Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Penjemputan Jesica


__ADS_3

Kepergian Arya dari balai gedung TB grup tak lantas membuatnya kembali ke rumah Alona. Pikirannya masih belum tenang, lebih baik jika pergi ke markas GCK grup, mengintrogasi para mafia tahanan yang sebelumnya berjaga cctv gedung tua. Menggali informasi lebih dalam mengenai kasus Alona. Ia juga meminta beberapa pengawalnya untuk menjemput Jesica ke markas rahasia GCK grup.


*****


Malam hari di kediaman Jesica.


Gadis itu baru saja menerima telepon dari Rendra yang mengatakan kalau dirinya mendapat tawaran kerja sama dengan pihak TB grup. Pria itu berkata akan memutuskan kontrak kerjanya yang terikat dengan perusahaan besar GCK grup. Hal yang membuat Jesica begitu penasaran mengapa bisa pihak TB grup tiba-tiba menawarkan jasa yang begitu besar terhadap pria yang bahkan sekolahpun hanya sampai tingkat SMA. Dengan jurusan tata boga. Sungguh aneh. Jesica merasa ada sesuatu yang janggal saat itu.


"Apa yang mereka bahas denganmu, Rendra??"


"Bukan apa-apa!! Kamu ingat gak beberapa minggu lalu kita pernah membully temanmu yang lugu itu??


"Maksudmu Alona??"


"Iyaa!! Ternyata ada baiknya kita melakukan hal itu."


Degg!


Perasaan Jesica mulai tak enak. "Apa maksudmu??"


"Ternyata, ada cctv saat kita membully di gudang itu!"


Deg!


Deg!


"Lalu? Apa yang mereka tanyakan??"


"Yaaah, apa lagi? Mereka tertarik dengan perbuatan kejam kita itu? Mereka bilang tindakan kita itu termasuk tindakan yang berani? Mereka sampai ingin aku bekerja sama dengan pihak mereka. Mereka ingin merekrutku menjadi anggota mafia! Keren kan!?!"


"Apa?? Terus kamu percaya begitu aja??"


"Iya dong! Mereka bilang akan memberiku sebuah rumah dan mobil mewah untuk apresiasi di awal!"


"Apa kamu juga mengatakan hal-hal tentang aku??"


"Oh ... tentu saja, Sayaang!! Sudah kubilang, dia menanyakan semuanya. Bukan cuma kamu, teman-temanmu yang membully saat itu juga dia tanyakan!"


"Apaa?? Terus apa yang kamu katakan??"


"Apa lagi?? Mereka meminta datamu dan teman-temanmu! Jadi aku berikan!!"


"Apaa?!!! Apa otakmu sudah g*la, Rendra! Ini bisa jadi tipuan!"


"Huh! Terserah kalau kamu gak percaya! Aku gak memaksamu untuk ikut mengambil keuntungan ini! Tapi kalau aku sih, jelas aku gak mau melewatkan kesempatan ini!"


"Tapi, Rendra!"


"Sudah dulu ya, bos sekarang memanggilku!" Belum sempat Jesica memakinya, pria itu sudah memutus sambungan teleponnya.


"Rendra!! Rendra!! Aghh!" Pria itu sudah tak menjawab. "Dasar payah! Bisa-bisa dia percaya dengan orang asing begitu saja." Jesica benar-benar tak menyangka Rendra bisa seceroboh itu, terlebih dengan perusahaan TB grup. Setahunya, tindak kriminal pada perusahaan itu juga cukup tinggi dan mengerikan. Tapi yang ia sesalkan, Rendra bahkan sempat menyebutkan identitas tentang dirinya.


"Gawat! Aku harus bagaimana? Apa mungkin mereka juga akan menjemputku? Rasanya aneh jika tiba-tiba mereka menawarkan jasa dan imbalan hanya karena masalah pembullyan??"


Cukup lama Jesica berdiam di kamarnya memikirkan hal itu. Ia takut jika mendadak orang-orang itu juga menjemputnya.


Tok!


Tok!


Tok!


Sebuah ketukan di depan rumah itu berhasil menyentak Jesica. "Siapa yang bertamu di tengah malam begini? Apa mungkin mereka benar-benar orang yang akan menjemputku?"


"Ayaah?? Siapa yang datang itu??"


Berkali-kali ketukan pintu menggema di depan rumah bertingkat dua keluarga Jesica. Mungkin karena tengah malam, baik ibu tiri maupun ayahnya tak ada yang mendengar.


"Ayaah!!??"

__ADS_1


Masih tak ada sahutan dari ayah Jesica.


Degg!!


