Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Perayaan festival rakyat tahunan.


__ADS_3

Arya dan Alona sudah tiba di perayaan festival tahunan. Segera Alona turun dari mobil dan langsung berlari ke tengah kerumunan warga. Ikut menyaksikan beberapa pameran atraksi yang di selenggarakan pihak panitia. Begitu antusiasnya hingga tak memedulikan Bima yang tertinggal jauh di belakang.


Arya akhirnya menyusul. Netranya fokus memperhatikan si gadis yang terlihat mencolok diantara kerumunan. Sehingga tak sulit untuk membedakannya dengan yang lain.


"Alona, jangan terlalu jauh berbaurnya!" teriaknya.


"Siap, Capten!" Alona mengacungkan jempol tanpa menoleh.


"Ck! Dasar Bocil!" gerutunya diiringi tawa tipis.


Semakin lama kerumunan itu semakin padat, hingga gadis itu nyaris terhimpit di sela warga. "Aduuh! Aduuh! Minggir, dong!" keluhnya. Namun, tak ada yang mendengar.


Braaak!


"Ahhh!" Tubuh besar berhasil menggepak Alona, hingga membuatnya terjatuh. Mendongak, sosok yang tadi menabrak sudah tak lagi terlihat. Buru-buru Alona bangkit agar tak sampai terinjak. Namun ternyata, ribuan manusia yang seketika memadati area itu membuat Alona tak lagi mampu berdiri. Bahkan lengannya mulai terinjak.


"Ahhh! Sakiit!" Gadis itu menjerit.


Tak ada satu pun yang mendengar Alona meringis. Karena begitu ramainya antusias warga. Sehingga tak satu pun yang membantunya bangkit.


"Alonaa! Lu di mana??"


'Kayaknya itu Bima!' Ia membatin. "Bimaaa!" Gadis itu berusaha berteriak sekerasnya agar Bima mendengarnya dan berharap dapat menemukannya.


"Lu di mana?"


"Di sini, Bim!" Sorot mata Bima kini tertuju pada Alona. Pria itu berhasil menemukannya.


"Alona!"


Gadis itu menoleh. DanĀ  menangkap sosok Bima dalam bola matanya. Kembali Alona meringis, tanda bahwa ia mengadu dengan derita yang ia alami. Buru-buru Bima berlari ke arahnya dan langsung memeluk tubuh Alona.


"Bima, awaaas!"


Buug!


Satu kaki langsung menghantam punggung Bima yang langsung meringkuk untuk melindungi Alona. Kerumunan itu kini semakin padat.


Buug! Buug!


Bahkan kini puluhan kali punggung Arya harus merasakan perihnya terhantam oleh langkah-langkah warga yang berjalan tanpa melihat ke bawah. "Bimaaa!" Alona tak kuasa melihat Bima yang kini harus menahan sakit karena terus melindunginya.


Hal yang mengenaskan itu berlangsung hingga setengah jam lamanya, setelahnya baru lah mereka bisa bangkit dari kerumunan warga yang sudah mulai melonggar.

__ADS_1


Berdiri. Pria itu masih memegang pundak Alona, sambil menatapnya nanar. Khawatir. "Lu gakpapa?" tanyanya.


Alona semakin tak kuasa melihat sikap Bima yang tak mengkhawatirkan diri sendiri tapi justru mengkhawatirkannya. "Lu jangan tanya gue, mendingan kita ke klinik sekarang!" Segera Alona menarik lengan Bima, membawanya pergi dari kerumunan.


"Alona, Gue gakpapa!"


"Gakpapa gimana? Punggung loe tadi kehantam berkali-kali, lu harus diperiksa!"


"Gakpapa Alona, yang penting bisa ngelindungi elo, gue baik-baik aja kok!"


"Apa? Lu gombal atau apaan? Udah ah, jangan banyak omong, ikut gue ke mobil sekarang!" Bergegas Alona menarik lengan Bima menuju parkiran mobil.


