
Bergegas Arya menuju mobilnya yang setia terparkir di halaman rumah Alona. Membunyikan alarm sesaat sebelum langkahnya benar-benar sampai. Baru saja ia masuk dan menyalakan mobil, kini ia kembali tertahan saat tiba-tiba Alona menghampirinya, berlari dari ambang pintu menuju mobil Arya. Dan hanya butuh waktu tiga puluh detik, raga sang gadis sudah berhasil meraih pintu mobil Arya. Ia menahannya.
"Arya, kamu mau ke mana? Ini kan sudah larut malam!" Wajahnya terlihat cemas.
Pria itu tersenyum sebelum akhirnya menjawab. "Alona sayaaang! Saat ini aku ada urusan penting yang gak bisa dilewatkan!"
"Memangnya sepenting apa urusan itu? Apa gak bisa ditunda sampai besok pagi?? Ini kan sudah terlalu larut! Gimana kalo ada orang jahat yang nyakitin kamu?! Aku gak mau! Pokoknya jangan pergi!"
Arya tertawa bahagia mendengarnya. Karena tahu jika kini kekasihnya sudah mulai mencemaskan dirinya. "Sayaang! Makasih udah cemaskan aku!" Ia membelai lembut wajah Alona. Mendekatkan wajahnya lalu mengecup lembut kening Alona. Membuat rona merah memenuhi wajah mungil sang gadis. Lalu kembali Arya bicara, sedang tangannya masih terpaut di pipi mungil Alona.
"Kamu gak perlu risau! Hal seperti ini sudah biasa aku lakukan! Kamu juga jangan lupa, aku ini seorang pemimpin besar! Mana mungkin aku kalah kalau hanya bertemu dengan penjahat kecil!" Ia mencubit hidung bangir Alona.
Walau gadis itu suka dengan perlakuan lembut Arya, tapi tetap tak menutupi wajahnya yang semakin cemas saja. "Iya, tapi biar gimana pun! Aku tetap takut kalau kamu kenapa-kenapa!" Ungkapannya membuat Arya semakin mengembangkan senyuman. "Kalo gitu aku ikut!"
"Eh!!" Seketika senyuman Arya menghilang. "Mana boleh, Sayaaang! Kamu tunggu di rumah aja, ya!"
"Tapi, Ar!"
"Gak ada tapi-tapi! Tunggu di rumah!"
"Ahhhh!!! Aku mau ikuuut!" Merengek. Memasang wajah melas. Bola matanya semakin terlihat imut saja. Tapi hal itu tetap tak menggoyahkan prinsip Arya. Sekali tidak tetap tidak.
"Sayang! Jangan manja! Nurut aja! Oke?!Kamu harus tetap tinggal di rumah! Aku gak sedang diskusi dengan kamu, jadi jangan memaksa, ini perintah! Oke?!"
Alona terdiam dengan bibir yang ia monyongkan. "Ya udah! Kalo mau pergi, pergi aja! Gak ada juga yang mau ngelarang! Kalo kamu tiba-tiba kenapa-kenapa, jangan hubungi aku! Huh!" Kesal. Gadis itu langsung berpaling, berlari kecil menuju rumah. Tapi Arya tahu pasti, kalau gadis itu tak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Cih! Dasar gadis itu! Padahal jelas-jelas dia juga sayang, tapi dia selalu aja menutup-nutupi!" Dipandanginya punggung Alona yang terus berlari, hingga benar-benar memasuki rumah. Terlihat dari pintu yang kini kembali tertutup rapat.
Saat itu juga Arya kembali meyalakan mobilnya. Dan langsung melaju di atas jalur dengan kecepatan di atas 80 perkilo meter, dengan tujuan ke balai gedung TB grup. Di telinganya sudah terpasang headset bluetooth, ia menelpon para pengawal untuk segera menyusulnya ke balai gedung TB grup. Tak luput mengaktifkan GPS dalam ponselnya agar mereka tahu dengan detail lokasi Arya. Untuk berjaga-jaga, jika kemungkinan terjadi sesuatu.
Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit, mobil mewah itu berhasil memarkir di halaman balai gedung TB grup. Ia keluar dari mobil dan langsung menuju pintu entrens tanpa diikuti seorang pengawal pun. Ya, para pengawalnya hanya bersembunyi di gedung sebelah. Mengamati Arya dari sana. Mereka siap dengan senjata dan peluru untuk diluncurkan kalau saja hal itu diperlukan.
Brillian yang sudah menunggunya sedari tadi itu mulai memperhatikan Arya dari lantai lima. Menggunakan alat cctv, ia mengamati gelagat Arya dari layar monitor, takut kalau saja pria itu membawa benda atau senjata yang kiranya dapat membahayakan nyawa.
Sesampainya di dalam ruangan, Arya tak melihat adanya karyawan ataupun penjaga. Sepi. Karena memang malam sudah begitu larut. Hanya satu orang asisten wanita yang kini menghampirinya. "Apa anda Tuan Arya??"
"Ya!" jawab Arya singkat.
"Saya Nindy! Asisten Tuan Brillian! Mari ikut saya, anda sudah ditunggu Tuan Brillian di ruangannya."
Tak mengangguk atau pun menjawab, Arya mengikuti arahan asisten wanita itu. Mereka bergerak menuju lift. Asisten Nindy terlihat menekan tombol lantai lima. Setelahnya kembali berdiri di samping Arya. GPS Arya masij terus aktif, yang artinya para pengawalnya masih dapat memantaunya.
'Ya, ampun. Meski berwajah tampan, pria ini tak kalah dinginnya dengan tuan Brillian.' Wanita itu membatin.
Ting!!
Lift terbuka. Keduanya keluar dan langsung menuju ruang kantor pribadi Brillian.
Tok!
Tok!
Tok!
"Permisi."
"Siapa??" sahutan dari dalam.
"Ini saya, Tuan. Tuan Arya sekarang sudah berada di depan ruangan anda!"
"Oh! Kalau begitu, katakan padanya untuk langsung masuk!"
"Baik!"
Kriieett!
Arya membuka pintu. Dan langsung disambut oleh sosok Brillian yang terlihat duduk di kursi kepresidenannya.
"Arya! Selamat datang di Gedungku!" Ia merentangkan tangannya. "Silahkan duduk!" Arya berjalan dan langsung duduk di kursi tepat di depan meja Brillian. "Bagaimana menurutmu? Apa gedungku cukup mewah bagimu?"
"Cukup basa basinya! Aku tak punya banyak waktu! Langsung keintinya saja!"
"Cih! Orang kaya memang paling suka bersikap sombong, ya?!" Ia meletakkan kaki kanan berpangku di atas kaki kiri. Sedang kedua telapak tangannya langsung berpaut di atas pangkuan.
"Katakan bagian intinya saja!" Nada Arya terdengar dingin dengan pandangan tajam nyaris tak berkedip.
"Hmm, apa kau tak ingin minum dulu?!"
"Tidak!"
"Sayang sekali, padahal aku sudah menyiapkan anggur terbaik dari eropa!"
Arya bediri, menggeser kursinya, dan langsung beranjak meninggalkan ruangan Brillian. "Apa kau serius tak ingin mengetahui perihal perselingkuhan gadismu??"
Deg!!
Arya menoleh dengan tatapan tajam. "Jangan pernah berkata buruk mengenai kekasihku!!"
__ADS_1
"Baiklah! Kalau begitu, kurasa kau harus melihat ini!"
Arya mengernyit.
"Alvero!! Bawakan pria itu ke sini!" Brillian berseru pada salah seorang pengawalnya yang setia berdiri di sisi kiri dan kanan ruangannya. Seketika Arya terkejut. Sesaat ia mengira hanya ada mereka berdua dalam ruang itu. Ternyata Brillian bersama dengan para pengawalnya.
"Baik, Tuan!" Pria itu langsung keluar.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Arya masih memasang wajah geramnya.
"Kau tunggu saja!" Nada bicara Brillian masih sama datarnya.
Braak!
Masuk seorang pria yang didorong paksa dan langsung tersungkur di atas mata kaki Arya. Pengawal tadi kembali bersama pria yang tak lain adalah Rendra. Tangan Rendra diikat. Dan kini tersungkur di lantai.
"Heii! Apa yang kamu lakukan?!! Aku ini calon orang kaya, tahu!!" Ia menghardik Alvero.