Perasaan gadis itu mulai tak enak. Ia beringsut turun dari ranjang. Mengendap-endap saat menuruni anak tangga, agar kehadirannya tak disadari oleh pengunjung di depan rumahnya itu.


"Sepertinya Rendra benar soal penjemputan itu!! Apa itu artinya sekarang mereka juga akan menjemputku?!! Tidak! Tidak boleh! Aku tidak mau ikut!" Tubuh Jesica mulai gemetar. Tapi rasa penasaran semakin menghantuinya. "Mending gue cek aja dulu!"


Ia sedikit menyibak tirai korden di ruang tamu. Netranya menelisik sosok pria-pria yang berdiri di depan rumahnya.


Degg!!


Matanya terbelalak, menatap lima pria dengan jaz dan pakaian serba hitam berdiri, berkali-kali memencet bell dan mengetuk pintu.


"Apa yang mereka mau?? Sepertinya ini bukan hal yang bagus!" Jesica bergumam tipis.


Tok!


Tok!


Tok!


Suara ketukan pada daun pintu itu semakin keras saja.


Ting!


Dong!


Ting!


Dong!


Bell bahkan sudah berbunyi lebih dari sepuluh kali.


Jesica mulai ketakutan. Ia berbalik badan untuk kembali bersembunyi di kamarnya. Dan betapa terkejutnya ia yang menemukan ayah dan ibu tirinya juga tengah menelisik, berdiri di sudut ruang. Sedang ibu tirinya terlihat bersembunyi di balik punggung ayahnya.


Gadis itu berlari kecil ke arah ayahnya, keningnya ia kerutkan sebelum bertanya. "Ayah, siapa mereka?? Apa ayah meminjam hutang dengan rentenir lagi??"Gadis itu ingin memastikan, berharap pria-pria itu bukan orang suruhan untuk menjemputnya.


"Jadi, siapa mereka??"


"Ayah juga gak tahu, apa mungkin kamu punya masalah dengan orang-orang kelas atas??"


"Ayah!! Aku ini baru tiga hari keluar dari rumah sakit! Bagaimana bisa aku mencari masalah dengan orang-orang itu!!" jesica berusaha menutupi kesalahannya tiga minggu lalu.


"Ahh! Sudahlah! Sekarang cepat kau bukankan pintunya!"


"Gak mau!! Ayah aja!"


"Ckk!! Agghhh! Anak ini!" Ayahnya menggerutu kesal, berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Sementara ibu tiri Alona hanya mengikuti suaminya di balik punggung, tak luput melayangkan wajah sinis saat berpapasan dengan Jesica. Tapi gadis itu tak terlihat takut sedikitpun. Anak tirinya itu justru membalasnya dengan berbuat hal yang sama.


Kriieett!!


Mendengar pintu mulai terbuka, Jesica kembali bersembunyi. Kali ini di bawah tangga. Takut jika orang-orang itu berbuat kriminal padanya.


"Kalian siapa?? Kenapa datang malam-malam begini?" Ayah Jesica berusaha tegar walau sebenarnya ia juga takut.


"Maaf, jika kedatangan kami mengganggu tidur anda! Apa benar ini rumah kediaman nona Jesica??"


Deg!! Mendengarnya, Jesica langsung menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Ya benar!! Ada apa, ya??"


"Apa Jesica ada di rumah??"


"Emm!! Sebenarnya ada apa, ya?"


"Kami dari pihak GCK grup. Atasan kami meminta kami untuk menjemputnya malam ini!"


"Oh GCK grup, ya? Itu kan perusahaan tempat anak saya bekerja!"

__ADS_1


"Ya, anda benar, Pak!"


"Tapi sekarang Jesica belum pulih total pasca operasi."


"Tenang, Pak. Ini bukan hal serius. Atasan kami ingin memberi apresiasi atas kerja keras Jesica yang berhasil meningkatkan produktifitas perusahaan kami!"


"Tapi kenapa berkunjungnya tengah malam??"


"Ahh!! Ayah ini, anak dapat apresiasi malah berkata begitu! Harusnya kau senang!" Ibu tiri Jesica mendadak menyela percakapan mereka. "Ah, kalo boleh tau, apresiasi seperti apa?? Apa kalian mau memberinya uang?? Berapa banyak?? Ahh .. iya, kebetulan kami ini orang tuanya, kalau kalian membawa uangnya, serahkan saja pada kami, nanti akan kami sampaikan sama anaknya!"


Satu pria yang sedari awal berbicara pada mereka itu tersenyum. "Kami tak bisa memastikan, bentuk hadiah apa yang akan diberikan atasan kami sebagai apresiasinya nanti. Hanya saja, atasakan kami meminta kami untuk menjemputnya terlebih dulu!"


