Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Kepergian yang mendadak


__ADS_3

Kedua pelayan tadi masih setia membantu Alona memasang lalu mengganti yang satu dengan yang lain. Setiap kali mengganti, tak luput kedua pelayan itu memotretnya.


"Kenapa harus selalu difoto sih tiap ganti?" Alona mulai kesal dengan perlakuan mereka. Dan lagi-lagi jawaban mereka selalu sama, karena tuntutan dari atasan.


"Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan perintah!"


"Ya tapi, masa harus sedetail itu sampai memotret setiap gaun yang gue coba!"


"Ya, ini untuk dikirim ke bos, sebagai laporan!"


"Apa laporan???"


"Ya, Nona. Kami gak bohong!" Salah satu dari mereka menunjukkan bukti chat dengan latar foto-foto Alona menggunakan gaun-gaun itu, foto itu dikirim pada bodyguard Arya. Melihatnya, Alona hanya bisa menenggak berat saliva.


'Jadi bener? Gue pikir mereka bohong?'


"Mohon jangan curigai kami!"


"Iya! Iya! Gue percaya!" Alona sedikit berdesis. Kesal.


Selesai proses percobaan gaun, kembali Alona menunggu dua pelayan menebus barang belanjaan yang terjenteng di tangan mereka. Sedang gadis itu sendiri merasa tak ubahnya kelinci percobaan. 'Sial! Kalau begini sih gue berasa kayak kelinci percobaan!' gerutunya memalingkan wajah dan memanjangkan bibir.


Namun, seketika netranya membelalak. Sebab melihat sosok pria tak asing berlari kencang menuju pintu entrens. Bobby terlihat panik seperti sedang terdesak. "Bobby kenapa tuh, kayak orang kebakaran jenggot aja!" gumam Alona. Netranya masih terus menyorot ke arah Bobby.


Bip!


Notifikasi dalam ponsel Alona berbunyi satu kali. Penasaran, siapa yang kini mengirim pesan padanya. Segera Alona melihatnya, menyalakan layar ponsel yang sebelumnya redup total. mencari tahu maksud dari isi pesan.


Klik!


[Alona Sayaang! Maaf! Kita udahi dulu ya belanjanya hari ini! Kita akan sambung besok! Saat ini ada hal genting yang harus aku urus]


Isi pesan gombal itu ternyata datang dari Arya.


"Keadaan genting yang harus dia urus? Urusan apa?" Alona bergumam, memikirkan hal yang tak seharusnya ia pikirkan.


Dua orang bodyguard datang menghampiri mereka. Terlihat sedikit berbisik beberapa detik pada dua pelayan tadi. Alona melirik, lalu membuang wajah saat pandangan mereka kembali berbalik ke arah Alona.


"Nona! Kita harus pergi sekarang!"


"Tapi kenapa?"


"Saya tak bisa jelaskan alasannya! Tapi yang pasti ini perintah dari Tuan Besar!"


Alona menatap sesaat lalu memilih bangkit. Mengikuti langkah mereka yang menuju ruang area khusus VVIP, tempat sebelum ia memasuki area pusat perbelanjaan. Mereka menuju lift dan langsung menembus ke tempat yang dituju. Tak ada tanda-tanda kehadiran Arya di sana. Hanya Bobby sang asisten yang terlihat sibuk memainkan ponselnya.


"Antar gadis ini ke villa!" perintah Bobby pada satu orang supir pribadi.


"Siap, Pak!"


'Apa? Antar gadis ini? Kenapa sikap terhadap gue Bobby begitu dingin??'

__ADS_1


Selesai memerintah. Bobby terlihat berjalan menuju mobil miliknya. Seakan tak melihat tanda kehadiran Alona. Sengaja pria itu tak memedulikannya. Tak ada niat lain. Hanya berusaha mengubur perasaannya pada sang gadis.


"Bobby tunggu!"


Tap!


Langkahnya terhenti. Pria itu lalu memalingkan wajahnya. Terlihat Alona yang berlari mendekat.


"Bobby, ahh anu itu .. sebenarnya Bima ke mana?"


"Fouhh!" Pria di hadapannya menghela pelan. "Bukan Bima, tapi Arya. Lu kan udah tau dia yang sebenarnya! Kenapa masih manggil dengan nama Bima!"


"Iya, iya! Gue tau. Gue cuma belum terbiasa!"


"Hmm, kenapa?"


'Dih! Kenapa Bobby jadi dingin gini sih? Jadi kikuk gue!' Wajah Alona tegang. "Itu .. kalian kenapa ninggalin gue?"


