! Biar lu tau rasa!' Jesica menggerutu dalam hati. Ia bangkit dari tempat duduk. Beranjak mendekat ke arah Alona. Langkahnya semakin pasti.
"Jesica?" sapa Alona saat tiba-tiba Jesica sudah berada di dekatnya. Sedang wanita yang disapa tak menyambut ramah. Hanya wajahnya yang terlihat penuh amarah.
"Jesica, lu marah ya sama gue! Maafin gue ya, gue gak ada maksud ...."
"Iya! permintaan maaf loe udah gue terima!"
Alona tersenyum. "Serius! Lu udah maafin gue!"
"Ya! Tapi sekarang lu harus pulang dalam keadaan basah kuyup!"
Deg!
"Maksudnya???" Jesica tak menyahut. Seketika ia mendorong Alona.
Byuuuur!
Gadis itu terjatuh di danau.
"Rasain loe!"
"Jesica! Tolong gue, pliss! Uhuk uhuk!"
"Tolong apaan! Lu kan bisa berenang! Naik aja sendiri!" Gadis itu berlalu, tak dihiraukannya Alona yang kini mulai lemas.
"Jesicaa! To ...."
__ADS_1
Bluk bluk bluuk! Ia tenggelam.
mampir juga ke novel author judul Rahasia si janda secantik gadis perawan. genre, horor komedi. tingkat keseruan selevel sama novel ini.