
Pagi itu Bobby disibukkan dengan urusan bisnis. Sebagai asisten terpercaya, Arya mempercayakan Bobby mengurus bisnis tender dari perusahaan lawan yang mulai surut.
Pihak yang dulu menjadi lawan, kini meminta GCK grup untuk bekerja sama, dengan tujuan menyelamatkan perusahaan lawan itu dari kebangkrutan. Tentu saja akan ada banyak keuntungan yang diraub oleh pihak GCK grup, sehingga mereka memutuskan untuk menyetujuinya.
Untuk urusan bisnis, Arya dan Bobby selalu akur, kompak. Seakan tak ada masalah pada kehidupan pribadi mereka. Namun, jika sudah kembali pada kehidupan pribadi, kembali mereka berstatus pesaing. Ya, dua pesaing yang kini saling berebut untuk memenangkan hati seorang wanita. Wanita miskin yang lugu dan bodoh.
Sedang Arya sendiri sibuk mengurus tahanan ilegal sang bos mafia, Jordan. Pria yang kini masih di tahan dalam sel markas rahasia milik GCK grup.
******
Gadis itu mengerjap. Kamar yang sebelumnya bernuansa modern dengan warna serba putih kini berubah seperti kamar girly.
Semua dekorasi berwarna pink. Tak terkecuali accesories dan pajangan dinding.
"Loh, kok gue ada di kamar cewek? Bukannya tadi di villa?" batinnya menggumam.
"Selamat pagi, Nona Muda?" Seorang perawat muda mendadak masuk ke dalam kamar tempat Alona di rawat. Membuat gadis itu bergidik.
"Pagi, anda siapa?"
"Saya perawat yang diutus tuan besar untuk merawat Nona! Bagaimana perasaan anda? Apa sudah lebih baik?"
Alona mengernyit. "Tuan besar? Apa mungkin yang dimaksud adalah Bobby? Ahhh! Memikirkannya, pala gue jadi sakit!" gerutunya.
Sedetik kemudian menatap selang infus yang terpasang di sela pergelangannya.
"Oh iya! Ini ada bubur khusus untuk Nona habiskan!" Satu buah nampan berisi sup dan bubur nasi di letakkan di atas meja.
"Bubur? Ihh! Maaf ya, Sus, tapi saya gak suka bubur, bawa aja kembali!" Alona menekan perutnya, menahan rasa mual melihat menu di hadapan.
"Ehh! Gak boleh! Nona harus makan ini!"
"Kenapa?"
"Kalau tidak, nanti kami kena marah!"
"Memangnya siapa yang marahi kalian!"
"Tuan besar!"
"Haiiss!" Berdecak. "Dari tadi ngomongnya tuan besar mulu! Memangnya siapa tuan besar itu?"
"Siapa lagi, ya tuan Arya!"
"Arya?? Kok bisa? Kenapa dia sampai ngurusin gue?" Alona melamun. Bayangan tentang ingatan nama Arya mendengung di indera pendengarnya. Dipejamkannya mata. Seketika ia teringat tentang kejadian tadi malam saat ia menjadi sandera. Namun, hanya suara debat antara bos mafia dan Arya yang terdengar, karena saat itu matanya tertutup setengah sadar. Lalu tiba-tiba ia mengingat bahwa malam itu juga ada puluhan tembakan yang dilepaskan.
__ADS_1
Deg!
"Ahhhh!" Gadis itu menjerit. Kini ia berhasil mengingat percakapan Arya dan Jordan malam itu. Walau tak sempat melihat wajahnya, tapi suara yang keluar dari mulut Arya tak terdengar asing.
Napas Alona tersengal. Samar terdengar bisikan dari para wanita perawat yang mengurusnya pagi itu.
Ia melirik. Benar, tiga perawat itu tengah berbisik membicarakannya.
"Stt! Jangan sebut nama Arya. Lu lupa ya pesan tuan besar tadi sebelum pergi. Beliau kan sedang nyamar, nama samarannya Bima."
"Astaga! Iya, gue lupa! Duh! Dia sadar gak yaa?"
"Moga aja sih, enggak sadar!"
"Eh, btw, kenapa barusan dia teriak?"
"Mana gue tau! Lu tanya gih! Siapa tau sakit bekas luka benturan di kepalanya semakin parah! Bukannya tuan besar minta kita mantau dia! Kalau terjadi apa-apa sama dia kita bisa ******! kita akan disalahkan."
