Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Mendapat Perlakuan tak Mengenakkan


__ADS_3

Sementara itu, di tempat lain ....


Puas memanjakan diri di sebuah salon ternama, Qea meminta para pengawal itu mengantarnya ke sebuah mall pusat perbelanjaan. Dengan gemasnya, dia langsung berlari menghambur ke beberapa toko pakaian dan aksesoris.


"Duh, semua pada cantik-cantik. Aku pilih yang mana, yah. Gaun ini bagus, yang ini juga bagus, duuh, gemes!" Qea mengambil beberapa pakaian di pajangan ke sana kemari tapi bahkan belum menunjukkan tanda-tanda kepuasan.


"Apa yang harus kita lakukan?" bisik salah seorang dari mereka.


"Apa kita kabur aja?"


"Ninggalin dia, kamu mau cari mati, ya. Dia itu kekasih Pak Bobby!"


"Tapi bagaimana dengan uang. Kita sudah tak memegang banyak!"


Prustasi. Akhirnya salah seorang dari mereka mencoba menegur Qea.


"Nona?"


"Hmm, apaan panggil-panggil gue?" sahutnya tanpa menoleh. Masih setia dengan kesibukannya memilih pakaian di pajangan.


"Bagaimana kalau kita sudahi belanjanya. Ini juga sudah sore, Tuan Bobby pasti sudah menunggu."


"Tenang aja. Om Bobby itu urusannya dengan gue. Kalian santai aja!"


"Tapi, Nona ...."


"Duh, kalian jangan kebanyakan ngeluh deh, 'kan cuma diminta menunggu, masa gitu aja kalian gak sanggup. Tadi katanya, bakal lakukan apa aja yang kuminta?" Lagi, Qea menimpali dengan jawaban yang membuat mereka semakin lemas. Ia bahkan sudah mengambil setumpuk pakaian dan membawanya ke kasir. Setidaknya, total belanja itu sudah mencapai puluhan juta, karena memang Qea memilih pakaian di butik-butik ternama.


Dalam waktu singkat saja, Qea langsung melirik ke arah mereka para pengawal itu, kode untuk segera melunasi belanjaan yang sudah ia pilih itu.


Sial sungguh nasib para pengawal itu, rupanya Bobby salah memberikan kartu pada mereka, bukan sebuah kartu kredit, melainkan kartu debet yang baru kemarin digunakan untuk transaksi bisnis, hingga hanya menyisakan sedikit uang dalam saldo itu.


Keempat pengawal itu hanya bisa saling senggol. Tampaknya tak ada yang mau mengeluarkan uang pribadi untuk gadis itu. Meski bisa saja mereka mengajukan klaim-nya dan diganti saat bertemu Direktur Bobby, tapi mereka tetap tak mau.


Qea mengerutkan alisnya. Sekali lagi, memberi kode pada mereka yang kini terlihat enggan untuk segera melunasi.


"Ayo, buruan dibayar ini!" Ia mengernyit.


'Ada apa dengan mereka. Kok mendadak sikap mereka aneh?'


Semua pengawal hanya bisa terdiam. Bahkan tak lagi saling menatap.


"Nona, bukannya kami tak mau menebus tagihan yang itu, hanya saja tangan kami sudah penuh dengan barang belanjaan. Jika barang itu juga ditebus, bagaimana kami membawanya?" jawab salah seorang dari mereka.


"Ah, kalian banyak alasan." sahut Qea menatap kesal ke arah mereka. Yang mana tangan kiri dan kanan mereka menang sudah tampak penuh dengan barang belanjaan. "Cuma ini doang, kok. Aku janji deh, ini yang terakhir!"


"Sudah gak bisa lagi, Nona!"


"Kalau kalian merasa berat membawanya, aku sanggup kok membawa sendiri untuk yang ini!" Sebenarnya Qea juga tak enak memaksa, tapi karena desakan dari si kasir yang tak henti berdehem di belakangnya itu membuat Qea terpaksa mendesak para pengawal untuk membayar.


"Kalau kalian gak mau, ya sudah, aku telepon saja Om Bobby, biar kalian dapat hukuman!"


"Eh?? Jangan, jangan." Serentak, mereka memohon. semua nyaris terhenyak mendengar ancaman Qea.


"Tolong jangan adukan dengan Tuan Bobby, Nona. Kami janji akan kami tebus."


Qea sengaja memasang wajah yang terlihat mengesalkan itu. Sambil melipat tangan di dada, ia juga memainkan sepatunya, menghentak-hentakan ke lantai. Seakan sedang menantang keempat pengawal itu untuk segera membayar.


Jika saja mereka menolak membayar, aku akan langsung menelpon Om Bobby. Mau ditaruh di mana coba mukaku ini jika dibatalkan. Mana daritadi aku sudah menyusahkan banyan karyawan di sini.


Tapi, bukannya mendekat untuk segera melunasi, mereka justru terlihat saling berbisik.


"Sialan! Kalau saja dia bukan kekasih Tuan Bobby, mungkin sudah kukarungi gadis itu, lalu kubuang ke tumpukan sampah!" keluh salah satu dari mereka sambil meremas ujung lengan jasnya.


