Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Digoda Anak Kecil


__ADS_3

Sahutan burung di pagi itu terdengar memekik. Ya, karena memang pekarangan itu hanya berpagar pohon-pohon sehingga menjadi tempat hunian para binatang bersayap itu.


Alona bangun, setelah sebelumnya menggeliat dalam balutan selimut tebal. Di kuceknya kedua bola mata dengan kedua tangan. Bangkit dan langsung menuju meja rias menghadap cermin. Menatap wajah lusuhnya dengan rambut yamg juga acak-acakan.


Terdengar jelas suara gadis mendengkur di atas ranjang dan sempat mengalihkan tatapan Alona yang sebelumnya tertuju ke cermin di hadapan tadi.


"Loh, sejak kapan tuh anak tidur di kamar gue??" Ia mengedarkan pandangan. Tapi nuansa itu berbeda dengan nuansa kamarnya. "Astaga! Kenapa gue ampe lupa, kan gue yang numpang di kamarnnya!"


Kembali ia berjalan ke arah ranjang. Menyentuh tubuh adiknya sebelum akhirnya menggoyang-goyangkannya.


"Qeaa!! Banguun!!"


"Apaan sih, Kak! Berisik tau!!"


"Bangun! Ini udah pagi! Lu gak sekolah??"


"Emangnya jam berapa sih??"


Alona memutar paksa kepala Qea dengan tangannya. Agar adiknya dapat melihat dengan jelas jam di dinding yang menunjukkan pukul 07:00 dini hari. Dan berhasil membuat adiknya melirik menggunakan sebelah mata.


Deg!!


"Apa?? Kok udah jam tujuh aja?? Kenapa baru bangunin Qea sih??"


"Yeee!! Kenapa nyalahin Kakak?? Kan lu yang sekolah! Harusnya lu sanggup bangun sendiri!"


"Aghh!! Serahlah! Misi!" Qea langsung bangkit. Menyibak selimut yang sebelumnya menutup di atas tubuhnya. Menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu, dan langsung berlari menuju kamar mandi. Dan ia kaget begitu melihat kamar mandi yang sudah lebih dulu tertutup rapat.


"Aduuh!! Siapa sih yang udah ngambil waktu mandi gue! Udah mepet gini juga! Woy! Siapa di dalam?"


Gdor!


Gdor!


Qea menggedor pintu kamar mandi. Ia lupa bahwa tadi malam ada dua pria yang numpang menginap di rumah mereka.


Gdor!


Gdor!


"Emak kah di dalam?? Cepetan dong, Mak!! Qea juga mau mandi nih! Udah hampir telaaat ke sekolah."


Krieet!


Gadis itu langsung masuk tanpa melihat sosok yang sebelumnya mandi di dalam bilik itu, dan orang itu bahkan belum keluar. Alias masih di dalam.


"Qea, bisa minggir dulu, gak?"


Deg!!


'I-itu kan suara om Bobby!' Saat itu mata Qea tertuju pada mata kaki pria di hadapannya. Pelan pandangannya menyusuri hingga ke atas. Satu buah handuk dengan warna putih tampak membungkus dari pinggul hingga ke lutut.


Matanya terus ia arahkan hingga pandangan mereka bertemu.


Kini nampak jelas sesosok pria tampan yang terlihat sangat segar karena baru selesai mandi. Tangannya sibuk mengibas-ngibas rambut dengan handuk kecil agar lebih cepat kering. Dada bidangnya bahkan masih menyisakan beberapa tetes air bekas mandi yang belum mengering.


"Bisa kasih Om jalan, gak??" Ia berkata tepat di wajah Qea.


Glek!!


"I-i-iya, Om!" Seketika Qe menyingkirkan pandangannya dari hadapan Bobby. Dan menggeser tubuhnya agar pintunya muat di lewati.


Tanpa bicara lagi, Bobby hanya berjalan menuju kamar Alona yang ia dan Arya tempati untuk sementara.


Dag!


Dug!


Dag!


Dug!


Detak jantung Qea berdetak lebih kuat dari sebelumnya, seakan hendak melompat. Gadis itu hanya bisa memeganginya.


