Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Keputusan Arya terdahadap Jesica


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan? Lepasin aku!"


Suara wanita itu sangat berisik, memecah gendang pendengaran para penjaga di sana. Gadis itu terus saja meronta, berharap dengan begitu ia bisa terlepas dari ikatan yang melilit di antara tubuhnya dan bangku.


"Apa kalian tidak tahu, aku ini calon kekasihnya Presdir Bobby. Cepat lepaskan aku, atau kalian semua bakal merasakan akibatnya!"


"Hei, Nona. Bisa gak kamu berhenti mengoceh. Suaramu mengganggu tidur siang kami!"


"Brengsek kalian. Lepasin aku, Agghh!" Ia mengerang keras.


BAM.


Pintu sel terbuka lebar, membuat netra Jesica teralihkan. Ia langsung di sambut oleh sosok pria yang di tendang dan tersungkur di depan pintu. Jesica menatap tak percaya, ia terbelalak melihat sosok pria yang kini menjadi sandera kedua hari itu.


'Rendra? Sial. Sepertinya ini benar ulah Presdir Arya. Apa itu artinya Arya sudah mengetahui segalanya tentang perbuatan busukku terhadap Alona? Dasar Alona tukang mengadu!'


Meski mulutnya berhenti mengoceh, tapi Jesica masih terus saja berontak, bahkan berkali-kali ia dan kursi yang menyatu dengan tubuhnya itu sampai terjatuh akibat terlalu banyak bergerak. Namun, para penjaga di sana masih terlihat sabar menghadapi gadis itu.


"Itulah kenapa, aku paling tak suka dengan perempuan. Mereka itu berisik!" terang salah satu penjaga di sana pada rekannya.


"Hei, apa maksudmu, apa kamu mau bilang sama kita kalau seleramu adalah sesama jenis?"


"Bukan begitu, maksudku, aku gak pernah mau serius dengan perempuan! Enak saja, jangan asal mengataiku, aku ini bukan kaum guy, tahu!" ucapnya kesal.


Hahaha.


Obrolan mereka memang tak sampai ke telinga Jesica, tapi tawa gelahak mereka terdengar jelas, mengusik rongga telinga Jesica.


Kali ini, para penjaga di sana, kini juga mulai mengikat tubuh Rendra pada sebatang kursi seperti yang terjadi pada Jesica, pria itu tak banyak melawan. Mungkin juga karena lemas akibat rasa traumanya saat mengalami insiden di Balai TB grup. Andai kata saat itu tim pengawal dan Rendra terlambat beberapa menit saja, mungkin tubuh Rendra sudah hancur berkeping-keping seperti puing-puing bangunan yang langsung terhambur saat ledakan itu terjadi.


"Rendra, apa yang terjadi padamu?" bisik Jesica, ia berusaha mencari informasi sampai tahap manakah kiranya Arya mengetahui kebusukannya.


"Ini semua gara-gara kamu, tahu!" gertak Rendra setengah berbisik. Lalu pelan menoleh ke arah Jesica.


"Apa! Kenapa kamu menyalahkanku?"


"Tentu saja ini salahmu, kalau bukan karena ulahmu yang menyuruhku membuat foto mesra dengan kekasih Presdir Arya itu, aku pasti gak akan terlibat dengan masalahmu ini!"


'Kekasih Presdir Arya? Jadi sekarang mereka resmi berhubungan?' batin Jesica mulai menerka.


"Apa? Enak sekali kamu menuduhku begitu. Kalo saja tanganku ini tidak terikat, sudah kucabik-cabik mulutmu itu. Perlu kamu tahu ya, kamulah penyebab kita terjebak di sini, Bodoh!" elak Jesica, mencerca Rendra diimbuhi kata bodoh.


Rendra mengernyit menatap wanita di sampingnya itu. "Apa alasanmu menuduhku, memangnya apa salahku?"


"Apa kamu lupa, ini semua terjadi gara-gara otak dungumu dan mataduitan-mu yang kelewat bodoh itu. Bukankah sudah kuperingat padamu untuk menolak tawaran bos mafia malam itu, tapi kamu terus saja mengeyel. Mana ada orang yang mau memberi rumah dan mobil mewah secara cuma-cuma, tapi begitu saja kamu langsung percaya. Dasar Rendra bodoh!"


