Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Ditolak Mentah


__ADS_3

Langkah Bobby dan ayah Jesica terdengar mendekat ke ruang inap putri semata wayang itu. Ruang VIP memang lebih jarang dikunjungi sehingga suara apa pun yang melintas akan terdengar menggema. Tak terkecuali suara tapakan kaki yang melintas di area koridor.


Gadis yang sudah sedikit pulih itu segera membaringkan tubuhnya setelah memastikan suara tapakan kaki dua pria yang mendekat adalah ayah dan Bobby. Ia langsung menarik selimut sampai menutup ke atas dada. Lalu memiringkan tubuhnya menghadap timur. Berpura-pura terlelap.


Krieeet!


Dap!


Langkah mereka terdengar memasuki ruangan.


"Nak Bobby yakin ingin balik secepatnya?" Pertanyaan itu terdengar datang dari mulut sang ayah.


"Iya, Om! Maaf, saya gak bisa berlama-lama. Oh iya, di mana Alona?"


Deg!


Mata Jesica yang dipejamkan untuk mengelabui Bobby mendadak terbelalak. 'Oh iya, gue lupa kalo tadi habis ngusir Alona. Gue pikir tuh anak bakal nunggu di depan pintu!' Seketika ia memutar pelan badannya. Bola matanya mengerjap seakan baru terbangun dari tidur.


"Ayah? Bobby? Kalian udah balik?" tanyanya dengan nada tak berdosa.


"Iya! Tapi gue harus pergi sekarang!" sahut Bobby.


"Ehh! Kenapa? Kok buru-buru?"


"Gue ada urusan! Jadi gak bisa berlama-lama! Oh iya, Alona di mana?"


"Tadi dia bilang mau keluar menyusul kalian. Katanya, berada di ruangan ini membosankan!"


"Serius dia bilang gitu??"


"Iya, lagian lu kenapa mengkhawatirkan Alona? Anak itu berada di kota kelahirannya. Dia gak akan tersesat!"


"Bukan soal tersesat! Tapi gue bawa anak itu tanpa izin dari calon suaminya!"


Deg!


'Calon suami? Siapa? Apa mungkin Alona dilamar oleh Bima? Gak! Gak mungkin! Pasti gak mungkin! Gak mungkin Alona seberuntung itu!'


Bobby beranjak mendekat ke arah jendela kaca, memunggungi Jesica dan ayahnya. Sedang tangannya tampak mengotak-atik ponsel. Lalu meletakkannya ke sela telinga.


"Halo! Alona lu di mana?"


[....]

__ADS_1


"Kita balik ke pulau xx sekarang!"


[....]


"Oke! Gue tunggu lu di luar ruang inap Jesica! Sekarang!!!"


Tut!


Tut!


Tut!


Panggilan ia akhiri. Kembali ia menyimpan ponsel ke dalam kantung jaz berwana hijau lumut yang ia kenakan. Pandangan ia tolehkan kesamping. Menghela napas pelan, lalu mulai memutar badannya menghadap Jesica dan ayahnya.


Sementara Jesica yang sedari tadi bermain kedipan mata dengan ayahnya segera menghentikan sinyal kode mereka.


"Kalau begitu, saya pamit dulu, Om!" Langkahnya menuju pintu keluar dari ruangan itu.


"Bobby!" Nada Jesica terdengar sedikit memelas. "Gue baru aja sadar dari obat bius, kenapa lu langsung pergi begitu aja?!" Ia menyungutkan wajahnya.


"Emang gue mau ngapain lagi?"


"Apa lu gak mau menghibur gue dulu? Plis, Bob, tinggal di sini sebentar aja! Gue butuh lu buat jadi penyemangat gue! Buat temenin gue. Lu baru aja datang dan kenapa harus langsung pulang?"


"Itu karena ... tadi ...."


"Maaf gue gak bisa menunda lebih lama. Gue harus pergi sekarang!"


"Bobby! Apa permintaan ayah gue udah bener-bener gak bisa ditoleransi?"


Deg!!


Pertanyaan bar-bar Jesica itu langsung dihujam oleh tatapan tajam dari Bobby. 'Kenapa mendadak Jesica tau kalau ayahnya meminta aku untuk menikahinya? Aneh! Sepertinya, mereka sudah merencanakan ini sejak awal!'


Air mata Jesica mulai bermain di atas pipi. Menyempurnakan aktingnya agar terlihat nyata.


"Minta saja tanggungjawab dengan orang yang sudah menghamilimu!"


Deg!!