'Ada apa dengan gue? Kok gue jadi grogi? Padahal kemarin gue biasa aja!' Ia menarik napas dalam lalu menghembus pelan sebelum akhirnya menutup rapat pintu kamar mandi.


*****


"Mak, Qea berangkat, ya!" Berbicara sambil berjalan cepat menjenteng ransel di tangan kanannya.


"Gak sarapan dulu??"


"Gak, Mak! Udah mau telat!"


"Ya udah, ati-ati! Uang sakumu ada di atas meja tuh!"


"Iyaa!" Bergegas ia meraihnya dan berlari kecil menuju teras rumah. Memasang kedua sepatu dengan tergesa.


"Mau Om antar gak?"


"Ehh!!" Qea terkejut dan menoleh. Tampak sosok Bobby yang kini lebih rapi dengan setelan kantornya. "Antar??"


"Iya, kebetulan Om juga mau ke kantor hari ini!"


"Se-serius Om mau ngantar!"


"Iya, sekolahmu ke arah mana?"


"Sana!" Qea hanya menunjuk dengan tangannya.


"Kalo begitu kita searah! Yuk, buruan!"


"Ehh!!"

__ADS_1


Bobby sudah berjalan duluan menuju mobilnya. Tanpa menunggu jawaban setuju atau tidak dari Qea. Membuat gadis itu termenung sesaat.


"Qeaa! Ayo, buruan!" Bobby sudah melambai dari samping mobilnya, meminta agar gadis itu bergerak lebih cepat.


Gadis itu langsung berlari ke arah parkiran mobil Bobby. "Iya, Om!" sahutnya penuh semangat.


Setibanya, Bobby sudah standby di kursi setir. Menunggu Qea masuk.


"Pasang sabuknya, ya!"


"Ahh, iya!" Kali ini, Qea malah lebih canggung dari Bobby, padahal biasanya dia yang paling agresif saat sedang berdua. Hingga berulang kali ia gagal memasang sabuk pengaman hanya gara-gara grogi. Seketika Bobby mendekat.


Deg!!


'Eh, mau apa cowok ini??' batinnya langsung menduga yang tidak-tidak. "Ehh, Om mau ngapain nempel-nempel?"


"Haa??" Bobby mengernyit menatap Qea yang mana jarak mereka memang sangat dekat.


Ceklek!! Sabuk di badan Qea sudah terpasang. "Om cuma mau bantuin kamu pake sabuk! Om lihat dari tadi kamu kesusahan masangnya. Jangan salah sangka dulu!" tukasnya yang kembali berada di tempat duduknya.


"Ohh! Kirain Om mau cium Qea!"


"Haa??" Ungkapan Qea kembali membuat Bobby mengernyit. Lalu kemudian tertawa.


"Kenapa?? Kok ketawa??"


"Habis kamu sih! Masih bocah juga ngomongnya udah blak-blakkan!"


"Jadi, menurut Om, Qea gak berani??"


"Ehh! Maksudmu??" Bobby menoleh, menatap Qea. Dan tanpa di duga, Qea langsung menyambar bibir Bobby sekejap. Lalu kembali duduk menghadap ke depan.


Degg!!


Seketika Bobby mematung. Masih setia menatap ke arah Qea, sesang jajahnya langsung berubah kemerahan.


Gadis yang habis mencium itu bahkan masih bisa tersenyum santai. "Gimana? Qea berani, kan?!"


"Qeaa!!" Nada bicara Bobby sedikit menghardik. "Kamu gak boleh bersikap nakal begitu. Gimana kalo kamu ketemu orang jahat. Kamu pasti sudah diselesikannya!"


"Oh, ya??" Wajah gadis itu semakin terlihat nakal. "Asal Om yang selesaikan, Qea mau kok!"


"Qeaaa!!! Agghh!!" Bobby mengalihkan pandangannya dan mulai fokus menyetir. 'Sial! Gue udah digodain anak kecil!' batinnya menggerutu.


Sepanjang jalan Bobby terlihat fokus menyetir, sedang Qea tak hentinya menatap genit ke arahnya. 'Duuh! Anak ini kenapa sih? Kenapa dia tiba-tiba berani nyium gue? Dan kenapa sekarang dia ngelihatin gue mulu?'


"Omm??"


"Hmm," sahutan singkat dan ketus.