"Apa?? Menjemputnya? Tengah malam begini??"


"Hushh! Ayah ini, gak baik bicara begitu pada tamu!" Ia menyentil perut suaminya.


"Ohh, jadi kalian hanya ingin menjemputnya?"


"Iya, betul!"


"Tidak bawa uang??"


"Ah, itu juga betul!" Seketika senyum ibu tiri Jesica yang tadi berbinar berubah masam. Ia menyungutkan wajahnya saat berbalik badan, berteriak memanggil Jesica. "Jesicaaa!! Ada yang mencari! Buruan ke sini!"


"Ibu! Kamu ini apa-apaan sih??"


"Ck, ahh!! Ayah kenapa sih?? Mereka kan orang suruhan GCK grup. Perusahaan tempat Jesica bekerja. Apa salahnya kalau bertemu Jesica??"


"Tapi, Bu!"


"Sudah, gak ada tapi-tapi! Celetuk ibunya yang kini kembali memanggil Jesica. Sedang wajah ayahnya sudah mulai pucat.


Deg!!


'Gawat!! Ayah dan nenek lampir itu juga terkena tipu mereka. Bagaimana ini? Aku harus bisa kabur!' Jesica mengira jika ayahnya juga terkena tipu seperti ibu tirinya. Hingga membiarkan ibu tiri itu memanggilnya berkali-kali.


Mendengar panggilan yang berulang-ulang membuat Jesica semakin takut dan curiga, bukannya penasaran lalu menemui mereka, Jesica justru berlari menuju pintu belakang. Satu-satunya akses yang dapat ia lalui untuk menghindar dari mereka.


"Jesicaaa!!" Kembali panggilan menggema. Jesica sudah tak mendengar.


Kelima pria itu masih setia menunggu. Tiga di antaranya tampak memantau situasi dalam rumah. Salah satu dari mereka melihat seseorang berlari ke dalam rumah. Lalu terdengar suara tapakan kaki yang berlari menuju gedung sebelah. "Bos, aku melihat seseorang berlari ke dalam rumah, sepertinya gadis itu sudah mengetahui rencana kedatangan kita!" bisiknya di samping pemimpin mereka yang berdiri paling depan. "Pantau terus!!"


"Gadis itu kabur, Bos?!"


"Cepat susul!" Tiga pria yang berada di belakang pemimpin itu langsung pergi setelah memastikan bahwa orang yang ingin mereka jemput telah kabur.


"Loh, itu temannya pada mau ke mana??" Ayah Jesica sedikit heran. Karena tiba-tiba, tiga di antara lima pria itu mendadak pergi.


"Bukan apa-apa! Kalau begitu, kami pamit dulu!"


"Ahh! Tapi ....!" Ayah Jesica semakin dibuat bingung dengan tingkah mereka. Sedang ibu Jesica justru kembali bertanya perihal hadiah untuk apresiasi Jesica. Namun mereka mengabaikannya.


"Dasar, orang tua matre!" gumam bos mereka saat jarak sudah cukup jauh. Ketiga pria yang tadi pergi terlebih dulu untuk mengejar kini sudah tak terlihat. Yang ada kini hanya dua pria memasuki mobil hitam. Lalu dengan cepat menjalankannya. Ayah Jesica hanya menatap sekilas, setelahnya langsung menutup rapat daun pintu.


"Aneh! Mereka semua aneh! Oh iya, di mana Jesica??"


"Kenapa kamu mencemaskan dia? Jelas-jelas dia kembali ke kamarnya!" Ibu tiri Jesica merocok, kesal. Tanpa peduli ia kembali berbaring ke kamarnya. Tapi tidak dengan ayahnya, pria setengah abad itu berlari menuju kamar gadisnya. Sesampainya di sana ia terkejut karena tak menemukan anak gadisnya. Kembali ayah Jesica menuruni anak tangga. Memanggil-manggil Jesica tapi tak ada sahutan.


"Jesicaaa!!"


"Jesicaaaa!!"


"Ke mana anak itu??" Ia sudah mencari ke sana ke mari tapi tak kunjung menemukan putrinya.


Kini ayahnya mulai menuju ruang belakang, dan kembali ia terkejut mendapati pintu belakang yang terbuka lebar.


Degg!!


Perasaannya mulai tak karuan. "Apa ini?? Apa mungkin Jesica kabur? Apa mungkin pria itu orang jahat yang mengincar Jesica?? Oh tidak! Apa yang harus kelakukan? Sebaiknya aku telepon polisi saja!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2