Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Villa 4


__ADS_3

Alona selesai berganti pakaian dengan setelan casual. Satu buah topi bundar tak luput Bobby masukkan dalam tas belanja itu.


"Topi? Apa iya cocok kalo gue pake?" Gadis itu masih sibuk mematut di depan cermin besar. Memantulkan secara detail sosok dirinya dalam bayangan cermin.


Berlenggok ke kiri dan ke kanan, setelah sebelumnya mencoba benda bundar itu di kepalanya. "Hmm! Cocok juga!" gumamnya.


Tap! Tap!


Langkahnya pasti, keluar dari kamar menuju lift. Lalu masuk dan langsung menekan tombol L.d pertanda ia ingin ke lantai dasar.


Ting!


Tombol itu kembali hijau. Selang beberapa saat pintu terbuka. Sosok Bobby langsung memenuhi ruang penglihatan Alona.


Netra itu membelalak, takjub. Seakan tak percaya dengan pesona gadis yang berada di hadapannya.


"Bobby!" Gadis itu melambai. Membuat sang pria tersentak dari lamunannya.


"Kok ngelamun sih?"


"Ah! Gak kok! Sudah siap jalan, Nona Manis!" rayu Bobby, membuat pipi Alona memerah bagai ditampol full blushon.


"Lu mau ajak gue ke mana?" Mereka kembali bercengkrama setelah keduanya hening beberapa saat.


"Gue mau ajak loe ke danau di belakang villa. Gue yakin, waktu di atas lu udah lihat danau itu kan?!"


'Ke danau bareng Bobby. Isshh! Andai aja yang ngajak itu Bima.'


"Kok diam aja? Ayo buruan!" Diraihnya lengan Alona. Memaksa ikut dengannya.


Pasrah. Tak mampu mengelak. Wanita itu terpaksa mengikutinya.


"Alona, lu gak penasaran apa yang sudah terjadi sama loe tadi malam? Sampai berakhir di kamar gue?"


Deg!


'Apa maksudnya? Apa mungkin tadi malam gue tidur seranjang sama dia?' batin si gadis kembali bergumam.


"Emang apa yang terjadi sama gue?"


"Jadi lu bener-bener gak ingat ya?"


Gadis itu mengangguk.


"Ya udah, kalo gitu lupain aja!" Pria itu langsung membalikan wajah, rautnya terlihat datar seakan tak ada yang terjadi. Tak luput dengan dua tangan ia masukkan dalam kantung dipinggulnya. Membuatnya selalu terlihat maskulin.


"Eh, Jangan gitu dong, Bob! Gue kan juga masih penasaran apa yang terjadi tadi malam sampai berakhir di villa ini?"

__ADS_1


"Serius lu penasaran?"


"Ya, iya lah!"


"Tapi, masa iya sih, lu sama sekali gak ingat apa-apa?"


"Sueeer! Sebentar deh, gue coba ngingat!" Dua jari ia letakkan di samping jidat. Seakan sedang berpikir keras, sedang netranya ia arahkan ke beberapa pohon rindang di tepi jalan. Sontak pria di sampingnya terkekeh.


"Kenapa lu ketawa?"


"Sok-sok'an mikir lu? Emangnya tuh otak masih bisa difungsiin? Kejadian tadi malam aja lu gak bisa ingat, mending gak usah dipake mikir deh. Takut ntar jadi buntu!"


"Apa?? Sialan! Ini sih namanya penghinaan! Awas loe ya, gue tuntut loe!"


Kembali Bobby terkekeh. "Ya udah tuntut aja! Gue siap dituntut sama cewek imut kepunyaan gue!"


"A-apa lu bilang? Cewek imut kepunyaan loe!"


"Ho-oh! Kan tadi gue udah nyatain perasaan gue ke elo waktu di atas! So! loe sudah sah jadi cewek gue!"


"Ehh apa-apaan! Siapa yang jadi cewek loe! Jangan ngaku-ngaku yaa!"


"Hmm, gue rasa lu perlu lihat video ini!"


Deg!


"Video apaan?"


"Bobby!!! Loe udah bikin gue kesel yaa! Sekarang cepat! Siniin ponsel loe!" Gadis itu tampaknya mulai geram. Sedang Bobby semakin senang. Usahanya untuk membuat Alona dekat dengannya berhasil.


