
Alona bangkit dan semakin geram dengan perlakuan Bobby padanya. Ingin memberi pelajaran padanya karena sudah berani mendorongnya hingga terpental.
Baru saja lengan itu melayang ke atas. Sontak Bobby memberi isyarat.
"Pssst! Tuh!" Menunjuk dengan gerakan bibir.
"Apaan tah tuh tah tuh!"
"Noh! Tengok, noh!" Bobby membalik paksa wajah Alona.
"Apa sih!" Gadis itu akhirnya menoleh, seketika ia terkejut.
"Apa?? Je-Je-Jesicaa! Ini gak seperti yang loe lihat kok! Gue bisa jelasin!" Segera Alona berlari mengejar. Namun, langkahnya tertahan. Bobby memegang bajunya dari belakang. Membuat Alona tak dapat beranjak pergi. Sedang kedua insan itu sudah hilang dari pandangan.
"Ngapain lu ngejar dia!"
"Ya mau ngejelasin lah! Jesica pasti salah paham sekarang! Lu ngapain nahan gue! Lepasin!"
"Ck! Biarin aja kali dia pergi!" Pria itu melepas genggamannya. Membuat si gadis terjatuh dan kembali meringis, memegang bokong untuk kedua kalinya.
"Lu gimana sih, Bob? Kok dibiarin?"
"Kan gue udah pernah bilang. Gue gak ada hubungan apa-apa sama Jesica. Jadi biarin aja dia pergi!"
"Tapi?!"
"Gak ada tapi-tapian! Lu mendingan temenin gue!" Mendadak Bobby menarik lengan Alona. Gadis itu akhirnya terduduk di sampingnya.
"Apa-apan sih lu, Bob!"
"Duduk di sini aja, napa sih!"
"Ogah! Terserah kalo lu gak mau jelasin ke Jesica. Tapi gue juga gak mau Bima salah paham sama gue! Paham ente??"
Segera Alona berlari kecil. Namun, belum sempat langkahnya keluar dari kamar itu, kembali Bobby mengucapkan kata yang membuat Alona kaget.
"Apa pentingnya sih lu jelasin ke Bima?"
Deg!
Gadis itu menoleh dengan tatapan tak enak.
"Maksud loe apa, Bob?"
"Apa yang mau lu jelasin ke Bima? Lu mau bilang kalo lu naksir dia? Lu lupa kalo Bima itu naksir sama Jesica?"
__ADS_1
"Apa? Lu kok tega ngomong begini sama gue! Bukannya lu sendiri yang bilang mau ngebantu gue!"
"Menurut loe, apa yang bisa gue bantu? Apa dengan memberitahukan Bima, terus dia langsung suka sama loe, gitu!"
"Ya, paling gak kan dicoba dulu!"
"Gak perlu! Percuma!"
Alis si gadis mengkerut. Tak percaya dengan apa yang diucapkan Bobby.
"Bobby! Lu sebenarnya kenapa sih?!" Alona kesal. Entah kenapa, Bobby yang biasa terlihat normal itu seperti kerasukan. Setan apa yang merasukinya?
"Gakpapa! Pokoknya lu jangan kejar Bima!"
"Kenapa?" Wajah si gadis mulai tegang. Antara marah dan heran dengan sikapnya yang mendadak berubah.
Sejenak Bobby hening. Rautnya mulai tegang.
"Karena .. gue suka sama loe!"
"Apaa? Hahahaha!" Alona terbahak. "Lu bohong kan! Gak mungkin! Gue gak percaya!" Masih dengan tawa gelahak.
"Kenapa lu gak percaya?!"
"Ngelawak lu yaa, Bob? Asli gue ngakak nih!"
"Segitunya ya?" Bobby tampak menghela napas. "Fouuh!" Kembali tatapannya fokus menatap si gadis. Membuat gadis itu tegang dan nyaris menenggak saliva.
"Lu mau gue buktikan dengan apa biar percaya?"
