
Gadis itu berlari masuk ke kamarnya. Menutup keras daun pintu.
Bamm!!
"Dasar jahat! Tega-teganya dia bilang mukaku lebih mirip orang kesurupan." Nadanya terdengar sedikit bergetar. Menangis. "Padahal kan aku udah dandan maksimal!" Ia menghempaskan tubuh di atas kasur, memukul-mukul tempat tidurnya yang masih sedikit berantakan.
"Qeaa??" Sebuah panggilan mendengung dalam gendang telinga gadis itu. Panggilan yang berasal dari ruang tamu.
"Qea, kamu sudah siap, belum?!" Kini suara itu sudah berada tepat di depan pintu kamar Qea.
"Kalian pergi aja! Qea gak mau ikut!"
"Loh, kok gitu? Lu yakin?"
"Iya, Kak! Qea yakin! Hu hu hu! tangisnya terdengar jelas. Gadis itu tak pandai menutupinya."
"Qea ...." Panggilan itu terdengar pelan. "Apa kamu nangis, Dek? Gak mau curhat sama Kakak??"
"Gak! Qea lagi pengen sendiri! Kakak pergi aja sama pacar Kakak, si pengawal Om itu!" Alona mengernyitkan alisnya mendengar ucapan yang baru keluar dari mulut adiknya.
'Apa maksudnya dengan pacar pengawal? Siapa yang mengawal, siapa yang dikawal sih??' Alona berusaha mencerna ucapan adiknya.
"Alona, kamu ngapain di depan kamar Qea??"
"Ehh!" Alona menoleh. Berdiri di jarak dua meter ibu Alona yang kini sudah terlihat modis. Dengan tampilan yang sedikit ala bangsawan. "Emak cantik gak??" tanya ibu Alona.
"Ah, ya jelas cantik lah! Emak selalu yang paling cantik."
"Ah, kamu ini, tumben ngiyain. Mentang-mentang habis Emak restui. Sekarang jadi lebih pandai memuji."
"Emak gimana sih? Biasanya kalo dibilang jelek marah. Sekarang giliran dibilang cantik juga gak terima! Huh!"
"Hahaha! Terserah Emak dong!"
"Dasar, Emak-emak puber kedua!"
"Apa kamu bilang?" Wajah emak sedikit melotot.
"Eh, bukan apa-apa, Mak!"
"Kamu ngapain dari tadi di situ? Kenapa belum siap juga? Kalo kalian lambat, kapan kita berangkatnya? Emak udah gak sabar nih pengen makan di hotel mewah. Oh iya, jangan lupa bawa tongsismu! Kita selfie di sana. Nanti upload-kan ke fb Emak, ya. Biar tetangga pada tau, kalo Emak dapat calon mantu tajir!"
Alona hanya bisa menyeka keringat dingin yang mendadak nyambangi pelipisnya. 'Duuh! Dasar emang, nenek-nenek yang lagi puber kedua!'
"Kok masih diam di situ sih! Ayo buruan ganti bajumu!"
"Maaak, Alona tuh lagi berusaha nenangin Dek Qea!"
__ADS_1
"Emangnya Qea kenapa? Anak bandel itu, kalo dia gak mau berangkat biarkan saja! Huh! Emak gak tau dulu ngidam apa sampai dapat anak yang tidak menguntungkan itu."
"Husstt! Emak gak boleh ngomong gitu! Gimana kalo Qea dengar dan hatinya terluka!"
"Anak bandel seperti itu mana punya perasaan! Biar kamu berkata sepedas apapun, dia pasti menanggapi dengan wajah datar! Mama tau persis adikmu itu seperti apa! Sudahlah! Cepat bersiap!!" Puas berbicara, ibu mereka akhirnya pergi dari tempat sebelumnya ia berpijak. Menuju ruang tamu yang masih ditunggu oleh satu orang pria kebanggan ibu keriput itu.
Sementara di dalam. Qea mendengar jelas semua yang dikatakan oleh ibunya. Hatinya semakin terpukul. Ia kesal. Dari dulu ibunya selalu saja membandingkan dirinya dengan kakaknya. "Ibu memang pilih kasih! Aku benci ibu! Selalu aja kak Alona yang diutamakan!" Mendengus kesal. Masih memukul-mukul tempat tidurnya.
"Qea kenapa, Al??"
"Ehh!" Kembali Alona dikejutkan oleh kedatangan orang kedua yang menghampirinya. "Gak tau, Bob! Kayaknya Qea nangis. Dia bilang gak mau ikut!"
"Serius??"
Alona mengangguk.
"Ya udah, tinggalkan aja! Biar gue yang urus!"
"Serius lu bisa nangani dia? Ntar lu kelahian lagi sama dia!"
"Ahahha! Gak akan! Udah! Percayakan aja semuanya sama gue!"
"Oke deh! Gue percayain sama elu, Bob! Kalo gitu, gue bersiap dulu, ya!"