"Heh! Bisa tidak kamu berhenti mengataiku bodoh? Kau sendiri juga sama bodohnya!"


"Ck. Aghhh! Tetap saja kamu yang bersalah." Jesica terus menyalahkan Rendra.


"Terserah apa katamu, Jesica! Saat ini harusnya kita bekerja sama, mencari cara dan solusi untuk bisa keluar dari sini, bukan berdebat begini." ungkapnya memalingkan wajah. Hal yang sama dilakukan oleh Jesica juga. Keduanya saling kesal, juga saling lempar tanggungjawab.


Selang beberapa saat setelah hening pasca berdebat. Tiba-tiba, pintu yang rapat di luar sana kembali terbuka.


Dap.

__ADS_1


Terlihat jelas sosok tak asing dengan tampilan yang kini jauh lebih berkarisma itu datang, dan langsung di sambut oleh mereka para pengawal.


"Selamat datang, Tuan Arya!"


Mereka mengangguk dan hanya dibalas dengan sekali deheman oleh Arya. "Di mana para sandera-nya?"


"Mereka ada di sel sebelah, Tuan!"


Tanpa menanggapi lagi, segera Arya menuju ruang sel sebelah, dan otomatis diiringi oleh para pengawal itu.


BAM.


Pintu sel kembali terbuka lebar. Jesica dan Rendra yang tadi sempat diam melamun kini kembali terjaga. Dua pasang mata dengan tubuh yang terikat di sana sampai terbelalak melihat kedatangan pria tak asing ke hadapan mereka.


"Bima, tolong selamatin aku! Mereka mengikatku, huhuhu." Jesica meringis, menaruh harapan pada Arya, agar memberikan belas kasih padanya, lalu meminta para pengawal melepas ikatan pada tubuhnya.


Arya masih diam, dengan tatapan setajam elang.


"Arya, aku ini pasien pasca operasi. Apa kamu tega melihatku kesakitan di sini?"


Seketika arya mendekatkan wajahnya ke arah Jesica dengan tatapan garangnya. Membuat urat nadi Jesica melemah. Tulangnya bahkan nyaris terasa lemas. Ia melihat ke dalam mata Arya, sepertinya tak ada harapan untuknya agar terlepas dari cengkraman sang CEO dingin itu.


"Sakit katamu?" tanya Arya dengan nada dingin. Jesica terlihat berat saat berusaha menelan saliva.


Glek.


"Apa pernah kamu berpikir, Alona juga sakit saat kamu memperlakukan sahabatmu itu dengan kejam?"


Glek.


"Bima ...." panggilnya pelan.


"Tutup mulutmu itu, kamu tak pantas menyebut namaku lagi, sekalipun itu hanya nama samaran. Apa kau melupakan derajatmu. Jangan lupa, aku adalah pria kaya dan memiliki segalanya. Wanita sepertimu hanyalah seonggok sampah di antara sampah lainnya. Jadi jangan berharap aku akan memperlakukanmu dengan lembut seperti dulu."


"Brengsek kau, Arya!" Mendadak Rendra berteriak, menghardik Arya. Ia tak tahan menyaksikan tingkah sombong Arya yang merendahkan Jesica. Ia memang tak memiliki rasa pada gadis itu, tapi baginya teman tetaplah teman, dan sesama teman harus saling melindungi.


"Ck, ck, ck!" Arya berdecak sambil tak luput ia lampirkan tawa seringai. "Kalian memang terlihat serasi!" ledeknya pada pria dan wanita itu. Membuat Rendra sedikit mengernyit.


'Aku tahu, aku tak punya harapan belas kasih dari pria brengsek ini, tapi tak akan kubiarkan dia menginjak harga diriku' batin Rendra berkata dengan kesal.


"Kenapa kau menatapku begitu?" ucap Arya tepat di depan wajah Rendra. "Apa kau sedang menantangku?" Pria yang diajak bicara itu tak menyahutnya. Ia masih setia menatap Arya dengan raut benci. Seketika Arya menegakkan tubuhnya, membelakangi Rendra.


