Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Berusaha Menahan Qea


__ADS_3

Sepanjang jalan, Steven tak hentinya melirik kaca spion yang di kendarainya. "Qea, pacarmu ngejar kita tuh!" tukasnya gugup.


"Udah jalan aja! Dia bukan pacar gue, kok!"


"Masa sih? Kalo bukan pacar, kenapa dia ngejar kita?"


"Mana gue tau!"


Kedua remaja itu kini memasuki jalan poros yang cukup lebar. Memberi kesempatan pada Bobby untuk menyelip  mereka dari belakang. Dengan gerakan yang bak pembalap profesional, Bobby menutup jalan, mengesampingkan mobilnya dengan putaran cepat. Seketika ia berhasil menghalangi motor bebek yang dikendarai Steven itu.


Remaja itu terpaksa ngerem mendadak.


Ckiieet!!


Hampir saja mereka terjatuh. Kalo saja bukan karena kaki Steven yang cukup panjang. Mungkin mereka sudah mendarat di aspal.


Bobby langsung membuka pintu hendak menghajar remaja nakal yang sudah nekad membawa kabur gadis kecilnya itu. Tapi ternyata Qea lebih dulu menghampiri Bobby.


"Apa-apaan sih, Om?? Om mau bikin Qea celaka yaa?!" hardik Qea.


"Kok jadi kamu yang marah sih?" Bobby mengernyit.


"Ya iya, Qea marah! Memangnya apa hak Om menghentikan kami?"


"Ya jelas aku punya hak! Lagian kenapa kamu pulang sama anak ingusan itu? Gimana kalo dia berbuat jahat sama kamu?"


"Siapa juga yang mau berbuat jahat! Lagian dia itu pacar Qea! Minggir, Om! Kami mau lewat!"


Steven yang sedari tadi menjadi kambing hitam, mendengar obrolan mereka hanya dapat meringis sambil memasang wajah memelas. Ingin rasanya ia menangis. Tapi mengingat dirinya adalah seorang pria, ia pun mengurungkan niatnya. Apa kata dunia jika pria sejati menangis? Begitulah prinsipnya.


"Pacar??" Bobby sedikit kaget mendengarnya.


"Iyaa!! Apa sekarang masih belum jelas?" tukas Qea.


"Jadi .. sekarang kamu sudah punya pacar?"


"Iya! Memangnya Om doang yang bisa punya pacar! Qea juga bisa tuh!" Bobby semakin mengernyit mendengar penuturan Qea.


"Secepat itu??"


"Maksud Om??"


"Bukannya tadi pagi, kamu baru aja menyatakan perasaanmu sama aku? Kok sekarang udah punya pacar aja? Kapan kalian jadiannya?"


"I-tu ... kapan aja bisa kan! Lagian, bukan urusan Om, Qea mau pacaran sama siapa aja, itu urusan Qea!"

__ADS_1


"Qea! Om bukannya gak setuju kalo kamu pacaran! Tapi kamu harus tau dulu secara spesifik tipe pria yang kamu pacari. Jangan asal comat-comot!"


"Enak aja! Asal comot Om bilang?? Dia itu pria sejati! Ganteng! Asal comot dari mana! Lagian nih ya, Om ngapain masih balik ke rumah Qea! Rumah Om kan bukan di sini. Sana! Balik ke kota!" Bobby terkejut mendengar penuturan Qea.


"Kamu serius ingin Om pergi??"


"Iyaa!"


"Oke! Kalo itu permintaanmu!"  Bobby segera masuk ke dalam mobilnya. Meraih sesuatu lalu menjentengnya. Sebuah tas belanja persegi empat yang agak kecil ia berikan pada Qea. "Sebenarnya, Om memang sudah mau balik ke kota. Om ke sini cuma mau kasih sesuatu buat kamu," tukas Bobby.


Melihat benda yang kini berpindah ke tangan Qea, gadis itu akhirnya hanya bisa mematung. 'Apa maksud Om Bobby dengan membelikanku barang begini??'


"Ini ...." ucap Bobby terputus. Terpampang jelas sebuah kotak yang bagian atasnya tertera gambar ponsel keluaran terbaru.


"I-ini, apa maksdnya Om?? Om ngasih Qea HP baru? Tapi?"


"Iya, sebenarnya ini hadiah dari Om untuk Qea!"


Mendadak kedua bola mata Qea berembun. Bobby hanya berusaha menyemangatinya dengan senyuman tulus. Membelai lembut pucuk kepala Qea. Kemudian berlalu dari hadapan gadis itu, mendatangi pria yang telah diakui pacar oleh Qea.