"Ya udah, buruan sana! Kasian tuh si bos udah nunggu lama!" Alona membalas dengan senyuman tipis sebelum akhirnya pergi. Bobby terus memantaunya hingga kekasih bosnya itu benar-benar menghilang di balik pintu kamar, barulah Bobby mencoba mengetuk kamar Qea.
"Qeaaa!! Bukain pintunya dong."
Deg!
"Qea! Om tadi cuma bercanda! Buka dong pintunya. Om ada sesuatu nih untuk Qea!"
'Ehh, sesuatu?? Apaan tuh??' Qea mulai kepo. Walau masih sedikit ragu. "Sesuatu apaan? Jangan bohongi Qea!!"
"Enggak, Dek. Om gak bohong. Makanya buka pintunya!"
'Buka gak yaa?? Tapi kalo ternyata dia bohong! Ahh bodo amat! Kalo ternyata dia bohong, gue tabok aja!' Gadis itu mulai beranjak dari atas kasurnya. Menuju pintu kamar.
Ceklek!! Suara kunci di putar.
Krieeet!!
Gadis itu mengintip di balik pintu. "Sesuatu apaan??" Masih menggertak.
"Buka lebar dulu pintunya. Nanti Om kasih!"
Terlihat beberapa tas belanja menggantung di tangan Bobby. 'Eh, kayak ya om tajir ini gak bohong!'
Krieeeet!!
__ADS_1
Pintu dibuka lebar oleh Qea. Dinyalakannya lampu kamar yang sedari tadi redup. Gadis itu langsung disambut senyuman hangat dari Bobby.
Deg!!
'Eh! Jantung gue kenapa nih?? Kok berkedut-kedut?? Apa jangan-jangan gue kena serangan jantung. Aduuh, gue jadi takut mati!!' Qea memegangi dadanya saat merasa jantungnya bedetak lebih cepat.
"Eh, Qea kenapa? Kok mukanya tegang?" Bobby sedikit mengernyit.
"Gak tau nih, Om! Jantung Qea kayak berkedut-kedut lebih cepat gitu."
"Seriuss?? Apa Qea punya riwayat penyakit jantung?"
"Enggak, Om! Ini kali pertama Qea ngerasa jantung Qea berdegub-degub. Kenapa ya, Om??"
"Ehh! Gitu yaa ....??"
"Ho-oh!"
Ingin sekali rasanya Bobby tertawa gelahak mendengar keluhan Qea yang polosnya gak ketolongan. Tapi takut membuat gadis kecil itu kembali tersinggung. Akhirnya ia hanya bisa menahan tawanya. 'Anak ini, polos atau apa?? Kenapa dia begitu mudah mengatakan keadaannya?' batinnya. "Oh iya, ini!" Menyerahkan beberapa barang yang terbungkus dalam balutan tas belanja.
"Apa nih, Om??"
"Buka aja!"
Dengan semangat Qea membukanya satu-persatu. "Waaaah!" Matanya langsung berbinar saat memegang sebuah gaun yang terlihat begitu indah. Benar-benar cocok untuk usianya yang masih belia.
"Kamu suka??" tanya Bobby.
"Heem, suka bangeeeet!!" Bola matanya terlihat begitu indah saat sedang bahagia.
"Kalau gitu, pilih satu untuk kamu pakai malam ini!"
"Oke, Om!" Gadis itu langsung memilih satu yang menurutnya paling bagus. Pilihan gaun dengan warna pink ia genggam. "Yang ini aja, Om!"
"Iya, kayaknya itu cocok buat kamu, udha buruan di pake!"
"Okee!!" Gadis itu mulai membuka kancing bajunya dengan polosnya.
"Eh! Eh! Kamu mau ngapain??" Bobby terkejut melihat Qea yang hampir melepasĀ pakaian di hadapannya.
"Ngapain lagi? Ya ganti baju lah, Om!"
"Eh, tapi kan harusnya kamu tutup pintu dulu!"
"Kenapa harus ditutup? Qea biasa ganti baju di sini, kok?"
'Astaga!! Gadis ini polosnya kok kebangetan! Apa dia gak tau kalau dia ganti baju di sini bisa membangunkan dede kecilku?!' Bobby masih terbelalak. Nyaris menaik turunkan jakunnya. "Ya, tapi sekarang di depanmu kan ada, Om!!" nada Bobby sedikit menekan.
"Ohh!! Jadi kalo ada Om harus di dalam, ya!!"
__ADS_1
"Ya iyalaaah! Aduuh! Udah masuk sana!!" Bobby mendorong tubuh Qea hingga seutuhnya tubuhnya berada di kamar. Segera pria itu menutup pintunya. "Fouuh! Hampiiiir ajaa!!!" Ia mengusap dada pelan. Kemudian menundukkan kepala, melirik dede kecilnya yang kini sudah menegak. "Sabar ya, Dek! Ini belum saatnya!" Ia mengusap pelan dede kecilnya.
baca juga cerita author "Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin" kisah dinasti yang gak kalah seru. genre romantis action.