Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Villa 5


__ADS_3

Bagai kilat dan petir. Dua pasang mata itu terus beradu, seakan terjebak oleh daya magnet yang menarik bola mata mereka untuk terus bertatap. Tak satu pun dari keduanya berinisiatif mengalah.


Glek!


Alona bergigik. Canggung. "Ehehe! Kalian bisa hentiin acara tatap-tatapannya gak? Ntar dikira homo loh!" Alona tak tahu lagi harus mengatakan apa pada kedua pria di hadapannya. Hanya berusaha agar keduanya berhenti bertingkah seperti anak kecil.


Kecuali Jesica. Gadis itu diam mematung dengan wajah ditekuk. Menatap sinis ke arah Alona.


"Alona! Ayok kita pergi!" Mendadak lengan Bobby meraih pinggul Alona, memaksanya berlalu dari hadapan Arya dan Jesica.


"Ta-tapi, Bob!"


"Sttt! Jangan banyak tapi-tapian!"


'Aishhh! Padahal ini kesempatan gue buat nyatakan perasaan sama Bima! Aggghhh, jadi buyar deh kalo begini! Kalo aja yang di samping gue ini, Bima!' Si gadis menggumam dalam hati.


"Eh, Bob! Lu mau bawa Alona ke mana?"


Ucapan Arya berhasil membuat Bobby menoleh, tatapannya masih sinis, dengan alis yang ia kernyitkan.


"Terserah gue!"


"Gue ikut!"


"Ah! Ngapain lu ikut, mau jadi obat nyamuk lu? Lu jalan aja sama Jesica!"


"Gue tetap jalan bareng Jesica kok!" Mendadak Arya meraih lengan Jesica. Mengaitkannya di sela lengan. "Iya kan, Jes?" tukasnya pada wanita di sampingnya.


"Ah, he'eh!" Gadis itu menyiyakan. Tapi tetap saja, ekspresi keterpaksaan tak bisa Jesica sembunyikan.


Bobby membalik wajah, kembali menyusuri jalan tanjankan dengan lebar satu meter itu. Sedang tangannya masih mengait di pinggul Alona.


"Bob! Bisa lepasin tangan loe gak? Gue risih tau! Lagian gue jadi gak enak sama Jesica, tau!" Ia berbisik, jemarinya menyentil dada bidang Bobby dengan satu cubitan. Pria yang ia cubit tampak tegar. Tak ada ekspresi sakit sedikitpun. Lebih tepatnya menahan rasa sakit. Malu jika harus terlihat lemah di depan gadisnya.

__ADS_1


"Udah! Biarin aja kali dia mikir gitu! Biar Jesica gak terus-terusan menempel ke gue!"


"Terus, kalo kita nempel gini, nasib cinta gue dengan Bima gimana?"


Bobby menatapnya lalu menoyor kepalanya pelan. "Lu ini gak ada malu-malunya ya ngungkapin itu mulu, lagian apa lu gak pernah mikirin perasaan gue?"


"Kagak! Lu kan cuma main-main!"


"Alona, lu kok gak percayaan banget ya!"


"Ya, emang gue gak percaya!"


Bobby berdecak kesal. "Kalo lu terus-terusan gak percaya gini, mending gue sebarin aja deh video yang tadi malam itu!" Mengancam dengan alibi palsu.


'Video! Sialan!' Gadis di sampingnya kembali menggerutu. Bobby melirik sekilas, terlihat jelas raut Alona yang emosi.


"Lu kenapa?" Usil. Pura-pura tak tahu perasaan Alona.


"Gue sebel sama loe! Loe kenapa sih ngancam gue mulu?" Wajah Alona memerah. Kesal. Geram. Kalau saja Arya dan Jesica tak mengikuti mereka di belakang. Mungkin wanita itu sudah sedari tadi mengeluarkan jurus silatnya. Jurus menabok tanpa ampun.


