Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Terjebak di Maindland Palace


__ADS_3

Kediaman Maindland Palace.


Sudah lima belas menit Bobby mondar-mandir di depan kamar Persdir Arya. Menautkan jemarinya di bawah dagu dengan raut gelisah, hingga keluar seorang dokter dari dalam ruangan dan langsung disergah oleh Bobby.


"Bagaimana keadaan mereka, Dok?"


Dokter itu tak langsung menjawab. Ia lebih dulu menarik napas dalam sebelum bicara. Seakan berusaha menguatkan diri dengan apa yang akan dia sampaikan.


"Dok, ada apa, apa yang terjadi?"


Dokter itu menatapnya nanar. "Begini, salah satu dari kedua pasien ini positif menderita penyakit Obstruktif Kronis." Bobby terbelalak tak percaya mendengar penuturan Dokter Sherly itu.


"Maksudnya, Dok?"


"Salah satu pasien ini mengalami peradangan kronis pada paru-parunya dan itu menyebabkan terjadinya obstruksi aliran udara di jalan pernapasan beliau."


"Apa?" Mendengarnya, Bobby shok dan terduduk.


Tidak! Arya tak mungkin selemah ini. Aku yakin dia pria yang kuat.


"Apa mungkin pasien bisa sembuh dengan cepat, Dok?"


"Ah, itu ...."


"Kenapa, Dok?" Bobby mulai terbawa suasana. Reflek mengguncang tubuh sang dokter dengan memegang kedua bagian pundaknya. "Cepat katakan, Dok!"


"Sabar, Tuan Bobby. Tolong lepaskan tangan anda, bagaimana saya bisa menjelaskan jika anda bersikap begini!"


Seketika Bobby melepasnya. Tubuhnya kini lebih lemas dari sebelumnya.


"Satu-satunya jalan untuk menyembuhkannya hanya dapat dilakukan dengan cara operasi transplantasi paru-paru!"


"Apa?" Bobby terkejut hebat. "Apa dokter serius, apa tidak ada cara lain selain operasi?"


"Maaf, hanya ini satu-satunya cara untuk menyembuhkan beliau sebab, pasien ini terlalu banyak menghirup asap!"


Bobby kembali lemas. Perlahan mendaratkan tubuhnya di sofa. Kedua tangan meremas rambutnya. Seperti frustasi.


Drrrttt.


Getaran ponsel dalam saku kemeja berhasil mengusik lamunan Bobby. Segera ia mengecek dan betapa terkejutnya pria itu saat melihat nama pemanggil yang tak lain adalah Alona, kekasih tuannya itu tertera dalam layar ponselnya, bahkan tak jauh mengejutkan dari berita Dokter Sherly barusan.


Sekarang apa lagi? Agghhh.


Pusing. Batinnya sampai mengeluh. Dihempasnya gawai itu ke atas sofa untuk kembali meremas rambut, membiarkan panggilan telepon itu berdering tanpa ada yang mengangkatnya.


Tap.


Tap.


Suara langkah terdengar jelas diiringi keributan di bawah sana membuat Bobby tersentak dari lamunannya.


Apa yang terjadi?


Penasaran. Bobby segera beranjak turun menuju aula utama Maindland Palace. Seorang wanita tampak sedang berdebat dengan para pengawal dan pelayan di sana.


"Hentikan!" seru Bobby yang membuat keseluruh pengawal dan pelayan di sana menoleh.


"Bobby!" teriak wanita itu. Seketika para pengawal melepasnya lalu menyingkir. Bobby terkejut saat pendangan mereka bertemu. Ia menatap nanar gadis itu, bola matanya kini nyaris membulat.


Deg.


Alona?


"A-lona, apa yang kau lakukan di sini?"


Gadis itu sempat terhenti sejenak di bawah sana. Ia menunjukkan wajah pilu-nya ke arah Bobby sebelum akhirnya menghampiri pria itu. Menapaki anak tangga untuk kemudian bertatap muka dengan Bobby.


Jantung Bobby berdetak cepat saat jarak mereka terlalu dekat. Sepertinya ia belum sepenuhnya move on dari kekasih bos-nya itu.


"Bobby, tolong jujur. Apa yang terjadi dengan Arya?"


"Ah, soal itu ...."

__ADS_1


Spontan Alona memegang lengan Bobby, mengguncang lengan pria itu. Sepasang matanya bahkan mulai berembun dengan bibir sedikit bergetar menahan tangis.


"Apa benar Arya berada di Balai TB grup saat ledakan itu terjadi?"


"Darimana kau tahu hal itu?"


"Darimana aku tahu, itu tidak penting. Sekarang cepat katakan padaku, apa yang terjadi dengan Arya, di mana Arya? Apa dia baik-baik saja? Aku ingin bertemu dengannya, Bobby ...." tangisnya pecah. Meringkuk dalam dada pria itu.


