
Beberapa waktu lalu sebelum Brillian menelpon Arya ....
*****
"Bagaimana? Apa kau sudah dapat data identitas dan latar belakang tentang gadis itu??" Brillian mumutar kursi kepresidenannya.
"Sudah, Tuan!" Ia menyerahkan satu buah dokumen yang berisikan data Alona ke atas meja. "Ini datanya, Tuan. Di sana tercatat data gadis itu beserta keluarganya!"
"Bisa kau jelaskan saja padaku?!"
"Baik!" Ia mengangguk. "Gadis itu terlahir dari keluarga miskin, umurnya kurang lebih dua puluh tahun, mereka tinggal di pelosok. Dalam data keluarga juga hanya ada tiga identitas, gadis itu, ibu dan adiknya. Tidak ada ayah."
"Hmm, begitu ya? Apa kau juga melampirkan foto mereka?"
"Ya, Tuan!" Asisten itu mulai membuka map yang bukan hanya berisikan data, tapi juga sample foto Alona dan keluarga. "Ini .. gadis ini yang bernama Alona!" Ia menunjuk ke foto Alona.
"Hmm ...." Brillian memperhatikan foto Alona dengan seksama. "Entah kenapa, aku merasa seperti pernah melihat gadis ini sebelumnya! Tapi di mana??"
"Gadis ini pernah menjadi sandera oleh Capten Jordan!"
"Benarkah?? Hmm .. sungguh menarik!" Ia menautkan jarinya di bawah dagu.
"Apa masih ada yang ingin Tuan tanyakan?!"
"Gali lagi informasi tentang gadis ini, aku merasa ada sesuatu yang tersembunyi dari gadis ini!"
"Baik, Tuan! Kalau begitu saya permisi!" Brillian hanya mengangkat tangannya yang tingginya tak melebihi kepala. Isyarat bahwa izin untuk pamit diterima.
Asisten itu lantas menundukkan kepala, berjalan mundur. Kemudian menghilang di balik pintu.
Brillian masih terus memandang foto gadis itu hingga beberapa saat. Entah kenapa hatinya terus berkata kalau ia pernah melihat gadis itu sebelumnya. Tapi ia tak ingat kapan dan di mana.
Brillian masih menunggu info yang akan dibawakan selanjutnya. Kurang lebih satu jam lamanya ia masih setia di atas kursi kepresidenannya. Beberapa batang rokok bahkan sudah nyaris menjadi abu, menemani Brillian yang tengah sibuk mencari cara untuk melumpuhkan musuh bebuyutannya, Arya Pohan. "Aku pasti mendapatkan sisi kelemahanmu, Arya! Tunggu saja." gumamnya.
Tok!
Tok!
Tok!
Setelah menunggu dua jam lamanya, sang asisten berhasil kembali ke ruang Brillian. Membawa sedikit info yang berhasil ia selidiki.
"Bagaimana? Apa kau mempunyai info terbaru!"
"Ya, Tuan!"
"Baik, cepat katakan! Info apa yang kau dapatkan?!"
"Gadis ini ternyata salah satu karyawan kantor GCK grup. Dia termasuk karyawan yang baru bekerja beberapa bulan lalu."
"Benarkah?? Hmm, menarik juga! Jadi ternyata, selera Arya hanya sebatas gadisĀ tak bermartabat dengan level rendah!" Ia mulai tertawa girang. "Apalagi yang kau tahu??"
"Gadis ini, juga salah satu karyawan yang berlibur ke pulau xx!"
"Benarkah??"
"Ya, mereka menyewa hotel borneo selama sebulan penuh!"
"Apaaa?? Hotel borneo!!??" Mata Brillian terbelalak tak percaya. 'Bukankah itu hotel yang berdampingan dengan gedung tua tempat Jordan menyimpan dokumen pulau sittar!' Ia mulai membatin. "Oke! Kerja bagus!" Ia mengangkat satu koper yang berisi uang lalu meletakkannya di atas meja. Membuka dan mengambil setengahnya untuk kemudian diberikan pada asistennya itu. "Ambillah ini sebagai bayaran untukmu!"
__ADS_1
Mata sang asisten terlihat berbinar. "Terima kasih atas kebaikan anda!"
"Hmm!" jawabnya singkat. Pria itu kemudian berlalu dari hadapannya.
Brillian menekan salah satu tombol telepon fasilitas pelayanan khusus untuk menghubungkannya dengan sekretaris Nindy.
Tuut!
Ya, Tuan! Ada yang bisa saya bantu?
