Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Perangkap


__ADS_3

Terik matahari telah berada tepat di pucuk kepala saat Arya tengah bersiap melakukan transaksi gelapnya, yaitu pertukaran antar sesama tahanan dengan Presdir Brillian.


Sebelum menuju balai, pria tampan itu terlebih dulu menjemput Jordan di kediamannya di hunian Resident Evila. Ya, Brillian masih mengira jika Jordan adalah tawanan Arya. Tapi tidak, karena mereka sudah mengikat janji saat Jordan menyetujui kontrak kerja sama dengan Arya, tentu saja ia bukanlah lagi sebagai tawanan. Melainkan partner bisnis Arya sekaligus ketua kumpulan mafia yang dipercayakan untuk mengurus salah satu markas di kota besar.


Tuut!


Klik!


Ya, hallo, Tuan Arya?


"Bagaimana? Apakah sekarang kau sudah siap berakting di depan Brillian mantan Tuanmu?"


Ya, tentu saja aku siap, Tuan!


"Bagus! Kuharap kau tidak mencoba mengkhianatiku!"


Itu tidak akan! Karena jika berkhianat sekalipun sudah percuma. Tuan pasti sudah mengambil dokumen itu dari gedung tua di sana saat aku memberitahukannya pada anda beberapa pekan lalu!


"Kau pintar juga dalam menebak!"


Tentu saja, Tuan. Kupastikan kau tak akan rugi merekrutku sebagai rekanmu!


"Baiklah, aku mempercayaimu!"


Terima kasih!


"Kalau begitu, aku akan menjemputmu sekarang!"


Ya, segera Tuan! Sebelum mereka mencium aroma sandiwara kita!


"Oke, apa kau sudah menungguku di lokasi yang kuminta?"


Sudah, Tuan!


"Bagus, aku akan segera ke sana!"


Tut!


Tut!


Usai menelpon. Segera Arya menuju mobilnya yang sejak semalam terparkir di halaman rumah Alona. Dan langsung melajukannya tanpa berpamitan pada ibu dan Alona.


Tapi tanpa disadari. Ibu Alona ternyata menguping percakapan Arya di dalam telepon itu, sesaat sebelum pria itu benar-benar pergi.


Apa maksud nenantuku itu? Bisnis apa yang dia lakukan? Oh Tuhan! Kuharap dia benar-benar pria yang terbaik untuk anak sulungku!


Ibu Alona masih menggenggam besi tralis di jendela dengan raut cemas saat Arya sudah tak nampak di halaman karena kini pergi bersama lambourgininya.


Satu buah ketukan di bahu sang Ibu berhasil membuyarkan bayangan wanita tua itu.


"Mak, ngapain?" Suara yang datang dari anak sulungnya membuatnya menoleh.


"Alona??"


"Mak ngapain di situ? Eh, nih kenapa lagi muka Emak pucat?" Ia kaget melihat raut kegelisahan yang mencuat dari wajah ibunya. Terlebih karena warna kulitnya putih pasi.


"Apa kamu tau ke mana perginya calonmu itu?"

__ADS_1


"Hmm, dia bilang sih hanya ingin pergi ke kantor! Alona gak terlalu peduli dengan urusannya, bukankah dia seorang pemimpin besar, jadi wajarkan kalo dia selalu bepergian mendadak!" jawab Alona meyakinkan diri sendiri.


"Alona! Saat ini Emak khawatir sama kamu!"


"Kenapa? Apa yang perlu dikhawatirkan? Bukankah Alona sehat dan baik-baik saja?"


Ibu Alona diam sesaat.


"Mak! Sepertinya Emak berlebihan mencemaskan Alona!"


"Alona, apa kamu gak pernah curiga, mungkin saja calon suamimu itu seorang pria berdarah dingin! Atau bahkan lebih dari itu, mungkin saja dia ketua dari kumpulan gengster!"


Seketika Alona terkekeh. "Emak mikir apa sih? Mak jangan kebanyakan nonton sinetron, kan gini deh jadinya!"


"Alona! Bisakah kali ini aja, kamu tanggapi omongan Emak dengan serius?"