"Alona, tenanglah! Arya masih selamat. Dia ada di ruang kamarnya."


"Benarkah?" Mata Alona seketika berbinar.


"Iya, hanya saja ...."


"Kenapa? Ada apa?" ringisnya setengah berteriak. Kembali bola mata jernih itu menatap nanar.


"Dia .. terkena Obstruktif Kronis dan harus dioperasi!"


"Apa??"


Bagai tersambar petir, seketika tubuh Alona lemas, hampir saja ia terjatuh. Beruntung Bobby segera menangkapnya.


"Alona, Alona, sadarlah!"


Tangisan pecah langsung memenuhi ruang yang luas itu. Seluruh pelayan dan pengawal di sana bahkan hanya bisa terdiam. Antara bingung dan tercengang.


Sebab ini adalah kali pertama seorang wanita berkunjung ke kediaman Maindland Palace, istana Arya Pohan itu.


"Hu-hu-hu! Bagaimana bisa hal ini terjadi pada Arya. Dia bahkan sudah berjanji padaku akan memberi kejutan, kami bahkan belum mengikat janji suci! Kenapa, kenapa hal ini harus terjadi begitu cepat!"


"Alona, kuatkan dirimu, ini bukan hal yang sangat serius!"


"Bukan hal serius katamu. Bagaimana bisa kamu berkata begitu, Bobby?" Alona langsung emosi mendengarnya. Sebenarnya, bukan Bobby tidak khawatir juga seperti Alona. Ia mengatakan hal itu hanya untuk menenangkan gadis itu.


"Alona, tadi dokter mengatakan, keberhasilan untuk operasi kali ini delapan puluh persen. Itu artinya, kesempatan untuk bisa kembali pulih cukup besar!"


"Tapi, Bob! Hu-hu-hu!"


"Menangislah, jika kamu ingin menangis!" Bobby hanya bisa menepuk pundak gadis itu yang meringkuk dalam pelukannya.


Pertanyaan yang berasal dari lantai atas itu mengejutkan Alona dan Bobby. Serentak mereka menoleh. Pria itu kemudian mendekat ke arah mereka.


"Arya?"


"Kenapa? Kenapa kalian kaget melihatku? Apa aku baru saja memergoki kalian?"


"Mas, apa maksudmu? Apa kamu sedang menuduhku?"


"Ehh?" Arya terkejut dengan respon dari Alona.


Kenapa dia yang marah. Bukankah harusnya aku yang marah melihatnya berpelukan.


"Aku datang ke sini karena melihat berita di televisi."


"Berita?"


"Ya, aku tahu kamu di sana saat terjadi ledakan di gedung itu. Apa kamu tahu bagaimana khawatirnya aku? Kamu bahkan tidak mengatakan apapun saat pergi malam itu, kamu juga tidak menghubungiku. Apa kamu ingin membuatku mati karena terkena serangan jantung, hah? Atau kamu ingin mendapat pukulan dariku lagi agar kamu berhenti membuatku khawatir!" Alona memakinya panjang lebar. Diiringi dengan deraian air mata yang membuat Arya luluh.


Padahal awalnya Arya benar-benar marah melihat adegan mesra di hadapannya. Tapi akhirnya ia luluh juga, karena melihat wajah manis gadisnya dengan mata cantik yang seperti boneka itu banjir dengan air mata. Langsung saja jemarinya menyeka air mata gadisnya, dan seketika Alona menyelamkan dirinya dalam pelukan Arya.


"Apa kau tahu bagaimana sakitnya aku membayangkan apa yang terjadi padamu? Rasa itu membuat dadaku sesak sampai ingin mati, tahu!"


Arya langsung merekatkan pelukannnya. "Maafkan aku sudah membuatku khawatir!" Mereka berdua hanyut dalam pelukan.


Pemandangan romantis ini, kapan aku mendapatkannya.


Bobby yang melihat kemesraan mereka hanya bisa tersenyum-senyum sendiri.


Mereka pasangan yang serasi. Eh tapi, tidak seharusnya mereka pamer di depanku.


"Hei kalian, bisakah kalian tidak merusak mataku. Bagaimana bisa kalian berpelukan di depan bocah yang belum cukup umur sepertiku?" ucap Bobby meledek. "Lihat tuh di sana!" Bobby menunjuk ke arah para pengawal dan pelayannya yang ternyata sudah berbisik-bisik sambil tertawa kecil menatap bos mereka itu.


"Heh! Kalian lihat apa. Cepat bubar!" gertak Arya pada mereka. Hanya dalam hitungan detik, mereka semua bubar serempak.

__ADS_1


"Arya, bagaimana bisa kamu ada di sini? Bukankah Dokter Sherly bilang kamu mengidap Obstruktif Kronis, dan hanya bisa terbaring di atas ranjang?"