"Tolong hubungkan aku dengan Richard!"
Richard? Penjaga cctv dokumen pulau sittar?
"Ya!"
Baik, Tuan!
Brillian masih setia dengan gagang telepon di tangannya. Menunggu asisten Nindy menghubungkan teleponnya dengan Richard.
Maaf, Tuan! Sepertinya ada sesuatu yang buruk terjadi di sana!
"Apa maksudnya??"
Kami tidak dapat menghubungi Richard. Bahkan semua nomor yang berjaga cctv di gedung itu sudah terblokir!
"Apaaa??? Brillian terkejut bukan kepalang. 'Gak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi!'
Tut!
Tut!
Brillian menutus panggilan. Tangan kirinya mulai mengepal erat. Geram. Ia tahu persis siapa kemungkinan dalang di balik pelaku yang sudah berhasil menemukan para mafia kepercayaannya yang menjaga cctv di pulau sittar. 'Arya! Ini pasti ulah Arya!' Briilian tahu pasti, tak ada orang lain yang sanggup melacak keberadaannya bahkan di neraka sekalipun, kecuali hanya satu. Ya, pria itu adalah Arya. Sang CEO pendiri perusahaan terbesar GCK grup sekaligus ketua kumpulan mafia terkuat.
Seketika Brillian teringat dengan video pembullyan yang terjadi di gedung tua. Video yang ia minta pada Richard mengirimkan padanya beberapa waktu lalu. Entah kenapa, tersirat dalam benaknya untuk membuka video itu.
Awalnya, tak ada yang menarik saat ia melihat keenam wanita ****** yang membully satu gadis. Tapi setelah ia perhatikan lebih fokus, ternyata gadis yang dibully tak terlihat asing. Ia mulai memperbesar layarnya tepat saat wajah gadis yang dibully menghadap kamera.
Degg!!
Seketika Brillian terkejut saat memastikan bahwa gadis itu benar Alona kekasih Arya, musuh bebuyutannya. Brillian mulai menautkan jemarinya di bawah dagu. Menonton video cctv yang menurutnya filmnya jauh lebih menarik dari film bioskop manapun. Hingga dibagian akhir, Brillian menemukan seorang pria datang dan ikut membully. Dan menariknya lagi, pria itu ternyata membopong Alona keluar dari area gudang tua.
Penasaran. Brillian mulai menyorot wajah sang pria. Dan langsung melakukan scan wajah. Sedetik kemudian muncul data seorang pria dengan nama Rendra Winarta. Pekerjaan, asisten koki. Juga alamat lengkat yang tertera.
Tak ingin membuang waktu lagi, karena kebetulan alamat pria itu berada di kota yang sama, segera Brillian memerintahkan anak buahnya untuk menjemput pria itu. Ia memanggil anak buahnya melalui asisten Nindy. Gadis cantik itu melaksanakan perintah. Menghubungi para mafia kepercayaan Brillian untuk hadir ke dalam ruang Presdir Brillian.
Tok!
Tok!
Tok!
"Ya, masuklah!"
Krieet!
Beberapa mafia berjaz kini berdiri di hadapan Brillian. "Apa yang bisa kami bantu, Tuan?"
Brillian melempar sebuah data ke atas meja. "Jemput pria yang tertera dalam data itu ke gedung ini! Antarkan padaku! Sekarang!"
__ADS_1
"Baik!" Semuanya langsung berlalu seteleh mendapat perintah dari bos mereka, Thomas Brillan.
Pria yang hampir setengah abad itu mulai kembali menunggu. Hanya memakan waktu satu jam, para anak buah kepercayaannya sudah hadir membawa Rendra ke gedung Balai TB grup. Mereka bahkan sudah berada tepat di depan pintu kantor Brillian.
"Masuklah! Bos sudah menunggu anda di dalam!"
"Tapi, kenapa orang penting seperti Brillian mencari saya??"
"Masuk saja! Beliau ingin memberikan hadiah pada anda!"
"Hadiah??" Wajah Rendra terlihat berbinar. 'Benarkah?? Ahh! Keberuntungan apa ini? Sebenarnya aneh! Tapi, siapa yang mau menolak keberuntungan??' Dengan langkah antusias ia memasuki ruang dingin Presdir Brillian. Matanya melotot tak percaya begitu melihat ruangan kantor Presdir Brillian yang cukup mewah. Di depan sana, menunggu seorang pria yang menautkan tangannya di atas pangkalan.
"Silahkan duduk!" Brillian mempersilahkan pria itu duduk di kursi di depannya.
