Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Makan Malam di Hotel Berbintang


__ADS_3

Waktu masih menunjukkan pukul sembilanbelas lewat tiga menit saat kelima insan dengan mengendarai dua mobil itu sampai di kota.


Netra Qea menatap binar gedung-gedung pencakar langit. Sambil tak hentinya merocok. Hanya Bobby yang selalu setia menyahut apapun yang di tanya oleh gadis berambut panjang itu.


"Om??"


"Hmm!!"


"Di antara gedung-gedung ini, ada gak satu punya Om??"


"Ehh!! Ya ada dong!"


"Yang mana??"


"Gedung Om letaknya bukan di sebelah sini. Tapi di sana!" Menunjuk ke arah utara dari tempat mereka berada sekarang.


"Ohh ... kalau boleh tau, gedung apa itu, Om?"


"Gedung kantor!"


"Apa Om gak mampir ke sana?"


"Untuk apa??"


"Gakpapa! Qea kan mau lihat kantor milik Om!"


"Tapi sekarang kan kita mau makan malam!"


"Berarti, setelah makan malam boleh dong mampir!"


"Hmm, boleh aja! Asal Qea sudah dapat izin dari emak!"


"Yah elaah, emak lagi emak lagi!"


Bobby tertawa kecil mendengar keluh Qea. Di dalam mobil itu memang hanya ada mereka berdua. Sedang mobil yang dikendarai Arya berisikan tiga penumpang termasuk Arya. Ibu Arya memilih ikut mendampingi Arya yang sudah dianggap sah sebagai calon mantu. Jangan tanya seperti apa berisiknya keadaan di dalam mobil itu. Ya, ibu Alona tak hentinya berbicara bagai burung murai.


Tiba. Mereka langsung memarkirkan kendaraan di area parkir VIP. Parkiran yang dikhususkan untuk para pengunjung berkelas tinggi.


"Selamat datang, Pak Presdir. Biarkan saya menjamu anda!"


Arya mengangguk, seirama dengan anggukan sang direktur pemilik hotel Tripadvisar itu. Sepanjang jalan mereka terlihat asyik berbincang. Ibu Alona tampak kaku. Tak tahu harus bersikap seperti apa. Sehingga memilih mengikuti semua gerakan Arya. Saat Arya menunduk ia menunduk. Begitu pun saat Arya berjalan, ia mengikuti saja.


"Nak, menjadi orang kaya ternyata susah, ya!" bisiknya di samping Alona. Gadis itu membalas dengan senyuman. Lalu bicara. "Ikuti saja, Mak. Jangan banyak bicara. Orang kaya itu harus terlihat elegan."


"Ohh ...." ucapnya. Diikuti dengan acungan jempol. Tanda bahwa ia paham.


Kini langkah mereka sudah memasuki gedung hotel. Alona dan ibunya nyaris tercengang saat melihat bagian dalam. Semua arsitek berwarna keemasan. Kemewahannya sungguh berhasil memanjakan mata, bahkan sudah setara kelas dunia.


Sesaat Alona tersadar, Bobby dan Qea belum kunjung terlihat.


"Ar?" tanya Alona.


"Ya, kenapa?" Pria itu berhenti sejenak.


"Apa Qea sama Bobby belum sampai juga?" Pertanyaan Alona menghentikan langkah Arya. Pria itu berbalik badan. "Bukankah itu mereka?"

__ADS_1


Alona langsung menoleh. Dan benar saja, dua orang itu tampak beriringan. Tangan Qea terpaut dengan tangan Bobby. Gadis itu terlihat anggun. Ia terlihat lihay berakting. Seakan kehidupan sebagai orang kaya sudah biasa ia jalani. 'Astaga! Apa yang dilakukan bocil genit itu!' geram. Alona tak suka melihat adiknya yang masih belia sudah genit dengan pria yang usianya terpaut jauh bahkan setara dengan calon suaminya.


"Pak Arya! Mari!"


Kembali mereka menyusuri aula gedung saat sang pemilik hotel menegur Arya, hingga akhirnya sampai di tempat tujuan. Tempat di mana para pria dan wanita berkelas berkumpul untuk sekadar melakukan dinner dan minum-minum. Sang pemilik hotel mulai memerintahkan beberapa pelayan untuk mengantar mereka menuju meja eksklusif yang sudah di booking dari sebelumnya.


'Ya, Tuhan! Bermimpi untuk menjadi pelayan di hotel ini saja aku tak pernah. Apalagi menjadi tamu hotel. Oh sungguh. Bertemu Arya adalah keajaiban yang luar biasa!' gumam sang ibu mertua dalam hati.