"Mak! Alona bukannya mau meledek Emak. Tapi kan sudah berkali-kali Alona bilang, Arya itu hanya seorang bos besar! Alona sangat yakin, dia gak terlibat dengan gengster manapun, kok!" Alona berusaha meyakinkan.


"Alona, kamu ini benar-benar keras kepala! Emak hanya ingin kamu membuka mata hatimu, cobalah kamu selidiki calon suamimu itu. Cari informasi sedalam-dalamnya tentang dia. Agar Emak yakin rasa khawatir Emak ini hanya bayangan yang berlebihan!"


'Duuuh, emak kenapa sih? Kenapa selalu aja menganggap Arya pria dingin yang membahayakan!'


Gerutu Alona dalam hati. "Hmm, iya, Mak. Nanti akan Alona lakukan permintaan Emak!"


Kini wanita tua itu mendesis pelan. Meluapkan rasa kesalnya dengan menghembus napas kasar.


******


Dalam waktu singkat, Arya sudah berhasil menepikan kendaraannya di lokasi yang sudah ia janjikan bersama Jordan. Pria itu tampak berdiri menunggu Bos barunya di depan gerbang.


Setelah menyadari kedatangan Arya, tanpa menunggu lagi segera ia menghampiri mobil mewah yang memarkir di hadapannya dan langsung masuk. Ia tahu pasti, kali ini tak mungkin salah, pemilik kendaraan itu sudah pasti Arya Pohan.


"Apa kau sudah siap?" tanya Arya pada Jordan.


"Ya, Tuan!"


"Mereka akan memasang borgol di tanganmu! Sementara itu, kau berpura-puralah sebagai tawananku!"


"Baik, aku mengerti!"


Salah satu dari pengawal itu mulai memasang borgol di tangan Jordan, dan mengimpan kuncinya di saku kemeja. Tak luput mereka menutup mulut Jordan dengan lakban hitam. Kini mereka menuju balai TB grup.


Sesampainya, gerbang besar itu langsung terbuka lebar. Sepertinya kedatangan Arya sudah dipantau oleh mata-mata Brillian. Namun, hal itu tak lantas membuat Arya gentar. Karena ia sudah memperhitungkan semua rencana secara detail. Sedang para pengawal rahasia Arya yang lainnya sudah berhasil memasuki gedung yang berseberangan dengan balai TB grup. Gedung yang juga milik Arya pohan. Puluhan penembak jitu sudah siap berjaga di posisi mereka.


Arya masuk seraya menekan pundak Jordan dari arah belakang. "Ayo, jalan!" gertaknya, mereka benar-benar terlihat seperti dua orang yang saling bertolak belakang.


Tak banyak staf yang hadir di gedung itu. Ya, mungkin saja Brillian men-cuti-kan para stafnya saat hendak melakukan transaksi gelap. Mungkin juga tak ingin ada satupun mata-mata yang kiranya akan mengekspos bisnis ilegalnya.


Seperti sebelum-sebelumnya, selalu asisten Nindy yang menyambutnya di depan pintu entrens. Mempersilahkannya menuju ruang pribadi Presdir Brillian.


"Terima kasih!" jawab Arya pada wanita dengan pakaian formal di hadapannya itu.


Mereka terlihat memasuki lift, sang asisten wanita menekan tombol angka lima.


Ting!


Sampai. Mereka keluar saat lift berhasil terbuka lebar. Tak luput, anak buah Arya kembali menekan pundak Jordan agar akting mereka terlihat natural. Bahkan sepanjang jalan mereka tak terlibat percakapan apa pun. Ya, semua dilakukan hanya agar rencana berjalan sempurna.

__ADS_1


"Silahkan masuk! Presdir Brillian sudah menantikan kedatangan kalian!"


Tak lagi menjawab, setelah memperkirakan asisten wanita itu kembali menghilang di balik lift. Barulah Arya membuka lebar pintu ruang pribadi Brillian.


Senyum seringai langsung menyambut Arya. Rona berbinar bahkan menghias di wajah Presdir Brillian.


"Tak kusangka! Ternyata kau menepati janjimu!" Brillian tertawa kecil.


"Cih!" Arya berdecih pelan. Menarik seutas senyuman untuk membalas penuturan Brillian.


