Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Nasib Nahas Alona 2


__ADS_3

"Gimana? Apa loe bersedia ngejauhi kedua cowok itu?" Senyum Jesica nyaris membuat Alona merinding. Gadis itu tak mengenal lagi sosok yang kini berdiri di hadapannya. Sikap Jesica telah berubah total. Hanya wajah dan tubuhnya yang masih sama.


"Gak! Gue gak akan pernah menuruti permintaan loe!" Alona menolak dengan keras.


"Apaa?? Ohh, jadi loe belum jera juga! Loe berani nantang gue!"


"Jes, plis! Dari kecil sampai sekarang, gue gak pernah punya niat sedikitpun buat nyakitin elo. Apalagi sampai menantang cuma buat merebut cowok yang loe suka! Percaya lah sama gue, Jes!" Gadis itu memelas. Berharap dengan begitu Jesica iba dan berhenti membully-nya.


"Gue gak akan percaya, sampai loe bener-bener ngejauhi dua cowok itu!"


Deg!


'Menjauh dari Bobby? Itu artinya, juga akan menjauh dari Bima! Gak! gak mau!' batin Alona terus memberontak.


"Gimana? Setuju?"


"Gak!" Jesica melotot mendengar jawaban Alona.


"Hmm .. Jadi ternyata, loe gak bisa di ajak bicara dengan cara halus yaa?"


Alona mengernyit. Ungkapan Jesica seakan mengatakan bahwa kali ini akan ada ujian yang lebih ekstrim dari mantan temannya itu.


"Vika," panggilin dia!" Jesica berseru pada salah satu dari keenam temannya itu.


"Okee!" sahutnya diiringi dengan picingan mata dan jempol yang ia acungkan.


"Apa? Panggil siapa?" Jantung Alona mulai berdegub karena takut.


"Penasaran yaa! Gue juga gak sabar mau melihatnya!" Jesica berkata seakan ia tak tahu apa-apa. Namun, senyum di bibirnya menampakkan dengan jelas bahwa ia berpura-pura, menunjukkan sifat Jesica yang sebenarnya.


Satu orang pemuda masuk dan langsung menghampiri wanita binal itu.


"Hai, Jesica! Gimana, rencananya jadi?"


"Jadi, dong! Buruan yah puasin anak itu!"

__ADS_1


Alona terperangah. "Jesica apa maksudnya semua ini?"


"Jangan takut Alona! Dia ini gak niat jahat kok! Dia cuma mau main-main! Yaa .. bukannya lu sudah terbiasa bermain-main dengan banyak pria yaa! Hal begini doang, lu juga udah ahli kan?"


Ketujuh wanita itu langsung tertawa bersama. Menertawakan Alona yang semakin bergetar ketakutan.


Sontak pria itu memeganginya tubuh Alona.


"Brengsek! Lepasin gue! Lepasin gue!" Alona memberontak. Sedang cengkraman pria itu semakin kuat memegang tubuh Alona.


"Woy, Jesica! Lu pikir gue mau nyentuh nih anak dengan badan yang bau amis begini?" Pria itu tampak kesal. Menghardik ke arah Jesica.


"Tau nih, Jesica!" sahut salah satu teman pembullynya.


"Ah loe ini terlalu pilih-pilih! Tapi tenang aja, gue udah siapin selang panjang buat mandiin nih anak kok!" Jeisca kemudian meminta pada salah satu temannya untuk menarik selang panjang yang tersambung dengan pipa saluran air.


Salah satu dari keenam wanita itu menarik selang ke perkumpulan mereka.


"Udah siap?"


"Siap!"


Bruuuuus!


Semburan air yang begitu deras kini berhasil meraih tubuh malang Alona. Gadis itu menjerit, nyaris tak dapat bernapas karena wajahnya dipenuhi dengan air yang tak hentinya menyembur.


Selang beberapa detik kawannya itu kembali menutup pipa setelah merasa pembersihan terhadap tubuh Alona sudah cukup.


"Uhuk! Uhuk!" Alona batuk. Terjatuh. Air yang tadi menyembur itu bahkan sempat masuk ke dalam kerongkongannya.


"Jesica! Plis! Cukup!" Ia memelas. Berharap mantan temannya itu masih memiliki sedikit sisa nurani.


"Ya, memang sudah mau selesai kok!" jawab Jesica.


Alona mendongak.

__ADS_1


"Lu tenang aja, Alona! Sebentar lagi, semua penderitaan loe ini akan berakhir!" Jesica mendekat, pria itu kembali memegang Alona, kini cengkramannya semakin erat pada tubuh Alona.


Satu buah jarum suntik sudah berada dalam genggaman Jesica, wanita itu kemudian menyuntikkannya ke dalam urat nadi di lengan Alona!"


Gadis itu melotot melihat jarum masuk ke dalam tubuhnya.


"Jesica lu mau ngapain?" Alona bergidik. Matanya nyaris membelalak. "Agghhh!" Menjerit menahan sakit.


"Gue cuma mau bikin loe rileks. Lu cukup tidur dan menikmati aja kok, oke!"


"Jesica! Lu udah kasih gue obat apa? Jesicaaa!" Berusaha menghardik, tapi lambat laun suara Alona mulai mengecil.


Perlahan penglihatan Alona mulai memburam. Semakin lama semakin mengecil. Hingga ia benar-benar terlelap oleh obat bius yang disuntikkan ke dalam tubuhnya.


"Sudah tau kan tugas loe?" Jesica berbicara pada pria di hadapannya itu.


"Tentu dong, gue gak akan lupa! Hal begini sih urusan kecil. Tapi lu jangan coba-coba ingkar janji ya!"


"Iya, bawel! Udah buruan bawa anak itu! Jangan lupa, fotonya langsung di cuci."


"Oke, tenang aja, gue bakal serahin foto beserta filenya setelah lu mangkir ke kamar gue! Jangan lupa servisnya yang mantap yaa!"


"Stt! Ngomongnya di pelanin dong!" bisik Jesica. Keenam temannya menatap Jesica dengan ekspresi tak enak.


Pria itu tertawa, kemudian pergi dengan membopong Alona di atas pundak.


Para wanita itu menatap sang pria hingga nyaris menghilang di balik pintu gudang.


"Jesica!"


"Hmm!" Gadis itu menepuk-nepuk tubuhnya agar debu-debu yang menempel berjatuhan.


"Lu bayar dia dengan tubuh loe?"


"Iya! Gue gak punya pilihan!" sahutnya tanpa menatap.

__ADS_1


"Gila lu, Jes! Gue gak nyangka lu senekad itu!"


"Habis mau gimana lagi, gue gak punya uang buat bayar."


__ADS_2