Gadis itu terdiam. Antara bingung dan tak percaya. Mungkinkah Bobby punya tujuan lain hingga harus membohonginya?
"Emang apa yang bikin loe naksir sama gue?"
"Simple aja! Lu itu imut!" ungkapan Bobby harusnya membuat wajah Alona memerah bagai di tampar. Bukan, tapi merona bak bunga sakura. Namun, tidak dengan kenyataannya. Gadis itu mengernyit heran.
"Bohong lu, ya kan??"
"Enggak! Gue serius kok!"
Kembali Alona diam. Memandang dengan tatapan tak percaya.
"Lu serius, Bob?" Terdengar nada seseorang yang bertanya dari arah belakang si gadis. mengagetkannya dan Bobby.
"Bimaa??"
__ADS_1
"Gue dengar kok semua yang Bobby ungkapkan tadi. Jadi bener dugaan gue selama ini, kalo ternyata lu naksir Alona?"
"Ah anu, itu, sebenarnya ...." Alona tergagap berusaha menjelaskan.
"Udahlah, Al! Jangan dikecewain Bobbynya. Kayaknya dia serius tuh!"
Wajah si gadis pucat. "Tapi, gue itu ...."
"Alona, plis jangan di tolak! Oke!" Arya menepuk pundak si gadis yang menatapnya dengan seribu kata yang mungkin tertahan di mulut.
"Bobby! Selamat yaa!" Ia melambai pada Bobby. Sedang pria itu tak bergeming. Ekspresinya datar tak dapat ditebak. Lalu pergi dan menghilang di balik pintu.
Bobby saat itu tak tahu, yang ia lakukan sudah benar atau justru salah.
Ia pernah menjanjikan Alona untuk membantu mempersatukannya dengan Bima. Tapi ternyata, kali ini ia justru termakan oleh janjinya sendiri. Ia menyukai gadis itu. Apa boleh buat, Bobby tak mampu jika harus menutupi perasaannya lebih lama. Lebih baik diungkapkan dari pada menahan selamanya.
"Bobby?" Pria itu mendongak. Kaget dengan suara wanita yang kali ini memanggilnya.
"Jesicaa? Lu ngapain balik ke sini?" tukas Bobby.
Alona menoleh. Sontak ia terkejut, tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Bobby apa maksud semua ini? Lu serius, barusan nembak Alona?" Netra Jesica menatap tajam, masih tak percaya.
"Iyaa!" sahutnya mantap.
"Tapi, Bob!"
"Tapi apa?" Pria itu menatap Jesica tanpa rasa prihatin. Membuat matanya berkaca-kaca.
Mendadak pandangan Jesica beralih ke Alona.
"Alona! Gue gak nyangka, ternyata lu tega ngekhianatin gue!"
"Ah-anu, tapi, Jes! Ini semua gak seperti ...."
"Cukup! Gue muak sama penjelasan loe!" Gadis itu langsung pergi. Hampir saja ia melayangkan tamparan di atas pipi Alona. Namun, ia menahannya. Sekilas Alona melihat air mata yang sempat mengalir membasahi pipi sahabatnya itu.
"Jesica! Jesica!" Gadis itu tak lagi menyahutnya. Alona terduduk. "Apa yang sudah gue lakukan? Bodoh! Alona bodoh!" Ia menghardik diri sendiri.
Satu buah lengan meraih pucuk pundak Alona. "Alona! Cukup! Lu gak boleh menghakimi diri sendiri!" Gadis itu menepisnya. Kemudian mendongak.
"Puas lu, Bob?" Terlihat seberkas buliran membasahi pipinya. Buru-buru ia menghapus menggunakan lengan. kemudian berlari keluar dari kamar, menghilang di balik pintu. Pria itu menatapnya hingga beberapa saat Alona benar-benar pergi.
"Maafin gue, Alona! Ini semua demi kebaikan loe! Karena loe gak tau siapa Bima sebenarnya!" Bobby bergumam.
__ADS_1