Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Permainan Baru Mr. Brillian


__ADS_3

Mereka akhirnya tiba di rumah Alona setelah drama makan malam yang seperti tengah berkabung. Semua wajah berbalut murung. Hanya Qea seorang yang sedari awal terlihat ceria hingga akhir kembali ke rumah.


******


"Mak, ini udah larut malam! Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama mereka!"


"Alona, jangan bodoh! Mereka itu laki-laki, tidak ada penjahat yang akan memperkosa mereka." Ibu Alona sibuk membereskan pakaian di kamar yang sebelumnya sempat berserakan. Tanpa menatap sedikitpun ke arah Alona. Sedang Alona sendiri hanya berdiri, bicara di ambang pintu. Salah satu tangannya memegang gawang pintu.


"Mak, pliiis! Satu malaaam aja!" Alona mengacungkan jari telunjuknya. "Ya, Mak! Boleh, yaa!"


"Kamu itu bisa ngerti ngak sih? Sekali enggak, tetap enggak!" Kini ia balik merapikan sprei tempat tidurnya. Selesai dan langsung duduk dengan wajah lesu. Sesekali menghembuskan napas kasar. "Alona, kemari!" Ia menepuk sprei di sampingnya. Gadis itu berjalan pelan lalu duduk di samping ibunya. "Harusnya dari awal Mak memang gak menyetujui hubungan kalian!" Bicaranya terdengar lebih tenang. "Mak sudah duga dari sebelumnya kalau hal seperti ini akan terjadi!"


"Hal seperti apa sih, Mak? Alona rasa tadi itu baik-baik saja!"


"Apa kamu belum sadar juga?" Menatap  nanar kedua pasang mata Alona. "Buka lebar-lebar mata hatimu, Alona! Lihatlah kehidupan mereka! Mak merasa kita gak pantas bersanding dengan orang-orang seperti mereka!"


"Mak, percayalah! Yang menjalani itu, Alona! Mak gak usah khawatir! Alona akan kuat menghadapi hal seperti itu."


"Apa salahnya Mak khawatir sama Anak Emak sendiri? Hah??" Kini berbalik wajah Alona yang mulai menunduk. "Mak hanya ingin peringatkan kamu, kehidupan orang kaya itu gak segampang yang kamu bayangkan! Kamu harus bisa beradaptasi dengan gaya hidup mereka, belum lagi kamu harus siap menerima cemoohan mereka kapan saja! Emak takut kamu gak akan sanggup, Alona!"


"Mak!" Alona mengangkat wajahnya, bola matanya terlihat sedikit berkaca. "Percayalah! Alona mampu menghadapinya!"


"Ya, terserah kamu lah, Nak! Memangnya apa yang membuatmu begitu yakin!" Emak berbicara tanpa menatap.


"Karena Alona yakin, Arya itu tulus mencintai Alona! Begitu Alona, Mak! Alona cinta sama Arya!"


"Fouhh!" Menghela berat. "Anak muda jaman sekarang sudah tak memikirkan nasib di masa depan!"


"Apa yang harus dipikirkan? Bukankah Arya itu orang kaya! Alona tak perlu risau bahkan untuk tujuh turunan mendatang!" Wajahnya terlihat penuh percaya diri.  Jawaban Alona bahkan membuat emak geram. Wanita setengah abad itu langsung menoyor kepala putrinya.


"Dasar kamu ini! Huhh! Kenapa sifatmu benar-benar keras kepala sih, siapa yang sudah kamu tiru?!"


"Ahh! Emak, sakit tau!" Alona menggosok kepalanya, seolah hl itu benar-benar terasa sakit "Lagian, Alona keras kepala kan karena turunan dari Emak!"


"Ehh! Kamu ya, malah menuduh Emak!"


"Ahahhaha! Tapi bener kan, Mak!"


"Gak!"


"Ih, Mak gak mau ngaku ya, ayo ngaku!" Alona menggelitik pinggul Emak. Membuat emak tertawa lepas. "Kamu ini, suka sekali mengejek Emak!"


"Hahaha! Itu karena aku sayang Emak!" Alona langsung memeluk tubuh ibunya.


"Emak juga sayang Alona! Ntar kalo kalian sudah nikah, jangan sungkan untuk ngunjungi Emak, ya!"


"Gak mau!"


"Tuh, kan! Belum nikah aja udah niat ngejauhi Emak!"


"Buat apa jenguk, kalo nanti Emak juga akan tetap berada di sisi Alona. Begitu juga dengan Qea. Kalian harus tinggal bersama Alona."


"Jadi ... bolehkan malam ini mereka nginap di sini? Satu malam ini aja!!" Mengedip-ngedipkan mata.

__ADS_1


"Yah, mau di apakan lagi, kalo sudah Alona yang maksa, Mak memangnya bisa apa?"


"Ahahha! Alona sayang Emak!" Memeluk erat.


"Emak juga!"


Tawa kecil sedikit menggema dalam kamar yang berisi dua insan itu. Mereka berakhir dengan pelukan haru.


Sedang Arya, pria itu sedari tadi berdiri, menguping di samping kamar mereka, ia ikut bahagia saat tahu emak yang akhirnya pasrah dan menyetujui hubungan mereka. "Tidak salah lagi, Alona memang gadis yang pilihan terbaikku!"