"Ya, aku juga. Andai dia hanya gadis biasa, sudah kulempar ke sungai Amazone biar jadi makanan para predator ikan piranha.


"Apalagi diriku, andai dia gadis biasa, sudah pasti kukirim ke Kota Wuh*n agar terkena virus corona dan mati di sana!"


"Hei. Memangnya Kota Wuh*n itu di mana?"

__ADS_1


"Entahlah, aku hanya asal bicara. Itu hanya kota yang pernah kubaca di dalam novel. Tidak sungguhan ada!"


Mereka tampak asyik berbisik. Sementara wanita yang berjaga di bagain kasir itu sudah lebih dari sepuluh kali berdehem pada Qea, mengisyaratkan agar gadis itu segera melunasinya. Membuat Qea nyaris kikuk di depannya.


Aduh, gimana ini? Apa jangan-jangan mereka benar-benar gak mau membayar? batin Qea bergumam.


"Mbak!" Kasir itu mulai memanggilnya. "Ada pembeli lain yang juga antri tuh di belakang Mbaknya! Ini belanjaan kapan mau dibayar? Sanggup bayar apa tidak, sih?" Ia tampak kesal dan mulai menekan Qea.


"Ehh!" Meski canggung, Qea menoleh. "Sebentar ya, Kak."


"Sebentar-sebentar. Tinggal bilang gak sanggup aja susah amat!" gerutu kasir itu.


Ia kembali menatap ke empat pengawal yang sudah mulai ancang-ancang untuk kabur.


"Nona, maaf, sepertinya ada telepon dari kantor!" kilah salah satu dari mereka pura-pura meraih ponselnya dari saku kemeja. Dan langsung pergi dengan berbicara pada telepon yang bahkan tidak menyala itu.


"Aduh, perut saya sakit. Saya ke toilet dulu ya, Nona. Permisi!"


Sudah dua yang pergi, apa yang dua lagi akan pergi juga?


Qea sudah mulai panik.


"Nona kam--" belum sempat mereka bicara, Qea langsung memutusnya.


"Tunggu, jangan bilang kalian mau kabur juga!"


"Enggak, Nona. Tapi sepertinya kunci mobil ketinggalan di area parkir. Kami harus melihatnya dulu ke sana. Maaf, kami harus pergi terlebih dulu!"


Tak ada lagi harapan, tamatlah sudah riwayat Qea di dalam butik itu. Semua mata kini tertuju padanya. Tak luput meninggalkan jejak sindiran pada mulut mereka yang terlihat berpakaian elegan.


"Aduh, tampang miskin begitu, kenapa diizinkan masuk ke butik ini, sih?"


"Security mana security?" Salah satu pengunjung yang juga tampak berpakaian mahal di butik itu dengan sombongnya mencari security. Niatnya agar Qea diusir dengan cara memalukan.


"Mbak, ini mau ditebus apa enggak?" tanya si kasir menegaskan.


"Ehehe!" Qea tertawa canggung. "Maaf, kayaknya gak jadi!"


Seketika, riuh suara para pengunjung itu meledek Qea. Sebagian langsung menghujani dengan kalimat cibiran.


"Aduh, makanya kalo miskin itu, jangan berlagak mau belanja di butik. Sana, ke pasar loak aja!"


"Dasar, anak kampungan, apa dia gak bisa membaca lebel harga?"


Sorak tawa mulai menggema, menggantikan cibiran mereka. Dengan gontai Qea berjalan keluar butik diiringi rasa sedih dan kecewa.


Sejak awal, tak seharusnya aku percaya pada mereka.


Qea kecewa dengan para pengawal tadi. Kalau bukan karena mereka menghindar, dia pasti tak akan mendapat perlakuan tak mengenakkan itu.


Tap.


Tap.


Tiba-tiba saja, terdengar langkah seseorang yang terburu-buru memasuki butik itu, tapi Qea tak memedulikannya. Matanya terus saja menunduk hingga tak sengaja menabrak orang yang berlari tadi.


Bruuuk.


Tabrakan itu membuat Qea yang memang tak fokus pun terjatuh.


"Ah, maaf. Aku gak sengaja!" tukas Qea pelan. Namun bukannya kembali dihujan makian, tiba-tiba pria yang menabrak itu justru mengulurkan tangan padanya, untuk membantunya bangkit.


"Eh??" Qea terkejut melihat tangan pria di hadapan wajahnya itu. Ia mendongak pelan. Kini, tampak jelas siapa orang yang sudah bermurah hati padanya itu.


"Om Bobby!" Ia langsung bangkit begitu tahu pria yang berdiri di hadapannya adalah Bobby. "Om, Qea sedih! Huhuhu!" Gadis itu langsung memeluk Bobby meski puluhan mata akan menyorok mereka yang masih berada di tengah butik. Ia merasa sangat beruntung bertemu dengan Bobby di saat yang tepat.