"Apa benar kamu pacarnya Qea?" tanya Bobby dingin.


"Ehh! Itu .. Sa-sa-saya se-se-sebenarnya ..


"Tolong jaga Qea, ya! Kuharap kamu bisa diandalkan, Sob!" Bobby menepuk pundak Steven. Dan langsung berlalu dengan membelakanginya.


Bobby dan Qea terkejut saat tiba-tiba Steven berteriak seperti itu. Wajah remaja itu bahkan sedikit menegang. "Om!" Panggilnya pada Bobby.


Bobby hanya bisa mengernyit melihat ekspesi sang remaja yang mendadak sungut, seperti anak ayam kehilangan induknya.


"Saya ... sebenarnya bukan pacar Qea!"


"Ehh?? Lalu??"


"Ini semua ide Qea! Dia maksa saya untuk antar pulang ke rumahnya dan cuma ngasih saya lima ribu buat ongkos bensin. Saya gak tau kalo ternyata dia mau ngejebak saya, saya juga gak tau kalo dia pacar Om! Ampuni saya Om!! Huaaa!" Tak kuasa. Remaja pria itu akhirnya menangis juga. Lenyaplah sudah prinsip yang iabpegang tadi. Ia lebih takut jika pria tajir di hadapannya itu menerornya di kemudian hari.


"Ehh??!!" Bobby semakin melongo melihat remaja itu yang mendadak histeris.


"Om jangan salah paham dengan saya! Tolong jangan apa-apakan saya! Tolong ampuni saya! Huaaa!"


"Siapa yang mau apa-apakan kamu!"


"Ehhh! Jadi Om gak marah sama saya?!"


"Jadi serius, kamu bukan pacarnya Qea!"

__ADS_1


"Iya, Om!" Nadanya kini lebih rendah dari sebelumnya. "Apa Om masih marah dengan saya? Saya gak niat nipu loh! Ini semua idenya Qea!"


"Gak lah, aku justru mau ucapin terima kasih sama kamu karena ternyata kalian gak pacaran!"


"Yeess!! Beneran Om??


"Hu-um!"


"Ahhh! Selamaaat!" Pria itu tampak menghapus air mata begitu juga dengan lendir di hidung yang begitu cepat keluar. Membuat Bobby sedikit jijik.


"Tapi kamu harus janji, jangan pernah ulangi hal ini lagi di depan saya. Saya gak peduli kamu sengaja atau enggak! Yang pasti kalo kamu mengulangi, saya pastikan kamu gak akan pulang dengan ngesot!"


"Ehh! Ampun Om! Saya janji gak bakal gini lagi! Jadi .. apa saya boleh pulang sekarang?"


"Ya iya, kecuali kamu mau bawa kabur Qea lagi. Bisa kupastikan kali ini kamu gak akan selamat!"


"I-i-iya Om! Saya balik! Saya balik!"


Baru lima langkah remaja itu beranjak pergi menuju motornya, tiba-tiba saja ia kembali memutar badan. "Oh iya Om!" serunya.


"Apalagi?"


"Boleh tambah ongkosnya gak? Tadi Qea cuma ngasih lima ribu! Hehehe!" Ia tertawa seperti nyengiran kuda.


"Buset dah loe! Bikin gue malu aja!" timpal Qea yang seakan hendak melempar tasnya ke arah Steven. Bobby hanya sedikit berdecak, lalu mengeluarkan selembar kertas berwarna merah. Dan langsung disambar oleh Steven.


"Seratus ribu, Om? Buat saya?" Berteriak kegirangan.


"Iya!"


"Yeeeesss!" Ia mengepalkan tangannya ke udara.


"Apa itu kurang?"


"Hah?? Masih boleh nambah Om??" teriaknya lagi.


"Lu mau minta tambah lagi?"


"Iya sih, kalo boleh!"


"Nih tambahannya!" Bobby mengepalkan tangannya.


"Ehehehe! Gak jadi deh Om! Saya cuma becanda kok! Ini juga udah cukup banget! Kalo begitu, saya duluan ya, Om!" Sedikit kagok.


"Hmm!"

__ADS_1


Steven menundukkan kepalanya pada Bobby lalu melirik Qea. "Weee!" Ia menjulurkan lidah pada gadis itu sebelum akhirnya benar-benar kabur, tancap gas hingga menyisakan asap knalpotnya di wajah Bobby.


"Uhuk! Uhuk! Dasar bocah gendeng!!" sungut Bobby mengibas-ngibas asap yang terpapar ke wajahnya.


__ADS_2