"Arya mendadak ada urusan genting! Dan begitu juga gue!"


"Oh gitu! Boleh gue ikut?"


"Ikut siapa?"


"Ikut siapa lagi? Kan sekarang cuma ada elo!"


"Gak bisa!" Bobby berbalik badan. Dan kembali melangkah. Namun, langkahnya tersendat, dihentikan oleh Alona yang mendadak memegang lengannya.


Deg!


Deg!


"Segenting apa urusan itu sampai gue gak boleh ikut??" Suara Alona terdengar merengek. "Pliiis, Bob. Gue gak mau ditinggal sendirian!"


Bobby menepis pelan genggaman Alona pada lengannya.


"Gak ada yang ninggalin loe sendirian, Alona. Lu akan di temani oleh beberapa pelayan di villa."


"Bohong! Kalau memang begitu, kenapa dulu kalian biarkan gue sendirian sewaktu di villa??"


"Karena dulu, Arya masih menyembunyikan identitasnya! Udahlah, jangan merengek terus! Gue harus pergi sekarang!" Kembali langkah ia putar, memunggungi Alona.


"Bobby pliiiis!" Lagi-lagi lengan Alona menarik pergelangan Bobby. Membuat Bobby mendesah pelan.


"Huh!" Dipalingkannya wajah. Kini terlihat rautnya yang sedikit dingin dan menegangkan.


Glek!


Tatapan Alona menjadi tegang karenanya.


"Alona! Lu bisa berhenti gak? Jangan bertingkah seperti anak kecil??" Ia menghardik keras pada gadis itu.

__ADS_1


Alona terkejut. Hingga membuat kedua bola matanya berkaca-kaca.


Melihatnya, Bobby tak kuasa, seketika emosinya meredam. Luluh. "Fouhh! Menghela napas dengan berat. "Alona! Sebenarnya .. saat ini gue mau berkunjung ke Rumah Sakit!"


"Kalo begitu kenapa gue gak boleh ikut?"


"Karena ini adalah permintaan dari keluarga pasien!"


"Keluarga pasien?? Apa mereka anti orang asing?"


"Sebenarnya, mereka bukan orang asing!"


"Maksudnya?!!"


"Apa loe gak tau, kalau selama ini sahabat loe tengah hamil??"


'Sahabat gue? Hamil??' Mata Alona membelalak. "Siapa??" tanyanya bingung.


"Iya, saat ini Jesica tengah di rawat di Rumah Sakit. Tadi pagi dia mengalami pendarahan hebat!"


Deg!


'Jesica hamil??' batinnya terkejut tak percaya. "Dari mana loe tau kabar ini?"


"Ayah Jesica yang ngabari gue, katanya beliau meminta sedikit bantuan, beliau kekurangan dana."


"Tapi kenapa gue gak boleh ikut??"


"Itu karena, ayah Jesica gak ingin berita ini tersebar oleh rekan kerja maupun sahabat Jesica. Beliau takut Jesica akan menanggung malu!"


Wajah Alona tersungut lesu mendengarnya.


"Jadi sekarang loe paham kan? Apa lu masih mau ikut?"


"Ya! Gue ikut! Meskipun ayah Jesica malu, tapi gue yakin Jesica gak akan berpikir begitu! Gue ingin menyemangati sahabat gue!" terangnya. 'Jesica! Meskipun lu udah dzolimi gue, tapi teman tetaplah teman. Izinkan gue membesuk lu!'


Wajah Bobby terlihat sedikit berat mengiyakan. Walau akhirnya ia menyetujui untuk membawa Alona bersamanya.


'Hanya kali ini saja gue bawa kekasih loe, Ar! Plis maafin gue, Ar!' Bobby membatin.


Keduanya langsung memasuki mobil. Dan Bobby melajukannya dengan kecepatan tinggi.


"Bobby, apa kita akan naik kapal? Bukankah kita akan terlambat dua hari!"


"Ck, gadis bodoh! Lu lupa ya kalo gue ini asisten kepercayaan Arya. Kita bukan akan naik kapal. Tapi jet pribadi!"


"Jet pribadi?"


"Iya, kita akan menuju stadion sekarang!"


'Oh, jadi itu sebabnya dulu gue lihat Bima berada di depan pintu stadion di pulau ini. Jadi ternyata, stadion itu tempat landasan jet pribadi. Sungguh gak disangka!'

__ADS_1


__ADS_2