
"Lu kok mendadak pergi sih, Bim?" tanya Jesica yang saat itu sedang bersama dalam satu bus.
"Ehehe! Gakpapa! Gue ...."
"Ah! Udahlah, gak usah dijelasin juga gak apa-apa kok! Oh iya, hari ini kan hari berbelanja karyawan, dua hari lagi pesta barbaque kan! Lu gak ikutan?"
"Gak! Gue udah minta wakilin sama Boby!"
"Oh iya, lu kan sahabat karibnya Boby! Gue sampai lupa!" Wanita itu berucap dengan senyum mengembang. Membuat jakun Arya seketika bergerak naik turun.
"Iya, lu sendiri kenal Boby dari mana!" tanya Arya.
"Gue kenal Boby di clubbing!"
Seketika Arya membatin. 'Clubbing? Jadi wanita yang tampak polos ini, pernah ke clubbing?'
"Oh, di clubbing!" sahutnya.
Kini berbalik Jesica yang membatin. 'Gue yakin deh, cowok kikuk kayak Bima pasti belum pernah ke clubbing. Hahaha!'
"Ho'oh!" sahut Jesica.
"Jadi, lu mau ke mana sekarang?"
"Tadinya sih, mau nyusul Alona ke supermarket!"
"Ohh!" Sedetik Arya terdiam. "Oh, iya! Lu udah sarapan belum? Gimana kalo kita ke restaurant aja!"
"Boleh juga, ke restaurant mana?"
"Ke restaurant stiek yang bersebelahan sama kasir supermarket aja gimana?"
"Oh, restaurant khusus pasangan kekasih itu ya!"
"Ehehhe! Kok lu tau!"
"Tau dong! Jadi bener mau ke situ?"
"Iyaa!"
"Oke deh! Boleh juga!"
Jawaban Jesica berhasil membuat mata sipit Arya membulat. "Yess! Akhirnya, bisa juga gue balas dendam! Kemarin memang gue datang sendirian. Tapi kali ini gak! Gak ada lagi yang boleh ngeledek gue!'
"Lu kok ngelamun, Bim?"
"Ahahah! Gakpapa!"
Bus yang mereka tumpangi berhenti tepat di pemberhentian dekat dengan supermarket.
Kedua insan itu turun dan langsung menuju restaurant yang tadi mereka sepakati.
Arya dan Jesica memesan sebuah menu yang nyaris sama. Namun, lebih banyak Jesica yang meniru pesanan Arya. Gadis itu tak mengenal banyak nama menu khas jepang yang tersaji di restaurant itu.
Saat itu terpikir dalam benak Arya untuk mengujinya.
"Mas, boleh lihat total bill-nya gak?" tanya Arya pada waiter yang berdiri di sebelah kasir. Setelah makanan tersaji di meja.
__ADS_1
"Baik, sebentar ya!" sahutnya ramah.
Seketika Netra Jesica menyipit. "Lu kok nanya bill duluan?"
"Yaa! Takut aja duit gue gak cukup!"
"Apaa??" Jesica terkejut. Selang beberapa waiter tadi kembali dengan sebuah nampan yang di atasnya hanya ada selembar bill.
"Permisi, ini bill-nya, Mas!" tukasnya.
Arya mengambilnya dan langsung melihat totalan harga. "Wah, kayaknya duit gue gak cukup nih! Lu bisa tambahin gue nanti kan?" tukasnya.
"Lu gimana sih, Bim?? Kalo gak punya duit, gak seharusnya ngajak gue ke sini dong! Bikin malu aja lu!"
"Bu-bukan gitu, Jes!"
"Udah ah! Gue mau nyusul Alona! Lu makan sendiri aja, nafsu makan gue mendadak hilang!" ungkapnya yang kemudian berlalu. Meninggalkan Arya yang kini menjadi pucat, malu karena kini, ia kembali menjadi tontonan para pengunjung restaurant.
"Sial! Gue diledek lagi!" gumamnya.
"Jadi, gimana bayaran dengan semua menu ini, Pak?" tanya si waiter yang ternyata sedari tadi menyimak percakapan Arya dan Jesica.
"Sialan! Dari tadi lu ngintilin gue?"
"Bukan gitu, Om!" ungkapnya sedikit terbata.
"Om, om! Nih!" Arya meletakkan satu buah kartu debit di atas meja.
"Mau bayar sekarang, Om?" tanya si waiter sambil meraih kartu yang diletakkan Arya.
"Hmm!" sahutnya singkat.
