Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Kejutan


__ADS_3

"Apa maksudnya ini, Ar??" tanya Bobby yang kaget saat melihat puluhan barang belanjaan diletakkan di ruang tengah rumah Alona.


"Apa lagi? Ini semua kejutan untuk calon keluargaku!"


"Sebanyak ini?"


"Memangnya kenapa?"


"Ya, gakpapa! Tapi ini terlihat berlebihan."


"Apa aku merugikanmu??"


"Tidak!"


"Kalau begitu, diamlah! Aku hanya ingin membuat calon keluarga baruku terkesan."


"Hmm, semoga mereka benar-benar terkesan."


"Lu meledek gue?!" Ketus.


"Siapa yang meledek? Gue kan cuma berdoa!"


"Diam!!"


Bobby langsung melipat lengannya di atas dada. Memalingkan wajahnya dari pria yang kini duduk di sampingnya. Kesal. "Huh, didoakan saja masih salah!"


Tap!


Tap!


"Hai! Maaf sudah membuat kalian menunggu lama! Kalian mau makan apa? Aku dan emak udah masak banyak!"


Arya terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Alona. 'Gadis ini plin plan sekali! Bukankah tadi sore dia yang minta aku mengajaknya makan malam di luar? Kenapa sekarang berubah haluan?'


"Alona! Bukannya sekarang kita mau makan malam di luar?"


"Makan malam di luar?"


"Iya, kan tadi sore lu yang minta?"


"Kapaan??"


"Ah! Udahlah! Pokoknya hari ini kita akan makan malam di luar bersama emak dan adik loe! Karena gue udah pesan meja khusus untuk lima orang!"


"Lima orang? Apa itu artinya termasuk gue juga??" Bobby menyela.


"Iya!" jawab Arya singkat.


'Wah, kebetulan banget! Tadi sore gue bilang sama Qea akan mengajak makan malam keluarganya di luar! Padahal cuma bohong. Gak disangka jadi beneran!' Bobby tersenyum sendiri. Sementara Arya dan Alona sibuk cekcok.


"Loh, kok mendadak gini?" Alona mendesis, kesal.


"Mendadak apanya? Kan lu yang minta, gimana sih! Gue udah siapkan semuanya. Juga belanja untuk kalian! Jadi gak ada kata penolakan!"


"Tapi, Bim ....!"

__ADS_1


"Gue Arya, bukan Bima! Bima mulu lu manggilnya!"


"Ah, serah lu lah!" sahut Alona. Kesal.


"Memangnya kamu belanja apa????" Suara yang berbicara terdengar dari arah belakang.


"Eh!!"


Sontak ketiga insan itu menoleh serempak. Nampak jelas wajah ibu Alona menatap nanar saat keluar dari dalam menuju ruang tamu yang di penuhi oleh tiga darah muda itu.


"Belanja baju, saya juga membelikan beberapa baju khusus untuk emak!" Senyumnya terlihat mengembang saat bicara. Menyerahkan beberapa tas belanjaan untuk ibu Alona.


"Beneran ini?? Untuk Emak??" Mata emak seketika bebinar. Terlihat jelas kalau ia menyukai hadiah.


"Yee, Emak! Giliran di kasih barang belanjaan aja langsung sumeringah!"


"Ah, kamu ini, gak suka lihat Emak senang apa??"


"Alona, lu gak seharusnya ngomong gitu sama Emak!" celetuk Arya menyela perbincangan mereka. Tak ada niat lain, hanya berusaha mengambil hati ibu Alona.


"Ya, terserah gue! Dia kan Mak gue!"


"Iye, Nak Alona ini memang hoby nyeletuk Emaknya. Tau tuh kapan kesambar geledeknya!"


"Ih, Emak, nyumpahnya kok ngeri banget!"


Ibu Alona sedikit menyunggingkan bibir saat Alona menjawab. Lalu rautnya berubah saat pandangan ia tujukan pada Arya. "Nak Arya ini ternyata ramah juga ya! Emak kira ...."


"Emak kira kenapa?" tanya Arya.


"Oh iya, saya juga membawakan beberapa kue, tapi saya gak tau selera Emak yang seperti apa. Jadi maaf, kalo Emak gak suka, nanti dibuang saja!"


"Gak perlu dibuang! Emak suka kok! Semua kue Emak suka, yaa ... Kecuali kue buatan Alona!"


"Ehh! Emak apaan sih! Alona malu tau!"


Seketika, gelahak tawa memenuhi ruang sederhana itu.


"Oh iya, bajunya dilihat dulu, Mak! Kalo gak suka, nanti akan saya suruh asisten untuk meminta yang baru!"