"Eh! Lu mau ngapain?"


"Udah ikut aja! Jangan banyak tanya!"


Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya tiba di area parkir mobil. "Buka pintunya!" pinta Alona.


"Ck, hisshh!" Berdecak. Tapi Arya tetap membuka.


Segera Alona masuk, meraih ranselnya yang tergeletak di atas sofa. Merogoh sesuatu yang ada di dalamnya. "Dapat!" gumamnya.


Satu buah minyak urut yang baunya seperti aroma ahli pijat sudah merekat di lengan Alona. "Ayo, duduk!"


"Udah duduk aja!" Gadis itu menarik paksa lengan Bima, memaksanya duduk di sofa. "Buka baju loe! Gue mau periksa punggung loe!"


"Eh, gue mau di apain?"


"Cuma mau mijat!"


"Pake minyak itu?"


"Iya!"


"Bau gitu! Gak mau!"


"Ahhhh! Udah, jangan banyak bawel! Cepat buka baju loe!" Seakan sudah menjadi titah, Arya tak dapat berbuat banyak selain menuruti perintah Alona.


'Kalau bukan karena sayang, gue sih ogah banget di gosok pakai minyak bau itu!' keluhnya dalam hati, sambil tetap mengangkat kaos oblongnya hingga terlihat setengah dada bidangnya.


Alona menatap nanar pada punggung Bima. Wajar saja, sebab punggung itu dipenuhi warna merah lebam akibat memar. Spontan ia menutup mulut dengan satu tangan.


"Lu mau ngobatin gue, apa mau melototin punggung gue!" Arya berdecak.

__ADS_1


"Iye, sabar napa! Gue obatin kok!"


Pelan Alona mengoleskan minyak ke punggung Bima.


"Alona, lu kok bisa bawa minyak urut begitu sih?"


"Bisa lah! Ini tuh minyak turun temurun dari keluarga gue. Maklum, gue ini orang miskin. Kalo sakit, gue gak bisa selalu mengandalkan pergi klinik!"


"Kenapa?"


"Ya, karena gue kere!"


"Oh!" sahutnya singkat. 'Astaga! Gue gak tau kalo selama ini Alona sekere itu. Apa sekarang sekarang saat yang tepat buat kembalikan dompetnya ya?'


"Udah selesai!"


Segera Bima menurunkan kaosnya. Lalu berbalik badan ke hadapan Alona. Gadis itu masih terlihat sibuk, meletakkan kembali minyak ke dalam tas.


"Alona!"


"Hmm!" sahutnya tanpa menatap.


"Gue mau balikin sesuatu milik loe!"


"Apaan?" tanyanya yang kini mulai menatap nanar. Arya menyodorkan dompet hitam ke hadapan Alona.


"Dompet gue? Kok bisa di elo? Pantes selama ini gue cari-cari gak nemu!"


"Iya, sebenarnya dari pertama ketemu di dermaga, seorang bapak nemuin dompet loe, dan dia mengira barang itu milik gue. Jadi dia beri ke gue!"


"Terus, kenapa selama ini loe gak balikin??" Mulai kesal. Menghardik keras.


"Kita kemarin kan belum akur! Gue .. cuma gak tau aja gimana cara balikin ke elo. Takut loe jadi salah paham!"


"Hmm!" Alona memainkan jemarinya di bawah dagu. 'Kayaknya Bima bicara jujur! Ya sudahlah, yang penting dompet gue udah balik!' gumamnya dalam hati. "Oh iya, Bim!"


"Hmm!" Pria itu menyahut pelan tanpa menoleh.


"Soal hutang itu ...."


"Alona, gue laper, kita makan dulu, yuk!" Arya berusaha menglihkan pembicaraan, tak ingin membahas perihal hutang itu.


"Oh, iya, ayo!" Alona tersenyum kecut.

__ADS_1


__ADS_2