"Ah, iya!" Rendra manggut walau sedikit ragu.
"Anda pasti bingung, kenapa saya memanggil anda kemari?!"
Pria yang berpenampilan ala artis ternama dengan baju kwalitas palsu itu terlihat mengembangkan senyuman canggung. "Ehehe! Iya, saya bener-bener bingung!"
"Ahh, sebenarnya aku tidak mengenalmu sama sekali, hanya saja! Aku ingin kamu melihat ini ...." Brillian memutar laptopnya menghadap Rendra. Kini terlihat jelas potongan video cctv yang menyorotkan wajahnya. Kemudian gambar kedua Brillian tampilkan, dan kini yang terlihat adalah dirinya tengah membopong Alona keluar dari gudang.
Degg!!
Seketika jantung Rendra berdegub kencang. Wajahnya pucat pasi. "Ampun! Ampuni saya! Saya hanya disuruh!" Ia menautkan tangannya ke hadapan Brillian, memasang wajah memelas karena ketakutan. "Tolong jangan apa-apakan saya!"
Mendengarnya dan melihat tingkah Rendra yang ketakutan, Brillian langsung tertawa keras. "Baiklah, coba jelaskan padaku apa saja yang terjadi saat itu??"
Rendra akhirnya menjelaskan semuanya pada Brillian.
Selesai, Brillian langsung menyuruh Rendra untuk menunggu diruang sebelah, ditemani oleh beberapa asisten lainnya.
Kembali Brillian menghubungi asisten Nindy. "Hubungkan aku dengan asisten Arya yang berada di gedung Hall GCK grup!" pinta Brillian saat menghubungi Nindy, asistennya.
Asisten Arya?? tanya Nindy heran.
"Ya! Katakan jika aku meminta nomor pribadi Arya!"
Baik, Tuan! Akan saya lakukan!
Tut!
Tut!
Tut!
Telepon berakhir. "Tunggu saja Arya, sebentar lagi kau akan mendapat pembalasan dariku atas sikap sombongmu."
*****
Beberapa pekan lalu saat Alona mengalami depresi berat karena ulah keji Jesica yang membully-nya, Arya sempat kembali mengintrogasi Jordan di markas rahasia GCK grup.
Arya tak habis-habisnya memaksa Jordan untuk membuka mulut. Berbagai hal sudah ia jadikan cara untuk mengancam Jordan. Tapi pria yang berjuluk capten itu tetap kukuh mengunci rapat mulutnya. Hingga Arya memilih satu-satunya jalan, yaitu mengancam akan menghabisi seluruh keluarga Jordan. Anak, istri, dan juga keluarga besarnya.
Terhimpit keadaan, Jordan akhirnya menyerah. Ia mulai membuka mulut tentang semua rahasia tentang keberadaan dokumen pulau sittar yang ternyata disembunyikan di balik gedung tua di belakang hotel borneo. Arya bahkan sempat terkejut saat mengetahuinya. Ia bahkan menginap di hotel borneo selama satu bulan, tapi sungguh tak disangka, dokumen yang ia cari-cari justru berada di belakang hotel tempat sebelumnya ia dan para karyawan menikmati liburan.
Jordan juga mengatakan kunci pasword untuk membuka pintu ruangan yang menyimpan berangkas itu. Bahkan ia juga membeberkan adanya beberapa penjaga cctv, yaitu anak buah Brillian yang bersembunyi di gedung tinggi di samping gedung tua. Mereka pun tak luput menjadi tahanan yang langsung diringkus oleh Arya. Dan dibawa ke markas rahasia GCK grup untuk diminta keterangan.
Karena kejujuran Jordan, Arya menawarkan kerja sama dengannya. Menjanjikannya segudang aset untuk menjamin kelangsungan keluarga dan masa depan Jordan. Jika Jordan setuju, ia harus berjanji untuk tidak akan pernah bekerja sama lagi dengan pihak TB grup, perusahaan milik Presiden Brillian.
__ADS_1
Dan sungguh diluar dugaan, Jordan memilih menyetujuinya. Sejumlah dokumen kontrak dengan stempel darah ia terima. Perjanjian kontrak Jordan dan Arya mengesahkan, apabila Jordan berani berkhianat, maka itu artinya Jordan sudah mengantar nyawa seluruh keluarganya menuju neraka.
Apakah yang terjadi selanjutnya? Apakah sebenarnya Arya sudah mengetahui perihal pembullyan itu?? Simak kisahnya besok yaaa!!! š¤