"Ah! Iya!" Tangan keriput ibu Alona mulai mengacak beberapa tas belanjaan yang sebelumnya diserahkan padanya. Beberapa pasang baju terlihat serasi untuk ia kenakan. "Waah! Nak Arya ini ternyata tau dengan jelas selera Emak, ya! Semuanya Emak suka! Terima kasih ya, Nak!"


"Ahh, syukurlah kalau Emak suka! Kapan-kapan saya akan ajak Emak berbelanja!"


"Benarkah?? Waah, anakku beruntung sekali dapat pria sebaik Nak Arya ini! Ah! Andai aja keberuntungan ini milik Emak!"


"Emak ini bicara apa? Ingat umur, Mak!" celetuk Alona.


"Yee! Anak ini, nyeletuk aja! Maksud Emak kan, andai Emak dapat pria sebaik Nak Arya sewaktu muda!"


"Nah, gitu! Diperjelas, Mak!"


"Tapi andai sekarang Mak bisa rebut! Sudah pasti Emak rebut Nak Arya ini dari kamu!" tawa Emak terdengar genit.


Kembali gelahak tawa menggema di setiap sudut ruang kecil itu.

__ADS_1


"Boleh deh, Mak! Kapan-kapan kencan sama saya!" gombal Arya. Wajah emak memerah. Malu. "Ah, Nak Arya bisa aja bikin Emak jadi malu!"


Perbincangan harmoni dalam rumah sederhana itu terasa begitu hangat. 'Semoga selamanya seperti ini!' Alona membatin.


"Oh iya, apa Emak gak bersiap? Malam ini saya sudah pesan meja khusus di hotel Tripadvisor untuk kita makan malam berlima!"


"Benarkah?? Ahh! Kalau gitu, Emak duluan ke kamar deh! Mak mau dandan yang cantiik!!"


"Ya, Mak! Aku setia menunggu ...."


"Aduuh! Alona, pacarmu itu bikin Emak meleleh aja!" Wanita tua itu segera berlalu menuju kamarnya. Hanya tinggal mereka bertiga di ruang itu.


"Alona! Mak lu lucu banget ya!" tawa kecil masih menyisa di bibir Arya.


"Kenapa? Lu naksir Emak??"


"Ehh!" Arya tersentak kaget dengan jawaban Alona. "Lu cemburu? Sama Emak?"


"Kagak!!!" Melipat tangan di dada. Tingkahnya berhasil membuat Arya tertawa geli.


'Ya, ampun! Gadisku manis banget kalo cemburu!' Bericara dalam hati. "Hahhaha! Gue gak nyangka, lu sama ibu sendiri bisa cemburu!"


"Apaan sih!" celetuknya. "Oh iya, baju buat gue mana??"


"Ada! Udah gue siapin yang spesial buat gadis gue!" Pria itu meraih beberapa kantung tas belanja, menyerahkannya pada Alona. "Buruan ganti, ya! Gue tunggu!"


"Buat gue??" tanya Bobby yang sedari tadi terabaikan.


"Loe?? Beli sendiri!"


"Fouh!!" Pria itu kemudian beranjak menuju teras rumah.


"Eh, Bob! Lu mau ke mana?"


"Ke mana lagi? Gue kan cuma pengawal. Nunggu di luar kayaknya lebih enak timbang di dalam berasa kayak benda mati gue!" Nadanya terdengar menahan kesal. Langsung pergi menuju teras depan.


Pria itu kemudian duduk di kursi teras. Baru saja ia menyandarkan bahu pada sandaran kursi. Mendadak ia terlonjak. Kaget mendapati seorang gadis yang dandanannya lebih mirip ondel-ondel.


"Astagaa!! Lu siapa??" Terkejut. Berdiri, membentuk posisi siaga untuk kabur, jika  seandainya gadis menyeramkan itu tiba-tiba menyerangnya.


Make up sang gadis nyaris membuat Bobby tak mengenalinya.


"Ih, biasa aja dong, Om! Kayak ngelihat hantu aja! Ini Qea, Om!"


"Qe-Qea? Lu kenapa? Kok muka lu ....?" Masih dengan tatapan tercengang.


"Kenapa? Qea cantik ya, Om??" Gadis itu sedikit memutar ke kiri dan kanan. Memperlihatkan dengan jelas tampilannya yang mirip ondel-ondel.


"Apa lu mau tampil di acara reog??"


"Ehh?? Maksudnya, Om??"


"Lu mirip orang kesurupan, tau!"


Mendengarnya, seketika wajah Qea yang sebelumnya bahagia langsung berubah murung. Bola matanya langsung berembun."Om jahat!" ucapannya sedikit bergetar. Gadis itu kemudian berlari ke dalam rumah.

__ADS_1


"Eh, Qea! Tunggu!" Gadis itu sudah tak mau mendengar. "Tuh anak kenapa sih??" gumamnya.


__ADS_2