Arya menatapnya tanpa ekspresi. "Aku tak mengenal pria ini! Sepertinya kau hanya membuang-buang waktuku!" Kembali Arya memutar langkahnya untuk pergi.
"Tunggu! Apa kau tak ingin melihat yang satu ini??"
Arya menoleh. Kini terpampang jelas foto mesra seorang pria dengan satu wanita yang tak lain adalah Alona di layar kaca dimana Brillian biasa melakukan presentasi dengan rekan kerjanya.
Mata Arya melotot tak percaya dengan apa yang ia saksikan.
"Brengs*k!! Apa yang kamu lakukan terhadap wanitaku!" Geram, Arya berlari dan langsung mencengkram kerah baju Brillian. Tapi kesepuluh pengawal Brillian langsung mengarahkan pistol, membidik Arya.
Degg!!
Arya tersadar. Saat itu juga senyuman Brillian langsung mengembang. Dilepasnya cengkraman Arya yang mulai melemah pada kerahnya.
Arya terlihat menghela napas berat. "Oke! Sekarang cepat katakan apa tujuanmu??" tukas Arya.
"Hmm! Kusara sekarang kau mulai paham cara berbisnis! Kalau begitu, duduklah dulu!"
Meski sangat geram. Tapi Arya berusaha tenang dan kembali duduk.
"Seperti yang kau tahu, aku juga salah satu pria yang menginginkan pulau sittar. Kali ini aku ingin bertukar pendapat denganmu! Menurutmu, mana yang lebih penting, gadismu atau pulau sittar?! Kau tidak harus menjawab sekarang! Aku beri kau waktu sepuluh menit untuk menjawab!"
'Sialan!! Aku tak menyangka si brengs*k ini akan berbuat hal gila terhadap Alona!' Arya menggerutu kesal.
"Pulau sittar katamu?? Aku bahkan belum tahu di mana tepatnya Jordan menyimpan dokumen itu! Anak buahmu itu masih setia membungkam! Bagaimana aku bisa bertukar denganmu?" Berdusta.
"Hahhaha! Apa kau bodoh?! Aku juga tau kalau anak buahku itu setia padaku, dia tidak akan membuka mulut untuk seorang pria sombong sepertimu! Jadi bagaimana? Siapa yang kau pilih?"
"Hmm, soal itu .. sebenarnya, itu bukan perbuatanku! Aku juga tak tahu banyak soal perselingkuhan kekasihmu!"
Braak!! Arya menggebrak meja.
"Berhenti menjelekkan kekasihku! Alona bukan tipe wanita seperti itu. Kalau kau seperti ini, aku tak akan menyerahkan Jordan padamu sampai kau menjelaskan semua ini padaku!"
"Hmm, begitu ya? Kalau begitu kau bisa tanyakan langsung pada pria selingkuhannya itu!" Menunjuk ke arah Rendra.
"Ehh!!" Rendra terkejut dengan mata melotot. 'Siapa sebenarnya kekasih Alona ini? Mengapa dia bisa berdebat dengan Presdir Brillian??'
"Aku bertanya padamu! Bukan meminta penjelasan darinya!" Nada Arya masih sama dinginnya.
"Hmm, baiklah! Sepertinya kau ingin mempersulitku!" ucap Brillian. "Alvero! Bawakan pria itu kehadapan Arya!"
Suara perlawan Rendra terdengar jelas menggema dalam ruangan Brillian. Saat Alvero sang pengawal itu kembali menyeretnya ke hadapan Arya.
"Ahh! Lepaskan aku! Kau tak tahu ya, aku ini calon milliarder! Awas saja nanti, kamu bakal mendapat hukuman dariku karena sudah berbuat kasar padaku!" Rendra sedikit mengancam.
Arya menatapnya. Menunggu penjelasan dari Rendra.
"Rendra, apa kau tahu siapa pria yang berada di hadapanmu itu??" Brillian menunjuk ke arah Arya.
Rendra menatap Brillian dengan tatapan sendu. "Tidaak! Tapi tolong Tuan lepaskan dulu tali pengikat di tanganku. Pengawal itu tadi yang mengikatku!"
"Hahaha! Maaf, mereka memang suka berbuat kasar begitu, mereka takut kau akan kabur!"