"Jadi .. begini rupanya sosok Arya! Ternyata kau hanya pria lembek! Kau merelakan harta karun itu demi seorang gadis kampung dan murahan! Cih!" Kembali ia tertawa.


"Kepar*t! Jangan pernah menghina kekasihku!" Hanya sedetik, Arya sudah menggenggam kerah baju Brillian di tangannya. Geram. Ia tak suka jika Brillian menjelek-jelekkan kekasihnya.


Pltuk!


Dua buah pistol langsung menempel di kepala Arya. Brillian langsung menepuk punggung tangan Arya. "Jangan terlalu gegabah!" Ia mengira bahwa saat itu kemenangan akan berada dipihaknya. "Lepaskan tanganmu jika kau tak ingin hidupmu berakhir di sini!" Masih dengan tawa kecilnya.


Hingga tiba-tiba ia menyadari beberapa titik cahaya merah tampak menempel pada semua kepala anak buahnya. Ia menoleh. Bahkan kini cahaya dengan titik merah itu ternyata juga mengarah ke kepalanya. "Kepar*t kau, Arya!" hardiknya. "Ternyata kau bermain curang!"


"Tidak ada kata curang dalam hal berbisnis gelap. Siapa yang pandai, dialah pemenangnya!" tukas Arya. Masih setia dalam situasi tegang. Dua buah pistol masih mengarah di kepala Arya. Pun dengan titik merah dari penembak jitu juga masih mengarah ke kepala Brillian dan anggotanya.


"Baiklah! Aku tak ingin membuang banyak waktuku! Mari bertukar tawanan sekarang! Lepaskan Jordan, maka aku akan menyerahkan pria itu padamu!" Menunjuk ke arah ruang sebelah.


"Tunjukkan dulu tawanan prianya!"


"Baik! Akan kukabulkan keinginanmu!" Brillian tampak memberi kode pada para pengawalnya. Seketika pintu dari ruangan itu dibuka. Dan Arya langsung disambut oleh sosok Rendra yang tubuhnya nyaris terikat. Ia di dorong hingga tersungkur di lantai. Sedang wajahnya hanya tertunduk.


"Nah, tunggu apalagi? Cepat lepaskan Jordan!"


"Lepaskan dulu ikatan pada pria itu!"


"Baik, itu mudah!"


Arya menoleh pada dua pengawalnya  yang memegang lengan Jordan. Hanya sedikit gerakan kepala, isyarat untuk melepas Jordan. Mereka mengangguk, membuka borgol di tangan Jordan.


Terlepas. Jordan langsung membuka lakban yang menjadi penutup mulutnya. "Ah, kau benar-benar menyiksaku, Arya!" jawabnya dengan sikap santai.


Pertukaran akhirnya dilakukan dengan adil. Selesai. Arya langsung memilih pergi dari ruang Presdir Brillian. Bersama kedua pengawalnya yang kini menyeret tawanan baru bernama Rendra.


Rendra kini tak lagi mampu berceloteh seperti saat pertama bertemu Arya. Sepertinya ia banyak mengalami tekanan bahkan penyiksaan selama berada di tangan Brillian. Ia bahkan lebih terlihat pasrah dari sebelumnya.


Keluar dari ruang Brillian. Arya dan pengawalnya langsung memasuki lift untuk kembali ke lantai dasar. Dengan menekan tombol lantai dasar.


Namun tiba-tiba, lampu dalam lift berkedut sebanyak tiga kali sebelum akhirnya benar-benar padam.


"Sial! Sepertinya kita terkena perangkap Brillian!" tukas Arya.


Kriit!


Kriit!


Bunyi serit bahkan terdengar jelas. Lebih mirip suara rantai besar yang dipotong paksa.


"Bos! Sepertinya rantai penahan lift ini akan putus!"


"Ya, aku tahu itu!"

__ADS_1


"Apa itu artinya kita akan terjatuh?" Rendra yang sedari tadi membisu akhirnya bersuara. Wajahnya kini semakin pucat. 'Tak kusangka, nasibku akan berakhir seperti ini!' keluhnya, meringis dala hati.


Sampai sini dulu, ya! Jangan pelit untuk sekadar memberi komentar dan likenya 🤗🙏


__ADS_2