Kembali ungkapan itu membulatkan bola mata Jesica. 'Apaaa?? Jawaban macam apa itu? Bukan itu yang kuharapkan.' batinnya terkejut mendapat jawaban yang tak sesuai harapan. "Gimana caranya gue minta tanggung jawab, gue sendiri bahkan gak kenal siapa orang yang sudah berbuat keji itu!"


"Apa maksudnya?"

__ADS_1


"Apa lu belum paham juga, Bob? Gue ini korban, gue diperkosa sama orang yang gak gue kenal! Hu hu hu!"  Tangisan itu semakin mewarnai aktingnya. "Semua itu terjadi saat gue pulang dari acara minum bersama rekan-rekan. Pria itu tiba-tiba datang. Dan .. dan .. Hu hu hu! Gue gak sanggup melanjutknnya." Isak tangisnya benar-benar terlihat nyata.


"Oh ya? Seperti apa ciri-cirinya? Jelaskan secara detail! Gue pastikan bakal temukan pria itu supaya dia tanggung jawab-in elo!"


Deg!!


Jesica terdiam. Begitu pun dengan air matanya yang seketika tersumbat, berhenti mengalir. Ekspresi berdusta Jesica tertangkap basah dalam bola mata Bobby.


'Sial! Ternyata cara ini gak berguna! Bobby sama sekali gak menunjukkan sikap prihatinnya.'


"Kenapa diam? Apa loe gak yakin dengan kemampuan gue??"


'A-apaa? Ekspresi apa itu? Kenapa tatapannya begitu dingin?' Terlihat berat gadis itu menelan saliva. "Bu-bukan begitu, Bob!" Bicaranya kini mulai terbata.


"Baiklah! Kalau loe berat buat menjelaskan, loe bisa cerita nanti ke paman. Biar paman yang jelaskan secara detail ke gue!"


Deg!!


Jesica semakin tersudut. Seakan tertelan ke dalam lubang hitam, tatapannya kosong lurus ke depan, bola matanya tak terlihat bergerak sedikitpun. Tak lagi ia berani menyahut. Pun sama dengan ayahnya yang lebih dulu bungkam seribu bahasa.


"Kalau begitu, saya pamit dulu, Om! Oh iya!" Bobby mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung jaz-nya. Satu buah cek ia isi dengan nominal yang cukup banyak. Lalu menyerahkannya pada ayah Jesica. "Ini cek untuk biaya pengobatannya. Maaf, saya sudah tak sempat untuk mengurus langsung adminnya. Karena terlalu banyak waktu yang tersita!"


Ayah Jesica masih membungkam. Meski begitu, ia tak menolak cek yang diserahkan Bobby padanya.


Bobby akhirnya beranjak pergi setelah merasa urusannya dengan ayah Jesica sudah beres.


'Bobby, kenapa loe mengabaikan gue?' Raut Jesica semakin kusut. 'Ini semua karena Alona! Bobby menolak gue pasti karena dia! Gue akan membuat perhitungan sama loe! Dan juga Rendra!! Pria itu sudah membuat gue cukup menderita! Lihat aja, Rendra! Loe akan mendapat akibatnya karena sudah mengabaikan gue!'


*****


Selesai berurusan di gedung Hall GCK grup, segera Arya menghubungi Bobby. Entah kenapa sudah tiga kali mencoba menelpon, pria yang dihubungi tak kunjung mengangkat.


'Bobby ke mana sih? Apa mereka belum selesai berbelanja bajunya? Tapi gue kan sudah menyuruh mereka untuk berenti!' Bibirnya terlihat bergerak kecil. Menggerutu kesal.


Panggilan kini ia tujukan ke nomor Alona. Dan hasilnya lebih tak berbuntut adanya jawaban. Jika saat menghubungi Bobby, pria itu tak kunjung mengangkat, beda hal dengan Alona, nomor sang gadis justru tak aktif. Dan hal itu berhasil membuatnya sedikit panik.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa mungkin ada sesuatu yang buruk terjadi pada mereka?" Pikiran kacau itu mulai menyelam dalam benak Arya.


Asisten pendamping yang sedari tadi memperhatikan Arya itu memilih bertanya perihal apa yang membuat bos besarnya terlihat cemas.


"Ada apa, Tuan? Apa ada masalah? Mungkin saya bisa sedikit membantu?"


"Ya!" Arya menyerahkan ponselnya pada asisten itu. "Tolong kamu cek lokasi Bobby dan wanitaku ini!" Menunjukkan kedua nomor yang ia maksud.

__ADS_1


"Baik! Akan saya kerjakan sekarang!"


__ADS_2