"Kenapa aku harus kabur, bukankah kau menjanjikanku sebuah rumah dan fasilitas mewah, bagaimana dengan mobilnya juga! Kau bilang akan memberikan padaku, bukan?? Jadi mana mungkin aku kabur!"
"Diam kau! Jangan banyak mulut!" hardik Sang pengawal pada Rendra.
"Kau yang diam!!" sahut Rendra.
"Kapan aku berkata begitu??" Brillian tertawa tipis.
Deg!! 'Apaa??' Rendra terkejut mendengar penuturan dari Brillian."Kauuu!!" Wajah Rendra tampak geram. "Jadi kau menipuku?!"
"Cih! Kau ini terlalu banyak bicara! Cepatlah jelaskan pada Tuan Arya di hadapanmu itu! Apa yang kau lakukan pada kekasihnya??"
'Apa?? Arya?? Apa mungkin pria ini Arya Pohan, CEO dari perusahaan GCK grup?? Sial! Aku sudah melakukan langkah yang salah!'
"Apa yang kau lakukan pada Alona??" Nada dan tatapan Arya menghujam tajam ke arah Rendra.
__ADS_1
"Sa-sa-saya ... hanya disuruh! Saya juga tidak menyentuhnya sama sekali, kok." Wajahnya terlihat ketakutan. Dengan senyum yang ia paksakan. "To-tolong jangan apa-apakan saya!"
"Siapa yang menyuruhmu??"
"Jesica! Jesica yang menyuhku!"
"Apa kau memiliki foto dan identitasnya?!"
"A-ada, di dalam ponsel saya! Ponselnya dalam kantung baju saya!"
Segera Alvero mengambil ponselnya dan meletakkan ke tangan Rendra. Meski dengan tangan terikat, Rendra masih bisa membukanya dan menunjukkan foto Jesica. Sontak Arya terbelalak melihatnya. Bagaimana tidak, ia tidak menduga kalau ternyata Jesica yang di maksud adalah sahabat Alona sendiri.
"Bagaimana kau bisa membuktikan kebenaran dari hal ini??"
"A-aku, masih menyimpan balasan chating dari Jesica."
"Baiklah, berikan ponselmu!"
Rendra menyodorkan ponselnya ke hadapan Arya. Pria itu langsung mengeceknya. Dan benar saja, bukti chating mereka masih ada. Arya langsung menyimpan ponselnya. Ia kemudian mengarahkan pandangannya ke hadapan Brillian. "Jika hal ini tak ada hubungannya denganmu, bagaimana kau bisa tahu?"
Brillian tertawa getir. "Kau cukup mahir juga! Sebenarnya, aku tak sengaja menemukan hal yang menguntungkanku ini, kurasa Tuhan memang ingin menunjukkannya padaku!"
Braak!
"Jangan bertele-tele! Katakan cepat! Hal apalagi yang mungkin belum aku ketahui?!"
"Huh!! Daritadi kau selalu menuntutku! Katakan dulu, apa kau sudah memutuskan untuk menyetujui perjanjiannya? Jika iya, barulah nanti aku beritahukan semua padamu!"
"Yaa! Aku setuju!!"
"Hahhahaha!" tawa Brillian menggelegar, memenuhi ruang kantor pribadinya itu. "Tak kusangka, kau akan menyerah dengan mudah! Fouhh! Ternyata cintamu telah mengalahkan ambisimu! Aku tak tahu, apa kini kau masih pantas di sebut serigala?"
"Terserah kau mau bilang apa!!" Tatapan Arya masih lurus tak berkedip. "Cepat katakan!"
"Jadi bagaimana keputusannya. Kapan kau akan menyerahkan Jordan padaku?"
"Besok! Akan kuantarkan dia ke balaimu ini."
"Keputusan yang bagus! Tapi jangan mencoba-coba untuk menipuku! Kalau kau menipu, kau tahu sendiri akibatnya bukan? Foto gadismu akan terpampang di grup sosialita kaum bangsawan. Tidak hanya itu, aku juga akan meyebarkannya lewat forum khusus rekan GCK grup. Aku yakin kekasihmu tak akan sanggup menanggungnya!" Tertawa licik.