"Yang tadi pagi itu ...."


'Sial! Dia mau bahas apaan??' batinnya. "Kejadian tadi pagi, tolong kamu lupain aja!"


"Kalo Qea gak mau lupain?"


Deg!!


'Duuh! Nih anak kerasukan apa sih?? Jadi nyesel gue ngajak dia berangkat bareng!' kembali Bobby fokus menyetir. Melihat ekspresi Qea begitu membuatnya tak jadi bicara.


"Kenapa, Om?" Masih senyum menggoda bahkan mulai mendekat-dekatkan dirinya. Bobby hanya bisa menunjulnya pelan setiap kali mendekat. Membuat bibir Qea sedikit cemberut.


"Gak jadi jika!!" sahut Bobby ketus.


"Om??"


"Hmmmmm!"


"Soal tadi pagi ...."


Deg!


Deg!


Jantung Bobby terpompa otomatis.


"Om kelihatan seksi! Keren deh, Om! Qea jadi gemes, pengen pelukin dada Om! Hihihi."


Dag!


Dug!


Dag!


Dug!


'Jangan hiraukan dia, Bobby! Jangan hiraukan dia!' batin Bobby terus saja menggerutu.


"Om??"


"Ahhh!! Apalagi sih??" Tanpa sadar, Bobby sudah menghardiknya. Seketika Qea terkejut. Wajah manisnya yang tadi tersenyum riang itu berubah murung. Bahkan bola matanya langsung berembun. Hardikan Bobby telah melukai perasaannya.


"Ehh??!"


Menyadari ucapannya telah melukai hati Qea, Bobby langsung menghentikan laju kendaraannya.


"Qe-Qea, maafin Om! Om tadi gak sengaja. Om gak ada maksud buat bentak kamu!" Pelan Bobby menyentuh gadis itu. "Qea, apa kamu marah?!"


"Turunin Qea di sini!"


"Tapi, Qea! Sekolahmu kan belum sampai!"


"Pokoknya turunin Qea di sini!"

__ADS_1


Ceklek! Pintu mobil terbuka. Gadis itu langsung turun dan langsung menyusuri jalan menuju sekolahnya. Saat itu juga Bobby turun mengejarnya. "Qea, Qea!! Tunggu!" Gadis itu tak mau mendengarnya, ia masih berjalan di depan tak menghiraukan. Tapi Bobby tetap mengejar, saat dekat ia langsung meraih pergelangan Qea, membuat bocah itu berhenti walau tak menoleh.


"Mau apa sih, Om? Bukannya Om gak suka sama Qea? Qea mau berangkat sendiri!"


"Qea!! Om bukannya gak suka sama Qea! Cuma ...." Mendengar ucapan Bobby yang terputus ditambah kata cuma, membuat Qea kesal. Ia langsung melepas paksa genggaman Bobby. Dan kembali berjalan. Saat itu Bobby tak ada pilihan selain kembali mengejarnya. "Iya, iya! Om salah! Om minta maaf!"


Tap!


Langkah Qea kembali terhenti. Gadis itu memutar badannya pelan. Tampak pria di belakangnya terlihat kusut dengan wajah menyesal.


"Apa Qea ini cuma beban bagi Om?"


"Apa??" Mata Bobby membulat sedang alisnya mengkerut. "Ya, enggak lah, Qea!!"


"Terus, kenapa Om bersikap begitu sama Qea? Apa Om benci Qea?" ucapannya sedikit terbata. Gadis itu menahan tangisnya.


Bobby mendekat. Memegang pundak Qea. "Qea, dengarkan Om! Bukannya Om benci, tapi kamu gak boleh bersikap agresif begitu?"


"Kenapa??" Qea mengernyit tak mengerti. "Lagian, Qea gak ngerti maksud Om? Memangnya apa itu agresis?" Mendengarnya Bobby hanya bisa menepuk jidat.


"Agresif, Qea."


"Ya, itu lah!"


Bobby tertawa kecil. "Qea, sikapmu yang menggoda Om seperti tadi itu disebut agresif. Dan kamu harus tau! Itu berbahaya buat kamu, kalo aja Om ini orang jahat, mungkin kamu sudah di apa-apakan! Apa kamu mau?"