"Iya, loe benar! Tapi ngomong-ngomong, dia itu siapa sih?"
"Iya, aneh ya. Padahal tampangnya biasa aja, gak cantik-cantik amat! Kok tuan besar memperlakuakan dia dengan istimewa?"
"Iya, bahkan lebih mirip gadis miskin. Kok aneh ya, kudengar sampai tuan besar sendiri loh yang terjun ke danau buat nyelamatin dia!"
"Ehh! Itu artinya, cewek itu istimewa banget dong yaa. Jangan sampai sikap kita membuat dia merasa gak enak. Ntar dia ngadu sama tuan besar. Kan bisa makin ****** kita!"
Ketiga wanita itu memasang senyum kecut di hadapan Alona.
'Aneh! tingkah mereka mencurigakan!' gumam Alona dalam hati, memasang senyum yang sama seperti ketiga perawat itu.
"Kalian yakin, mendapat instruksi langsung dari tuan Arya?" Pertanyaan Alona membuat ketiga perawat wanita itu seketika menegang.
Glek!
Berusaha menciptakan dalih.
"Emmm .. sebenarnya yang mengutus kami itu asistennya bos Arya, Pak Bobby!"
'Sudah gue duga!' batin Alona bergumam. 'Gak mungkin bos Arya yang menginstruksi langsung. Memangnya siapa gue?'
"Kalau sudah gak ada yang diperlukan, kami tinggal dulu ya, Nona!" Ketiga wanita itu menundukkan kepala, Alona membalasnya. Mereka kemudian beranjak dari kamar Alona di rawat.
"Dasar penjilat! Di depan baik, di belakang ngomongin gue, mereka pikir kuping gue rusak apa!" rutuk si gadis begitu ketiga wanita sudah mangkir dari hadapannya.
******
__ADS_1
"Sudah dua hari, masih belum ada tanda-tanda Bobby atau pun Bima kembali ke villa ini! Mereka bahkan mengurung gue, melarang pergi sampai benar-benar sembuh! Huhh! Menyebalkan."
Kembali Alona mencoba menelpon nomor Bima maupun Bobby yang ke ratusan kali.
"Gila ya! Sudah ratusan kali dicoba, nomor mereka selalu gak aktif. Sebenarnya mereka ke mana sih? Aggghhh! Awas aja kalo nanti ketemu!"
"Jesica juga gak bisa dihubungi! Tapi .. apa mungkin Jesica masih punya rasa khawatir sama gue. Dia bahkan yang dorong gue sampai terjatuh ke danau!"
Gadis itu sibuk mengotak-atik ponselnya. Duduk di atas ranjang dengan kaki berselonjor.
"Gue bahkan belum pernah mandi semenjak jatuh di danau itu. Badan gue sampai terasa gatel!"
"Pagi, Nona! Hari ini ada dokter William yang akan memeriksa kondisi Nona!"
"Hmm!" Alona mengangguk.
Selang beberapa saat, pria berjaz putih itu datang. Penampilannya yang elegan membuat netra Alona membelalak. 'Wuaaah! Gantengnyaa!'
"Pagi, Nona Alona!"
"Iyaa!" Senyum mengembang terpancar dari bibir si gadis.
"Saya Dokter William. Hari ini akan memeriksa kondisi Nona. Karena ini sudah hari kedua perawatan VIP Nona selama di villa. Jadi ada kemungkinan Nona sudah pulih dan bisa pulang hari ini!"
"Beneran, Dok! Ahhh leganya!"
Dokter itu mulai memeriksa, bertanya hal apa saja yang gadis itu rasakan selama dua hari terakhir.
"Dok, dia tadi sempat teriak loh!" lirih perawat itu berbisik di samping William. Tak ada sahutan, hanya anggukan kecil dari sang dokter menandakan jika ia paham dengan yang terjadi.
Alona menatap nanar. Membuat sang dokter tertawa kecil.
"Jangan risau! Nona pasti bingung karena akhir-akhir ini semua kejadian baik maupun buruk mendadak mengiang di pengingatan!"
Alona mengangguk.
"Tidak apa-apa, itu terjadi karena sewaktu terjatuh kepala Nona sempat terbentur benda keras. Paling lama satu minggu akan kembali normal."
"Benar begitu, Dok?"
"Iyaa! Hari ini juga Nona sudah bisa pulang!"
"Ahh, syukuuuur! Makasih ya, Dok!"
"Tak perlu berterima kasih, ini sudah tugas saya!"
__ADS_1
Alona tersenyum ramah.