Ketiga insan itu langsung duduk begitu sampai di meja mereka. Dan langsung disusul oleh Bobby dan Qea. Gadis itu langsung memilih duduk di samping kakaknya. "Kak, hotel ini mewah bangeet!" bisik Qea di sela telinga Alona.


"Iya, emang! Terus, tadi lu ngapain pake gandengan tangan segala sama Om Bobby!" hardiknya yang juga berbisik.


"Issh, memangnya kenapa? Kakak ini, sewot aja." Qea terlihat sedikit manyun.


"Hush hush!" Alona menepuk paha Qea mengisyaratkannya untuk berhenti berbisik saat seorang pelayan sudah menghampiri mereka. Beberapa menu mewah sudah disajikan di atas meja mereka. Alona mendelik saat mendengar beberapa wanita berbisik. Ia menoleh. Para wanita yang tadi berbisik segera diam. Tak luput memasang wajah sombongnya, seolah berkata 'Heh! Gadis kampung! Apa yang kamu lakukan di sini??'


"Pak Arya! Apa kabar?"


"Eh! Juna?? Kabar baik!" Arya menoleh pun dengan Alona. Gadis itu sangat terkejut saat tiba-tiba seorang wanita, dengan balutan gaun yang nyaris membentuk lekukan tubuhnya, datang menghampiri Arya. 'Darimana datanganya wanita ganjen ini?'


Baru berapa detik gadis itu menoleh saat mendengar suara para wanita penggosip berbisik di belakangnya. Sekarang, saat pandangan kembali ke hadapan tiba-tiba saja sudah ada wanita genit yang menghampiri Arya. Seketika Alona menautkan lengannya pada lengan Arya. Mengisyaratkan untuk jangan coba-coba menggoda calon suaminya.


"Ehh!" Gadis itu tersentak, matanya terbelalak melihat Alona yang dengan berani menyentuh pergelangan Arya. Selama ini yang ia tahu, Arya begitu sensitif terhadap wanita. Terlebih lagi wanita yang dengan genitnya menyentuhnya.


"Alona, perkenalkan, ini Juna!" Gadis itu tersemyum manis pada kekasih Arya yang sama sekali tak menampakkan wajah ramah.


"Alona!" Ia menyodorkan tangannya. Wanita di hadapannya itu menyambut sekejap dan langsung kembali menarik tangannya.


"Juna, ini Alona! Kekasihku!" Kembali bola mata Juna terbelalak mendengar penuturan Arya. 'Apa?? Kekasih?? Kenapa bisa? Wanita ini bahkan tak terlihat seperti orang berkelas. Wajahnya juga biasa-biasa aja! Gak ada yang istimewa! Kenapa Arya memilih gadis kampungan seperti ini??' batinnya tak terima. "Oh begitu. Dia dari keluarga mana? Ah maksudku ... marganya apa?" Wanita itu sedikit penasaran. Seperti ingin menggali informasi tentang latar belakang Alona.


"Ah, Arya! Bukan begitu! Jangan salah paham dulu. Aku hanya ingin berteman dengannya, itu saja!"


"Tidak! Kamu bisa mencari gadis lain untuk kamu jadikan temanmu! Tapi tidak dengan Alona."


"Tapi, Ar! Karena dia kekasihmu! Tentu aku penasaran dan ingin berteman dengannya."


"Apa kamu tak dengar? Aku bilang tidak! Ya, tidak!"


Deg!!


Percakapan itu seakan menusuk ke tulang terdalam ibu Alona. Wanita tua itu kini menyadari, ternyata jabatan Arya begitu tinggi. Sepertinya dia bukan pria yang bisa diremehkan. Tapi kenapa, pria seperti itu justru memilih putrinya sebagai calon pendamping?


'Alona, semoga kedepannya kamu tak mendapat masalah karena memilih pria ini!' ibu Alona hanya bisa berdoa. Bahkan sajian mewah di hadapannya sudah tak lagi membuatnya berselera.


"Baiklah! Aku pergi! Aku pergi! Kamu tak perlu membentakku!" Gadis itu berlalu dengan wajah kesal.


"Ada apa, Bu. Mari kita lanjutkan!" ajak Arya.


"Ah, iya!" Sedikit berat ibu Alona menelan saliva saat berbicara dengan Arya. Bola matanya bahkan kini tak lagi bertaut pandang. Dan Arya seperti menyadari situasinya. 'Sepertinya aku telah salah bertindak. Tak seharusnya aku mengajak mereka makan malam ke hotel pertemuan kelas atas ini!' gumamnya dalam hati.