Tak dapat dielak lagi, seketika semua mata langsung tercengang menatap ke arah mereka. Sebagian pengunjung langsung menutup mulut, bahkan beberapa wanita yang tadi mencibirnya sampai menggigit jari karena tak percaya. Mereka juga iri melihat pria setampan Bobby dipeluk oleh gadis kecil yang mereka nilai kampungan.


"Wah, jadi itu pacarnya!"

__ADS_1


"Kok bisa, gadis kampungan dapat pacar tampan begitu?"


"Pacarnya ganteng bangeeet!"


"Aduh, sayang banget ganteng begitu harus bersanding dengan anak kecil!"


Dari luar butik, puluhan pengunjung bahkan sengaja berhenti di depan dinding yang di design kaca transparan itu. Mereka tersenyum, tak luput merekam aksi Qea yang terlihat romantis memeluk pacarnya di tengah keramaian.


Sadar dirinya dan Qea menjadi pusat perhatian, Bobby mulai berucap pelan pada Qea untuk melepas pelukannya.


"Qea, bisa lepasin pelukannya dulu, gak?" bisiknya. "Banyak mata yang menonton kita!"


Qea yang tadi menyelamkan dirinya dalam dekapan Bobby sedikit merenggang. Memperlihatkan matanya yang kini mulai kemerahan. "Biarin aja mereka nonton. Lagian, ini semua salah Om. Kenapa Om lama ninggalin Qea. Kesel, tahu!" tangisan gadis itu kini semakin mengeras.


"Qea! Udah dong, jangan nangis." Bobby hanya bisa menahan malu di depan para pengunjung itu. Sambil menyeka air matanya.


Duh, sialan! Kemana aja para pengawal yang kupercayakan tadi. Aku akan memberi hukuman karena mereka sudah meninggalkan Qea.


"Qea, apa yang terjadi. Kemana para pengawal?"


"Mereka pergi ninggalin Qea, Om! Huhuhu. Mereka gak mau tebus belanjaan Qea, terus Qea di marahin sama Kakak kasir itu!" Menunjuk ke arah wanita di sana yang berjaga di bagian kasir tadi.


Seketika si kasir itu terkejut. Ditunjuk begitu oleh Qea membuatnya merasa seperti terkena panah beracun. Wajahnya langsung berubah pucat.


"Oke, kamu tunggu di sini. Biar aku tebus belanjaan itu," ucap Bobby. Qea langsung mengangguk, lalu mulai menunggu Bobby yang langsung menuju kasir. Memperhatikannya dari jarak lima belas meter itu.


"Jadi, berapa total semua belanjanya?"


Kasir itu menunjukkan angka yang nominalnya jutaan rupiah. Dengan gugup, ia dan supervisornya membungkus pakaian yang sudah ditandai lunas dengan melepas tag yang terpasang di gaun-gaun itu.


"Maaf atas pelayanan kami yang kurang mengenakkan!" Senyuman itu berusaha ia paksakan, walau sebenarnya ia gugup.


"Tidak apa-apa!" jawab Bobby tenang.


"Ah iya, biar kami membantu Tuan membawa belanjaan ini sampai ke parkiran."


"Tidak usah. Kami bisa membawanya!"


"Jangan sungkan, Tuan. Anggap saja ini adalah bentuk dari rasa bersalah kami!"


"Tidak perlu. Lagipula, kami tidak berniat untuk langsung ke parkiran!"


"Oh, baiklah. Terima kasih telah berkunjung di toko kami. Kami akan menunggu kedatangan Tuan lain waktu."


"Hmm!" sahut Bobby singkat.


"Ah, Tuan tunggu!" panggilnya membuat Bobby kembali menoleh. Seketika, Supervisor itu mendekatinya, memberinya sebuah kertas persegi empat.


"Apa ini?"


"Ini kartu nama saya. Kalau ada waktu, boleh dong kita jalan-jalan. Kebetulan saya jomblo loh!"


'Eh?" Bobby mengernyit.


Apa? Apa ini termasuk bagian dari promosi toko.


"Maaf, aku tidak bisa menerimanya."


Jleb.


Ditolak mentah-mentah, supervisor itu benar-benar terlihat malu. Ia tak dapat menutupi rasa malunya hingga tingkah aneh. Antara ingin memberi senyuman tapi sulit karena dadanya terasa sesak.


"Oh, tidak apa-apa. Kalau begitu, terima kasih, silahkan datang kembali." Hanya itu, sepenggal kata yang akhirnya terucap oleh si supervosir genit.


Ia lantas menundukkan sedikit kepala dan langsung dibalas anggukan yang sama oleh Bobby.


Noted:


Bagi mereka, dunia kita hanyalah novel. Sedangkan bagi kita, dunia mereka adalah novel. Jadi jangan heran kalau author buat dunia kita seakan fana bagi mereka.

__ADS_1


Nanti kalau sudah tamat, author mau buat extra chapter, di mana Arya yang berada di dunia novel ini keluar dan masuk ke dunia kita. Penasaran gak??


Makanya, simak terus ya cerita selanjtnya 🤗🤗


__ADS_2