*****


Bobby berlari kecil ke dalam rumah. Wajahnya sedikit pucat saat harus menahan rasa sakit yang melilit di perutnya. "Aduh, toilet di mana sih!" gerutunya.


"Sebelah barat!!" Hanya suara yang terdengar tanpa wujud. Namun, Bobby tetap tahu dengan pasti kalau suara itu datangnya dari emak.


"Makasih, Mak!" Ia langsung berlari kecil, tak lagi menunggu jawaban dari emak.


Sementara itu, Alona sibuk merapikan kamarnya untuk diisi sementara oleh Arya dan Bobby.


Mengganti sprei dan merapikan beberapa buku lama bekas kuliah dulu, juga beberapa novel kesukaan yang masih setia berserekan di atas meja. Tak luput juga menyemprotkan aroma sensasi rileks yang menyegarkan. Selesai. Gadis itu langsung beranjak menuju kamar Qea. Lalu masuk tanpa mengetuk.


"Qea, malam ini kita tidur bersama, ya!" Qea terkejut mendengar penuturan kakaknya.


"Malas ahh!! Kakak kan tidurnya mendengkur!!"


"Ahh, gaya kamu! Kamu juga tidurnya ileran!"


"Memangnya kenapa dengan kamar Kakak?? Kakak tidur saja di sana! Apa karena sudah sebulan gak pulang Kakak mulai jadi penakut tidur di kamar sendiri??"


"Serius??? Ahh kalau gitu, suruh aja Om Bobby tidur sama Qea! Qea pastikan gak akan mengiler apa lagi mendengkur!!" Tersenyum polos dan riang. Mendengarnya, spontan saja Alona menoyor kepala adiknya itu.


"Kamu gila apa?? Mana bisa begitu??"


"Memangnya kenapaa???" Qea memasang wajah cemberut.


"Pria sama wanita yang bukan pasutri itu gak boleh tidur bersama!"


"Pasutri itu apa??"


"Pasangan Suami Istri!"


"Oh, kalau gitu, malam ini Qea nikah aja sama Om Bobby, biar bisa tidur bareng!"


"Qeaa!!!!!!" Menggertak


"Iya! Iya! gitu aja pake teriak!!"


"Qea, apa kenapa kamu gak paham juga, sih? Laki-laki sama perempuan itu gak boleh berduaan dalam satu kamar."


"Memangnya kenapa?? Tapi Qea suka di dekat Om Bobby! Dia sudah seperti teman! Bedanya, Qea sering merasa kalau jantung Qea berdegub-degub. Dan kadang muka Qea jadi merah. Tapi Qea merasa senang!" Masih dengan senyuman polosnya.


'Duuhh! Nih kenapa polosnya kok kebangetan sih??' Alona menggerutu kesal. "Qea, kamu polos atau apa, sih? Apa di sekolahmu sama sekali tidak ada teman yang pacaran??"

__ADS_1


"Teman yang pacaran?? Ada kok! Tapi ... Qea gak berteman sama mereka! Memangnya kenapa?"


"Jadi kamu itu bertemannya dengan siapa???" Nada bicara Alona benar-benar emosi. Bahkan membuat semburan ke wajah Qea.


"Biasa aja dong Kak ngomongnya. Basah nih!" Mengelap wajahnya setelah mendapat semburan. "Qea memang gak berteman sama mereka karena membosankan! Qea lebih suka bermain warnet!"


"Fouhh!!"


"Apa hanya dunia warnet yang kamu tau??"


"Iyaa!" Wajah datar.


"Huh! Pantas saja!" Menghela berat.


*****


Arya masih berada di luar rumah saat harus menerima panggilan telepon. Sebuah panggilan dengan nomor baru masuk ke dalam ponselnya.


Klik


"Halo??" sapa Arya terlebih dulu.


Halo, Arya! Bagaimana kabarmu??


"Siapa ini??"


Apa kau tak bisa mengenali suaraku? Aku adalah rekan bisnismu yang paling berat kau lawan!


Arya tersadar. Ia mulai tertawa berdecih. "Cih! Nada bicaramu membuatku geli. Lagipual, hal apa yang membuatmu menghubungiku di tengah malam begini?!"


Bukan hal besar. Selain ingin menyapamu, aku punya kabar penting untukmu!


"Kabar penting?? Apa?"


Ini mengenai kekasihmu!


"Apa maksudmu! Jangan coba-coba bermain denganku!" Bicara Arya mulai menegang.


Yaa, kau bisa datang ke balai TB grup jika kau benar-benar penasaran. Jika tidak ... kau hanya cukup menunggu gosip yang akan beredar nanti!


"Apa yang kau bicarakan? Aku tak mengerti dengan maksudmu!!!"


Jika kau benar-benar ingin tahu, datanglah malam ini ke balai pertemuanku!


"Jika saja kau berani menipuku, kau tau sendiri bukan? Kau akan menanggung akibatnya!"


Hoho! Mana mungkin aku berani menipu orang terkuat sepertimu! Jadi .. cepatlah datang malam ini! Jangan membuatku lama menunggumu!


Tut!


Tut!


Tut!

__ADS_1


Panggilan itu berakhir. Arya masih menggenggam erat ponsel di tangannya.


"Brillian! Kali ini permainan apa yang ingin kau tunjukkan padaku!" gumamnya.


__ADS_2