'Ya ampun, cewek ini polos banget sih! Gue tipu begitu aja langsung percaya! Makin gemes aja gue!' Sambil membatin pria itu tertawa kecil.


"Loe mau ponsel gue?"


"Iya! Cepat! Siniin gak? Kalo gak, loe bakal kena jurus silat dari gue! Dan perlu lu tau, gue tipe cewek yang gak suka ngasih ampun!"


"Wow! Seru banget! Ya udah, buruan keluarin jurus silat loe! Gue pengen lihat! Jangan lupa, pake jurus cium pipi ya kalo jurus yang lainnya gagal."


Gadis itu semakin geram. "Aggghh!!Sembarangan! Heh! Gak ada yang namanya jurus cium pipi, tau!"


"Oh tentu ada, dong! Lu cium pipi gue, ntar lu bisa lihat deh isi di-HP gue sepuasnya! Atau mau tukeran HP juga boleh!"


"Bobby!!! Aggghhh! Sini'in gak? Gue piting juga loe yaa!"


"Ya udah! Nih ponsel gue, ayo ambil!" Bobby memegang ponselnya dengan mengangkat tangan ke atas. Tentu saja si gadis mungil itu tak mampu menggapai karena tinggi badan Bobby yang jauh melampau di atas Alona.


"Bobby! Siniin gak ponsel loe!" Tak hentinya ia mengancam. Sedang semakin Alona emosi, semakin Bobby asyik mengganggunya.

__ADS_1


Gadis itu berusaha meraih lengan Bobby yang jauh di atasnya. "Lu manusia apa tiang listrik sih?" rutuk si gadis.


"Hahaha! Lu ngeledek soal tinggi badan gue!"


"Kagak! Tapi emang bener kan, lu kayak tiang listrik." Ungkapan Alona berhasil menahan senyum di atas bibir Bobby.


"Hai, Bima, Jesica! Kalian di sini juga!" Bobby melambai ke arah belakang si gadis.


"Jangan coba mengalihkan yaa!"


"Siapa yang ngalihkan! Noh, lu lihat!" Pria itu membalik paksa wajah Alona.


Alona berhasil menoleh.


Deg!


Tampak dua insan yang sedang duduk di bangku pinggir jalan. Dua insan yang sejak tadi memperhatikan ulah tingkah Alona dan Bobby.


Seketika wajah Alona pucat. Terlihat juga raut jesica yang penuh amarah memandang ke arah Alona. Sedang raut Arya kusut bagai layangan putus.


"Nah! Mumpung lagi berempat. Gimana kalo kita ke danau barengan! Setuju kan?" Bobby mengajak ke tiga insan di hadapannya untuk pergi ke danau bersamaan.


"Setuju dong!" Hanya Jesica yang tampak semangat menyambut ajakan Bobby. Bahkan dengan genit, gadis itu spontan menggandeng lengan Bobby. Namun sayang, upayanya sia-sia, pria itu langsung menepisnya.


"Jes, lu gak lihat gue jalan bareng Alona?!" Ekspresi Bobby datar saat bertanya.


"Ta-tapi kan, Bob! Kita kan juga teman! Apa salahnya kalau gue gandeng elu?"


"Salah besar! kita emang teman. Tapi gue sama Alona sekarang sudah jadian. Jadi plis, jangan bertingkah genit lagi kalo berada di dekat gue. Ok! Lagian lu gak kasian sama Bima yang kayak nyamuk di samping loe!" Bobby menunjuk ke arah Arya, dengan senyum meledek.


"Apa??" Jesica melotot tak percaya. Hal yang sama dilakukan Alona. Wanita itu juga melotot tak luput mencubit keras pinggul Bobby.


"Lu ngapain bohong sih, Bob!" bisiknya di samping pria itu.


"Keterlaluan lu, Bob!" Mendadak Arya berucap kata yang mengejutkan Bobby.


Deg!


Wajah Arya tampak serius saat berbicara.


"Lu kenapa, Bim? Mendadak serius amat!" Bobby masih mencoba berkata pelan.


"Gak seharusnya lu ngakui Alona itu pacar loe!"


"Apa maksud loe?"


Sorot mata Bobby menjadi sama seperti yang dilakukan Arya. Kini pria itu juga menatap tajam. Kedua pasang mata itu kini mulai beradu tatap.

__ADS_1


mohon dukung author dengan vote, like, komen


Bersambung ....


__ADS_2