
"Lalu? Akan kau apakan wanita itu?"
Sang bos mafia itu mengernyit. "Apa maksudmu? Tentu saja aku akan menembaknya jika kau masih menyerangku! Bagaimana menurutmu? Bukankah wanita ini kekasihmu?"
"Ck! Hah!" Tertawa kecil. "Sejak kapan aku memiliki selera dengan wanita kampungan seperti itu? Aku bahkan tak kenal dengannya."
"Apaa??" Ia terkejut tak percaya.
"Kalau kau ingin membunuhnya, bunuh saja!"
Sontak urat jakun Bobby bergerak naik turun mendengar penuturan Arya. Ia tahu persis, apapun tindakan yang Arya lakukan tak pernah meleset. Namun kali ini, ia tak menyangka Arya akan bertindak sejauh itu.
'Semoga saja mereka tak benar-benar membunuhmu Alona.' gumamnya dalam hati.
Wajah sang musuh kini berubah drastis.
Emosi. Dilayangkannya tamparan pada anak buahnya yang dianggap ceroboh. "Dasar bodoh! Kau bilang dia wanita yang sering menempel pada pria itu!"
"Ta-tapi, Bos! Kami sudah menyelidikinya. Kami yakin bahwa kami tak salah orang!"
Dhoorr! Satu tembakan mendarat di dada anak buahnya. Semua mata terbelalak menatap Jordan. Sedang darah segar keluar dari sela tubuhnya. Pria malang itu tergeletak dengan mata terbuka. Ia sudah tak bernyawa.
"Bodoh! Kau sudah membawa orang yang salah!" gumam Jordan.
"Arya! Jangan mempermainkanku! Kau lihat sendiri bukan? Aku bahkan tak segan menghabisi nyawa anak buahku. Jangan kau pikir aku takut melakukan hal yang sama pada wanita ini."
Arya diam tak menjawab. Netranya fokus menatap Jordan si ketua mafia. Sedang jemarinya memberi kode pada Bobby untuk melakukan operasi lanjutan.
Sigap. Bobby langsung memberi perintah pada puluhan pasukan yang sudah bersiaga di tempat-tempat tertentu, menggunakan alat komunikasi yang terpasang di sela telinganya.
Hanya cukup satu perintah, seluruh pasukan Jordan berhasil diringkus dalam satu waktu.
Pasukan yang bersembunyi di jalur terowongan udara langsung turun. Menyergap tepat di belakang Jordan. Satu buah pistol berhasil menjurus ke bagian kepala Jordan.
Pria itu tertawa menyeringai. "Hebat! Kau memang selalu hebat dalam segala hal, Arya!" Tak ada yang dapat ia lakukan selain memuji. "Tunggu apa lagi? Lakukanlah!"
Jordan terlihat tegar meski bisa saja saat itu benar-benar menjadi hari terakhirnya.
"Cepat katakan keinginan terakhirmu!" gertak Arya.
"Keinginanku?"
Arya menatapnya penuh amarah.
__ADS_1
"Kau yakin akan mengabulkannya?"
Arya masih diam menatapnya.
"Hmm baiklah! Gadis ini lumayan juga! Kalau boleh, aku ingin bersetubuh dengannya di depanmu sebelum kau membunuhku!"
"Brengsek!" Bobby langsung menodongkan pistol di kepala Jordan. Murka. Ingin sekali ia menghabisi nyawa pria itu. Hingga nyaris terdengar bunyi gemertak dari giginya karena emosi yang begitu memuncak.
"Tahan, Bob! Jangan terpancing oleh siasatnya!" Arya memerintah Bobby untuk masih bersabar. Namun, pria itu masih menodong pistol di kepala Jordan. Senyum seringai terpancar dari bibir Jordan.
"Haha! Anak buahku memang ceroboh! Jadi ternyata, wanita yang mereka bawa ini hanyalah wanita yang disukai asisten Arya!" Ia bergumam. Sengaja mengucapkan dengan lantang agar nada meledek itu terdengar langsung di telinga Bobby.
"Diam kau, Brengsek!"
"Tunggu apalagi? Ayo, tembaklah!"
"Rupanya kau benar-benar tak takut mati!"
"Yaa! Aku sudah cukup puas menjalani kehidupanku di dunia ini! Jika mati sekarang pun, aku tak merasa rugi!"
"Oh yaa? Cih!"
Ungkapan Jordan berhasil membuat senyum sungging di bibir Bobby.
"Cepat! Lumpuhkan pria itu!" seru Arya pada Bobby. Bobby mengangguk. Beberapa anak buahnya mulai mengikat tubuh Jordan. Pria itu terkejut. Matanya melotot, sedang gerakan tubuhnya berusaha mengelak saat diikat.
"Bersiaplah untuk mendapat siksaan yang menyakitkan dari sekarang!" Bobby tersenyum getir. Satu buah suntikan sudah siap di tangannya. Suntikan berisi cairan obat bius.
"Hei! Apa yang akan kau lakukan?" Pria itu memberontak.
"Tenang saja! Ini hanya obat tidur yang berefek sementara! Penyiksaan belum dimulai. Kau harus bersabar jika ingin disiksa!"
"A-apa yang akan kalian lakukan padaku? Lepaskan aku! Lepaskan aku!"
Lambat laun suara berontak pria itu semakin mengecil. Hingga akhirnya ia benar-benar terlelap tak sadarkan diri.
"Ringkus seluruh pasukan itu. Masukan mereka dalam sel markas kita. Latih dan buat mereka menjadi tim kita." perintah Arya pada beberapa pasukan militer miliknya.
"Baik!"
"Bagaimana dengan Jordan?"
"Masukkan dia dalam sel khusus! Kelak, aku yang akan menanganinya!"
__ADS_1
"Baik!"
Sementara itu di satu sisi ....
Bobby masih berusaha menyadarkan Alona yang terus terbaring tak sadarkan diri di atas kursi roda. Melepaskan beberapa ikatan di lengan dan betis Alona.
Diturunkannya gadis itu lalu menggendong tubuh Alona di atas pangkuan. Mengguncang pelan tubuhnya.
"Alona .. Alonaa sadar!!"
Netra si gadis sedikit terbuka. Samar. Hanya satu lirikan yang terpancar dari matanya.
"Bimaa??"
"Ck! Bodoh! Gue Bobby!"
"Tolong gue!" Suaranya terdengar lirih. Lalu kembali tergeletak tak sadarkan diri.
"Cih! Dasar wanita lemah!"
'Syukurlah loe baik-baik aja!' batinnya bergumam.
Seluruh pasukan mereka sudah keluar dari gedung markas Gagak Merah. Tak luput meringkus semua pasukan musuh. Hanya tiga insan yang masih tertinggal di dalam.
"Letakkan gadis itu! Biar gue yang bawa!" seru Arya.
"Gak! Biar gue aja!"
"Gue aja!" Arya mendekat, menarik paksa tubuh si gadis.
"Ck! Gak usah! Gue aja!"
"Semua yang terjadi sama Alona hari ini karena gue! Jadi biar gue yang tanggung jawab!"
"Tapi, lu kan bos! Masalah sepele begini serahin aja sama gue!"
"Gak! Bagi gue masalah gini bukan hal sepele! Gue bahkan hampir melenyapkan nyawa gadis ini, jadi plis, Bob! Biar gue yang tanggung jawab. Sini, serahin Alona ke gue!"
Pria itu terdiam. Entah kenapa ia merasa berat saat menyerahkan Alona pada Arya.
'Kenapa dada gue berasa sesak gini? Apa yang terjadi sama gue?' batinnya bergumam.
Bersambung ....
__ADS_1