
Jesica tak mengetahui akibat yang akan terjadi oleh ulah jahatnya terhadap si gadis polos. Yang ia tahu hanyalah rasa puas karena telah melampiaskan kekesalannya pada Alona. Sedang saat itu, nyawa Alona benar-benar terancam keselamatannya.
Di saat bersamaan, Bobby masih belum kembali. Pria itu terjebak oleh kendaraan Arya yang mendadak mogok. Kendaraan yang ia pinjam pada beberapa bodyguard rahasia Arya saat kembali ke villa untuk mengambil minuman.
******
Sinar mentari mengusik tidur siang Arya. Cahayanya menembus melewati celah dedaunan dan berhasil menyilaukan mata sipitnya.
Ia duduk. Netranya mengedar. Mencari bayangan ketiga insan yang sebelumnya masih bersama.
"Pada ke manaan mereka?" Bangkit. Kedua lengannya menggulung di permukaan pinggir bibir. Gerakan yang biasa dilakukan semua orang saat memanggil.
"Alona? Jesicaaa?"
Tak ada sahutan.
"Bobby???"
Masih sama.
"Ck! Pada ke mana sih?" rutuknya kesal.
Langkahnya kini menuju jembatan di pinggir danau. Tempat di mana sebelumnya Alona bermain air bersama Jesica.
Tak ada tanda-tanda kehadiran kedua insan itu. Hanya saja, terpampang jelas penampakan satu buah benda pipi yang tergeletak di atas jembatan di pinggir danau.
"I-itu kan ponsel Alona!"
Deg!
Mendadak firasatnya mengatakan jika hal buruk mungkin saja terjadi pada Alona dan Jesica. Hal yang membuatnya bergidik. Trauma.
Luka bayangan masih bersisa, menghantui benak Arya. Ingatan tentang kejadian tadi malam saat Alona menjadi wanita sandera di markas Gagak Merah masih membekas dengan jelas.
"Apa mungkin Jordan berhasil lolos dari sel khusus di markasku, lalu kembali menculik Alona? Juga Jesica?Tapi bukankah itu suatu hal yang mustahil!" Hatinya terus bergumam.
"Tapi kalau bukan penculikan, lalu ke mana mereka?"
Netranya kembali mengedar. Tetap saja hasilnya nihil.
"Alona! Jesica! Bobby! Keluar dong! Jangan main petak kumpet."
Tak ada jawaban. Hanya kicauan burung yang sesekali menyahut panggilan Arya.
"Gue gak ngomong sama loe, Burung!" rutuknya pada hewan yang tak bersalah itu.
Pria itu kemudian duduk di pinggir danau. Betisnya menjuntai hingga menyentuh air. Ditundukkannya kepala.
"Fouhh! Gak disangka, mereka tega ninggalin gue! Apes banget sih penyamaran ini! Rasanya semua ini seperti sia-sia!" Arya mengeluh. Sejenak ia berpikir untuk berhenti menyamar sebagai Bima.
__ADS_1
Kepala pria itu masih menunduk, dengan netra yang masih fokus memandang jauh ke dalam danau.
Samar terlihat kilauan dari blus yang di kenakan Alona sebelumnya.
Deg!
"Alona!!! Apa gue gak salah lihat?" Dipicingkannya mata berusaha melihat lebih jelas. Dan ....
Byuuuuur!
Spontan ia melompat ke dalam danau begitu menyadari sosok yang tenggelam itu benar-benar Alona.
Ia menyelam, nyaris ke dasar danau. Diraihnya tubuh malang Alona. Membawanya, mengangkat ke permukaan.
Napasnya tersengal begitu berhasil meletakkan Alona di atas jembatan. "Apa yang terjadi?" Sedang gerakan tangannya spontan memompa tulang bagian atas tubuh Alona, berharap si gadis segera bernapas.
"Alonaaa! Bernapaslaah!"
Satu dua hingga empat kali. Masih tak ada tanda-tanda Alona bernapas.
"Ayo, Alonaa! Kau pasti bisa!" serunya. Tangannya masih setia memompa. Sesekali ia memberikan napas buatan pada si gadis lalu kembali memompa.
"Uhuk! Uhuk!" Alona tersedak. Menyemburkan air dari mulut dan sedikit dari lubang hidung. Namun, gadis itu masih belum sepenuhnya tersadar. Hanya saja, kini napasnya sudah mulai kembali normal.