"Lu ngapain masih ngikutin kita?" Bobby berhenti sejenak. Memalingkan wajah, berbicara pada pria yang kini nampaknya menjadi saingan beratnya.


"Ck! Siapa juga yang ngikutin elo!"


"Ya udah, kalo gitu kita mencar!"


"Enak aja! Gue sama Jesica juga mau ke danau itu! Iya kan Jes!"


"Ah, iya!" Wajah Jesica semakin murung. Sedari tadi ia diperlakukan seperti kambing hitam. 'Lu mau peralat gue ya, Bim. Sialan!' batinnya menggerutu.


"Tapi gue duluan mau ke danau itu bareng Alona! Jadi, kalian ke tempat lain aja!"


"Lu kenapa sih, Bob! Biarin aja kali!" Alona menyela.

__ADS_1


"Alona sayaaang! Lu diam aja, ya!" Kali ini Bobby seakan mengeluarkan titah pada gadis itu, memaksa si gadis agar menjadi lebih penurut.


'Bobby apaan sih!' Gadis itu hanya bisa menggerutu dalam hati. Sedang wajahnya semakin ditekuk.


Jesica semakin panas mendengarnya. Antara iri dan cemburu. Hal yang sama berlaku pada Arya. Pria itu juga panas mendengar ucapan sayang Bobby pada Alona.


"Enak aja! Memangnya loe siapa berani merintah gue! Gue yang punya banyak hak di sini! Lu jangan seenaknya sama bos lu ya!" Arya geram. Kali ini ia keceplosan mengucap kata bos karena tak kuat menahan emosi.


"Apa? Hahahha! Bos? Bos apaan lu?" Bobby sengaja mengucapkannya. Peringatan pada Arya yang hampir membongkar identitasnya.


"Lu kan Bima! Semua aset ini milik Arya! Ngacok lu!" sambung Bobby.


'Sialan! Kalau bukan karena harus sembunyi di balik identitas palsu ini, sudah gue remes-remes lu Bob. Biar sekalian jadi ayam kremes!' Rautnya merah padam menahan emosi. Arya hanya bisa menghela napas dengan berat. Fouuh!


Meski menyebalkan, tapi Bobby masih peduli padanya. Masih berusaha membantu menutupi identitasnya.


"Eh, Bob. Gue juga kan diberi tanggung jawab sama bos!" Beralibi. Membuat cerita palsu. "Bos Arya mempercayakan asuransi karyawan GCK grup sama gue. Jadi gue berhak mantau siapa pun karyawan yang berlibur di pulau ini. Ntar kalo terjadi apa-apa sama kalian gimana, kasian bos Arya kan! Ntar dia lagi yang repot." Memancarkan senyum getir. Seakan sudah menang.


"Eh, kalau lu mau mantau karyawan, pantau tuh yang totalnya ratusan di luar sana! Lagian, gue juga asistennya. Bos Arya percaya penuh sama gue!"


"Bobbyyyy!!!" Kali ini hardikan Arya seakan menjadi isyarat. Jika diterjemahkan, mungkin yang terdengar, 'Awas lu, Bob. Gue potong insentif loe satu tahun!'


"Iya-iya! Serah lu deh! Dasar nyamuk!"


Sepanjang jalan hening. Semua berbicara dengan berbisik. Hanya suara hentakan dari sepatu sporty Arya yang terdengar memecah keheningan di jalan itu.


"Bima! Jalannya santai aja dong!"


"Apa urusannya sama loe, mau gue santai atau cepat. Gak ada ngaruhnya kan?"


"Bukan gitu! Masalahnya, suara sepatu loe berisik!"


Deg!

__ADS_1


'Sialan! Nih anak mau bikin gue malu yaa! Mentang-mentang sudah dapat aset dari gue, sekarang mulai berani melunjak! Huh!.' Kesal. Dilipatnya lengan di atas dada, membuang jauh pandangannya.


Bersambung ....


__ADS_2