"Jika kau membenciku, maka perlu kau tahu, aku terlebih dulu membencimu. Karena kau--" Seketika Arya berpaling lalu menunjuk ke arah Rendra. "Kau dengan brengseknya menyentuh tubuh kekasihku, dan membuat foto tak senonoh tepat di sampingnya!"


"Cih!" Rendra membalas dengan decihan tawa, membuat emosi Arya bergejolak tinggi. "Jadi hanya karena gadis miskin itu?" Pertanyaan yang terlontar itu seakan menantang Arya untuk menghabisinya. Nyalinya cukup besar karena berani meledek Arya.


"Brengsek!"


Buuug.


Sebuah hantaman langsung mendapat di wajah pria itu. Membuatnya terjatuh bersamaan dengan kursi yang menyatu dengan tubuhnya.


Jesica langsung menjerit melihat pria di sampingnya tersungkur ke lantai. Ia cukup ketakutan. Seketika ia menangis.


"Apa sekarang kamu merasa takut?" bisik Arya di sela telinga wanita itu. "Apa kau tidak berpikir Alona juga merasa takut sekali saat kalian membullynya?" Jesica terus menangis, tak sanggup berkata-kata.

__ADS_1


"Apa kau tahu, karena ulahmu-lah, Alona hampir memilih menghabisi nyawanya!"


'Apa? Apa maksudnya? Apa Alona sempat ingin bunuh diri?' Jesica terdiam sejenak.


"Kenapa? Apa kau terkejut. Kau baru tahu jika Alona nyaris menghabisi nyawanya di dalam kamar hotel?"


Tangisan Jesica mulai meredam. Ia mulai menatap Arya dengan tatapan memelas.


"Tuan Arya," ringis Jesica dengan nada memohon. "Apa yang harus kami lakukan agar anda bisa memaafkan kami!"


"Hmm, jadi sekarang kamu mulai menyadarinya!"


Wanita itu menunduk. "Ya, Tuan. Aku sadar sepenuhnya akan kesalahanku!"


"Kenapa kau berbuat begitu, padahal Alona adalah sahabatmu sendiri!"


"Itu karena ...." ucapnya terputus.


"Apa?" tanya Arya dingin.


"Karena, aku iri melihat anda dan Bobby lebih memilih dekat dengannya daripada denganku!"


"Apa??" Arya terkejut mengetahui kenyataannya. "Jadi, hanya karena kamu ingin dekat dengan kami? Itu alasanmu?"


"Ya, Tuan. Aku iri dengan Alona!"


"Tapi tak seharusnya kamu melakukan segala cara sampai melukai mentalnya."


Apa benar yang Arya katakan, Alona sampai seperti itu?' batinnya menerka. Ia diam seperti berusaha perpikir.


"Aku mohon, maafkan aku. Aku janji, akan mencoba melakukan yang terbaik untuk Alona ke depannya."


"Hmm, awalnya aku tak ingin melepasmu, tapi asal kamu bersungguh-sungguh, baiklah akan aku berikan sanksi agar kamu bisa kembali bebas."


"Benarkah?"


"Ya!"


"Apa sanksinya!"


"Hanya ada satu cara!"


Jesica diam, menyimak apa yang kali ini akan disampaikan Arya.


"Kamu dan Mantanmu Rendra harus menghilang dari kota ini. Kalian hanya boleh tinggal di pulau terpencil! Aku tak ingin melihat kalian masih berkeliaran di kota ini!"


Deg.


Apa?


"Aku akan mengirim kalian ke pulau terpencil itu. Di sana kalian hanya akan berbaur dengan warga desa," ucapnya


"Dan satu lagi, jika saja kalian berani keluar diam-diam dari pulau itu. Aku tak akan melepaskan kalian lagi. Mengerti?"


Tanpa memberi kesempatan untuk bernegosiasi lagi, segera Arya beranjak dari ruang itu. Meninggalkan Jesica yang masih diam tak bergeming. Sementara Rendra tampak menahan emosi dengan mengepal erat tangannya.

__ADS_1


__ADS_2