Kembali Arya melekatkan bibirnya pada mulut Alona, memberinya napas buatan.
"Uhuuk!"
Gadis itu mulai tersadar. Netra si gadis mengerjap pelan.
"Bimaa! Tolong gue!"
"Pasti, Alona! Gue pasti tolong elo! Bertahanlah! Loe pasti bisa!"
Digendongnya tubuh malang Alona di atas dada. Membawanya ke kursi, tempat di mana sebelumnya ia tertidur. Meraih ponsel dan langsung menghubungi tim khusus.
Selang beberapa saat, puluhan mobil mewah berwarna hitam memadati area danau.
Tak disangaka, seketika Bobby hadir, ikut bersama puluhan pengawal itu.
"Apa yang terjadi??" Bobby menatap heran.
Plaaak!
Satu buah tamparan mendarat di wajah Bobby.
"Arya, apa-apaan lu??"
"Lu bilang bisa jaga Alona! Lu lihat?" tunjuknya pada gadis itu. "Cepat! Hubungi tim dokter, suruh mereka menunggu di villa!"
__ADS_1
Sportif. Meski dongkol, pria bernama Bobby itu memilih untuk menurut. Segera ia menghubungi tim dokter pribadi untuk datang ke villa saat itu juga karena keadaan yang terbilang cukup genting.
Kembali Arya menggendong Alona, membawanya menuju mobil.
"Bimaa!" Lirih gadis itu berkata.
"Stt! Alona plis, jangan banyak ngomong! Lu lagi sakit."
"Gue ingat sekarang!"
Deg!
"Ingat??"
"Iya, gue ingat semuanya!"
"Alona, lu sekarang sedang sakit. Jangan terlalu banyak berpikir. Bisa aja semua itu hanya halusinasi. Biarkan para dokter nanti yang ngobati lu, oke!"
"Gak, Bima! Lu harus dengar!"
Glek!
Pria itu kemudian menatap lekat wajah Alona. Terlihat jakunnya yang berat menenggak saliva. Kali ini ia tak lagi membantah, hanya menuruti permintaan si gadis.
"Gue ingat, loe adalah pangeran penyelamat gue yang udah nutupi tubuh gue pakai jaket saat di pesiar beberapa minggu lalu. Lu yang nolongin gue dari jeratan pria bejat itu kan?"
Glek!
"Gue juga ingat! Lu yang gendong gue, dan selamatin gue dari genggaman para penculik tadi malam! Gue ingat, Bim."
Pria itu diam menatap.
"Tapi Bim, setelah semua kejadian itu, kenapa lu naksirnya justru sama Jesica! Kalau tau gini harusnya lu biarin gue mati tenggelam!" Gadis itu menangis tersedu.
Sontak langkah Arya terhenti. Bingung. Apa yang dimaksud gadis itu? Mengapa dia menangis?
Semua pertanyaan Alona membuatnya bingung, dari mana ia harus menjelaskan semua pertanyaan itu, kalau yang terpikir oleh Alona hanyalah Arya kini menyukai Jesica, itu artinya kesempatan untuk bisa bersama Alona semakin kecil.
"Bima!" panggilnya pelan. Pria itu kembali menatapnya lekat. Menyimak, kali ini kalimat apa lagi yang akan terucap dari bibir Alona.
"Turunin gue! Biar Bobby yang bantu gue! Setelah semua ingatan ini terlihat jelas. Gue sadar diri, mungkin memang gak seharusnya gue suka sama loe, Bim!" Wajah Alona sendu saat berbicara, sedang mata itu berkaca-kaca, tak dapat menutupi kenyataannya.
Deg!
'Apaa? Jadi selama Alona suka sama gue? Kenapa selama ini gue gak sadar. Gue justru selalu menghindar. Kalau begitu, apa mungkin ini saat yang tepat buat gue ngungkapin perasaan gue ke dia! Tapi kenapa mendadak gue gak punya nyali?"
"Lu dengar kan apa kata Alona, Bim? Sini, biar gue yang bantu bawa Alona!"
Arya melirik. Tampak Bobby memandangnya dengan raut serius.
__ADS_1
Terdiam. Pasrah. Bingung. Arya akhirnya membiarkan Bobby meraih tubuh lemas Alona dari tangannya.
Gadis itu benar-benar lemas tak berdaya. Bersama air mata yang setia mengalir di sela pipi itu.