Kedua insan itu terlihat canggung. Mereka makan sekadarnya. Sesekali ibu Alona memasang senyum yang ia paksakan, seolah berkata semua baik-baik saja.


Tapi lain hal dengan Bobby dan Qea. Bobby terlihat kesusahan saat harus meladeni sejuta tingkah konyol adik Alona itu. Membuat puluhan pasang mata wanita menyerbu ke arahnya. Pandangan mata antara iri dan geram. Kenapa harus bocah ingusan yang berada di samping pria tampan asisten terpercaya Arya itu? Begitulah kiranya pertanyaan yang berada dalam benak mereka.


Acara dinner itu pun tak ayalnya seperti acara bela sungakawa. Tak terdengar tawa riang seperti sebelumnya saat berada di rumah sederhana keluarga Alona. Saat itu kehangatan benar-benar terasa. Namun, berbeda dengan kali ini. Kali ini justru terasa dingin dan kaku. Meski semua serba mewah tapi tak lantas mampu menghadirkan rasa nyaman.

__ADS_1


"Alona! Ibu ingin pulang!"


"Ahh??" Gadis itu terkejut mendapati tangan ibunya yang menepuk pelan pangkalannya. "Kenapa, Mak?"


"Nak Arya! Apa kita bisa pulang sekarang??"


"Apa? Tapi kenapa, Bu? Bukankah kita baru beberapa saat berada di sini?"


"Tapi ibu merasa tak nyaman! Bisakah kita pulang sekarang?"


"Kenapa? Bukankah tempat ini cukup mewah! Apa ini kurang mewah?" tukasnya. 'Hiburannya bahkan belum ditampilkan!' gumam Arya dalam hati.


"Tidak! Tidak! Bukan begitu maksud ibu. Hanya saja ...."


"Wah, kebetulan sekali!" Mendadak terdengar suara yang datangnya bukan dari kelima insan itu.


"Ehh!" Seketika semua menoleh. Berdiri seorang pria dengan beberapa asisten dan pengawal di dekatnya.


"Pak Arya, apa kabar? Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk sering bertemu. Bukankah begitu?!"


"Pak Brillian, kebetulan sekali. Apa anda sudah memesan meja? Jika tidak, silahkan ikut duduk bersama kami!"


"Oh tidak, terima kasih! Saya sudah selesai. Hanya ingin menyapa anda!"


"Hmm!" Arya terlihat tenang. Masih setia dengan stiek, knife dan forknya.


"Hmm, siapa yang bersamamu ini?" Ia menunjuk ke arah Alona dan ibunya.


"Mereka calon keluargaku!"


"Oh, ya! Tapi, aku belum pernah melihat mereka sebelumnya?"


"Ya, aku memang belum memperkenalkan mereka pada publik!"


"Wah, gadis pilihan anda sepertinya masih sangat muda. Juga terlihat energik!"


"Terima kasih sanjungannya.


"Tapi, mereka tak terlihat seperti keluarga bangsawan!"


"Apa aku pernah mengatakan padamu kalau mereka bangsawan?" Nada bicara Arya kini terdengar dingin dengan tatapan tajam menghujam.


"Oh, tidak! Tidak! Maaf jika aku menyinggungmu!" Nada bicaranya masih sedikit meledek.


"Jika tidak keberatan, tolong jangan ganggu makan malam kami!"


"Ah, baiklah! Maaf sudah mengganggu malam malammu!" Pria bernama Brillian itu kemudian berlalu. Wajahnya terlihat kesal. Tangannya mengepal. "Beraninya dia mengusirku di depan para bangsawan!" Menggerutu.


Langkahnya pasti menuju mobil yang ia parkirkan di area parkiran khusus VIP. Segera sang supir membuka pintu mobil belakang saat langkahnya sudah semakin dekat. Brillian langsung masuk. Menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa. Dilepasnya dasi yang sebelumnya melilit di leher dengan kasar.


"Dia pikir karena dia menang dari segala aspek, lantas dia bisa bersikap tak sopan dengan orang yang lebih tua! Beraninya dia menghinaku, mengusirku di depan khalayak! Akan aku balas perbuatannya!" Masih menggerutu kesal. "Cari informasi tentang identitas wanita kekasih si sombong itu! Aku yakin dia bukan keturunan keluarga terpandang! Aku akan membuat perhitungan."


"Baik, Tuan!"


Bersambung .... Beri like, komen, vote! Terima kasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2