Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
kemesraan


__ADS_3

Alona kembali ke ruang rawat inapnya. Segera dokter Jhony memeriksa kondisi psikis si gadis. Beruntung, hasilnya menunjukkan bahwa Alona hanya mengalami depresi ringan.


Untung saja Arya cepat, jika bukan karena ungkapan cinta darinya yang berhasil menyemangati Alona, mungkin saja gadis itu sudah mehgalami depresi akut yang dapat mengancam kesehatan jiwanya.


Alona akhirnya pulang setelah dinyatakan pulih dari segi psikis dan fisiknya. Diantar Arya menggunakan mobil pribadinya.


Tiba di halaman parkir, Arya langsung mempersilahkan Alona masuk ke dalam mobil mewahnya. Pintunya bahkan dapat terbuka hanya dengan menekan keylock pada kunci mobil.


'Bukannya ini mobil mewah yang ngantar gue pulang dari villa, ya?' Alona menerka-nerka, mengingat hal yang pernah terjadi padanya beberapa hari lalu. 'Tapi kenapa sekarang Bima bisa ngebawa dengan bebas? Apa mungkin Bima orang kaya yang nyamar jadi orang miskin? Ahhh! Gak mungkin, dia pasti cuma pinjam sama Bobby!' Berusaha ditepisnya rasa penasaran dalam benaknya.


'Tapi kalo memang iya, bukankah itu artinya gue jadi calon cinderella?' Gadis itu terkekeh sendiri.


"Alona! Lu kenapa senyum-senyum sendiri?" Pertanyaan Arya nyaris membuyarkan lamunan Alona saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Ah, siapa yang senyum-senyum!" kilahnya. Malu. Gadis itu menyembunyikan wajahnya ke pojokan.


"Itu barusan! Gue lihat kok!"


"Lihat apa? Lu salah lihat kali!"


Arya tertawa kecil. "Gak mau ngaku lagi!" ledeknya yang mulai fokus menyetir mobil. "Oh iya! Karena gue udah nyatain perasaan! Gue mau nanya, apa loe juga punya rasa yang sama ke gue?"


Pertanyaan itu nyaris membuat Alona gugup. 'Buseeet, to the point amat!' batinnya bergumam. "Gue ...." ucapan itu terputus.


"Yaa?" Lirih.


Alona memejamkan bola matanya. Tak tahu harus memulai dari mana kata-kata yang pantas terucap sebagai tanda bahwa dia juga suka.


"Kenapa? Kok diam? Kalo bingung, biar gue kasih bantuan, gimana?!"


"Bantuan??"


"Ho-oh! Lu cium pipi gue kalo jawabannya, iya. Sebaliknya, lu boleh tabok kalo jawabannya, enggak."


'Apa? Kenapa pilihannya sekejam itu sih?' Kembali ia tersulut emosi. "Ahhh pilihan apaan tuh? Gue gak pilih keduanya!" Dilipatnya lengan di atas dada. Membuang jauh pandangan keluar jendela.

__ADS_1


Arya bedesis. "Tinggal cium aja, repot amat sih! Atau jangan-jangan lu mau yang lebih spesifik ya? Kalau iya, cium di bibir juga boleh kok!" tukasnya dengan tawa meledek.


'Sialan! Dia pikir gue cewek apaan, nyuruh gue nyosor pipinya aja ogah, apalagi bibirnya!' Alona semakin geram. "Ogah! Gue bukan cewek gampangan. Cium pipi loe aja gak mau, apalagi bibir!" Ketus.


"Ya udah, gak mau juga gakpapa! Lagian, kita udah pernah ciuman kok!" Masih tertawa meledek.


Spontan lirikan tajam menjurus ke wajah Arya. "Jangan ngomong sembarangan ya! Emangnya lu punya bukti??" hardiknya.


"Emang bener kok! Lu lupa ya, gue yang udah kasih loe napas buatan sewaktu lu jatuh di danau."


Deg!


'Jadi beneran Bima yang nolongin gue waktu itu! Gue pikir bayangan itu cuma mimpi!' Pikiran Alona melayang, mengingat kejadian yang sebenarnya membuatnya berkhayal tak karuan, semakin lama semakin tak terkendali. "Brrr!" Segera ia menggeleng untuk menepisnya.


"Kenapa? Mau diulang?" tanya Arya.


Deg!


Netra Alona melotot ke depan jalan. 'Ulang? Sialan, kenapa gue jadi deg-degan sih? Kenapa gue pengen jawab iya! Agghhh! Sadar Alona, Sadar! Jangan gila, Alona!' Menggigit bibir bawahnya.


Wajah Alona merah. Antara malu dan marah. "Ahhhh! Dasar otak mesum! Bisa diam gak sih loe?" Spontan lengan Alona menghambur di wajah Arya. Pria itu hanya tertawa sambil terus menghindar.


"Oke! Oke! Gue nyerah! Gak mau jawab sekarang juga gakpapa kok, toh gue juga udah tau jawabannya." tukasnya.


"Jangan kepedean ya, kalo lu terus-terusan ngegoda gue, gue tabokin terus loe!"


"Iya, gue gak kepedean, jawabannya pasti tabok 'kan?!" Terkekeh.


Gadis itu pura-pura merajuk. Kembali dilipatnya lengan di atas dada. Dan membuang pandangan keluar mobil.


'Ya, Tuhan! Tolong stabilkan jantungku!' rengeknya dalam hati.


Untuk sesaat mereka hening. "Oh iya, mobil ini .. lu pinjam atau gimana?"


Tatapan kaget mendadak menyerbu pandangan Alona. "Iya, gue pinjam! Kenapa?" tanya Arya.

__ADS_1


'Yah, ternyata cuma khayalan gue! Hari gini, mana ada beneran orang kaya nyamar jadi orang miskin!' batinnya berceloteh. 'Tapi walaupun dia bukan orang kaya, dia tetap cool di mata gue! Ahhh! Memperhatikan wajahnya aja udah bikin jantung gue meleleh! Sial!'


"Kok gak dijawab?"


"Ahh! Jawab apaan?" Alona tersentak kaget mendengar pertanyaan Arya, setelah memandang lama wajah sang pujaan.


"Tadi kan gue ngiyain kalo mobil ini cuma pinjam! Kenapa? Kok lu nanya?"


"Oh itu, gakpapa!"


"Apa lu sukanya cuma sama pria yang terlihat kaya?"


"Ya, gak gitu juga! Gue mah orangnya santai, gak peduli mau statusnya gelandangan sekalipun, asal dia tulus, gue pasti suka!"


"Serius?


"Hmm!" Alona mengangguk.


"Jadi, lu nganggap gue pria gelandangan?"


"Eh .. ya, gak gitu juga!"


"Jadi gue ini, apa?"


"Loe .. ya sudah pasti pangeran gue! Pria ter-handsome gue, pokoknya perfect gitu deh!" ungkapnya santai. Tak sadar.


"Upsss!" Seketika Alona menutup mulutnya dengan satu tangan. Matanya membelalak menatap ke depan. 'Astaga! Gue keceplosan!' 


Arya berhasil membuat gadis itu terpancing oleh pengalihan topik yang lebih menjurus agar ia keceplosan dan mengatakan isi hatinya.


"Ohh! Jadi begitu!" jawabnya yang kini mulai mengembangkan senyuman.


'Sialan! Kayaknya Bima sengaja mancing supaya gue ngaku. Dasar Alona bodoh! Ahhh!' Sepanjang jalan batin si gadis menggerutu. Sedang tangannya memukul pelan batok kepalanya yang tak berdosa.


*****

__ADS_1


__ADS_2