"Sialan! Apa kamu berharap begitu?" Mendengarnya Arya jadi sedikit kesal.


"Tentu saja, tidak. Hanya saja aku mengira hal itu benar terjadi padamu."


"Diagnosa itu untuk Jordan, bukan untukku." jawabnya ketus.


"Oh, ya? Syukurlah. Artinya aku sudah salah mengira. Kupikir diagnosa itu atas namamu. Ah, lega aku mendengarnya."


"Jadi, apa dengan mengira aku akan mati, kamu jadi berusaha mengambil kesempatan untuk merayu gadisku.


"Apa. Kenapa kamu menuduhku begitu?"


"Bukankah semua sudah terbukti, di depan mataku kamu memeluk Alona."


"Apa?" Bobby terhenyak mendengarnya.


"Arya, apa maksudmu menuduh Bobby begitu. Keterlaluan kamu!" sambung Alona yang mendadak kesal dengan tuduhan Arya yang terlihat ingin menyudutkan Bobby.


"Sialan! Hanya karena kekasihnya memelukku, dia sampai menuduhku ingin merebut. Dasar bos tak tahu diri. Aku bahkan rela mengorbankan keselamatanku demi menolongnya, tapi dia masih menuduhku untuk perkara kecil!" gerutunya kesal.


"Heh! Aku mendengarmu, tahu!" pekik Arya.


"Oh ya? Bagus kalau kau mendengarnya!"


"Sialan! Hai Bobby, kau ingin menantangku, ya!!" panggil Arya seraya mendekat ke arah pria itu.


"Apalagi. Apa kamu masih bersikeras menuduhku?" Arya semakin mendekat ke arah Bobby.


'Hei! Kenapa lagi dengannya, apa dia serius ingin memukulku?'


"Apa sekarang kamu akan memukulku?" Bobby terbelalak melihat Arya yang dengan langkah cepat sudah mendekat ke arahnya. Namun, begitu mereka sudah benar-benar dekat, seketika Arya memeluknya.


"Terima kasih, Sob! Kalau bukan karena dirimu, mungkin saja aku sudah mati di gedung itu!"


"Eh!" Bobby terkejut saat tiba-tiba Arya memeluknya. "Ah, jadi kamu mulai sadar sekarang, ya!"


"Apa?" Arya melepas pelukannya. "Maksdumu apa? Aku sudah sadar sejak awal. Kamu pikir aku tidak sadar?"


"Kalau begitu, kenapa mencurigaiku?"


"Aku hanya mengerjaimu! Mana mungkin aku menuduhmu selingkuh dengan kekasihku!" Arya tertawa puas, ia merasa berhasil mengerjai asisten sekaligus teman terpercaya-nya itu. Membuat Bobby tersenyum kesal. Walau akhirnya ikut tertawa juga.


"Astaga. Aku lupa sesuatu!" Mendadak Bobby gelabakan.


"Kau melupakan apa?" Arya mengernyit.


"Tadi aku menitipkan Qea dengan para pengawal!"


"Apa??" Suara teriakan yang melengking dari Alona langsung menembus rongga telinga Arya dan Bobby. Membuat Arya dan Bobby menoleh bersamaan. "Jadi, Qea lambat pulang hari ini karena dibawa olehmu!"


"Ehh!" Bobby terkejut melihat aura garang yang memancar dari wajah Alona. "Sejak kapan kekasihmu bisa seserem itu?" bisik Bobby pada Arya.


"Awas aja kamu, Bobby!" gertaknya.


"Arya, kayaknya aku harus pergi sekarang, Jaga dirimu, ya. Bye." Ia melambai pelan.


"Eits!" Mendadak Arya menahan tangan Bobby. Senyumnya mengembang mirip dengan senyuman garang Alona.


Apa maksudnya ini?


"Sayang, apa kamu mau aku menahannya untukmu!" teriak Arya pada Alona.


Sialan, ternyata dua sejoli ini sedang bekerja sama.


"Ya, tolong tahan dia, Sayang!" nada bicara Alona terdengar serak. Lebih mirip singa yang lapar.


Sial. Aku harus kabur.


Bobby langsung memutar lengannya dengan gerakan cepat hingga berhasil terlepas dari genggaman Arya.


"Daah!" Ia melambai pada mereka, sebelum berlari secepat mungkin untuk menghindar.

__ADS_1


"Bobby, mau ke mana kamu. Jangan coba-coba kabur dari kita, awas saja bila ketemu nanti!" Alona terus meneriakinya. Tapi Bobby sudah berhasil menjauh dengan radius seratus perkilo meter.


Terima kasih sudah membaca. Berikan dukungan kalian agar author semangat update cepat, ya!


__ADS_2