"Tapi kan, Om orangnya baik! Dan Qea bersikap begitu cuma sama Om loh. Dan juga, Qea gak masalah kalo Om apa-apakan sama Qea!!"


"Ehh?? Maksudnya??" Bobby terkejut dengan ungkapan Qea. 'Ya ampun. Anak ini kenapa?'


"Qea suka sama Om??"


"Ehh!!" Bobby semakin terkejut mendengar pernyataan Qea yang mendadak.


"Kenapa?? Om gak suka ya sama Qea?"


"Bu-bukan gitu!!"


"Jadi apa?? Apa Om sudah punya pacar?"


"Pacar??"


"Ho-oh, apa Om punya?"


Saat itu Bobby bingung harus jawab apa. Walau sebenarnya ia memang belum memiliki pasangan. "Om sudah punya pacar!" sahutnya.


Deg!! Seketika bola mata Qea membulat. Tatapannya kosong menatap ke bawah. Bobby terpaksa berbohong. Ia takut tak mampu mengendalikan diri dengan godaan Qea. Padahal ia sendiri tak menyadari bahwa ia juga menyukai gadis kecil itu.


Jadi, Om sudah punya pacar, ya?" Qea menundukkan wajahnya, kusut.


"I-iya!" Canggung. Berbohong.


Keduanya hening sesaat.


"Kita kembali ke mobil sekarang, ya! Om antar kamu ke sekolah! Ya??" Bobby meraih lengannya, mengajaknya masuk ke mobil bersamaan. Tapi langsung di tepis oleh gadis itu. Ia memilih berjalan tanpa bergandengan.


Gadis itu tak lagi melawan. Ia hanya mengikuti instruksi Bobby. Bahkan sepanjang jalan, gadis itu sudah tak bicara sepatah katapun. Sesekali Bobby meliriknya, hanya wajah kusut yang terpampang di sana.


Ckieet!!


Mereka tiba di sekolah Qea. Ia tak terlambat karena di antar oleh Bobby. Sebelumnya gadis itu selalu berangkat menggunakan jasa angkot.


Qea turun dan langsung menuju pagar sekolah. Tak terlibat percakapan apapun dengan Bobby.


Semua temannya sampai tercengang melihat Qea yang di antar menggunakan mobil mewah. Tapi yang membuat mereka heran adalah sikap Qea, dia turun tanpa pamit dengan pria yang mengantarnya. Padahal Bobby sudah turun dari mobil untuk berpamitan dengannya.


"Qea, hati-hati, ya! Kalau sudah pulang, jangan lupa untuk menelpon! Om akan jemput kamu nanti!"


Qea tak menyahut. Hanya berjalan lurus.


"Waah! Ganteng banget!!"


"Sumpah! Kayak oppa korea!"


"Kok bisa om ganteng itu ngantar Qea?".


"Mungkin dia pacarnya!"


"Mana mungkin! Jangankan cowok ganteng, cowok jelek aja ilfil deket sama dia!"


"Kata siapa? Itu buktinya!"


"Iya nih sewot aja! Qea kan cantik!"


"Cantik sih cantik! Tapi kan dia preman!".


"Ah, iya ya!"


"Tapi kenapa Qea kelihatan mengabaikan cowoknya!"


"Mungkin mereka kelahian kali?"


"Iya juga sih!"


Percakapan anak-anak iri yang hanya berjarak beberapa meter dari Bobby itu terdengar jelas di telinga Bobby. Tapi pria itu tak menghiraukannya. Ia mulai mengetik pesan yang dikirim untuk Qea.


[Qea adikku sayaang! Pulang nanti telepon aja Om, oke?! Nanti biar Om yang jemput]


Tertera dalam layar ponsrlnya, TERKIRIM. Selesai mengirim pesan, Bobby kembali ke dalam mobilnya. Melanjutkan perjalanannya yang cukup jauh menuju kantor.


Bersambung ....


Apakah yang akan terjadi selanjutnya saat Bobby menjemput Qea? Akankah Qea mau ikut pulang bersamanya?? Atau jangan-jangan Qea justru pulang dengan pria lain untuk memanasi Bobby?

__ADS_1


Nantikan episode selanjutnya yaa ....


Love u all ....


__ADS_2