Pria itu kemudian mencari nama Alona di kontak ponselnya.
"Dapat!" gumamnya.
Segera ia menekan tombol hijau untuk menelpon. Seketika muncul tulisan peringat buka blokir. " Astaga! Gue lupa udah ngeblokir nomornya ntuh anak!"
Baru saja ia menekan tombol buka blokir, seketika ponselnya berdering. Nama yang tertera pun nyaris membuat jantungnya copot.
"Apaaa?? Ke-kenapa bisaa??" Arya terkejut. Baru saja ia berniat menghubungi si gadis pembuat onar, tak disangka, gadis itu langsung menelponnya.
Klik!
"Halo!"
[Woy! Kenapa baru aktif, sih??! Gue udah sejam nih nelpon elo! Loe di mana sekarang? Huaaa!] Mendadak terdengar nada si gadis yang memakinya melalui sambungan telpon. Diiringi tangisan yang melengking.
'Duh! Kenapa lagi sih nih anak?!' batinnya bergumam.
"Lu di mana?" tanya Arya.
[Lu buruan ke sini yaa!] Suara dalam telepon itu terdengar merengek.
"Iyaa! Lu di mana?" Kembali Arya bertanya.
[Gue di halte dekat stadion!] Seketika Arya membatin. 'Apaa?? Di halte dekat stadion? Itu kan tempat gue nunggu bus sebelumnya. Apa mungkin gadis ini menyusul Jesica dan tertinggal di sana?! Astaga!!'
__ADS_1
"Tunggu gue di sana, jangan ke mana-mana! Okee!"
[Hmm] sahutnya pelan.
Bergegas Arya meletakkan ponsel ke dalam tas selempangnya. Diliriknya waiter yang tadi membawa kartu debit miliknya ke kasir untuk pembayaran. Namun tak disangka, yang tampak justru keseluruh karyawan tengah berdiri menatapnya. Membuat Arya sedikit grogi.
Lalu si waiter mendatanginya dengan bill di tangan. Dengan sedikit gemetar ia menyerahkan bill itu pada Arya.
"Pe-pe-permisi, Pak! Ini bill-nya, dan ini kartunya." Ia menyerahkannya pada Arya. Selamat menikmati menunya, jika masih ada yang di perlukan, panggil saja, Pak!"
"Hmm!" sahut Arya yang kemudian memberikan selembar kertas merah bernilai pada si waiter.
"Ini apa, Pak?"
"Ini untuk pelayananmu," ungkapnya.
"Terima kasih, Pak!"
Setelahnya, bergegas Arya pergi menuju tempat pemberhentian bus. Kembali ia menelpon si gadis.
Tuuuut! Klik! "Halo, lu di mana?" tanya Arya di dalam telpon.
[Masih di sini, di halte pemberhentian bus] Suara yang terdengar sangat lesu.
"Sebentar ya, gue menyusul!"
[Hmm] sahutnya.
Selang beberapa saat ....
"Alonaa!" serunya.
Gadis itu menoleh. Ia terkejut melihat Arya yang sedang berada di atas motor besar lengkap dengan helmnya, pria itu lantas memanggilnya dari kejauahan. Dari jalur pemotor.
"Sini, Buruuan!" seru Arya.
Dengan langkah pasti. Alona berlari mendekat ke arah Arya. Wajahnya merona bak bunga sakura.
Sedetik kemudian ia sampai. Segera Arya mengambil satu buah helm wanita di hadapannya dan menyerahkan pada Alona.
"Nih, lu pake!" tukas Arya.
"Kita mau ke mana?" Si gadis bertanya.
"Ke mana aja! Yang penting lu dan gue happy!"
Ungkapan itu membuat wajah Alona bersinar. Segera ia menggunakan helm yang diserahkan Arya padanya sesaat setelah menaiki motor ninja itu.
"Udah siap?" tanya Arya.
"Udah!" sahut Alona pelan.
"Pegangan ya!"
"A-apa? Pe-pe-gangan?"
"Iyaa!"
__ADS_1
"Ba-baik!" Dengan jantung berdegub, Alona memeluk punggung Arya. Pria itu kemudian menstater dan langsung mengendarakan motor di atas lajurnya.
Sepanjang jalan hening, kedua insan itu masih membisu. Hanya deburan angin yang selalu menerpa wajah keduanya. Namun, dapat Alona rasakan degub jantung Arya yang juga berdebar saat jemarinya menyentuh dada kekar pria itu.