"Oke! Aku terima sanksinya! Tapi aku tak akan menyerahkan Jordan tanpa keuntungan yang sama!"
"Maksudmu??"
"Aku ingin kau memberitahuku alasan kenapa kau bisa mendapatkan hal ini! Juga pria ini!" Menunjuk ke arah Rendra. "Aku mau dia ikut bersamaku menjadi tahananku!"
Deg!!
Bola mata Rendra membulat. Berat ia menelan saliva. Memutar cepat pandangan ke arah Brillian. Berharap pria itu berkata tidak pada permintaan terakhir Arya.
Tawa Brillian terdengar tipis. "Kau ingin tikus kecil itu? Ambillah!"
"Apaaa???" Rendra terkejut bukan kepalang. "Tuan, bagaimana bisa kau berkhianat padaku? Kau bilang akan memberiku hadiah rumah dan mobil mewah. Kenapa sekarang kau mengirimku pada pria ini???!"
"Heh, tikus sampah! Kenapa kau berpikir aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku?? Memangnya apa untungnya aku dengan memeliharamu?? Dasar bodoh!" hinanya. "Kau bisa membawanya. Dia tidak ada gunanya bagiku. Hidup dan matinya, aku tak pernah peduli!" Kini Brillian balik berbicara pada Arya.
Rendra teramat geram mendengar penuturan Brillian. Baru saja satu jam yang lalu Brillian berkata manis padanya. Menjanjikannya segudang aset untuk diberikan secara cuma-cuma, tapi kini ia sudah mengkhianatinya. Ia tak menyangka kalau kini ia tertipu. Dengan wajah lesu, Rendra digiring oleh pasukan Brillian kembali ke ruang sebelah.
"Kau bisa mendapatkannya besok setelah kau mengantar Jordan ke balaiku!"
"Baik! Tapi kau masih belum menjelaskan alasan kenapa kau bisa mengetahui hal ini?"
"Huh! Jadi rasa penasaranmu belum kelar juga? Baiklah!" Ia memutar laptopnya menghadap Arya. "Ini! Kau bisa lihat sendiri! Aku tak sengaja menemukan video ini di gudang lamaku!"
Arya mulai menyaksikan video cctv itu dengan seksama. Seketika jantungnya berdetak cepat. Emosinya membuncah mengetahui kalau ternyata kekasihnya sempat mendapatkan perlakuan keji dari temannya.
"Jadi, apa kau masih berpikir aku pelakunya??"
Arya tak lagi menjawab pertanyaannya. "Aku ingin kau menghapus video itu dan semua salinannya sekarang juga! Dan jangan coba-coba untuk menyalinnya kembali! Jika kau tidak melakukannya, maka aku akan membatalkan perjanjiannya."
"Huh! Kau ini, sekali licik tetap licik!"
"Aku hanya tak ingin kelak ada masalah yang datang dalam kehidupan kekasihku! Jika saja hal itu terjadi, akan kuanggap kau pelakunya. Jadi jangan coba lagi untuk bermain denganku!"
"Huh! Baiklah! Aku akan menghapus semua dokumen ini. Tapi hanya jika kau sudah mengantarkan Jordan!"
"Kalau begitu, perjanjiannya kita batalkan!" Arya berdiri dan segera beranjak pergi.
"Tuan Arya, tunggu!! Baiklah! Aku akan menghapusnya sekarang!" Arya kembali duduk. Mengawasi Brillian yang kini mulai sibuk menghubungkan teleponnya dengan sekretsris Nindy. Meminta asisten cantik itu untuk menyelesaikan pekerjaannya menghapus seluruh data yang menyimpan video pembullyan dalam gudang itu.
Hingga beberapa menit lamanya. Setelah memastikan sudah tak ada video lagi yang tersimpan dalam server Brillian, barulah Arya memutuskan untuk beranjak dari balai gedung TB grup.
"Akhirnya! Tak kusangka, kini kau
menyerah juga, Arya!" Brillian tertawa puas setelah memastikan Arya sudah kembali masuk ke dalam mobil. Ia memandangnya dari lantai lima di dalam gedung kantornya.
Kalau suka, mohon beri komentar ya! terutama bagi kalian yang jarang berkomentar! ayo dong semangatin author! 😔
__ADS_1