
Udara dalam lift itu semakin panas saja. Sepertinya karena sudah semakin menipis. Dua anak buah yang bersama Arya juga sudah tampak lemas. Pun dengan Rendra yang juga terbatuk-batuk. Sedang suara serit semakin keras.
Arya mencoba menghubungi para pengawalnya, tapi sinyal di dalam lift benar-benar hilang total. Ia bahkan sudah puluhan kali menekan tombol darurat yang terpasang pada arlojinya. Tapi sepertinya, mengandalkan arloji pun tak berguna disaat terjebak seperti itu.
Arya mulai menerawang setiap inci ruang sempit itu. Nyaris tak ada celah, hingga ia mengarahkan lampu ponselnya ke langit-langit.
Netranya menyipit, memastikan bahwa yang ia lihat tidaklah salah. Ya, lift itu di design dengan bagian langit-langit yang dapat dibuka.
"Pegang ini!" perintah Arya. Menyerahkan ponselnya yang masih mengeluarkan cahaya sebagai penerang.
"Apa yang akan anda lakukan, Tuan?"
"Kau!" Menunjuk pada salah satu anak buahnya dan Rendra. "Kemari! Bantu aku membuka langit-langit ini!"
"Apa? Membuka langit-langit?" Rendra tampak tercengang mendengarnya.
"Kau mau selamat atau tidak?"
"I-ya, ba-baik, Tuan!" Gagap oleh rasa takut yang semakin mendera, membuat kedua insan itu mencoba mengikuti arahan Arya.
"Apa kau masih menyimpan kunci borgol?"
"Ya, Tuan!"
"Berikan padaku!"
Anak buah itu langsung menyerahkan benda yang diminta Arya setelah merabanya di dalam saku.
Meski tegang, mereka tetap setia menemani Arya yang berusaha membuka baut menggunakan sebuah kunci.
'Tak kusangka, ternyata kemahiran Tuan Arya benar-benar seperti dewa. Dia bahkan masih bisa terlihat tenang meski dalam keadaan mendesak seperti ini'
Suara serit dari gesekan benda tumpul dan rantai semakin terdengar penipis. Sepertinya rantai penahan lift sudah hampir putus. Gugup dan tegang semakin menghantui kedua anak buahnya dan Rendra. Tapi Arya masih terlihat tenang. Dengan cepat ia sudah berhasil membuka keseluruh baut yang terpasang di langit-langit.
"Bantu aku naik!" pinta Arya.
"Bagaimana dengan kami?"
"Kalian tunggu sebentar, aku harus melumpuhkan jal*ng yang berusaha mencelakai kita di atas sana!"
Ketiganya hanya mengangguk. Mereka kini bekerja sama, memberikan punggungnya agar lebih mudah bagi Arya untuk naik ke langit-langit.
"Aku akan langsung keluar dihitungan ketiga! Satu .. dua .. tiga ...."
Bam!!
__ADS_1
Sekejap saja, Arya langsung berhasil berpijak di atas lift. Membuat dua pria yang sedang santai memotong rantai itu terkejut. Spontan mereka menyerang Arya.
Kyaa!!
Gergaji besi yang mereka gunakan sebagai alat pemotong rantai seketika menjadi senjata untuk menyerang Arya. Perkelahian sengit pun berlangsung singkat tapi sempat membuat lift sedikit oleng. Hingga Rendra menjerit di dalam sana.
"Hei! Bisakah kau hentikan suara jeritanmu itu? Kau terdengar seperti bencong, tau!" hardik anak buah Arya yang kesal mendengar jeritan Rendra.
Kini pria sandera itu tak lagi bersuara menjerit. Karena kedua anak buah itu menyumpal mulutnya dengan kain yang di dapat dari potongan baju Rendra sendiri.
Hingga tiba-tiba suara serit yang seperti rantai terpotong tadi menghilang. Dan seketika saja lampu menyala.
Ting!
Tombol lift lantai dasar bahkan sudah menyala. Sesaat kemudian pintu lift terbuka. Dua orang pengawal dan Rendra langsung menghambur keluar.
"Di mana Tuan Arya?"
Drrttt!
Ponsel anak buah Arya itu bergetar satu kali. Ia meraihnya. Satu buah notifikasi langsung membulatkan sepasang matanya.
"Ada apa??"
"Ada pesan masuk!"
[Cepat ke mobil sekarang, jangan lepaskan tawanan pria itu, kuberi kalian waktu tiga puluh detik]
Tertulis nama 'Tuan Besar' dari pengirim pesan singkat itu.
"Ini perintah dari Tuan Arya! Ayo cepat!"
Bergegas mereka berlari menuju halaman yang terparkir mobil Tuan Arya. Puluhan pengawal bahkan sudah terlihat berkumpul menyambut mereka. Bahkan masing-masing pengawal itu sudah dilengkapi senjata.
"Di mana Tuan Arya?"
"Tuan Arya masih di atas sana!"
"Apa? Apa kau bercanda? Tapi Tuan Arya meminta kami memasang Bom waktu di gedung itu."
"Benarkah? Apa Tuan Arya sudah hilang akal?"
"Cukup! Berapa waktu yang tersisa sebelum meledak?"
"Sepuluh menit!"
__ADS_1
"Sial! Semoga Tuan Arya berhasil sebelum bom meledak!" Begitulah bunyi sepenggal percakapan para pengawal Arya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Tuan Arya masih belum keluar?" Mereka bertanya pada dua pengawal yang sebelumnya bersama Arya.
"Itu karena .. tadi kami sempat terjebak di dalam lift!"
"Apa?? Lalu ... mengapa kalian bisa keluar tapi tidak bersama dengan Tuan Arya?"
"I-itu karena Tuan Arya sendiri yang berusaha mengatasi masalah kemacetan di lift itu!"
"Dasar, Idio*! Mengapa kalian tidak membantunya?!"
"I-itu ka-karena ...."
Alat penghitung mundur bahkan sudah mulai memberi kode.
Tiga ....
Dua ....
Satu ....
BOOOM!!!!
Suara ledakan langsung membuncah, pemandangan gedung yang terbakar juga langsung memenuhi ruang penglihatan mereka.
"Astaga!"
"Bagaimana ini?"
"Bagaimana dengan Tuan Arya?"
Semua mata yang menyaksikan tampak melotot tak percaya. Bukan hanya karena gedung yang kini terbakar setelah ledakan. Melainkan karena Tuan mereka bahkan belum terlihat batang hidungnya.
"Ayo, kit harus segera pergi, sebelum tim kepolisian datang!"
"Tapi, bagaimana dengan Tuan Arya?"
"Jangan bodoh! Bukankah Tuan Arya sudah membuat putusan pada kita untuk segera pergi setelah bom meledak!"
"Benar! Kita hanya akan menjadi benalu bagi Tuan Arya jika sampai tertangkap oleh para polisi!"
"Yakin saja! Tuan Arya tak mungkin mati dengan mudah!"
"Ya, itu benar!"
__ADS_1
Mereka kemudian melaju, meninggalkan Arya yang keselamatannya masih dalam teka-teki.